Ustadz Sunnah, Kajian Sunnah


Ustadz Sunnah, Kajian Sunnah

Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

tambahan..Segala puji hanya bagi Allah ta’ala, dengan pertolongan-Nya, kemudian perjuangan, ilmu dan hikmah para da’i dan ikhwan sunnah dengan berbagai sarana dakwah, maka kajian-kajian sunnah pun semakin marak dan tersebar, di masjid-masjid, kantor-kantor, dari desa hingga perkotaan.

Bersamaan dengan itu pula, kajian-kajian yang tidak berlandaskan sunnah dengan sendirinya berangsur meredup, melemah, tersingkir bahkan tak sedikit yang akhirnya ‘punah’,

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: Telah datang yang benar dan telah lenyap yang batil, sungguh yang batil itu pasti lenyap.” [Al-Isra’: 81]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

أي: هذا وصف الباطل، ولكنه قد يكون له صولة وروجان إذا لم يقابله الحق فعند مجيء الحق يضمحل الباطل، فلا يبقى له حراك. ولهذا لا يروج الباطل إلا في الأزمان والأمكنة الخالية من العلم بآيات الله وبيناته.

“Maknanya: Yang pasti lenyap adalah sifat kebatilan, namun terkadang kebatilan itu memiliki kekuatan dan tersebar jika tidak ada kebenaran yang menghadangnya, maka tatkala kebenaran itu datang, kebatilan pun melemah, sampai tidak tersisa gerakannya. Oleh karena itu tidaklah tersebar kebatilan kecuali di masa-masa dan tempat-tempat yang kosong dari ilmu tentang ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan penjelasan-penjelasannya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 464]

✅ LATAR BELAKANG PENAMAAN “USTADZ SUNNAH” DAN “KAJIAN SUNNAH” Lanjutkan membaca

Akidah Salafi, Akhlak Tablighi, Ukhuwah Ikhwani, Ibadah Sufi, Potret Idealkah ?


Akidah Salafi, Akhlak Tablighi, Ukhuwah Ikhwani, Ibadah Sufi, Potret Idealkah ?

Ustadz Abdullah Zaen. Lc, MA

sawah terangDi suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis terlibat perbincangan dengan sesama da’i seputar perkembangan dakwah salafiyyah di tanah air yang cukup menggembirakan meski masih ada beberapa kekurangan di berbagai lini. Di tengah-­tengah perbincangan ringan tersebut, terlontar suatu pertanyaan yang bersumber dari sebuah keprihatinan rekan penulis, “Ustadz, bagaimana cara membuat Salafi memiliki semangat juang dakwah tinggi seperti Ikhwah Tablighiyyun (Jama’ah Tabligh)?” Saat itu penulis hanya diam dan tidak serta-merta menjawab pertanyaan tersebut. Lalu kami tenggelam dalam pembicaraan masalah lainnya. Hingga selesailah majelis tersebut, tanpa membahas jawaban dari pertanyaan tadi.

Permasalahan tersebut ternyata terus menggelayuti pikiran, dan ‘menantang’ untuk menemukan jawaban yang tepat dan berbobot. Apalagi memang sebelumnya penulis beberapa kali pernah dihadapkan kepada pertanyaan serupa. Sampai akhirnya tertuanglah tulisan ini, yang sebenarnya merupakan jawaban dari pertanyaan di atas

.

ANTARA AJARAN SALAF DAN SALAFIYYUN

Statemen ‘Berakidah Salafi, Berakhlak Tablighi, Jalinan Ukhuwah Model Ikhwani, Ketekunan Ibadah Ala Sufi’ sering dilontarkan sebagian kalangan sebagai sebuah impian untuk mewujudkan karakteristik Muslim ideal, menurut mereka tentunya. Tampaknya, salah satu pemicu munculnya ide ini adalah fenomena praktek banyak pengikut beragam kelompok Islam yang cenderung mengkonsentrasikan diri dalam pengamalan sebagian sisi ajaran agama, dan kurang mengindahkan sisi lainnya. Sehingga timbullah ide penggabungan ‘kelebihan’ masing-masing kelompok, guna menciptakan potret sosok ‘Muslim ideal’.

Yang jadi pertanyaan, perlukah melakukan kombinasi seperti di atas? Tidak cukupkah manhaj Salaf membentuk seorang Muslim sejati ? Bukankah manhaj Salaf (ajaran Ahlus Sunnah) adalah ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Imam al-­Barbahari rahimahullah (w. 329 H)?[1] Sehingga jika seorang telah bermanhaj Salaf secara totalitas; maka otomatis is akan menjadi Muslim ideal! Lanjutkan membaca

SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN? (Edisi 2)


SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN?
(Edisi 2)

mengikuti manhaj salaf adalah sebuah kemulyaanApa yang telah dijelaskan oleh para ulama (dalam edisi 1) diatas telah dikuatkan pula oleh Allah dalam banyak firman-Nya, diantaranya:

1. Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’ : 7 dan An-Nahl : 43)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata tentang ayat ini: Keumuman ayat ini menjelaskan akan pujian terhadap para ahli ilmu dan yang tertinggi adalah ilmu tentang Al-Qur’an, karena Allah memerintahkan kepada yang tidak tahu untuk kembali kepada para ahli ilmu/ulama dalam setiap kejadian. Hal ini juga mengandung pengertian akan adanya rekomendasi bagi para ulama yang dijadikan sebagai rujukan dalam bertanya. Dan orang jahil tidak termasuk dalam hal ini. Beliau juga mengatakan: Di dalam pengkhususan bertanya hanya kepada para ahli ilmu terdapat larangan untuk bertanya kepada orang yang sudah terkenal akan kebodohannya…” (Tafsir Al-Kariimir Rahman hal.511 dan 605)

Jadi siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai ulama (bukan orang jahil yang ngelama’) maka merekalah tempat rujukan dalam agama baik dikala perpecahan maupun tidak. Yaitu mereka yang paham benar Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih. Dan tidak ada dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah pengkhususan tempat rujukan haruslah ulama yang pernah turun di medan perang. Seandainya yang mereka ucapkan itu benar, maka berapa banyak ulama yang tidak layak untuk dijadikan rujukan? Apakah semua Imam empat pernah turun di medan jihad mengangkat senjata? Apakah Imam Bukhari, Muslim dan yang lainnya layak dijadikan rujukan dalam agama dikala perselisihan (terutama masalah jihad) sedang mereka tidak pernah turun di medan perang mengangkat senjata? Di kalangan para sahabat yang paling terkenal dengan jihadnya di medan perang adalah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu, tapi apakah para salaf dahulu lebih mendahulukan beliau dalam masalah agama daripada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma yang termasuk 7 sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits?

2. Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa’ : 83)

Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata: “mengetahuinya dari mereka” yaitu para ulama. [4]

3. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 59)

Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud (ulil amri) adalah para ahli ilmu agama, yang selalu taat kepada Allah dan mengajarkan manusia ilmu agama. Yang amar ma’ruf serta nahi mungkar. Allah pun mewajibkan para hamba untuk menaati mereka. (Lihat Tafsir Thabari 5/149)

Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: yang nampak –wallahu a’lam- bahwa makna ulil amri mencakup umara’/pemimpin maupun ulama. (Tafsir Al-Qur’anil Adzim 1/518).

Dan masih banyak lagi nash-nash atau ucapan salaf yang menjelaskan tingginya martabat dan kedudukan para ulama dan kewajiban untuk kembali kepada mereka dalam setiap keadaan dan tidak harus yang turun di medan perang. [5]

Sekali lagi, yang dimaksud oleh para ulama salaf dalam ucapan mereka “Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka” adalah para ulama ahlussunnah wal jama’ah yang darah dan daging mereka menyatu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman salafush shalih.

Kesalahan mereka (para aktivis harakah) ini timbul akibat penuhnya otak mereka dengan semangat yang membara untuk mengangkat senjata, namun tidak diiringi oleh ilmu dan pemahaman agama yang benar serta salahnya mereka dalam mencari rujukan (ulama) dalam agama ini.

Oleh karena itu, kami nasihatkan dari lubuk hati yang terdalam kepada mereka yang telah terjerumus ke dalam jaring-jaring terorisme, gerakan bawah tanah, aktivis harakah untuk takut kepada Allah dan agar belajar lebih dalam tentang Islam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman salaf (bukan Khawarij). Dan untuk mereka kembali kepada aqidah serta manhaj para ulama semisal Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Muqbil bin Hadi –rahimahumullahu-, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan selain mereka dari ulama ahlussunnah wal jama’ah. Ini semua agar mereka bisa membedakan mana jihad yang syar’i dan jihad yang bid’ah, jihad yang murni dan jihad yang palsu, siapa itu mujahid sejati dan siapa teroris?

Akhirnya, saya tutup dengan ucapan ulama salaf yang bernama Imam Al-Barbahari rahimahullahu: Perhatikanlah (Wahai saudaraku) –rahimakallahu- setiap orang yang engkau dengar ucapannya, khususnya dari orang-orang yang sezaman denganmu. Janganlah engkau tergesa-gesa menerimanya hingga engkau melihat, apakah ada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau seorang ulama yang berbicara seperti itu. [6]

SELESAI.

—————————

[4] Tafsir Al-Baghawi hal.321.
[5] Coba lihat “Qawaa’id fit ta’aamul ma’al ulama'” oleh Syaikh Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq –hafidzahullahu-.
[6] Syarhus Sunnah hal.69.

Sumber : FB Ustadz Abdurrahman Thayyib

 

SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN? (Edisi 1)


SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN?
(Edisi 1)

mengikuti manhaj salaf adalah sebuah kemulyaanBeberapa kali dilontarkan kepada kami sebuah syubhat (kerancuan) dari para aktivis harakah atau takfiriyyin (tukang mengkafirkan kaum muslimin tanpa haq) yang selalu mengembar-gemborkan jihad dengan senjata melawan Amerika dan sekutu-sekutunya serta untuk memberontak pemerintah kaum muslimin. Syubhat yang mereka kira sebuah dalil qath’i yang setara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka menyebarkan syubhat ini untuk menguatkan ambisi mereka mengajak umat berbondong-bondong keluar berjihad dengan senjata mengikuti pemimpin-peminpin gerakan bawah tanah mereka, tanpa mau menoleh lagi kepada para ulama yang darah dan dagingnya bersatu dengan ilmu agama ini. Bahkan mereka tidak segan-segan lagi menuding para ulama rabbaniyyin sebagai antek-antek yahudi dan menuduh para pembawa bendera syariat, pewaris para nabi sebagai penggembos jihad.

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi : 5). Lanjutkan membaca

KEMENANGAN ISLAM BUKAN KARENA JUMLAH YANG BANYAK (PELAJARAN DARI PERANG HUNAIN DAN UHUD)


KEMENANGAN ISLAM BUKAN KARENA JUMLAH YANG BANYAK (PELAJARAN DARI PERANG HUNAIN DAN UHUD)

pelajaean-dari-perang-hunain-dan-uhudAllah ‘azza wa jalla berfirman tentang Perang Hunain,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّمُّدْبِرِينَ

🌴 “Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (wahai kaum mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian bangga dengan banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun; dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” [At-Taubah: 25]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يذكر تعالى للمؤمنين فضله عليهم وإحسانه لديهم في نصره إياهم في مواطن كثيرة من غزواتهم مع رسوله وأن ذلك من عنده تعالى ، وبتأييده وتقديره ، لا بعددهم ولا بعددهم ، ونبههم على أن النصر من عنده ، سواء قل الجمع أو كثر ، فإن يوم حنين أعجبتهم كثرتهم ، ومع هذا ما أجدى ذلك عنهم شيئا فولوا مدبرين إلا القليل منهم مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم

🌴 “Allah ta’ala menyebutkan bagi kaum mukminin anugerah-Nya dan kebaikan-Nya kepada mereka dalam pertolongan-Nya untuk mereka pada banyak peperangan yang mereka ikuti bersama Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa kemenangan tersebut berasal dari Allah ta’ala, pertolongan-Nya dan takdir-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena jumlah musuh.

Dan Allah mengingatkan kaum muslimin bahwa kemenangan berasal dari Allah, sama saja apakah jumlah mereka banyak atau sedikit, maka Perang Hunain menjadi saksi ketika mereka bangga dengan banyaknya pasukan, ternyata tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun, mereka pun terpukul mundur kecuali sedikit pasukan yang terus bertahan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/110]

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Perang Uhud, Lanjutkan membaca

Siapa Bilang Unjuk Rasa tidak Bertentangan dengan Sunnah dan Manhaj Salaf


Siapa Bilang Unjuk Rasa tidak Bertentangan dengan Sunnah dan Manhaj Salaf

Siapa Bilang Unjuk Rasa tidak Bertentangan dengan Sunnah dan Manhaj Salaf

oleh : Ust. Abdul Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-

demonstrasi haram mutlakSebelum terjadinya demonstrasi pada tanggal 4 November 2016, kami sempat menurunkan beberapa artikel dalam menyanggah para pejuang demonstrasi, sampai banyak diantara mereka yang emosi dan tidak menerima kebenaran yang kami tegaskan dalam artikel-artikel tersebut berupa HARAMNYA DEMONSTRASI DALAM ISLAM.

Demonstrasi 4 November tersebut mengalami kegagalan dalam menjaga kedamaian dalam aksi demo mereka, yang membuat malu para pejuang demonstrasi. Padahal ulama sudah mewanti-wanti agar jangan melakukan demo, sebab ia adalah cara dakwah atau inkarul munkar yang akan menyebabkan banyak keburukan, seperti : berbuat rusuh, menjatuhkan martabat penguasa, memberi jalan bagi kaum perusak dalam mencoreng Islam, dll.

Kini mereka akan melakukan AKSI DAMAI 3, pada tanggal 2 Desember 2016 M, setelah mereka belum puas dengan aksi sebelumnya. Seiring dengan itu, sebagian kalangan di hari-hari ini kembali mengeluarkan pernyataan BOLEHNYA DEMONSTRASI & UNJUK RASA.

Saya ambilkan sebuah contoh, dari pernyataan Ust. Zaitun Rasmin dalam situs resmi Wahdah Islamiyah dengan judul “Unjuk Rasa Menuntut Penista AlQuran tidak Bertentangan dengan Sunnah dan Manhaj Salaf”.

Berikut inti pernyataan beliau dalam situs tersebut : Lanjutkan membaca

Demonstrasi Damai, Apakah Dia Sarana Dakwah dan Al-Masholih Al-Mursalah yang Boleh Ditempuh oleh Seorang Dai dalam Menasihati Pemerintah Muslim?!


Demonstrasi Damai, Apakah Dia Sarana Dakwah dan Al-Masholih Al-Mursalah yang Boleh Ditempuh oleh Seorang Dai dalam Menasihati Pemerintah Muslim?!

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izahhafizhahullah

=============================================

demonstrasi haram mutlakPertanyaan seperti ini telah lama menyambangi seorang ulama Negeri Syam, Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy.

Pertanyaan ini tampaknya datang kepada beliau awal munculnya syubhat dari sebagian kaum pergerakan (haroki) yang memaksakan bolehnya DEMONSTRASI DAMAI.

Si penanya berkata,

هل يجوز القيام بالمظاهرات و المسيرات السلمية للتعبير عن حق الرأي فإن كان الجواب بلا فنرجوا ذكر الدليل ، وهل تدخل هذه المسيرات ضمن المصالح المرسلة ( ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب ) فالأصل فيها الإباحة حتى يرد النص بتحريمها ، وهل القيام بها مع مراعات الضوابط والشروط التي ذكرها عبد الرحمن بن الخالق في رسالته “المسلمون و العمل السياسي” جائزة ؟؟

“Apakah boleh melakukan demonstrasi dan aksi damaiuntuk mengungkapkan hak berpendapat. Jika jawabannya adalah “tidak boleh”, maka kami harapkan penyebutan dalil.

Apakah unjuk rasa ini masuk dalam al-masholih al-mursalah. Sesuatu yang tidak bisa sempurna suatu kewajiban, kecuali dengannya, maka ia wajib. Jadi, hukum asal padanya adalah mubah sampai datang nash dalam mengharamkannya. Lanjutkan membaca