KEHINAAN ULAMA ASWAJA ABAD INI MUHAMMAD SA’ID ROMADHOON AL-BUUTHY


KEHINAAN ULAMA ASWAJA ABAD INI MUHAMMAD SA’ID ROMADHOON AL-BUUTHY

(Hakekat Al-Buthy telah diungkap oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah  sejak puluhan tahun yang lalu)
Ulama sufi yang bermadzhab asy’ari ini –yang telah mencapai usia sangat tua lebih dari 80 tahun- memang sangat terkenal membenci kaum Ahlus Sunnah yang disebut sebagai wahabiyah.

Hal ini tidak lain kecuali karena kaum wahabiyah memerangi kesyirikan yang diserukan oleh Al-Buthy, seperti bolehnya beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal dunia. (lihat di http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=67327, dan http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=24726)

Bahkan ia nekat berdusta untuk menjatuhkan kaum yang dituduh sebagai wahabiyah…

Kedustaan beliau inipun diikuti oleh para pecintanya di tanah air kita Indonesia. Terlalu banyak orang sufi yang menuduh kaum wahabi sebagai khawarij dan pemberontak…suka mengkafirkan…, antek-antek penjajah…dan lain sebagainya.

Ternyata sang Mufti Suria ini membela Basyaar Asad habis-habisan…, bahkan mengajak untuk berjihad bersama Basyar Asad….

Sungguh kehinaan…kehinaan..dan kehinaan…

Berikut khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Al-Buthy pada tanggal 15 Februari 2013 lalu

Diantaranya ia berkata : Lanjutkan membaca

Iklan

Ritual Tahlilan Menurut Kitab NU


Oleh. Ustadz Aris Munandar

Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000

Berikut ini kutipan dari kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin, suatu buku yang terkenal dalam kalangan NU untuk belajar fikih syafi’i pada level menengah atau lanjutan.

ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه،

“Makruh hukumnya keluarga dari yang meninggal dunia duduk untuk menerima orang yang hendak menyampaikan belasungkawa. Demikian pula makruh hukumnya keluarga mayit membuat makanan lalu manusia berkumpul untuk menikmatinya.

لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة،

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin Abdillah al Bajali-seorang sahabat Nabi-, “Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah atau meratapi jenazah”.

ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.

Dianjurkan bagi para tetangga-meski bukan mahram dengan jenazah, kawan dari keluarga mayit-meski bukan berstatus sebagai tetangga-dan kerabat jauh dari mayit-meski mereka berdomisili di lain daerah-untuk membuatkan makanan yang mencukupi bagi keluarga mayit selama sehari semalam semenjak meninggalnya mayit. Hendaknya keluarga mayit agak dipaksa untuk mau menikmati makanan yang telah dibuatkan untuk mereka.

ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.

Haram hukumnya menyediakan makanan untuk wanita yang meratapi mayit karena tindakan ini merupakan dukungan terhadap kemaksiatan

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام وجواب منهم لذلك.

Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk pertanyaan tersebut.

(وصورتهما).

Berikut ini teks pertanyaan dan jawabannya. Lanjutkan membaca

Bercadar Mazhab Resmi NU


Jika Muhammadiyah terkenal dengan keputusan Majelis Tarjih maka saudara kita Nahdhiyyin terkenal dengan keputusan Bahtsul Masail. Keputusan Bahtsul Masail yang paling bergengsi di NU tentu adalah hasil Bahtsul Masail di muktamar NU. Berikut ini saya kutipkan fatwa resmi NU yang telah menjadi keputusan resmi muktamar NU.

Teks arab dan terjemahnya saya memakai yang terdapat dalam buku Ahkam al Fuqaha’ fi Muqarrati Mu’tamarat Nahdhatil Ulama’, Kumpulan Masalah2 Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dan Penerbit CV Toha Putra Semarang.

Buku ini disusun dan dikumpulkan oleh Kyai Abu Hamdan Abdul Jalil Hamid Kudus, Katib II PB Syuriah NU dan dikoreksi ulang oleh Abu Razin Ahmad Sahl Mahfuzh Rais Syuriah NU.

Seluruh fatwa yang ada di buku tersebut sudah dikoreksi oleh tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama antara lain J. M (Yang Mulia-ed) Rois Aam, Kj H Abdul Wahab Khasbullah, J.M. KH Bisyri Syamsuri, al Ustadz R Muhammad al Kariem Surakarta, KH Zubair Umar, Djailani Salatiga, al Ustadz Adlan Ali, KH Chalil Jombong dan alm KH Sujuthi Abdul Aziez Rembang. Lanjutkan membaca

Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu Bukan Tafsir Sufi


Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

tafsir-imam-syafii-1

l-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu merupakan salah seorang tokoh Ahlus Sunnah yang dikenal memiliki keilmuan agama di berbagai bidang, termasuk pula dalam ilmu tafsir. Beliau merupakan salah satu rujukan pada zamannya, yang menjadi tempat bertanya kaum muslimin dalam penafsiran Al-Qur’an.
Ahmad bin Muhammad Asy-Syafi’i berkata: “Aku mendengar ayahku dan pamanku berkata: Adalah Sufyan bin Uyainah rahimahullahu, jika ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang tafsir dan fatwa, maka beliau menoleh kepada Al-Imam Asy-Syafi’i dan berkata: ‘Bertanyalah kalian kepada orang ini’.” (Siyar A’lam An-Nubala’, Adz-Dzahabi, 10/17)
Yunus bin Abdil A’la berkata: “Dahulu aku duduk bersama para ahli tafsir dan berdialog dengan mereka. Lalu jika Al-Imam Asy-Syafi’i mulai menafsirkan, seakan-akan beliau menyaksikan ayat itu diturunkan.” (Tarikh Madinah Dimasyq, 51/362)
Abu Hassan Az-Ziyadi berkata: “Aku dahulu bertanya kepada Asy-Syafi’i tentang beberapa makna dalam Al-Qur’an. Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mampu dari beliau dalam menyebutkan makna-makna Al-Qur’an dan ungkapan yang disertai maknanya, serta menguatkannya dengan syair atau bahasa Arab.” (Tarikh Dimasyq, 51/362)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata: “Dahulu nafas para ahli hadits ada di tangan Abu Hanifah hingga kami melihat Asy-Syafi’i. Beliau adalah manusia yang paling mengerti tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Beliau tidak merasa cukup dengan sedikit menuntut ilmu hadits.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 9/99)
Muhammad bin Fudhail Al-Bazzar menyampaikan dari ayahnya bahwa dia bertanya kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu tatkala melihat Al-Imam Ahmad duduk dengan seorang pemuda: “Wahai Abu Abdillah, engkau meninggalkan majelis Ibnu Uyainah, padahal dia memiliki riwayat Az-Zuhri, ‘Amr bin Dinar, Ziyad bin ‘Alaqah dan kalangan tabi’in lainnya, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui tentang (keutamaan) mereka?”
Jawab Al-Imam Ahmad: “Diam kamu. Jika engkau tertinggal mendapatkan hadits dengan sanad yang ‘ali (tinggi), engkau bisa mendapatkannya dengan sanad yang nazil (rendah). Itu tidak membahayakan agamamu, tidak pula akal dan pemahamanmu. Namun jika engkau tertinggal oleh pemikiran pemuda ini, saya khawatir engkau tidak lagi menemukannya hingga hari kiamat! Aku tidak pernah melihat orang yang paling mengerti tentang Kitabullah dari pemuda Quraisy ini.”
Aku bertanya: “Siapa dia?” Beliau menjawab: “Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.” (Hilyatul Auliya’, 9/100)
Ini pula yang dikatakan oleh Al-Mubarrid: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Al-Imam Asy-Syafi’i, karena sesungguhnya beliau orang yang paling ahli dalam bidang syair, sastra, dan paling mengerti tentang Al-Qur’an.” (Tawali At-Ta’sis, Ibnu Hajar hal. 104)

Kedudukan Al-Qur’an menurut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman, petunjuk, dan pembimbing. Barangsiapa senantiasa menggali ilmunya maka dia akan memiliki kedudukan yang tinggi, sesuai kadar ilmu Al-Qur’an yang dimilikinya.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Semua yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya merupakan rahmat dan hujjah. Berilmu bagi orang yang mengetahuinya dan jahil bagi yang tidak mengetahuinya. Tidak berilmu orang yang jahil terhadapnya, dan tidak jahil orang yang mengilmuinya. Sedangkan manusia bertingkat-tingkat dalam keilmuan. Kedudukan mereka dalam ilmu sesuai tingkatan mereka dalam mengilmuinya (Al-Qur’an).” (Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’i hal. 19)
Beliau rahimahullahu juga menjelaskan bahwa kebahagiaan serta kemenangan hidup di dunia dan akhirat hanyalah diperoleh dengan memahami hukum-hukum yang telah diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya. Beliau rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang menjangkau ilmu tentang hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya, baik secara nash maupun secara istinbath (mengambil kesimpulan dari suatu dalil), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufiq kepadanya untuk berkata serta mengamalkan apa yang telah diilmuinya, maka dia akan meraih kemenangan dalam agama dan dunianya. Akan hilang darinya berbagai keraguan. Cahaya hikmah akan senantiasa menerangi hatinya dan dia akan mendapatkan kepemimpinan di dalam agama.” (Ar-Risalah hal. 19)

Perbedaaan tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dengan tafsir kelompok Shufiyah
Sebagian orang menyangka bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu sejalan dengan pemikiran Shufiyah. Hal ini disebabkan karena banyaknya ahli tasawwuf yang menisbahkan dirinya sebagai penganut madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i serta mengikuti ajaran-ajaran beliau. Padahal tidak demikian keadaannya. Bahkan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu senantiasa sejalan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah secara umum. Khususnya dalam bidang ilmu tafsir, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu sangat jauh dari berbagai prinsip Shufiyah dalam penafsiran Al-Qur’an.
Dalam ushul tafsir, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu menegaskan bahwa dalam memahami Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat-Nya dengan beberapa cara:
– Ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan secara nash, seperti beberapa perkara wajib, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan atas mereka shalat, menunaikan zakat, berhaji, berpuasa, dan mengharamkan atas mereka perbuatan keji, yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan zina, minum khamr, memakan bangkai, darah, dan daging babi, serta menjelaskan kepada mereka kewajiban berwudhu dan yang lainnya.
– Ada pula yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kewajiban sesuatu melalui kitab-Nya dan menjelaskan caranya melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti bilangan shalat, zakat, dan waktu-waktunya, serta yang lainnya.
– Apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa sesuatu yang tidak disebutkan nash-nya dalam Al-Qur’an, di mana Allah l telah mewajibkan dalam kitab-Nya untuk taat kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan hukumnya. Maka barangsiapa yang menerima hukum dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia menerima ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
– Adapula yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berijtihad dalam menemukan jawabannya dan menguji ketaatan hamba tersebut dengan berijtihad, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji mereka dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan atas mereka. (Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 21-22)
Prinsip-prinsip yang disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ini sangat bertentangan dengan apa yang menjadi prinsip kaum Shufiyah. Di kalangan Shufiyah, ilmu tidak diambil dengan cara mempelajari Al-Kitab dan As-Sunnah, karena mereka menganggap bahwa mengambil ilmu secara langsung dari keduanya adalah kekeliruan. Seperti apa yang diucapkan oleh Abul Fadhl Al-Ahmadi: “Jangan kalian memastikan kebenaran dari apa yang kalian ketahui dari Al-Kitab dan As-Sunnah, meskipun secara hakiki itu adalah kebenaran.” (Al-Mashadir Al-’Ammah lit Talaqqi ‘inda Ash-Shufiyah, karya Shadiq Salim, hal. 186)
Namun salah satu cara mereka dalam mengambil ilmu adalah dengan kasyaf shufi. Yaitu kemampuan untuk dapat melihat berbagai hal dengan cara menembus alam ghaib, sehingga seakan-akan dia melihatnya dengan mata kepalanya. Ilmu kasyaf ini –menurut mereka– jauh lebih afdhal dari sekadar mempelajari Al-Kitab dan As-Sunnah. Al-Ghazali menukil dari Al-Junaid bahwa dia berkata: “Aku lebih suka bagi seorang murid pemula untuk tidak menyibukkan hatinya dengan tiga hal: mencari nafkah, menuntut ilmu hadits, dan menikah. Aku lebih suka bagi seorang shufi untuk tidak menulis dan membaca, karena cara itu lebih fokus untuk mencapai harapannya.” (Ihya’ Ulumiddin, Al-Ghazali, 4/239)
Ad-Darani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits, atau menikah, atau mencari nafkah, maka sungguh dia telah condong kepada dunia.” (Ihya’ Ulumiddin, 1/61)
Oleh karenanya, di kalangan Shufiyah, orang yang paling bodoh sekalipun bisa menjadi seorang syaikh yang dihormati. Asy-Sya’rani tatkala menyebut salah seorang gurunya berkata: “Di antara mereka adalah syaikh dan ustadz saya: Sidi Ali Al-Khawwash Al-Baralsi –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai dan merahmatinya–, beliau adalah seorang yang ummi, tidak bisa menulis dan membaca. Dia berbicara tentang makna-makna Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah yang mulia, dengan perkataan yang sangat berharga yang membuat para ulama tercengang1….” (Thabaqat Asy-Sya’rani, 2/150, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 184)
Subhanallah! Kaum Shufiyah berusaha memalingkan kaum muslimin untuk mempelajari agamanya. Padahal seorang muslim tidak mungkin dapat memahami agamanya kecuali dengan cara belajar dan mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطه وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَ يُوقه
“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar dan kesabaran diperoleh dengan belajar sabar. Barangsiapa yang mencari kebaikan maka ia akan diberi dan barangsiapa yang menjaga diri dari kejahatan maka ia akan dipelihara.” (HR. Al-Khathib dalam Tarikh-nya 9/127, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, karya Al-Albani, 1/342)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
لَقَدْ ضَلَّ مَنْ تَرَكَ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِقَوْلِ مَنْ بَعَدَهُ
“Sungguh telah sesat orang yang meninggalkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ucapan orang setelahnya.” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi, 1/386)
Perbedaan yang sangat mencolok antara Al-Imam Asy-Syafi’i dengan kaum Shufiyah inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaum Shufiyah dalam menafsirkan ayat tidak bersandar kepada kaidah-kaidah yang diterapkan para ulama dalam menafsirkan, juga tidak bersandar kepada kaidah-kaidah ilmu musthalah hadits. Mereka selalu bersandar kepada apa yang disebut dengan ilmu kasyaf tersebut, ilmu ladunni2, mimpi-mimpi, atau perasaan, yang dengannya mereka mengaku –padahal mereka para pendusta– bahwa mereka mendapatkan penafsiran langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara.
Asy-Sya’rani berkata tentang salah seorang syaikh sufi asal Mesir yang bernama Ahmad Az-Zawawi: “Dia (Az-Zawawi) pernah berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya cara kami adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau duduk bersama kami dalam keadaan sadar (bukan mimpi). Kami menemaninya sama seperti para sahabat. Kami juga bertanya kepadanya tentang urusan agama kami dan bertanya tentang hadits-hadits yang dilemahkan oleh para hafizh. Lalu kami mengamalkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam padanya’.” (Lawaqih Al-Anwar Al-Qudsiyyah, lembaran 157, Al-Mashadir Al-’Ammah, hal. 236)
Dengan pengakuan dusta bahwa mereka dapat bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar, mereka pun menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan cara “mendengar langsung” dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam Al-Ibriz bahwa Al-Lamthi bertanya kepada syaikhnya yang bernama Ad-Dabbagh tentang makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَمْحُوا اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)
Maka Ad-Dabbagh menjawab: “Aku tidak menafsirkan ayat ini kepada kalian kecuali dengan apa yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemarin beliau menyebutkan tafsirnya kepada kami …. –lalu ia menyebutkan tafsirannya.” (Al-Ibriz hal. 150, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 237)
Demikian pula Ash-Shayadi mengaku bahwa dia telah dibaiat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa membaca surah Al-Ikhlas jika masuk rumah. (Bawariqul Haqa’iq, hal. 307, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 238)
Ash-Shayadi Ar-Rifa’i juga mengaku bahwa Khadhir menafsirkan kepadanya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin: 68)
Khadhir berkata kepadanya: “Penafsiran ayat ini adalah, barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya dan Kami tinggikan kedudukannya di sisi Kami, Kami jadikan dia di kalangan makhluk terbalik (amalannya).” (Bawariqul Haqaiq, hal. 147)
Adapun dalam periwayatan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, As-Sahrawardi mengaku dalam kitabnya As-Sirr Al-Maktum bahwa Khadhir telah memberitakan kepadanya 300 hadits yang dia dengar secara langsung dari lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Kasyful Khudr, lembaran 8, Al-Mashadir Al-’Ammah hal. 261)
Dari sebagian kecil apa yang telah kami paparkan ini, nampaklah bahwa Thariqat Shufiyah memiliki ajaran-ajaran yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah diajarkan oleh para ulamanya, termasuk di antara mereka adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Oleh karenanya, penisbahan sebagian kaum Shufi kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, baik dalam masalah fiqih maupun akidah, adalah penisbahan yang Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu sendiri berlepas diri dari mereka.
Wallahul muwaffiq.

1 Seperti itu pula sufi masa kini (Jamaah Tabligh), ed.
2 Setali tiga uang dengan ilmu kasyaf, yakni “ilmu” yang didapat “langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala” tanpa proses belajar. Menurut keyakinan sufi, “ilmu” ini tertanam dalam hati manusia melalui ilham, iluminasi (penerangan), inspirasi, dan sejenisnya. Dengan mujahadah, “pembersihan dan pensucian hati” melalui amalan atau zikir tertentu akan terpancar “nur” dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia alam ghaib. Diyakini, mereka bahkan bisa “berkomunikasi langsung” dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, para rasul, dan ruh-ruh lainnya, termasuk Nabi Khidhir. Menurut kibulan orang-orang sufi, ilmu laduni hanya bisa diraih oleh orang-orang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat (pengikut sufi menyebutnya dengan wali, habib, gus, dan sejenisnya), meski lahiriahnya mereka adalah orang-orang yang justru menyelisihi syariat. Berkedok ilmu laduni ini, orang-orang sufi, selain melakukan pembodohan terhadap umat, juga berupaya menjauhkan umat untuk mempelajari ilmu naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah), bahkan berujung dengan menafikannya.

Sufi Menyelisihi Akidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu


Al-Ustadz Abu Abdillah Abburrahman Mubarak

Satu kebohongan jika mereka mengklaim sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah Imam Ahlus Sunnah yang teguh dan kokoh di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Penulis Mukhalafatus Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu tidaklah mengambil dari beliau kecuali dalam perkara fiqih dan ibadah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Namun mereka tidak mengikuti jalan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam masalah akidah.” (Mukhalafatush Shufiyah hal. 19)
Kami akan sebutkan beberapa penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam masalah akidah.

Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam masalah rububiyah
Banyak sekali keyakinan shufiyah dalam masalah rububiyah yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menyimpang dari pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antaranya:
1. Shufiyah mengaku wali mereka tahu ilmu ghaib
Ilmu ghaib adalah perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada satu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللهُ؛ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الْأَرْحَامِ إِلاَّ اللهُ، وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا تَكْسِبُ غَدًا وَلَا تَدْرِي بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْـمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ الله،ُ وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ
“Lima kunci perkara ghaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Allah, tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang akan diperbuatnya esok hari dan tidak pula tahu di mana jiwa itu akan mati kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kapan datangnya hujan kecuali Allah, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Al-Bukhari hal. 4697)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Telah ditutup ilmu tentang kapan hari kiamat dari Nabi-Nya. Sedangkan selain malaikat yang didekatkan dan nabi-nabi yang terpilih, ilmunya lebih sedikit dari mereka ….” (Al-Umm) [Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 96-100]

2. Shufiyah meyakini wali-wali mereka bisa mencipta dan mengatur alam
Penciptaan adalah khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)
Namun Jufri Al-Khadrami, seorang tokoh ekstrem shufi saat ini, menyatakan bahwa seorang wali punya kemampuan menciptakan anak di rahim seorang ibu tanpa ada bapak. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Bahkan dia berani menyatakan bahwa wali-walinya punya kemampuan menghilangkan musibah orang yang ber-istighatsah (meminta tolong dihilangkan musibah) kepadanya. Dengan lancang ia bahkan berkata: “Pengaturan yang dilakukan wali bahkan sampai di surga dan neraka.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 32-33)

Penyelisihan shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam masalah asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Di antara masalah asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shufiyah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah:
1. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu menetapkan semua sifat yang terdapat dalam nash/dalil
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, seperti para imam Ahlus Sunnah yang lainnya, menetapkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Beliau rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam kitab-Nya dan telah dikabarkan oleh Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dia Maha mendengar dan Maha melihat, memiliki dua tangan seperti dalam firman-Nya:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Bahkan kedua tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki tangan kanan sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memiliki wajah sebagaimana firman-Nya:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.” (Al-Qashash: 88)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak buta sebelah, sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjelaskan keadaan Dajjal:
إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, dan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala tertawa terhadap hamba-Nya yang beriman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seseorang yang terbunuh di medan perang, dia berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tertawa kepadanya.1
Bagaimana dengan shufiyah?
Shufiyah telah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i dan salafus shalih. Mereka melakukan tahrif (penyelewengan makna) dan takwil. Mereka tidaklah menetapkan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali tujuh saja. (Mukhalafatush Shufiyah hal. 37-38 secara ringkas)

Shufiyah mengingkari Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas
Di antara keyakinan Ahlus Sunah wal Jamaah adalah meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas arsy-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia naik di atas ‘Arsy.” (Al-A’raf: 54)
Dalam hadits Muawiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, ketika dia hendak membebaskan budaknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji hamba sahaya tersebut dengan menanyakan: “Di mana Allah?” Hamba sahaya tadi menjawab: “Allah di atas.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapa aku?” Budak tadi berkata: “Engkau utusan Allah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bebaskanlah, karena dia adalah seorang wanita mukminah.” (HR. Muslim)
Pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu:
Ibnul Qayim rahimahullahu meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i dengan sanadnya bahwa beliau rahimahullahu berkata, “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)
Lebih jelas dari itu adalah ketika beliau meriwayatkan dalam bab membebaskan budak mukminah dalam zhihar2. Beliau rahimahullahu berkata: “Yang lebih aku senangi, tidaklah dibebaskan kecuali yang telah baligh dan beriman, jika dia wanita ‘ajam yang telah disifati dengan keislaman maka cukup. Malik telah mengabarkan kepadaku dari Hilal bin Usamah, dari Atha bin Yasar, dari Umar bin Al-Hakam, beliau berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, saya punya seorang budak perempuan yang menggembala kambing. Ketika saya mendatanginya, ternyata seekor kambing telah hilang. Ketika saya bertanya kepadanya, dia menjawab bahwa kambing itu dimakan serigala. Saya pun marah kepadanya. Saya adalah seorang bani Adam (yang bisa berbuat khilaf, red.) sehingga saya menempeleng wajahnya. Saya punya kewajiban membebaskan budak. Apakah saya boleh membebaskannya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada budak tersebut: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapa aku?” Budak tadi menjawab: “Engkau Rasulullah.” Maka Rasulullah berkata: “Bebaskanlah dia.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Nama sahabat tadi (sebenarnya) Mu’awiyah bin Al-Hakam (bukan Umar bin Al-Hakam sebagaimana dalam riwayat, red.), demikianlah diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan Yahya bin Abi Katsir.”
Lihatlah! Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu mensyaratkan dalam membebaskan budak harus yang mukmin. Beliau rahimahullahu menganggap pengakuan hamba sahaya tadi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas sebagai tanda keimanan.
Bagaimana dengan shufiyah?
Mereka telah meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah ini dan juga meninggalkan akidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.
Sebagian mereka menyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana-mana. Sebagian mereka bahkan ada yang mengingkari pertanyaan: di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk yang terbaik, telah menguji keimanan seorang hamba sahaya dengan pertanyaan semacam ini. (Lihat pembahasan lebih detail pada Mukhalafatush Shufiyah hal. 41-53)

Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam masalah Uluhiyah

1. Shufiyah menyeru kepada kesyirikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Ibnul Qayyim rahimahullahu meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dengan sanadnya, beliau berkata: “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya, dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya, adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya.Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)
Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata: “Orang-orang shufiyah berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berdoa kepada nabi. Juga kepada wali mereka yang masih hidup ataupun yang telah mati. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, hilangkanlah musibah yang menimpa kami. Tolonglah kami. Engkaulah tempat menyandarkan diri.’ Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang berdoa kepada selain-Nya dan menganggapnya sebagai sebuah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus:106)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Doa adalah ibadah seperti halnya shalat. Tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun kepada rasul atau wali. Berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah syirik besar yang menggugurkan amal dan mengekalkan pelakunya di neraka. (Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah)

2. Shufiyah mengajarkan sihir
Sihir adalah satu perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 102)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Jika ada seseorang belajar sihir, kami katakan kepadanya: ‘Terangkan bagaimana cara sihirmu.’ Jika dia menceritakan cara yang menyebabkan kekufuran seperti yang diyakini penduduk Babil yang mendekatkan diri mereka kepada bintang yang tujuh, yakni meyakini bahwa bintang-bintang bisa berbuat apa yang dimintai darinya, maka dia kafir. Jika cara itu menyebabkan kafir dan dia meyakini kebolehan melakukannya, maka kafir juga.” (dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)
Bagaimana dengan shufiyah?
Mereka bukan hanya pelaku, bahkan sumber dan penyebar sihir di umat ini. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menyebutkan di antara sebab-sebab tersebarnya sihir adalah:
1. Menyebarnya kebodohan
2. Permusuhan di antara kaum muslimin dan selain mereka
3. Berkuasanya orang-orang kafir atas kaum muslimin
4. Menyebarnya kelompok sesat dan merusak.

Beliau juga menegaskan, shufiyah termasuk sumber sihir. Beliau terangkan bahwa sumber sihir di alam ini adalah:
1. Yahudi
2. Rafidhah dan Batiniyah
3. Shufiyah
4. Ahlul Kalam (Filsafat)
5. Buku-buku yang ditulis tentang masalah sihir
Di antara bukti yang menunjukkan shufiyah adalah orang-orang yang banyak andil dalam penyebaran sihir, adalah buku-buku sihir yang ditulis oleh tokoh-tokoh shufiyah. Di antaranya:
1. Buku Syamsul Ma’arif Al-Kubra
Penulisnya adalah Ahmad Al-Buni. Di akhir bukunya, dia menerangkan sanad-sanad ilmu sihirnya yang dinisbatkan kepada banyak tokoh shufi ekstrem.
2. Buku Rahmah fi Thibb wal Hikmah
Penulis buku ini, Mahdi bin Ibrahim Ash-Shabiri, adalah seorang tokoh shufi ekstrem.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Di antara khurafat yang paling hina dalam buku ini adalah yang disebutkan penulisnya dalam judul masalah obat kebutaan: diambil darah haid wanita yang belum pernah didatangi pria (masih gadis, red.), lalu dicampur dengan mani, digunakan sebagai celak mata, ini akan menghilangkan gangguan pada mata.”
Asy-Syaikh Muhamad bin Al-Imam berkata: “Tidak ada yang melakukan hal ini kecuali orang yang dungu dan hilang akalnya.”
Asy-Syaikh juga berkata: “Buku-buku shufi ekstrem dipenuhi sihir dan tanjim (astrologi, red.).” (Lihat Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati Alamatis Sihri hal. 54-67)

3. Shufiyah membangun kuburan
Membangun kuburan adalah perkara yang diharamkan dalam Islam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atas kuburan, juga melarang membangun sesuatu di atas kuburan.” (HR. Muslim no. 970)
Membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan ahlul kitab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:
أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلٌ الصَّالِحٌ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا
“Mereka itu jika mati dari mereka seorang yang shalih, mereka bangun di atas kuburannya sebuah masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu menerangkan: “Ketahuilah bahwa kaum muslimin yang dahulu dan akan datang, yang awal dan akhir, sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah bersepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya termasuk perkara bid’ah, yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas para pelakunya.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi berkata dari Thawus: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dibangun atau dicat’.”
Beliau rahimahullahu juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata pula: “Aku membenci ini berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar…”
Asy-Syaikh Sulaiman Alu Syaikh rahimahullahu berkata: “Al-Imam Nawawi rahimahullahu menegaskan dalam Syarh Al-Muhadzdzab akan haramnya membangun kuburan secara mutlak. Juga beliau sebutkan semisalnya dalam Syarh Shahih Muslim.”
Bagaimana dengan shufiyah?!
Tidak samar lagi, kaum shufiyah adalah orang-orang yang paling getol membangun dan menyeru untuk membangun kuburan. Membangun kubah-kubah di atas kuburan, terutama kuburan orang yang mereka anggap sebagai wali.

1 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari (no. 2826) dan Muslim (no. 1890) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
2 Zhihar yaitu menyerupakan istri dengan ibu kandung, seperti ucapan: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

sumber  :www.asy-syari`ah.or.id.

Inilah Kelakuan Orang NU


(Menggunting dalam Lipatan?)

NU menandatangani kerjasama dengan Batak Kristen, dengan klaim akan menangani masalah social baik di masjid maupun gereja.

Tampaknya ketua umum NU (Nahdlatul Ulama), Said Aqil Siradj (SAS) belum kenyang jadi Penasehat PMKRI (Persatuan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia) (1999-sekarang), maka kini merambah ke penandatanganan kerjasama dengan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Padahal Ummat Islam di berbagai tempat mengalami gegeran (konflik) dengan HKBP. Bahkan Allah Ta’ala jelas melarang, dengan firmanNya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman setia (mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin (teman setia), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

Kelakuan orang NU yang tidak menggubris kenyataan dan larangan Allah Ta’ala itu ditandai dengan tanda tangan resmi.

Inilah beritanya:

PBNU Jalin Kerjasama dengan HKBP, Meski di Daerah HKBP Rawan Konflik

JAKARTA (voa-islam.com) – Di tengah maraknya konflik jemaat HKBP dengan umat di berbagai daerah terkait pendirian gereja, PBNU justru menjalin kerjasama  dengan HKBP. Kerjasama di bidang training kepemimpinan dan advokasi kemiskinan ini dilakukan dalam rangka saling mengenal antara PBNU dan HKBP.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menandatangani perjanjian kerjasama dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), di Jakarta, Senin (18/10/2010). Kerjasama yang ditandatangani oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Ephorus Bonar Napitupulu, pucuk pimpinan HKBP ini diklaim sebagai usaha saling mengenal dan berkomunikasi yang lebih baik di antara dua pihak

“Kita akan bekerjasama dalam menangani persoalan sosial, antara lain bagaimana kita mengadakan training leadaership, mengadvokasi kemiskinan yang ada di sekeliling kita, meningkatkan ekonomi mereka yang disekeliling kita, di masjid maupun gereja, karena rata-rata mayoritas kan NU,” kata Marsudi Syuhud, ketua PBNU yang terlibat dalam perjanjian ini.

….Kita akan bekerjasama dalam menangani persoalan sosial, di masjid maupun gereja. Ini muamalah sosial bagaimana kita bisa saling mengerti satu sama lain dan berdamai, kata Marsudi Syuhud, ketua PBNU….

Ia menegaskan, kerjasama ini sama sekali tak ada kaitannya dengan kasus perselisihan gereja HKBP dengan masyarakat di Bekasi beberapa waktu lalu.

Marsudi mengatakan persoalan yang muncul di Bekasi sebenarnya persoalan kecil karena muncul karena antar persoalan pribadi tidak saling kenal. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya membawa adatnya masing-masing dan tidak mempedulikan yang lain.

Ia menjelaskan, kerjasama ini tidak ada menyangkut masalah akidah di antara kedua agama. “Kita tak saling menyinggung masalah akidah, ini muamalah sosial bagaimana kita bisa saling mengerti satu sama lain dan berdamai,” terangnya.

HKBP rawan konflik dengan umat Islam di berbagai daerah

Diberitakan voa-islam sebelumnya, di berbagai daerah jemaat HKBP kerap menuai konflik dengan umat Islam soal pendirian gereja, misalnya HKBP Philadelpia Jejalen Jaya Kabupaten Bekasi, HKBP Cinere Depok, dan terakhir HKBP Pondok Timur Kota Bekasi, Jawa Barat.

Konflik yang paling panas adalah kasus HKBP Pondok Timur yang melahirkan insiden Ciketing 12 September 2010 dengan tertusuknya jemaat HKBP Hasian Sihombing dan beberapa korban luka warga Muslim.

Momen kekisruhan tersebut justru dimanfaatkan HKBP untuk mencabut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. Padahal konflik HKBP di Ciketing bukan karena kesalahan PBM, tapi dipicu oleh manipulasi tanda tangan warga dalam proses perizinan legalisasi pembangunan gereja di lahan kosong kampung Ciketing Asem (Cikeas) Mustikajaya.

….konflik HKBP di Ciketing dipicu oleh manipulasi tanda tangan warga dalam proses perizinan legalisasi pembangunan gereja di lahan kosong kampung Ciketing Asem (Cikeas) Mustikajaya….

Contohnya, dalam surat pernyataan persetujuan warga terdapat tanda tangan Banah binti Bandul. Dalam KTP bernomor 3275.1153016.00001, nenek yang tinggal di Ciketing Asem RT 5/RW 6 ini tidak bisa membuat tanda tangan, sehingga ia hanya membubuhkan cap jempol. Anehnya, dalam surat pernyataan persetujuan warga tercantum tanda tangan nenek Banah. Setelah diselidiki oleh Forum Umat Islam Mustika Jaya (FUIM), ternyata tanda tangan dalam surat pernyataan tersebut dipalsukan.

Tanda tangan Siti Jubaidah, warga Mustika Jaya RT 03/RW 06 pun tidak beres. Tanda tangan dalam surat pernyataan persetujuan gereja jauh melenceng dari tanda tangan asli dalam KTP bernomor 10.5501.631274.1002.

Warga Muslim lainnya yang tanda tangan KTP-nya berbeda dengan surat pernyataan persetujuan gereja HKBP, antara lain: Pak Milih (54 tahun), Sinan (35 tahun), Arief (28 tahun), Niden (38 tahun), Sarwono (34 tahun), Manih (47 tahun), Kumin (60 tahun), Karsin (45 tahun), Didin (31 tahun), Nurjayadi (47 tahun), dll.

Buntut dari manipulasi dalam proses pendirian gereja HKBP tersebut, Nicing (Ketua RT 03/RW 06) dan Rimin Sairi (Ketua RW 06) kelurahan Mustika Jaya Bekasi membuat pernyataan tertulis, bahwa dalam berkas-berkas permohonan perizinan gereja HKBP itu terdapat pemalsuan data identitas dan pemalsuan tanda tangan warga. Dalam surat berstempel RT dan RW tertanggal 1 Agustus 2010 itu dilampirkan surat pernyataan ratusan warga Mustika Jaya yang menolak berdirinya gereja HKBP dengan latar belakang pemalsuan data dan penyuapan. Uang suap yang dikucurkan HKBP untuk satu buah foto copy KTP berkisar dari Rp 100.000 hingga 1 juta rupiah.

Demi mendapatkan izin gereja sesuai aturan PBM, dilakukanlah transaksi suap-menyuap, lalu memalsukan identitas dan tanda tangan warga. Setelah terbongkar kedoknya, warga pun mencabut pernyataan persetujuan, hingga kandaslah izin gereja. Setelah gagal mendapat izin sesuai peraturan PBM, kini HKBP menuntut pencabutan PBM. [taz/nuo]

Sumber: Voaislam, Senin, 18 Oct 2010

Tidak menggubris kenyataan dan larangan Allah Ta’ala

Lakon orang NU itu sama sekali tidak pantas ditiru. Bahkan sama sekali tidak melek terhadap kenyataan, apalagi prihatin terhadap nasib Ummat Islam. Kalau sedikit mau melihat kenyataan, maka coba baca artikel ini:

Batak Kristen dan Konflik Horizontal

October 5, 2010 11:13 pm admin Artikel, Kata Hikmah

Batak Kristen dan Konflik Horizontal

KASUS tertusuknya Pendeta Luspida Simanjuntak dan penatua Hasian Sihombing dari HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) pada 12 September 2010 lalu, adalah salah satu peristiwa bernama konflik horizontal yang berkaitan dengan etnis Batak Kristen. Luspida Simanjuntak dan Hasian Sihombing adalah pemuka Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, Jawa Barat.

Belasan tahun sebelumnya, pada konflik Poso yang sudah berlangsung sejak 25 Desember 1998, mencuat beberapa nama pemuka agama Batak Kristen dan tokoh Batak Kristen bernama Pendeta Renaldy Damanik dan Janis Simangunsong yang memprovokasi Tibo dan kawan-kawan untuk melakukan pembantaian di Pesantren Walisongo (28 Mei 2000). Tibo dan kawan-kawan akhirnya dihukum mati pada tanggal 22 September 2006, sedangkan tokoh-tokoh penting di belakangnya hingga kini tak tersentuh.

Keterkaitan etnis Batak Kristen di dalam konflik horizontal, memang tidak selalu berujung pada tragedi berdarah. Ada kalanya masih berupa potensi yang tentu saja mengkhawatirkan, seperti melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dilakukan salah seorang etnis Batak Kristen dengan menerbitkan komik digital.

Sekitar pertengahan November 2008, di situs http://www.lapotuak.wordpress.com sempat tayang komik berbahasa Indonesia dengan judul Muhammad dan Zainab serta Kartun Sex Muhammad dengan Budak. Komik penghinaan itu sudah tayang sejak 12 November 2008, namun baru membuat heboh sekitar sepekan kemudian.

Pada komik itu Nabi Muhamad SAW digambarkan sebagai laki-laki brewokan. Sedangkan Zainab dan Mariah ditampilkan dengan pakaian yang menggoda bahkan ada yang telanjang. Tidak sekedar memvisualisasikan sosok, komik itu juga mengkutip beberapa ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits, namun dengan penafsiran versinya sendiri yang tentu saja sangat menyesatkan.

Dari nama blog dan sejumlah tulisan yang pernah ditayangkan blog tersebut, sudah bisa diduga bahwa blog itu dibuat oleh etnis Batak, khususnya Batak Karo beragama Kristen yang sudah terpengaruh Yudaisme (Yahudi). Kesan ini semakin kuat setelah membaca artikel berjudul Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang yang ditayangkan sejak 11 Januari 2008.

Secara keseluruhan, isi situs yang sudah eksis sejak 05 Desember 2007 itu memang melecehkan agama Islam dan Nabi Muhammad SAW, seraya memposisikan agama Islam sebagai agama yang tidak benar. Antara lain, sebagaimana bisa dibaca melalui tulisan berjudul Agama Benar vs Agama Tidak Benar yang tayang pada 28 April 2008.

Selengkapnya dapat dibaca di: http://www.nahimunkar.com/batak-kristen-dan-konflik-horizontal/#more-3483

Di samping itu, kalau mengaku sebagai orang beriman, maka mestinya sami’na wa atho’na kepada firman Allah Ta’ala yang telah jelas melarang. Inilah ayatnya:

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman setia (mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. “ (Al-Mumtahanah: 1)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya loyalitas kepada orang-orang mukmin dan memusuhi orang-orang kafir.

Apakah memang maunya berbalikan dengan aturan Allah Ta’ala? Atau cari kesempatan untuk menggunting dalam lipatan? Semoga saja tidak. Hanya masalahnya, apakah di NU sudah tidak ada lagi orang yang menegakkan perintah Allah Ta’ala?

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]

Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS Hud: 78).

(nahimunkar.com)

BENARKAH Muhammad Alwi Al Maliki (SEORANG MUHADDITSUL HARAMAIN) ?


Pengagum Alwi Al Maliki memprotes :

...Untuk masalah ini silahkan
 ustadz baca kitab XXX oleh Muhadditsul Haramain Sayyid
 Muhammad Alwi
 Al Maliki, ana tunggu jawaban Ustadz Aunur Rofiq.


(0815 4803 0XXX )

Redaksi Al Furqon Menjawab :

…Kami tidak memiliki kitab yang disarankan tersebut. Sejauh ini kami belum mengetahui ada yang menggelari Muhammad Alwi Al Maliki dengan Muhadditsul Haramain kecuali orang-orang yang fanatik kepadanya atau semadzab. Simak perkataan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Arab Saudi terdahulu ketika memberi muqoddimah kitab hiwar ma’a Maliki fi Raddi Mungkaraatihi (Dialog dengan Al Maliki, Bantahan Kemungkaran dan kesesatannya) karya Syaikh Abdullah bin Mani’, anggota Kibar Ulama Saudi, kata beliau: “…saya telah mencermati kemungkaran-kemungkaran di kitab karangan Muhammad Alwi maliki dan dalam muqodimah kitabnya yang tercela yang dinamakan Ad Dzakho’ir Al Muhammadiyyah. Dalam buku itu dia menisbatkan sifat-sifat ilahiyyah kepada Rasulullah, semisal: “Rasulullah memegang kunci-kunci langit dan bumi, beliau berhak membagi tanah di surga, mengetahui perkara ghaib, ruh, dan lima perkara yang hanya diketahui Allah, makhluk diciptakan karena beliau, malam kelahirannya lebih agung ketimbang lailatul qadar, dan tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali karena beliau”. Contohnya dia mengakui qosidah-qosidah yang dia nukil dari kitab Ad Dzakho’ir yang berisi istighotsah dan meminta perlindungan kepada nabi, sebab beliau adalah tempat berlindung ketika terjadi musibah. Karena kemana lagi berlindung kalau bukan kepadanya, dan masih banyak lagi…Dan sungguh menggelisahkan saya munculnya kemungkaran yang jelek ini, bahkan sebagiannya jelas-jelas bentuk kekufuran nyata dari Muhammad Alwi Al Maliki.

Sebagaimana banyak ulama merasa sesak dengan banyaknya kesesatan dan kesyirikan yang dia tulis dibukunya, terutama Lembaga Ulama-Ulama Besar. Oleh karena itu Lembaga tersebut menerbitkan keputusan no. 86 tgl 11/11/1401 H, berupa pengingkaran kepada dakwah Al Maliki yang mengajak kepada syirik, bid’ah, kemungkaran, kesesatan dan menjauhkan dari petunjuk salaf umat ini berupa akidah yang selamat dan peribadatan yang benar kepada allah dalam uluhiyyah dan rububiyyah-Nya”.(lihat Muqoddimah kitab Syaikh Abdullah bin Mani’ ini).

Al Maliki juga menulis juga menulis kitab lain yaitu Mafahim Labudda An Tushohhah (Namun patut disayangkan kitab ini telah telah diterjemahkan oleh penerbit berinisial PZZ,dengan judul yang kami singkat PYHD, Namun Al Alhamdulillah Majalah Al Furqon edisi 8/tahun III/Rabiul Awwal 1425 hal 19 telah memberikan bantahan singkatnya yang diterjemahkan dari kitab Syaikh Shalih bin Abdul Azis Alu Syaikh ). Kitab ini tidak jauh beda dengan kitab yang pertama tadi. Oleh karena itu dibantah oleh Syaikh Shalih bin Abdul Azis alu Syaikh ( MenAg Saudi Arabia sekarang ) dalam kitab Hadzihi Mafahimuna. Dalam kitab tersebut Syaikh Shalih membongkar kedok Al Maliki yang katanya ahli hadits itu. Ternyata dia bukan ahli hadits. Dengan indikasi ini, kami yakin kitab yang disarankan untuk dibaca isinya kurang lebih sama. Maka silahkan membaca dua kitab tersebut agar memahami kebenaran yang sesungguhnya. Semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan kebenaran. (Majalah Al Furqon Gresik, Edisi 5 Thn. III hal. 2, dengan judul asli “Tuduhan tak Berdasar” ).

:: KESIMPULAN :::

Kitab penuh penyimpangan aqidah karya Muhammad alwi al maliki :

1.Ad Dzakho’ir Al Muhammadiyyah
2.Mafahim Labudda An Tushohhah

Kitab bantahan atas kesesatan Muhammad alwi al maliki

1. Hiwar ma’a Maliki fi Raddi Mungkaraatihi wa Dholalatihi
( Membantah kitab Ad Dzakho’ir…)
Karya Syaikh Abdullah al mani’
Anggota Kibar Ulama Saudi
2. Hadzihi Mafahimuna
(Membantah kitab Mafahim Labudda …)
Karya Syaikh Shalih bin Abdul Azis Alu Syaikh
Menag Arab Saudi sekarang

Mengenal lebih dekat dengan “Syaikh”nya Nahdatul Ulama

Pertanyaan : “Didaerah Jawa Timur banyak saudara-saudara yang kita
belajar di pondok pesantren salafiyyah (Ustadz Ali Saman berkomentar:
Masya Allah…Salafiyyah NU, Nahdatul Ulama ?!?!?! ) sangat
mengagungkan sosok Kyai Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki, Siapakah
sosok syaikh tersebut ? Apakah benar dia seorang Muhaddits Ahlus
Sunnah? Apakah sekarang masih hidup ? Apakah sumbangsih Syaikh
Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki terhadap perkembangan dakwah
salafiyyah di Saudi pada umumnya dan para alumninya di Indonesia
pada khususnya ?

Ustadz Ali Saman menjawab :
Ikhwanifillah A’azakumullah…saya kemaren membaca di majalah Al
Furqon ( Al Furqon Gresik, Edisi 5 Thn. III hal. 2) perdebatan
antara Ustadz Aunur Rofiq dengan salah satu pengagum Syaikh Muhammad
Alwi Al Maliki, pengagum Alwi Al Maliki tersebut mengatakan bahwa
syaikhnya adalah Muhadditsul Ahlus Sunnah. Syaikh Muhammad Alwi Al
Maliki duhulunya adalah pernah ngajar di haram (tanah suci), dan
orang salafy. Kemudian setelah itu banyak penyimpangan-penyimpangan.
Salah satunya buku yang menunjukkan penyimpangannya adalah dia
menulis buku yang berisi pengkultusan Nabi Shalllallahu ‘Alaihi
Wassalam dan mengarang tentang sunnahnya maulid nabi
Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam.

Kemudian habis itu, ia dikeluarkan atau dipecat dari mengajar di
halaqah di masjidil haram oleh kepemimpinan tinggi masjid al
haramain. Bahkan terjadilah hiwar (debat/dialog) yang sangat kuat
sekali antara syaikh Sulaiman Ibnu Mani’ (Anggota Kibar Ulama
Saudi) dengan Syaikh alwi almaliki di Mekkah, dan hiwar/dialog itu
direkomendasikan oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz ( Mufti Kerajaan Arab
Saudi waktu itu ) dan terbitlah bukunya dan sudah
diterjemahkan “Dialog dengan Alwi Al Maliki”,

Silahkan baca bukunya…..Syaikh Sulaiman Ibnu Mani’ membantah dengan
nash Al Quran, Sunnah Nabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akal
terhadap pendapat alwi al maliki yang membolehkan Maulid Nabi.

Ikhwanifillah A’azakumullah….Syaikh Alwi Al Maliki sebenarnya
memiliki manhaj yang baik sebelum ia dikeluarkan dari mengajar di
masjidil haram.

TETAPI sekarang manhajnya sudah rusak, akidahnya sudah rusak, dan
banyak disana ia menghalalkan tawassul yang diharamkan oleh Allah
dan RasulNya, bahkan mengagungkan Rasulullah sampai-sampai
menjadikan Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam seolah-olah
sebagai ilah atau sebagai Tuhan, dan hal ini adalah sumber dari
kesesatan agama Syi’ah, yang mereka mengagungkan Rasulullah
Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam melebihi derajat yang Allah turunkan
kepada dia (Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam). Syaikh Alwi
Al Maliki setelah disuruh taubat oleh para ulama disana ( Saudi
maksudnya ). Ia tidak mau taubat dari perbuatan dosanya, Akhirnya
pemerintah setempat memutuskan menghukum Syaikh Sayyid Alwi AlMaliki
sebagai tahanan rumah. Dan menurut cerita teman saya, suatu ketika
ia pernah nekad untuk keluar untuk sholat ied di masjidil haram,dan
ketika keluar dari masjidil haram dan para syabab tahu bahwa orang
tersebut adalah syaikh yang memiliki dan mendakwahkan aqidah tauhid
yang rusak, akhirnya para syabab langsung mengerubungi dia untuk
berusaha memukulinya, akhirnya mulai saat itu, pemerintah setempat
melarang ia dari sholat id (ditempat umum). Syaikh alwi al maliki
menyebarkan kesesatan ajarannya melalui pembangunan ma’had
diberbagai tempat dengan nama ma’had “Ar ribath”, dia membungkus
kesesatan ajarannya dengan slogan ajaran cinta kepada ahlul bait
(allawiyyin) , yang sebenarnya adalah mencela kepada ahlul bait itu
sendiri !!!. Ma’had Ar ribath di Mekkah didirikan oleh dia di tempat
yang sangat tersembunyi sekali, “laa ya’rifuha illa ahluha” / “tidak
ada orang yang tahu kecuali orang – orang yang menginduk kepada
ma’had ini”. Sampai saya sendiri pernah mencoba mencari tahu ma’had
ar ribath kayak apa ???, tapi tidak ketemu…karena mereka tahu
bahwa saya dari jam’iyyah islamiyyah dari penampilan saya. Di
Maroko dan Madinah didirikan ma’had ar ribath juga.

Santrinya memiliki ciri khas yang sangat unik sekali diantaranya
memakai gamis seperti yang saya pakai TETAPI gamis mereka nyapu
masjid/lantai (isbal maksudnya ) dan memakai selendang hijau (coba
antum teliti, penampilan kyai-kyai NU…niscaya antum akan tahu
dengan siapa dia belajar). Sampai-sampai ketika mereka keluar masuk
di perkemahan dan hotel-hotel jama’ah haji mereka mengatakan “Kita
ini dari Islamic University menawarkan kambing kurban 200 riyal ?”
padahal kambing yang kita beli itu harganya 350 riyal. “Sisanya dari
mana ? “Sisanya ? Wallahu a’lam bish showab”, Mengapa mereka berani
menjual kambing dengan 200 riyal ?, karena mereka menyembelih
kambing sebelum hari id dengan dalil bahwa (kata mereka) madzab
Syafi’iyyah membolehkannya. Padahal tidak ada madzab syafi’i yang
membolehkannya !!!. Kemudian habis itu ya ikhwan…ciri-cirinya
mereka itu, Masya Allah…kelihatannya mereka iltizam kepada sunnah,
padahal mereka itu menindas-nindas dan menguburkan sunnah itu
sendiri. Sunnahnya bagaimana? Sunnah yang mereka sering tampakkan
adalah hadits yang berbunyi (yang artinya) “Sholat menggunakan siwak
itu pahalanya lebih dari 70 kali sholat”, padahal hadits ini adalah
hadits yang dho’if !!! Kalaupun seandainya hadits ini adalah hadits
yang shohih, maka derajatnya hasanun lighoirihi. Ketika mau sholat,
mereka langsung ambil siwak, meskipun imam sudah takbir, mereka
tetap sibuk siwak-an, padahal Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi
Wassalam mengatakan “fa idzaa kabbara fakkabaruu..”Apabila ia (imam)
bertakbir, bertakbirlah kalian..”. ngga’ usah pakai ushalli…ngga’
usah pakai siwak. Adapun mengenai murid-muridnya …Murid-muridnya
banyak sekali bertebaran di Indonesia, bahkan sekarang ini banyak
dan lebih banyak lagi, mereka membuat jam’iyyah lanjutan setelah
Ma’had Ar Ribath…yaitu Jam’iyyah Al Ahqaf. Apel siaganya tiap pagi
adalah…keliling kuburan syaikh mereka. Oleh karena tidak pantas
mereka menisbatkan pesantrennya kepada salafiyyah, karena salafiyyah
adalah ..salafy adalah ashhabunnabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam wa
ashhabul kiram, itu yang kita nama salafiyah.dan kita tidak menyebut
pesantren mereka dengan pesantren salafiyyah !!! Salafiyyah yang
mereka (murid Alwi Al Maliki di Indonesia dan Nahdatul ‘Ulama)
maksudkan adalah pesantren tradisional, ngajinya pake kitab kuning,
mandinya dengan 2 qullah meskipun sudah kotor/butek/keruh airnya
sampai-sampai membuat kulit gatal. ( maksudnya orang –
orang “salafiyyah” NU mengganggap bahwa air yang telah mencapai 2
qullah tidak dapat ternajisi oleh apapun…padahal pemahaman yang
benar tidaklah demikian, baca keterangan Ustadz. Abdulhakim bin Amir
Abdat mengenai hadits masalah ini pada AsSunnah edisi 06/tahun
VII/1424 H/2003 M hal. 11 )

Nah oleh sebab itu, Ikhwanifillah A’azzakumullah….dikatakan pula
Syaikh Alwi Al Maliki ini memiliki ziarah (kunjungan) ke Indonesia
setiap satu tahun sekali, ziarahnya langsung ke Jawa Timur, ke
tempat para fans nya ( maksudnya bekas muridnya ), Saya orang jawa
timur…dan banyak bertemu dengan pengikut-pengikut mereka ini.
Bahkan satu cerita mengatakan, Wallahu a’lam cerita ini betul atau
tidak…bahkan diantara orang-orang yang diziarahi terutama orang-
orang madura… arek-arek situbondo itu…mereka rela menikahkan
anaknya dengan syaikh ini, dalam rangka mengambil keturunan habaib.
Perlu kita ketahui keturunan habaib tidak ada fungsinya disisi Allah
swt kecuali dengan taqwa !!!. Habaib banyak…habaib banyak di
Indonesia…yang ngaku habaib …habib…habib…habib, tapi
perbuatannya…adalah menyalahi Sunnah Rasulullah
Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam, bukan pencinta Rasulullah
Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam. Katanya habaib juga masih main
perempuan… Katanya habaib juga masih jualan tanah surga,
katanya…perbuatan macam apa yang dilakukan para habaib seperti ini ???

Ikhwanifillah… antum coba sekarang lihat di Bogor, kebetulan saya
waktu itu tinggal di Jakarta dan saya suka ke Bogor…disana ada
kuburan yang dikeramatkan milik habib fulan… omzetnya setiap hari
atau setiap minggu, melebihi 30 Juta, oleh karena itu mereka tidak
mau meninggalkan kerjaan seperti ini…bayangkan 1 minggu dapat 30
juta…bandingkan dengan gaji pegawai negeri…satu minggu dapat
berapa ??? belum potongan-potongan yang lain…, yang datang disana
juga para pejabat – pejabat, seperti inilah kondisi umat kita, yang
mau dibohongi oleh pemuja-pemuja kuburan habaib. Dan parahnya…para
prajurit-prajurit alawiyyin (maksudnya murid alwi al maliki) ini
banyak mengajar di Pesantren NU, seperti Pesantren Tebu Ireng,
Pesantren Kyai As’ad, dan Pesantren Ash Shidiqiyyah di Kedoya
Jakarta. Ciri-ciri mereka sama…kalau pake gamis,
sorbannya/selendangnya berwarna hijau…kalau pake sarung, ngga’
tahu saya ciri-ciriya…(SELESAI TANYA JAWAB )

Sumber : ditranskrip dari CD Dakwah Bedah Buku Intensif 2004 CD-3,
Sesi tanya jawab (kajian tanggal 13 Dzulhijjah 1424 H) dengan Ustadz
Ali Saman Hasan, Lc ( Alumni Univ. Islam Madinah, sekarang mengajar
di Ma’had Al Irsyad Tengaran, Salatiga )