Membantah Pengingkar Azab Kubur


Membantah Pengingkar Azab Kubur

ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal hafizhahullah

azab kubur 2“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Allah meneguhkan.”

At-tatsbit pada ayat ini bermakna at-tahqiq yang artinya mewujudkan, yaitu Allah Subhanahu wata’ala mewujudkan amalan dan keimanan mereka. (Tafsir Ath-Thabari)

Adapula yang menyebutkan bahwa makna at-tatsbit adalah tetap dan kokoh. (lihat Fathul Qadir)

“Dengan ucapan yang teguh itu.”

Yakni kalimat yang haq dan hujjah yang jelas, yaitu kalimat tauhid: Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah. (Tafsir Al-Baghawi, Fathul Qadir, Asy-Syaukani)

“Dalam kehidupan dunia dan akhirat.”

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama dalam menjelaskan makna “di dunia dan akhirat”:

– Pendapat pertama, yang dimaksud “di dunia” adalah sebelum mati dan “di akhirat” adalah sesudah mati (alam kubur). Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh jumhur ulama dan yang dipilih oleh Ath-Thabari Rahimahullah.

– Pendapat kedua, yang dimaksud “di dunia” adalah alam kubur, sedangkan yang dimaksud “di akhirat” adalah hari kiamat. Al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu berkata tatkala menjelaskan tentang ayat ini: “Pengokohan dalam kehidupan dunia adalah apabila datang dua malaikat kepada seseorang di alam kuburnya, lalu keduanya bertanya kepadanya: ‘Siapakah Rabb-mu?’ Maka dia menjawab: ‘Rabb-ku adalah Allah.’ Lalu keduanya bertanya lagi: ‘Apakah agamamu?’ Maka dia menjawab: ‘Agamaku Islam.’ Lalu keduanya bertanya lagi: ‘Siapakah nabimu?’ Maka dia menjawab: ‘Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Itulah yang dimaksud pengokohan dalam kehidupan dunia.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim Rahimahullah dalam Shahih-nya no. 2871, Ath-Thabari 13/213, Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/53 no. 12048, dan Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 866) Lanjutkan membaca

Hizbut Tahrir Berulah Lagi (Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam edisi 772)


Hizbut Tahrir Berulah Lagi (Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam edisi 772)

Oleh Abu Namira Dian

buletin khawarijHizbut Tahrir Berulah Lagi
Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam
[Al-Islam edisi, 772, 4 Dzulhijjah 1436 H – 18 September 2015 M]
Tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M).*
Silahkan buka di :
http://hizbut-tahrir.or.id/2015/09/16/khilafah-mewujudkan-taat-menyatukan-umat-renungan-idul-adha-1436-h2015-m/

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Telah sampai kepada penulis buletin Al-Islam(Buletin resmi Hizbut Tahrir), edisi, 772, 4 Dzulhijjah 1436 H – 18 September 2015 M]
dengan tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M).

Setelah penulis baca dari awal hingga akhir, ada beberapa tulisan di dalam buletin Al-Islam edisi 772 itu yang perlu diluruskan dan di bantah, Di antaranya :

1. Tanpa Khilafah, ketaatan hanya akan menjadi ketaatan semu dan parsial. (Subjudul : Ketaatan Mutlak, baris ke- 42 dan 43).

2. Adapun di negeri-negeri Arab yang kaya-raya, penguasanya menutup mata. Jangankan untuk mengurus mereka yang “menyusahkan”, mengurus jamaah haji yang memberikan keuntungan materi kepada mereka saja, penguasa itu abai dan teledor. Akibatnya, darah pun tumpah di Masjidil Haram, Tanah Suci, di bulan suci, di penghulu hari. Tak kurang 180-an nyawa melayang menjadi korban keteledoran mereka.(Subjudul : Persatuan Umat, paragraf ke-6).

3.Keterpecah-belahan umat ini tidak akan terjadi jika umat memiliki payung dan pelindung. Umat Islam tidak akan menjadi umat kerdil dan kecil jika umat ini bersatu di bawah naungan Khilafah. Umat Islam akan menjadi umat yang kuat dan kembali menjadi umat terbaik (khayru ummah) jika bersatu di bawah naungan satu dawlah (negara), Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah(Subjudul : Persatuan Umat paragraf ke-8).

inilah ketiga hal yang harus diluruskan, tetapi penulis hanya akan meluruskan poin kedua saja, dengan pertimbangan :
1. agar tidak terlalu panjang.
2. poin kedua ini yang lagi hangat dibicarakan. Lanjutkan membaca

Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (5)


Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (5)

Khilafah, Hadiah untuk Hamba-Nya yang Bertauhid

nabi isaDengan kembali kepada ajaran tauhid-lah, umat Islam ini akan kembali menemukan kejayaannya sebagaimana yang pernah diraih oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya dahulu. Allah Ta’ala telah berjanji kepada hamba-Nya, bahwa Allah akan memberikan kejayaan kepada ahli tauhid. Allah Ta’ala berfirman dalam rangka menjelaskan hal ini,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.(QS. An-Nuur [24]: 55).

Di dalam ayat ini terdapat sesuatu yang dijanjikan, orang yang mendapat janji, dan kondisi (syarat) dimana janji tersebut dipenuhi. Adapun orang yang mendapat janji, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih”, mereka adalah orang-orang yang mendapat janji.

Adapun sesuatu yang dijanjikan adalah tiga hal:

  1. Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”. Maksudnya, jika mereka tidak memiliki kekuasaan, maka dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, Allah Ta’ala akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.

  2. Kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang janji yang kedua yang artinya,“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”. Masalah terbesar yang diusahakan dan diinginkan oleh orang-orang yang beriman adalah mereka dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keteguhan. Mereka tidak takut dan tidak merasa lemah di dalam melaksanakan agama AllahTa’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang dihormati. Itu semua sesuai dengan janji Allah Ta’ala.

  3. Adapun janji yang ketiga adalah firman-Nya yang artinya,“Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa”. Setelah mereka merasakan sedikit ketakutan serta setelah Allah Ta’ala memenangkan dan meneguhkan agama mereka, maka setelah adanya ketakutan itu mereka menjadi aman sentosa. Mereka merasa aman terkait diri mereka sendiri, agamanya, anak-anak mereka, kehormatan mereka, dan terkait harta-harta mereka semua. Semua ini adalah karunia dan janji dari AllahTa’ala.

Lanjutkan membaca

Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (4)


Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (4)

Memulai dari Perbaikan Tauhid, atau Perbaikan Politik, Sosial, dan Ekonomi?

nabi isaKalaulah kita mau meneliti sejenak dakwah para Rasul, maka kita akan mendapati bahwa para Rasul semuanya memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Padahal, kondisi umat para Rasul tersebut berbeda-beda satu sama lain.

Di antara para Rasul tersebut ada yang menghadapi problem ekonomi sebagaimana yang dialami Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam. Salah satu problematika yang terjadi pada umat Nabi Syu’aib adalah masalah di bidang ekonomi. Karena umat beliau suka berbuat curang dalam jual beli dengan mengurangi takaran timbangan. Meskipun demikian, Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam tetap mendahulukan dakwah tauhid sebelum memperbaiki kecurangan tersebut. AllahTa’ala berfirman,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf [7]: 85).

Di antara para Rasul juga ada yang mengahadapi problematika kebobrokan moral, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Luth ‘alaihis salaam.Kaum Nabi Luth ‘alaihis salaam tergolong masyarakat yang moralnya sangat rusak. Mereka mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelum atau semasa mereka. Kaum laki-laki menggauli kaum laki-laki dan kaum perempuan menggauli kaum perempuan (kaum gay dan lesbian). Meskipun demikian, Nabi Luth ‘alaihis salaam tetap mendahulukan dakwah menuju perbaikan aqidah umatnya tersebut. Lanjutkan membaca

Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (3)


Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (3)

Rasulullah Menolak untuk Menjadi Raja dan Tetap Konsisten Memegang Dakwah Tauhid

nabi isaSetiap orang yang hendak meneliti jejak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia akan mendapati bahwa Rasulullah tidak pernah menjadikan kekuasaan atau mendirikan negara sebagai sarana atau bahkan sebagai tujuan utama dakwahnya. Buktinya, ketika ditawarkan kepada beliau untuk memegang kekuasaan sebagai seorang Raja, beliau tetap menolaknya. Beliau tetap konsisten memegang teguh metode dakwah yang telah ditempuh oleh seluruh Rasul yang pernah diutus, yaitu memulai dari aqidah tauhid serta memerangi berbagai bentuk kesyirikan. Berikut ini penulis sampaikan beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut.

Hadits pertama, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَرْسَلَنِى إِلَيْكَ رَبُّكَ أَفَمَلَكاً نَبِيًّا يَجْعَلُكَ أَوْ عَبْداً رَسُولاً قَالَ جِبْرِيلُ تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ « بَلْ عَبْداً رَسُولاً »

Malaikat Jibril duduk di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menengadahkan mukanya ke langit. Tiba-tiba ada seorang malaikat yang turun. Malaikat Jibril berkata,’Malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan kecuali saat ini. Ketika malaikat tersebut turun, beliau berkata,’Wahai Muhammad! Aku diutus kepadamu oleh Rabb-mu. Apakah Engkau ingin dijadikan sebagai seorang Raja sekaligus Nabi atau seorang hamba sekaligus Rasul?’ Malaikat Jibril berkata,’Merendahlah kepada Rabb-mu, wahai Muhammad!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,’Sebagai seorang hamba dan Rasul.’” [1]

Hadits ke dua, ketika dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai merisaukan hati orang-orang kafir Quraisy, maka mereka mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah untuk memberikan beberapa penawaran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Utbah bin Rabi’ah berkata, Lanjutkan membaca

Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (2)


Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (2)

Rasulullah Memulai Dakwahnya dengan Tauhid

nabi isaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya sama persis dengan para Nabi sebelum beliau, yaitu memulai dari aqidah tauhid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan menyeru umatnya agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, yang merupakan inti dari kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”. Tidak pernah terlintas dalam pikiran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memulai dakwahnya dengan selain dasar yang agung tersebut. Beliau terus-menerus menyerukan dakwah tauhid ini sepanjang periode kerasulan beliau selama 13 tahun di kota Mekah. Beliau tidak pernah merasa lelah dan bosan, beliau senantiasa bersabar terhadap setiap gangguan dan rintangan di jalan dakwah tauhid tersebut. Selama di Mekah, beliau tidaklah mewajibkan syari’at-syari’at dan rukun Islam kecuali shalat pada tahun ke sepuluh dari periode kerasulan. Meskipun beliau juga menyerukan kepada umatnya kepada akhlak yang mulia, menyambung tali persaudaraan, jujur, dan memelihara kehormatan diri, akan tetapi yang menjadi sentral dakwah dan titik perselisihan antara beliau dengan umatnya adalah dakwah kepada aqidah tauhid.

Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan dasar tauhid yang agung ini. Hal ini dapat kita cermati dari beberapa ayat berikut ini.

Ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Sesunguhnya kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (QS. Az-Zumar [39]: 2-3).

Ayat ke dua, Allah Ta’ala berfirman, Lanjutkan membaca

Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (1)


Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? (1)

Dakwah Tauhid, Jalan Hidup Rasulullah dan Sahabatnya

nabi isaDakwah tauhid, mungkin dianggap sebagai sesuatu yang usang dan kuno bagi sebagian kaum muslimin. Mereka menganggap bahwa pemahaman dan praktik tauhid di masyarakat kaum muslimin saat ini sudah baik, sehingga “tidak perlu diusik”. Tidak perlu lagi meributkan praktik dan “ritual” keagamaan sebagian kaum muslimin yang menjurus ke arah kesyirikan karena hanya akan memecah belah persatuan mereka. Yang penting bagi sebagian orang saat ini, bagaimana caranya agar kaum muslimin bersatu demi tegaknya sebuah negara Islam (khilafah) tanpa mau mempedulikan kaum muslimin model apa yang mereka persatukan dalam negara tersebut. Padahal, kalau kita mau melihat sejenak sejarah dan metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menjadikan dakwah tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwah. Beliau memulai dakwah dengan tauhid, membina umatnya di atas tauhid, dan menutup dakwah beliau dengan dakwah tauhid.

Dakwah Tauhid adalah Jalan Hidup Rasulullah dan Pengikutnya

Dakwah tauhid adalah jalan hidup yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula para pengikutnya yang merupakan generasi terbaik umat ini dari kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Siapapun yang mengaku menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka sudah semestinya jika dia juga berdakwah kepada manusia menuju Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin seseorang mengaku sebagai pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dia tidak mau atau tidak memiliki keinginan untuk menempuh jalan hidup yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Allah Ta’ala berfirman, Lanjutkan membaca