Studi Kritis Buku “Membedah Bid’ah dan Tradisi”


Studi Kritis Buku “Membedah Bid’ah dan Tradisi”

Disusun Oleh: Ustadz Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

 membedah-bidah-tradisi (1)Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Membedah Bid’ah dan Tradisi Dalam Perspektif Ahli Hadis‘ dan Ulama Salafi.

Buku ini penuh dengan syubhat-syubhat yang sangat berbahaya yang bisa menjerumuskan seorang muslim ke jalan kesesatan dan memalingkannya dari jalan yang lurus.

Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq maka dengan memohon pertolongan kepada Allah akan kami paparkan sebagian dari syubhat-syubhat buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

1.    Penulis dan Penerbit Buku Ini

Buku ini ditulis oleh Muhammad Idrus Ramli dan diterbitkan oleh Khalista Surabaya, cetakan pertama, Oktober 2010 M.

2.    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Salaf Melarang Bid’ah Sedangkan Penulis Menganjurkan Bid’ah

Di antara nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada umat ini adalah disempurnakannya agama ini sebagaimana dalam firman-Nya:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS al-Ma‘idah [5]: 3)

Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan dunia ini melainkan telah menyampaikan semua agama Islam ini kepada manusia. Karena agama ini telah sempurna, tidak dibolehkan bagi siapa pun mengadakan perkara-perkara baru (bid’ah) di dalam agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة

“Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 4/126, ad-Darimi dalamSunan-nya 1/57, at-Tirmidzi dalam Jami’-nya 5/44, dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya 1/15 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 26, 34) Lanjutkan membaca

Iklan

Ini Dalilnya (19): Bolehkah Ngalap Berkah pada Selain Rasulullah?


 Ini Dalilnya (19): Bolehkah Ngalap Berkah pada Selain Rasulullah?

Masalah kelima: Seputar Tabarruk

Di penutup buku ini, saya tidak akan mengoreksi dalil-dalil yang disebutkan Novel tentang tabarruk para sahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semua dalil yang disebutkannya shahih, dan saya sependapat dengan siapa pun yang mengatakan bolehnya tabarruk dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik sewaktu hidup maupun sepeninggal beliau. Tapi ingat, tabarruk dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, bukan dengan selain beliau.[1]

Yang menjadi masalah ialah ketika ada orang yang membolehkan tabarruk dengan selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara mengqiyaskan orang lain tersebut dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Novel di akhir pembahasannya, ia mengatakan (hal 147):

Kesimpulan

Saudaraku, dalam berbagai hadis yang kami kemukakan di atas jelas terlihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat dan umatnya untuk mencari keberkahan para shalihin. Baik dalam diri, tempat, benda yang berhubungan dengan mereka, maupun amalan mereka. Beliau tidak pernah mengatakan bahwa para sahabat tersebut telah mengkultuskannya dan berbuat syirik. Semua ini menunjukkan bahwa tabarruk dengan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta peninggalan para Rasul dan kaum shalihin merupakan bagian dari tauhid Islam.

Oleh karena itu, jika ada saudara kita sesama muslim yang berupaya untuk memperoleh keberkahan majlis, keberkahan kaum shalihin, dan keberkahan napak tilas dan peninggalan orang-orang saleh, janganlah kita menuduh mereka telah berbuat syirik. Sebab, apa yang mereka lakukan murni ajaran Islam dan upaya yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan penerus mereka. Lanjutkan membaca

Ini Dalilnya (18): Istighatsah ala Jahiliyah


Ini Dalilnya (18): Istighatsah ala Jahiliyah

Masalah Keempat: Seputar Istighatsah

Definisi istighatsah ala jahiliyah

Pembaca yang budiman, sungguh mengherankan memang, ketika orang yang hidup di abad 21 dengan berbagai kemajuan IPTEK-nya masih berpikir ala jahiliyah. Masih mending jika keyakinan tersebut berangkat dari kebodohan karena ia tinggal di tengah hutan belantara, atau di daerah terpencil yang tak pernah mengenyam pendidikan. Namun jika ia mengaku ‘terpelajar’ dan masih mempercayai takhayul bahkan mengajak orang kepada hal tersebut, maka orang ini perlu kita waspadai. Pasti ada udang di balik batu! Saya sudah berusaha untuk husnuzhan terhadap Novel dari awal buku ini. Akan tetapi, setelah membaca masalah istighatsah di akhir bukunya, saya terbakar rasa cemburu. Cemburu akibat dilanggarnya hak-hak Allah atas nama syariat! Coba perhatikan bagaimana si Qubury ini mendefinisikan istighatsah (hal128):

“Dalam syariat istighatsah diartikan sebagai permintaan tolong kepada Nabi, Rasul atau orang saleh –yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia– untuk mendoakan agar ia dapat memperoleh manfaat atau terhindar dari keburukan dan lain sebagainya”.

Minta doa kepada yang sudah meninggal dunia? Lho kok bisa? (Mungkin menurutnya) bisa saja, karena masalah takhayul memang tidak mengenal batas. Segala sesuatu yang tidak masuk akal pun bisa diterima dengan pola pikir jahiliyah semacam ini. Dia meyakini orang yang sudah mati bisa mendoakan yang masih hidup, padahal Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Lanjutkan membaca

Ini Dalilnya (17): Antara Tawassul yang Dibolehkan dan yang Terlarang


 Ini Dalilnya (17): Antara Tawassul yang Dibolehkan dan yang Terlarang

Tawassul Para Sahabat Dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam pembahasan ini, Novel kembali memakai cara lamanya dalam berdalil… lagi-lagi ia berdalil dengan hadits yang tidak mengarah ke permasalahan. Hadits tersebut terkenal dengan istilah “hadietsul a’ma” (haditsnya Si orang buta). Novel mengatakan (hal 122-123): Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Utsman bin Hunaif berkata, “Ada seorang lelaki tuna netra datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau untuk mendoakannya agar dapat melihat kembali. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua pilihan kepadanya, yaitu didoakan sembuh atau bersabar dengan kebutaannya tersebut. Tetapi, lelaki itu bersikeras minta didoakan agar dapat melihat kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkannya untuk berwudhu dengan baik kemudian membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِي، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.

Terjemahannya (versi Novel): “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan berdoa kepada-Mu dengan (bertawassul dengan) Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang. (Duhai Rasul) Sesungguhnya aku telah ber-tawajjuh kepada Tuhanku dengan (bertawassul dengan)-mu agar hajatku ini terkabul. Ya Allah, terimalah syafa’at beliau untukku“. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Lanjutkan membaca

Ini Dalilnya (16): Bentuk Tawassul yang Keliru


Ini Dalilnya (16): Bentuk Tawassul yang Keliru

Dalam salah satu pembahasannya mengenai tawassul (hal 118), Novel memberinya judul sebagai berikut: Tawassul Nabi Muhammad saw dengan orang-orang yang berdoa. Kemudian ia mengatakan:

Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa keluar dari rumahnya menuju Masjid untuk menunaikan shalat, kemudian membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِينَ عَلَيْكَ ، وَبِحَقِّ مَمْشَايَ فَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلاَ بَطَرًا ، وَلاَ رِيَاءً وَلاَ سُمْعَةً ، خَرَجْتُ اتِّقَاءَ سَخَطِكَ ، وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ ، أَسْأَلُكَ أَنْ تُنْقِذَنِي مِنَ النَّارِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي ، إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Berikut ini adalah terjemahan versi Novel (hal 118-119):

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan semua orang yang memohon kepada-Mu [1]. Dan aku memohon kepada-Mu dengan berkat perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar (menuju Masjid) dengan sikap angkuh, sombong, riya’ ataupun sum’ah. Aku keluar (menuju Masjid) demi menghindari murka-Mu dan mengharapkan ridha-Mu. Oleh karena itu, kumohon Engkau berkenan melindungiku dari siksa Neraka, dan mengampuni semua dosaku. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Sebagaimana yang telah disinggung dalam mukaddimah, orang-orang model Novel Alaydrus memang hobi berdalil dengan dua tipe hadits. Pertama: hadits shahih namun tidak ada kaitannya dengan masalah yang dibahas, dan kedua: hadits dha’if atau bahkan palsu (maudhu’) namun mendukung pendapatnya. Nah, hadits ini adalah tipe kedua.

Bila kita dudukkan hadits di atas menurut ilmu musthalah hadits, ternyata hadits di atas memiliki tiga cacat;

Pertama: salah satu perawinya adalah ‘Athiyyah Al ‘Aufy yang dinyatakan dha’if oleh para ulama [2]. Lanjutkan membaca

Ini Dalilnya (15): Keliru dalam Memahami Tawassul


Ini Dalilnya (15): Keliru dalam Memahami Tawassul

Masalah Ketiga: Tawassul

Pemahaman yang kacau balau tentang tawassul

Novel mengatakan: “Tawassul dengan orang lain artinya wasilah (perantara) yang kita sebutkan di dalam doa yang kita panjatkan bukanlah amal kita, tetapi nama seseorang. Contohnya adalah doa berikut: “Ya Allah, berkat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam…”, “Ya Allah, berkat Imam Syafi’i…”, “Ya Allah, berkat para Rasul dan Wali-Mu…””.

Beberapa baris kemudian ia mengatakan: “Saudaraku, perlu kita ketahui bahwa seseorang yang bertawassul dengan orang lain sebenarnya ia sedang bertawassul dengan amal salehnya sendiri. Bagaimana bisa? Kami akan menjelaskannya secara ringkas.

Ketika seseorang bertawassul dengan orang lain, pada saat itu ia berprasangka baik kepadanya dan meyakini bahwa orang tersebut adalah seorang saleh yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Ia menjadikan orang tersebut sebagai wasilah (perantara) karena ia mencintainya. Dengan demikian sebenarnya ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada orang tersebut. Ketika seseorang mengucapkan, “Ya Allah, demi kebesaran Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam…” berarti ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau orang yang berkata, “Ya Allah, berkat Imam Syafi’i…” berarti ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada Imam Syafi’i. Kita semua tahu bahwa cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul-Nya serta kepada orang-orang yang saleh merupakan amal yang sangat mulia… dst”.[1] Lanjutkan membaca

Ini Dalilnya (14): Larangan Melakukan Safar Khusus untuk Ziarah Kubur


 Ini Dalilnya (14): Larangan Melakukan Safar Khusus untuk Ziarah Kubur

Sebagaimana pernah disinggung sebelumnya, penganut tarekat sufi semacam Novel Alaydrus dalilnya takkan lepas dari dua hal: hadits dha’if atau (terkadang) hadits palsu namun lafazhnya sesuai kemauan mereka, atau hadits shahih yang maknanya dipelintir ke sana ke mari.

Jadi, dalam bab ini saya hanya akan menjelaskan validitas (keabsahan) dalil-dalil yang disebutkan oleh si Habib dalam rangka melegitimasi praktik yang berkembang di masyarakat, yang –diakui atau tidak– pasti menguntungkan mereka.

Di halaman 82 dia menulis sebagai berikut: “Melakukan perjalan khusus ke pemakaman para Nabi dan wali bukanlah suatu hal yang baru bagi umat Islam. Sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini kaum muslimin sangat bersemangat untuk menempuh ribuan kilometer demi sebuah kunjungan ruhani.”

Saya katakan, ini merupakan kedustaan yang dinisbatkan kepada mereka yang hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab ia mengatakan bahwa kaum muslimin dari zaman tersebut –yang berarti para sahabat, tabi’ien, tabi’ut tabi’in dst– hingga zaman ini sangat bersemangat untuk menempuh ribuan kilometer demi sebuah kunjungan ruhani.

Mana Dalilnya Bib?

Pasti ada dong… (meski haditsnya sangat lemah/palsu, Novel tak ragu-ragu untuk menisbatkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan — hal 83-84 — ): “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“:

1- مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي

1- “Barangsiapa menziarahi makamku, maka dia pasti akan mendapat syafa’atku.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Bazzar, Daruquthni dan Baihaqi). Lanjutkan membaca