Khowarij Kini Lebih Parah Dari Pendahulunya (Oleh : Asy-Syaikh DR Ali Al-Hudzaifi –hafizohulloh)


Khowarij Kini Lebih Parah Dari Pendahulunya (Oleh : Asy-Syaikh DR Ali Al-Hudzaifi –hafizohulloh)

Khutbah Pertama :

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia, Maha Pemberi, Maha Penyayang, dan Maha Menerima Tubat (para hamba). Dia menerima kebajikan dan memaafkan kesalahan. Barangsiapa yang kembali bertaubat maka akan mendapatkan petunjuk kepadaNya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, serta aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, persaksian yang ikhlas dan terlepas dari keraguan dan kebimbangan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya yang telah diturunkan kepadanya al-Qur’an. Ya Allah anugerahkan shalawat dan salam kpeada hambaMu dan rasulMu Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya. Amma ba’du.

Maka bertakwalah kepada Allah dengan berpegang teguh kepada kitabNya dan sunnah rasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, barangsiapa yang berpegang kepada keduanya maka ia akan selamat dari fitnah, bid’ah dan kesesatan, serta ia akan menang dengan meraih keridoan Robnya dan meraih surga, serta akan bahagia dan beruntung dalam kehidupan dan setelah kematian.

Hamba-hamba Allah, sesungguhnya kenikmatan yang sangat besar dan agung yang diraih oleh seorang hamba adalah pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, disertai dengan mengamalkannya sesuai dengan manhaj as-salaf as-shalih yang merupakan generasi terbaik. Mak tidak bermanfaat pemahaman dan ilmu jika tanpa disertai dengan amal shalih, dan tidak bermanfaat amal shalih jika tanpa sunnah, teladan, cahaya, dan petunjuk dari wahyu. Maka orang yang selamat dari kebinasaan dan menang meraih kebaikan-kebaikan adalah orang yang berusaha meraih ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Allah berfirman : Lanjutkan membaca

Kebatilan dan Kemudaratan Pawai “Tauhid”


Kebatilan dan Kemudaratan Pawai “Tauhid”

Oleh : Ustadz Sofyan bin Ruray

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara kebatilan dan kemudaratan Pawai “Tauhid” adalah:

1) Menyepakati Tauhid Hizbiyyun Harakiyyun yang Menyimpang

Telah dimaklumi bersama bahwa orang-orang yang biasa terlibat dalam kegiatan pawai tersebut adalah harakiyyun hizbiyyun yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan yang semisal dengan mereka, bahkan tidak ketinggalan juga orang-orang yang cenderung kepada Syi’ah serta membenarkan dan membela penyembahan terhadap kuburan, yang dulu melawan pemerintah terkait makam mbah priok. Dan pada umumnya mereka semua memiliki ideologi khawarij, yaitu penentangan terhadap pemerintah serta menjelek-jelekan pemerintah di khalayak, dan sebagian lagi sampai kepada pengkafiran.

Maka jelaslah tauhid mereka berbeda-beda, dan tauhid mereka berbeda dengan tauhid Ahlus Sunnah wal Jama’ah, patutkah seorang Ahlus Sunnah ikut serta dalam kegiatan yang mengandung persetujuan dan dukungan terhadap konsep-konsep tauhid yang menyimpang?

Apa bukti penyimpangan tauhid mereka? Sungguh sangat banyak, diantaranya:

➡Dalam memahami kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” kelompok hizbiyyun harakiyyun memiliki penafsiran tersendiri. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

تفسير الحزبيين والإخوانيين اليوم يقولون: (لا إله إلا الله) أي: لا حاكمية إلا لله، والحاكمية كما يسمونها جزء من معنى لا إله إلا الله؛ لأن معناها شامل لكلأنواع العبادات فنقول لهم: وأين بقية العبادات، أين الركوع والسجود والذبح والنذر وبقية العبادات؟!

“Tafsir Hizbiyyin dan Ikhwaaniyin (Pengikut Ikhwanul Muslimin) masa ini berkata: Laa ilaaha illallah adalah “Tidak adahaakimiyyah kecuali milik Allah”. Padahal Al-Haakimiyyah –sebagaimana yang mereka namakan- adalah bagian dari makna laa ilaaha illallah, karena maknanya mencakup seluruh bentuk ibadah, maka kita katakan kepada mereka: Ke mana ibadah-ibadah yang lain, di mana rukuk, sujud, menyembelih, nazar dan seluruh bentuk ibadah?!” [Tafsir Kalimah At-Tauhid, dicetak bersama Silsilah Syarhi Ar-Rosail, hal. 148] Lanjutkan membaca

Pendapat Siapakah Yang Harus Aku Ikuti?


Pendapat Siapakah Yang Harus Aku Ikuti?

Oleh : Al-Ustadz Jafar Salih

Pertanyaan: Telah terjadi perselisihan antara jamaah-jamaah Islamiyah di Republik Arab Mesir seputar perkara iman, yaitu tentang: hukum atas orang jahil yang menyelisihi akidah Islam dan hukum orang yang meninggalkan sebagian syari’at. Sampai-sampai perkara ini menyebabkan permusuhan antar ikhwah. Perdebatan dan ulasan-ulasan terus dibuat oleh masing-masing mereka, pihak yang menjadikan kejahilan sebagai udzur atau pihak yang tidak menganggapnya sebagai udzur.

Diantara mereka ada yang mengatakan, udzur hanya dalam perkara furu’ bukan ushul. Dan diantara mereka ada yang mengatakan, sama-sama diberi udzur dalam furu’ maupun ushul. Dan diantara mereka ada yang mengatakan: Hujjah telah tegak.

Pihak yang memberi udzur dengan sebab kejahilan berdakwah kepada manusia dan tidak menghukumi mereka dengan kekafiran sampai mendakwahi mereka. Apabila mereka menolak petunjuk ini maka mereka orang-orang kafir.

Sedangkan pihak yang tidak memberi udzur dengan sebab kejahilan menilai mereka sebagai orang-orang kafir dengan sekedar mereka melakukan kekafiran. Dan pihak ini mendakwahi mereka dengan perhitungan bahwa mereka orang-orang kafir, mereka keluar dari Islam dengan sebab kesyirikan. Akan tetapi mereka membawakan dalil-dalil atas apa yang mereka yakini. Lanjutkan membaca

Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah terhadap Penguasa


Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah terhadap Penguasa

Ustadz Luqman Jamal, Lc


Pendahuluan

Mendengar dan taat kepada penguasa yang mengurusi urusan kaum muslimin adalah salah satu pokok aqidah Salafiyah (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Hampir setiap buku yang membahas masalah aqidah menetapkan, menjelaskan dan menerangkan masalah ini. Hal ini tidak lain karena sangat penting dan agungnya kedudukan permasalahan ini. Sebab dengan mendengar dan taat kepada pemimpin/penguasa kaum muslimin, akan teraturlah kehidupan agama dan dunia sekaligus. Sedangkan kekurang-ajaran kepada mereka baik secara lisan maupun perbuatan akan merusak kehidupan beragama dan dunia. (Lihat Mu’amalatul Hukkam hal. 7)
Dan yang lebih memperkuat betapa pentingnya perhatian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap pokok aqidah ini dan menguatkan/menancapkannya di tengah-tengah dominasi kebodohan umat atau tersebarnya pemikiran-pemikiran yang menyeleweng dari manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam masalah ini.
Tidak diragukan lagi bahwa di zaman kita hidup sekarang ini terkumpul dua masalah tersebut, yaitu dominasi kebodohan terhadap perkara ini dan tersebarnya pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Maka wajib bagi setiapulama dan penuntut ilmu untuk berpegang teguh dengan perjanjian yang Allah telah ambil dari mereka dalam firman-Nya :

لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ
“Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.”. (QS. Ali ‘Imran : 187)

Maka hendaklah para ulama dan penuntut ilmu menjelaskan pokok aqidah ini kepada manusia dengan hanya mengharap balasan dari Allah, mengikhlaskan ama-amalnya hanya untuk-Nya. (Lihat Mu’amalatul Hukkam hal. 15)

I. Siapakah Penguasa Itu ? Lanjutkan membaca

Shalawatan Antara Adzan dan Iqamat


Shalawatan Antara Adzan dan Iqamat

Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Suatu ketika penulis pergi ke sebuah desa. Saat antara adzan dan iqamat penulis mendengar suara keras dari masjid. Alangkah kagetnya penulis karena irama shalawatan tersebut mengikuti irama nyanyian yang biasa dilantunkan pengamen di kereta atau bus.

Ketika penulis juga pergi ke sebuah kota, kami mendapati shalawatan/puji-pujian yang samar-samar kurang jelas bagi kami. Ternyata alangkah terkejutnya ketika kami tahu bahwa itu adalah shalawatan atau puji-pujian dengan bahasa khas Jawa susunan seorang tokoh mereka.

Dua contoh di atas sudah cukup membuktikan fenomena yang sering kita dapati di berbagai masjid negeri kita yaitu lantunan-lantunan shalawat dan puji-pujian antara adzan dan iqamat. Ironisnya, seringkali mereka mengeraskannya dengan mikrofon dan bersahut-sahutan sehingga mengganggu kekhusyukan. Lebih ironis lagi, banyak di antara shalawatan tersebut yang berisi sesuatu yang mungkar serta mengikuti irama nyanyian(!).

Nah, melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk mempelajari bersama masalah ini dengan hati terbuka mencari kebenaran.

Teks Hadits

كَانَ بِلَالٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقِيْمَ الصَّلَاةَ، قَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، يَرْحَمُكَ اللَّهُ

Adalah Bilal apabila akan mengumandangkan iqamat, dia berkata: Keselematan bagimu wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkahannya, semoga Allah merahmatimu. Lanjutkan membaca

Kiat Selamat Dari Fitnah


Kiat Selamat Dari Fitnah

Oleh: Syaikh Prof. DR. Abdur-Razzaq bin Abdil-Muhsin Al-‘Abbad

fitnahDiriwayatkan dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya dia berkata:

( إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ.)

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.”[1]

Banyak orang, di antara para aktivis Islam dan para penasihat yang mereka menginginkan kebaikan dan kebahagian untuk diri-diri mereka dan menginginkan ketinggian dan kemuliaan untuk umat Islam, mereka bertanya:

“Dengan apa kita bisa memperoleh kebahagiaan?”
“Bagaimana bisa memperoleh tujuan mulia ini?”
“Bagaimana cara terlindung dari berbagai macam fitnah?”
“Bagaimana seorang muslim bisa selamat dari kejelekan, bahaya dan keburukan fitnah?

Soal ini ditanyakan, karena setiap muslim yang suka menasihati dan (juga sebagai) aktifis Islam tidak menginginkan dirinya dan umat Islam (terjatuh ke dalam fitnah), karena di dalam hatinya terdapat kewajiban menasihati dirinya sendiri dan hamba-hamba Allah yang beriman. Orang tersebut mengamalkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

( الدِّينُ النَّصِيحَةُ.) قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ: ( لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.)

“Agama (seluruhnya) adalah nasihat.” Kami pun bertanya, “Untuk siapa?” Beliau pun menjawab, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.”[2] Lanjutkan membaca

Fatwa Ulama: Bolehkah Merapikan Jenggot Dengan Memotongnya?


Fatwa Ulama: Bolehkah Merapikan Jenggot Dengan Memotongnya?

jenggot, jangan kau potong wahai ikhwanFatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

Soal:

Bolehkah merapikan jenggot?

Jawab:

Lelaki yang memangkas habis jenggotnya, maka ini tidak perlu kita bahas (karena sudah jelas haramnya, pent.). Namun lelaki yang memelihara jenggotnya namun ia merapikannya dengan memotongnya dibeberapa bagian (ini yang kita bahas). Ini juga tidak diperbolehkan, ini perbuatan yang haram. Dan banyak saudara kita yang berjenggot terjerumus dalam kesalahan ini.

Mengapa bisa demikian? Karena tidak ada yang mengingatkan mereka, tidak ada yang mengajarkan mereka tentang syariat Allah, lebih khusus lagi syariat yang bersandarkan pada Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Bukan syariat yang bersandar pada “katanya begini, katanya begitu“, sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam sya’ir-nya: Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 326 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: