Salah Kaprah tentang Puasa Rajab (Koreksi untuk Pencela Ulama)


Salah Kaprah tentang Puasa Rajab (Koreksi untuk Pencela Ulama)

Salah Kaprah tentang Puasa Rajab (Koreksi untuk Pencela Ulama)Diantara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melarang puasa di bulan Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak, dan tidak jarang kesalahan memahami tersebut ditambah dengan kesalahan berikutnya yang lebih besar, yaitu menjelek-jelekan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan memberi gelar “Wahabi” dan gelar-gelar lainnya yang mereka anggap jelek.

Padahal yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits khusus tentang puasa Rajab adalah para ulama yang hidup jauh sebelum Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah memiliki buku khusus yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits tersebut yang beliau beri judul “Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab”.

Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab

Dan kesalahan tersebut berasal dari kesalahan memahami ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ucapan para ulama Ahlus Sunnah lainnya yang semisal tentang hadits-hadits puasa di bulan Rajab secara khusus. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) berkata, Lanjutkan membaca

Membahas Politik Di Hadapan Masyarakat Awam


Membahas Politik Di Hadapan Masyarakat Awam

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:

politik di hadapan orang awamBanyak majelis yang membicarakan masalah politik di dalamnya. Ketika mereka dinasehati agar tidak melakukan demikian, mereka mengatakan: “politik itu bagian dari agama“. Bahkan terkadang mereka terjatuh dalam perbuatan ghibah. Dan yang membedakan majelis mereka (dengan majelis politik lainnya) adalah di dalamnya terdapat dzikrullah. Bagaimana pendapat anda mengenai orang yang duduk dalam majelis tersebut?

Jawab:

Saya berpandangan bahwa berbicara mengenai politik di halaman masyarakat awam itu adalah sebuah kesalahan. Karena politik itu ada orang-orang khusus yang kompeten membahasnya. Yaitu orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kebijaksanaan. Adapun menyebarkan masalah politik di kalangan orang awam dan di majelis-majelis, ini menyelisihi petunjuk salafus shalih. Tidak pernah Umar bin Khathab, dan juga khalifah sebelum beliau yaitu Abu Bakar radhiallahu’anhum, membahas masalah politik di hadapan masyarakat banyak, yang pembahasan tersebut diikuti oleh orang kecil, orang besar, orang pandai dan orang bodoh. Sama sekali tidak pernah! Dan tidak mungkin menjalankan politik dengan cara demikian. Politik itu memiliki orang-orang khusus yang berpengalaman di dalamnya, yang memahami masalah dan mereka dikenal kompetensinya. Mereka juga memiliki hubungan dengan luar negeri, juga dalam negeri, yang wawasan seperti ini tidak diketahui kebanyakan orang.

Tidak semestinya para pemuda, dan juga yang selain para pemuda, mencurahkan dan menyia-nyiakan waktu mereka dalam al qiil wal qaal (baca: isu-isu politik) seperti ini, yang tidak faidahnya sama sekali. Dalam masalah politik, terkadang suatu action dari seseorang (dari pejabat, atau pemerintah, red.) itu tampak salah bagi kita namun bagi dia itulah actionyang benar. Karena ia mengetahui apa yang kita tidak ketahui. Dan perkara yang demikian ini nyata dan fakta. Lanjutkan membaca

Jangan Buat Mereka Lari


Jangan Buat Mereka Lari

pohon layuBerdakwah kepada masyarakat bukanlah perkara yang mudah, tak selalu diterima dan tak jarang mendapat penolakan keras. Sebagian menerima, sebagian malah lari dari dakwah  kita. Hidayah memang milik Allah, namun Dia membuat hidayah itu teranugerahi kepada seseorang melalui usaha. Dan tentunya, usaha kita mengajak manusia kepada hidayah mesti merujuk pada sebaik-baik teladan, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari -radhiyallahu ‘anhumaa- untuk berdakwah ke Yaman, beliau menyampaikan pesan emas kepada kedua sahabat tersebut:

Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari..” [HR Bukhari dan Muslim].

Meskipun pesan tersebut singkat, namun maknanya sangat luas dan mendalam. Disebutkannya “jangan mempersulit” sebagai antonim setelah “berilah kemudahan”, memberikan faidah penegasan, bahwa perintah tersebut tidak hanya sekali saja, namun dalam segala kondisi. Karena bisa jadi seseorang memberi kemudahan pada orang lain di satu waktu namun di waktu yang lain dia mempersulit. Begitu pula perintah memberi kabar gembira dan larangan membuat lari. Demikian yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Lanjutkan membaca

Daulah Islamiyyah ISIS Dalam Timbangan Islam


Daulah Islamiyyah ISIS Dalam Timbangan Islam

Disusun oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Isis dan kezhalimanSesungguhnya Ahlussunnah wal Jama’ah—para pengikut Salafushshalih—adalah orang-orang yang paling mengetahui al-haq lagi paling penyayang terhadap makhluk. Di antara bentuk kasih sayang mereka adalah bantahan mereka terhadap ahlulbid’ah. Maksudnya tidak lain adalah agar mereka (ahlulbid’ah) mau bertaubat sehingga tidak mati dalam keadaan membawa dosa bid’ah yang membinasakan, juga agar manusia mengetahui kebid’ahan mereka dan menjauhinya sehingga jumlah orang yang mengikuti mereka di dalam kesesatan dapat terminimalisir. Sebab, bila tidak maka akan bertambah banyak dosa mereka.

Di antara kelompok-kelompok bid’ah yang banyak dinasihati oleh para ulama Sunnah dari zaman sahabatRadhiallahu’anhum hingga hari ini adalah kelompok Khawarij. Di antara yang menasihati mereka adalah Sahabat Abdullah ibn Abbas Radhiallahu’anhuma di dalam kisah perdebatannya dengan orang-orang Khawarij yang menyadarkan puluhan ribu dari mereka.

Kemudian di antara para tabi’in, ada al-Imam Wahb ibn Munabbih yang menasihati Dzul Khaulan hingga bertaubat dari pemikiran Khawarij.

Kemudian para ulama Sunnah lainnya dari masa ke masa hingga zaman ini yang banyak menasihati kaum Khawarij dengan lisan-lisan dan pena-pena mereka.

Di antara kelompok Khawarij yang menonjol pada saat ini adalah ISIS yang menggoncangkan dunia dengan aksi-aksi brutal mereka yang mengatasnamakan Islam. Sebagai nasihat kepada mereka khususnya dan kaum muslimin secara umum maka Insya Allah di dalam bahasan ini akan kami paparkan timbangan syari’at Islam atas pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi mereka dengan banyak mengambil faedah dari nasihat-nasihat para ulama terhadap mereka.

Celaan ISIS terhadap manhaj salafi dan para ulama

Lanjutkan membaca

Pilih Islam yang Mana?“Nusantara”Ataukah “Timur Tengah”?


Pilih Islam yang Mana?“Nusantara”Ataukah “Timur Tengah”?

Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Islam NusantaraAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 42)

Kita dikejutkan berita baru di negeri ini dengan munculnya istilah “Islam Nusantara” atau “Islam Pribumi”. Pembelanya justru tokoh umat yang terkenal. Di sisi lain, kita dibenturkan pula dengan istilah “Islam Timur Tengah”, tetapi kita tidak mendengar ada sebutan “Kristen Nusantara”, “Hindu Nusantara”, atau yang semacamnya. Persoalannya, apa gerangan maksud mereka?

Makna ayat secara umum

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang orang Yahudi mencampuradukkan perkara yang batil dengan yang hak, melarang menyembunyikan yang hak dan menampakkan kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka dua perkara ini. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah mereka agar menampakkan kebenaran, karena mereka mengetahui yang benar.” (Tafsīr Ibn Katsīr 1/245)

Islam sudah sempurna

Islam agama yang telah sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan sehingga tidak diperlukan ide-ide dan inovasi baru untuk mengkritik dan menyempurnakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terakhir ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian, menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan meridai Islam sebagai agama kalian.” (QS al-Mā’idah [5]: 3)

Penambahan atau pengurangan atau penyisipan atau perubahan—walau sedikit saja—baik dalam lafaz atau makna hukumnya haram dan tertolak. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ »

“Barang siapa membuat hal baru (muhdats) di dalam urusan kami (syariat) ini yang tidak ada ada asalnya darinya, maka hal itu tertolak.” (HR al-Bukhari: 2697 dan Muslim: 1718)

Maka tidaklah satu pun orang yang punya keahlian bahasa dan sastra mau menyusupkan satu kalimat atau mau memalingkan makna Islam pasti ketahuan, dan pasti dibantah oleh pembela Sunah, karena AllahSubhanahu wa Ta’ala telah berjanji menjamin kemurnian Islam ini. Allah Subhanahu wa Ta’alamengingatkan kepada hamba yang beriman agar hendaknya menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai cermin kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Lanjutkan membaca

Tentang Menarik Seseorang ke Shaf Belakang Bila Shaf Depan Penuh


Tentang Menarik Seseorang ke Shaf Belakang Bila Shaf Depan Penuh

Apabila salah seorang dari kalian sampai ke shaf yang telah penuh, maka hendaklah menarik seorang dari barisan itu dan menempatkannya disebelahnya. ”

Hadits ini Dhaif. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al- Mu’jam al-Ausath (1/33) dengan sanad dari Hafsh bin Umar at-Rabbali, dari Bisyr bin Ibrahim, dari al-Hajjaj bin Hasan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radiyallahu anh’. Ath-Thabrani berkata, “Tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas kecuali dengan sanad ini, dan secara tunggal dikisahkan oleh Bisyr.”

Syeikh al-Albani mengatakan, setahu dia, Ibnu Adi mengatakan bahwa Bisyr adalah termasuk dalam deretan perawi pemalsu hadits. Ibnu Habban pun mengatakan hal serupa, bahkan lebih tegas, “Bisyr bin Ibrahim terbukti memalsukan riwayat/hadits.”
Hadits no. 921

Ibnu A’rabi  juga telah mengeluarkan hadits yang sangat dhaif yang bunyinya hampir sama, .

“Tidakkah kamu masuk dalam barisan (shaf), atau kamu menarik seorang untuk salat berdampingan denganmu, atau bila tidak hendaknya kamu salatmu.”

Dalam hadits ini dua perawinya Qais bin ar-Rabi’ itu lemah, sementara Ibnu Abdawihi lebih dhaif’ lagi.
Satu hal yang perlu disinggung, bahwa setelah kita ketahui kedhai’fan riwayat ini maka tidaklah dibenarkan kita menarik seorang dari shaf yang didepan untuk mendampingi kita dalam salat. Sebab bila hal ini di lakukan berarti sama saja membuat aturan sendiri, atau dalam istilah syari berarti mentasyri’kan suatu amalan tanpa berdasarkan nash yang shahih.

Maka wajib bagi orang yang mahu salat untuk bergabung dalam shaf yang ada, jika tidak memungkinkan hendaklah membuat shaf meskipun sendirian, dan dalam hal ini shalatnya dibenarkan atau shah secara syar’i. Wallahu a’alam.
Hadits no. 922

Dari Sisilah Hadits Dhai’f dan Maudu’ Jilid 2, Syeikh al-Albani

MENGAPA ARAB SAUDI MENGEKSEKUSI 47 ORANG NARAPIDANA TERORISME?


MENGAPA ARAB SAUDI MENGEKSEKUSI 47 ORANG NARAPIDANA TERORISME?

Sebanyak 47 orang narapidana kasus terorisme telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi, Sabtu (2/1/2016) lalu. Termasuk di antara terpidana itu tokoh Al Qaeda Faris Alu Syuwail dan tokoh Syiah Nimr Baqr al-Nimr.

Nimr al-Nimr adalah tokoh Syiah berkewarganegaraan Arab Saudi yang merupakan aktivis gerakan anti-pemerintah yang mendukung aksi protes secara massal yang meletus di provinsi timur Arab Saudi pada tahun 2011. Selain al-Nimr yang dieksekusi mati, terdapat pula Faris Alu Syuwail yang merupakan tokoh besar Al Qaeda di Saudi dan ditangkap pemerintah pada tahun 2004.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyebutkan, para narapidana terorisme itu dieksekusi karena paham takfir yang ada pada mereka. Pemahaman takfiriyyah adalah pemahaman Khawarij yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh salaful ummah. Selain memiliki pemahaman yang menyimpang, para teroris tersebut juga secara aktif menyebarkan dan menyesatkan masyarakat melalui berbagai buku-buku yang mereka terbitkan dan disebarluaskan. Lanjutkan membaca