Khawarij, Kelompok Sesat Pertama dalam Islam


Khawarij, Kelompok Sesat Pertama dalam Islam

bahaya-khawarij.pngLaa hukma illa lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ‘azza wa jalla). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman as-salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin.

Siapakah Khawarij?

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap pemerintah di akhir masa kepemimpinan Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu yang mengakibatkan terbunuhnya beliau radhiallahu ‘anhu. Kemudian di masa kepemimpinan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, keadaan mereka semakin buruk. Mereka keluar dari ketaatan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, mengafirkannya, dan mengafirkan para sahabat. Ini disebabkan para sahabat tidak menyetujui mazhab mereka. Dan mereka menghukumi siapa saja yang menyelisihi mazhab mereka dengan hukuman kafir. Akhirnya mereka pun mengafirkan makhluk-makhluk pilihan yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lamhatun ‘anil Firaqidh Dhallah, hlm. 31)

Cikal-bakal mereka telah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membagi-bagi (rampasan perang), datanglah Dzul Khuwaisirah dari Bani Tamim, kepada beliau. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, berbuat adillah!’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Celaka engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.’

Maka Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk memenggal lehernya!’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka. Mereka selalu membaca Al-Qur’an namun tidaklah melewati tenggorokan mereka[1]. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari ar-ramiyyah[2]. Dilihat nashl-nya (besi pada ujung anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat rishaf-nya (tempat masuknya nashl pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat nadhiy-nya (batang anak panah) juga tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat qudzadz-nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) juga tidak didapati pula bekasnya. Anak panah itu benar-benar dengan cepat melewati lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang. Mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin.”

Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi pula bahwa ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka dan aku bersamanya. Maka ‘Ali radhiallahu ‘anhu memerintahkan untuk mencari seorang laki-laki (yang disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara mayat-mayat mereka) dan ditemukanlah ia lalu dibawa (ke hadapan ‘Ali radhiallahu ‘anhu). Aku benar-benar melihatnya sesuai dengan ciri-ciri yang disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Sahih, HR. al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, “Kitabuz Zakat, bab Dzikrul Khawarij wa Shifaatihim”, 2/744)

Asy-Syihristani rahimahullah berkata, “Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa sahabat terhadap al-Khulafa ar-Rasyidin maupun terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi’in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa.” (al-Milal wan Nihal, hlm. 114)

Mengapa Disebut Khawarij?[3]

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dinamakan Khawarij dikarenakan keluarnya mereka dari jamaah kaum muslimin. Dikatakan pula karena keluarnya mereka dari jalan (manhaj) jamaah kaum muslimin, dan dikatakan pula karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

….يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا 

“Akan keluar dari diri orang ini…” (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 7/145)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Dinamakan dengan itu (Khawarij) dikarenakan keluarnya mereka dari din (agama) dan keluarnya mereka dari ketaatan terhadap orang-orang terbaik dari kaum muslimin.” (Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari, 12/296)

Mereka juga biasa disebut dengan al-Haruriyyah karena mereka (dahulu) tinggal di Harura yaitu sebuah daerah di Irak dekat Kota Kufah, dan menjadikannya sebagai markas dalam memerangi Ahlul ‘Adl (para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 7/145)

Disebut pula dengan al-Maariqah (yang keluar), karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang muruq (keluar)nya mereka dari din (agama). Disebut pula dengan al-Muhakkimah, karena mereka selalu mengulang kata-kata Laa Hukma Illa Lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ‘azza wa jalla), suatu kalimat yang haq namun dimaukan dengannya kebatilan. Disebut pula dengan an-Nawashib, dikarenakan berlebihannya mereka dalam menyatakan permusuhan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. (Firaq Mu’ashirah, 1/68—69, Dr. Ghalib bin ‘Ali al-Awaji, secara ringkas)

Bagaimanakah Mazhab Mereka?

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata bahwa mazhab mereka adalah tidak berpegang dengan As-Sunnah wal Jamaah, tidak menaati pemimpin (pemerintah kaum muslimin, pen), berkeyakinan bahwa memberontak terhadap pemerintah dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin merupakan bagian dari agama. Hal ini menyelisihi apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar senantiasa menaati pemerintah (dalam hal yang ma’ruf/yang tidak bertentangan dengan syariat) dan menyelisihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya:

أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.” (an-Nisa’: 59)

Allah ‘azza wa jalla dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ketaatan kepada pemimpin sebagai bagian dari agama… Mereka (Khawarij) menyatakan bahwa pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) telah kafir, tidak diampuni dosa-dosanya, kekal di neraka, dan ini bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam Kitabullah (Al-Qur’an). (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hlm. 31—33)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka berkeyakinan atas kafirnya ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu dan orang-orang yang bersamanya. Mereka juga berkeyakinan sahnya kepemimpinan ‘Ali radhiallahu ‘anhu(sebelum kemudian dikafirkan oleh mereka, pen.) dan kafirnya orang-orang yang memerangi ‘Ali radhiallahu ‘anhu dari Ahlul Jamal[4].” (Fathul Bari, 12/296)

Al-Hafizh rahimahullah juga berkata, “Kemudian mereka berpendapat bahwa siapa saja yang tidak berkeyakinan dengan akidah mereka, maka ia kafir, halal darah, harta, dan keluarganya.” (Fathul Bari, 12/297)

Beliau juga berkata, “Mereka terpecah dalam banyak kelompok. Namun di antara prinsip yang disepakati oleh mereka semuanya adalah berpegang dengan Al-Qur’an dan menolak segala tambahan yang terdapat di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutlak.” (Fathul Bari, 1/502)

Peperangan antara Khawarij dan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu

Setelah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh, maka orang-orang Khawarij ini bergabung dengan pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Dalam setiap pertempuran pun mereka selalu bersamanya. Ketika terjadi pertempuran Shiffin (tahun 38 H) antara pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dengan pasukan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma dari penduduk Syam yang terjadi selama berbulan-bulan—dikarenakan ijtihad mereka masing-masing—, ditempuhlah proses tahkim (pengiriman seorang utusan dari kedua belah pihak guna membicarakan solusi terbaik bagi masalah yang sedang mereka alami).

Orang-orang Khawarij tidak menyetujuinya, dengan alasan bahwa hukum itu hanya milik Allah ‘azza wa jalla dan tidak boleh berhukum kepada manusia. Demikian pula tatkala dalam naskah ajakan tahkim dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu termaktub: “Inilah yang diputuskan oleh Amirul Mukminin ‘Ali atas Mu’awiyah…” lalu penduduk Syam tidak setuju dengan mengatakan, “Tulislah namanya dan nama ayahnya,” (tanpa ada penyebutan Amirul Mukminin). ‘Ali pun menyetujuinya, namun orang-orang Khawarij tetap mengingkari persetujuan itu.

Setelah disepakati utusan masing-masing pihak yaitu Abu Musa al-Asy’ari dari pihak ‘Ali dan ‘Amr bin al-‘Ash dari pihak Mu’awiyah, serta disepakati pula waktu dan tempatnya (Dumatul Jandal), maka berpisahlah dua pasukan tersebut. Mu’awiyah kembali ke Syam dan ‘Ali kembali ke Kufah, sedangkan kelompok Khawarij dengan jumlah 8.000 orang (ada yang menyebutkan lebih dari 10.000 orang dan riwayat lain 6.000 orang), memisahkan diri dari ‘Ali dan bermarkas di daerah Harura yang tidak jauh dari Kufah.

Pemimpin mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi. Maka ‘Ali radhiallahu ‘anhu mengutus sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma untuk berdialog dengan mereka yang lantas banyak dari mereka yang kemudian rujuk. Lalu ‘Ali radhiallahu ‘anhu keluar menemui mereka, maka mereka pun akhirnya menaati ‘Ali radhiallahu ‘anhu, dan ikut bersamanya ke Kufah, bersama dua orang pemimpin mereka. Kemudian mereka membuat isu bahwa ‘Ali radhiallahu ‘anhu telah bertaubat dari masalah tahkim. Hal itulah yang membuat mereka kembali bersama ‘Ali radhiallahu ‘anhu. Sampailah isu ini kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu, lalu ia berkhutbah dan mengingkarinya. Maka mereka pun saling berteriak dari bagian samping masjid (dengan mengatakan), “Tiada hukum kecuali untuk Allah.” ‘Ali radhiallahu ‘anhu pun menjawab, “Kalimat yang haq (benar) namun yang dimaukan dengannya adalah kebatilan!”

Kemudian ‘Ali radhiallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Hak kalian yang harus kami penuhi ada tiga: Kami tidak akan melarang kalian masuk masjid, tidak akan melarang kalian dari rezeki fai’, dan tidak akan pula memulai penyerangan selama kalian tidak berbuat kerusakan.”

Secara berangsur-angsur pengikut Khawarij akhirnya keluar dari Kufah dan berkumpul di daerah al-Mada’in. ‘Ali radhiallahu ‘anhu senantiasa mengirim utusan agar mereka rujuk. Namun mereka tetap bersikeras menolaknya sampai ‘Ali radhiallahu ‘anhu mau bersaksi atas kekafiran dirinya dikarenakan masalah tahkim atau bertaubat. Lalu ‘Ali radhiallahu ‘anhu mengirim utusan lagi (untuk mengingatkan mereka), namun justru utusan tersebut hendak mereka bunuh. Mereka bahkan bersepakat bahwa yang tidak berkeyakinan dengan akidah mereka maka dia kafir, halal darah dan keluarganya.

Aksi mereka kemudian berlanjut dalam bentuk fisik, yaitu menghadang dan membunuh siapa saja dari kaum muslimin yang melewati daerah mereka. Ketika Abdullah bin Khabbab bin al-Art rahimahullah—yang saat itu menjabat sebagai salah seorang gubernur ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu—berjalan melewati daerah kekuasaan Khawarij bersama budak wanitanya yang tengah hamil, mereka pun membunuhnya serta merobek perut budak wanitanya untuk mengeluarkan janin dari perutnya.

Sampailah berita ini kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu, maka ia pun keluar untuk memerangi mereka bersama pasukan yang sebelumnya dipersiapkan ke Syam. Akhirnya mereka berhasil ditumpas di daerah Nahrawan beserta para gembong mereka seperti Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, Zaid bin Hishn ath-Tha’i, dan Harqush bin Zuhair as-Sa’di. Tidak selamat dari mereka kecuali kurang dari 10 orang, dan tidaklah terbunuh dari pasukan ‘Ali kecuali sekitar 10 orang.

iraq_nahrawan

Sisa-sisa Khawarij ini akhirnya bergabung dengan simpatisan mazhab mereka dan sembunyi-sembunyi semasa kepemimpinan ‘Ali radhiallahu ‘anhu, hingga salah seorang dari mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh ‘Ali radhiallahu ‘anhu yang saat itu hendak melakukan shalat subuh. (diringkas dari Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, 12/296—298, dengan beberapa tambahan dari al-Bidayah wan Nihayah, karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, 7/281)

Kafirkah Khawarij?

Kafirnya Khawarij masih diperselisihkan di kalangan ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian besar ahli ushul dari Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya Khawarij adalah orang-orang fasiq dan hukum Islam berlaku atas mereka. Hal ini dikarenakan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu melaksanakan rukun-rukun Islam. Mereka dihukumi fasiq, karena pengafiran mereka terhadap kaum muslimin berdasarkan takwil (penafsiran) yang salah, yang akhirnya menjerumuskan mereka pada keyakinan akan halalnya darah dan harta orang-orang yang bertentangan dengan mereka, serta persaksian atas mereka dengan kekufuran dan kesyirikan.” (Fathul Bari, 12/314)

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya Khawarij dengan segala kesesatannya tergolong firqah dari firqah-firqah muslimin, boleh menikahi mereka, memakan sembelihan mereka, dan mereka tidak dikafirkan selama masih berpegang dengan pokok keislaman.” (Fathul Bari, 12/314)

Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwasanya Khawarij tidak keluar dari kumpulan kaum muslimin (masih muslim, red.).” (Fathul Bari, 12/314)

Sebab-Sebab Kesesatan Khawarij

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Yang demikian itu disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam, bersamaan dengan wara’ (sikap kehati-hatian), ibadah, dan kesungguhan mereka. Namun tatkala semua itu (wara’, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi bencana bagi mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hlm. 35)

Demikan pula, mereka enggan untuk mengambil pemahaman para sahabat (as-Salafush Shalih) dalam memahami masalah-masalah din ini, sehingga terjerumuslah mereka ke dalam kesesatan.

Anjuran Memerangi Mereka[5]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Maka jika kalian mendapati mereka (Khawarij, pen.), perangilah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.” (Sahih HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/747, dari sahabat ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum ‘Aad.” (Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/742, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُوْدَ

“Jika aku mendapati mereka, benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum Tsamud.” (Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/742, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnu Hubairah rahimahullah berkata, “Memerangi Khawarij lebih utama dari memerangi orang-orang musyrikin. Hikmahnya, memerangi mereka merupakan penjagaan terhadap ‘modal’ Islam (kemurnian Islam, pen.), sedangkan memerangi orang-orang musyrikin merupakan ‘pencarian laba’, dan penjagaan modal tentu lebih utama.” (Fathul Bari, 12/315)

Samakah Musuh-Musuh ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dalam Perang Jamal dan Shiffin dengan Khawarij?

Pendapat yang menyatakan bahwa musuh-musuh ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu sama dengan Khawarij ini tentunya tidak benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun jumhur ahli ilmu, mereka membedakan antara orang-orang Khawarij dengan Ahlul Jamal dan Shiffin, serta selain mereka yang terhitung sebagai penentang dengan berdasarkan ijtihad. Inilah yang ma’ruf dari para sahabat, keseluruhan ahlul hadits, fuqaha, dan mutakallimin. Di atas pemahaman inilah, nash-nash mayoritas para imam dan pengikut mereka dari murid-murid Malik, asy-Syafi’i, dan selain mereka.” (Majmu’ Fatawa, 35/54)

Nasihat dan Peringatan

Mazhab Khawarij ini sesungguhnya terus berkembang (di dalam merusak akidah umat) seiring dengan bergulirnya waktu. Oleh karena itu, asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menasihatkan, “Wajib bagi kaum muslimin di setiap masa, jika terbukti telah mendapati mazhab yang jahat ini untuk mengatasinya dengan dakwah dan penjelasan kepada umat tentangnya. Jika mereka (Khawarij) tidak mengindahkannya, hendaknya kaum muslimin memerangi mereka dalam rangka membentengi umat dari kesesatan mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hlm. 37)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.


[1] 1 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Padanya terdapat dua pengertian: Pertama, hati mereka tidak memahami Al-Qur’an tersebut dan tidak pula mengambil manfaat dari apa yang mereka baca. Mereka tidak melakukan kecuali hanya sebatas bacaan mulut dan tenggorokan yang dengannya keluar potongan-potongan huruf. Kedua, amalan dan bacaan mereka tidak diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla.” (Ta’liq Shahih Muslim, 2/740, Muhammad Fuad Abdul Baqi)

[2] Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahullah berkata, “Ar-Ramiyyah adalah hewan buruan yang dipanah. Keluarnya mereka (Khawarij) dari agama ini diumpamakan dengan anak panah yang mengenai buruan lalu masuk hingga tembus. Karena begitu cepatnya laju anak panah tersebut (dikarenakan kuatnya si pemanah) maka tidak ada sesuatu pun dari jasad (darah ataupun daging) hewan buruan itu yang berbekas pada anak panah.” (Tuhfatul Ahwadzi, 6/426)

[3] Kata “Khawarij” merupakan bentuk jamak dari “kharij” yang artinya “orang yang keluar”.

[4] Ahlul Jamal adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah, az-Zubair bin al-‘Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan orang-orang yang bersama mereka g yang menuntut dihukumnya para pembunuh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, setelah mereka membai’at ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. (pen)

[5] Adapun memerangi mereka bukanlah urusan perseorangan atau kelompok tertentu namun di bawah naungan pemerintah, sebagaimana dijelaskan para ulama tentang aturannya dalam kitab-kitab fiqih.

 

Bulan Ramadhan Menurut Kaum Salaf


Bulan Ramadhan Menurut Kaum Salaf

Kembali Kepada Ramadhan Kaum Salaf

Ustadz Kholid Syamhudi
jalan malam ramadhanSepakat orang yang berakal bahwa waktu yang paling berharga adalah yang digunakan untuk beribadah kepada Allah pemelihara alam semesta dan berjalan diatas jalan menuju akhirat, untuk mencapai syurga ilahi dan menghindari adzab neraka yang sangat pedih sekali.

Ketika jalan ini seperti jalan-jalan lainnya yang naik turun, menanjak dan berkelok-kelok ditambah lagi banyaknya para penghalang dan pencuri hati dari syeitan manusia dan jin. Maka butuh penunjuk jalan yang dapat menjelaskan jalan yang aman dan mudah dilalui. Menjelaskan persembunyian mereka dan waktu yang paling pas dan bagus untuk meneruskan perjalanan. Penunjuk jalan tersebut tidak lain adalah manhaj salaf sholih dalam ibadah dan jalan mereka menuju Allah.

Setiap yang ingin sukses dan selamat sampai tujuan yang mulia ini pasti membutuhkan manhaj salaf dan aplikasi praktis para salaf umat ini dalam berjalan di kehidupan dunia ini. Berpegang teguh dengannya adalah jalan keselamatan.

دع عنك ما قاله العصري منتحلاً
وبالعتيق تمسك قطواعتصم

Sudah dimaklumi waktu-waktu utama termasuk waktu yang paling pas untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan, maka bulan Ramadhon termasuk bulan yang Allah muliakan dengan berbagai kemudahan beribadah dan keutamaan. Sehingga sudah menjadi keharusan bagi kita untuk saling menasehati agar bangkit kembali semangat dan tekad untuk mendapatkan keridhoan Allah dibulan ini.

Namun apakah kaum muslimin sekarang khususnya kita semua telah mememiliki semangat memanfaatkan kesempatan emas ini untuk memulai menyempurnakan kepribadian islam dan kemanusian kita?

Kaum muslimin telah berpuasa bertahun-tahun dan mendapatkan bulan Ramadhan berkali-kali, apakah anugerah ini telah menjadikan mereka lebih dekat kepada Allah atau malahan semakin jauh dariNya?

Apabila para da’i kesesatan dan kefajiran sangat semangat dan bertekad besar dalam menyiapkan program-programnya dalam rangka menyesatkan makhluk dibulan ini dengan menyiarkan film seri, drama, sinetron dan acara-acara hiburan yang merusak lainnya. Tentulah ahlu iman juga lebih berlomba-lomba dalam mepersiapkannya dalam menegakkan kebaikan dan takwa, sebagaimana yang ada dikalangan para salaf umat ini. Lanjutkan membaca

Mengenal Lebih Dekat dengan Sakaratul Maut dan Kematian


Mengenal Lebih Dekat dengan Sakaratul Maut dan Kematian

Ingatlah kematianHidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)
Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang: Lanjutkan membaca

Malam Nisfu Syaban, Catatan Amal Ditutup?


Malam Nisfu Syaban, Catatan Amal Ditutup?

Pertanyaan:

Assalammu’alaikum.

Sya'banApa keistimewaan bulan Sya’ban? Karena saya sering mendengar bahwa Allah menutup catatan perbuatan manusia dan menggantinya dengan catatan baru?

Terima kasih.

Wassalammualaikum warahmatullahi wa barakatu

Dari: Dian

Jawaban:

Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami tidak pernah menjumpai dalil maupun keterangan ulama bahwa buku catatan amal hamba ditutup di malam nisfu Sya’ban atau ketika bulan Sya’ban. Kami hanya menduga, barangkali anggapan semacam ini karena kesalah pahaman terhadap hadis, dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ

“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).

Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, salah satu waktu, dimana amal para hamba dilaporkan adalah ketika bulan Sya’ban. Dan karenanya, beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Kedua, Penting untuk dicatat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan di tanggal berapa peristiwa pelaporan amal itu terjadi. Bahkan zahir hadis menunjukkan, itu terjadi selama satu bulan. Karena itulah, puasa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Sya’ban tidak pilih-pilih tanggal. Beliau juga tidak menganjurkan agar kita memilih pertengahan Sya’ban untuk puasa. Yang beliau lakukan, memperbanyak puasa selama Sya’ban.

Untuk itu, siapa yang beranggapan dianjurkan memperbanyak ibadah ketika pertengahan Sya’ban, dengan anggapan bahwa ketika itu terjadi pelaporan amal, maka dia harus mendatangkan dalil. Tanpa dalil, berarti dia menebak perkara ghaib. Dan tentu saja, pendapatnya wajib ditolak.

Kemudian, penting juga untuk kita perhatikan, hadis itu sedikitpun tidak menyebutkan adanya penutupan buku catatan amal. Beliau hanya menyampaikan ketika bulan Sya’ban terdapat pelaporan amal dan bukan penutupan catatan amal.

Ketiga, tidak ada istilah penutupan buku amal dalam islam. Karena kaum muslimin dituntut untuk selalu beramal dan beramal sampai ajal menjemputnya. Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah kematian. Karena setiap manusia dituntut beramal dan beribadah selama akalnya masih berjalan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan agar kita selalu menjaga iman, dengan istiqamah beramal. Ada seorang sahabat yang meminta nasehat kepada beliau. Yang nasehat ini akan selalu dia jaga selama hidupnya. Nasehat yang beliau sampaikan sangat ringkas,

قلْ آمنتُ بالله ثم استقم

Katakan, Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqmahlah.” (HR. Ahmad 15416 dan sanadnya shahih).

Dan yang namanya istiqamah, tentu saja tidak akan ada putusnya.

Al-Imam Ahmad pernah ditanya, ‘Kapan waktu untuk istirahat?’ beliau menjawab,

عند أول قدم نضعها في الجنة

“Ketika pertama kali kita menginjakkan kaki kita di surga.”

Sekali lagi tidak ada istilah istirahat beramal atau buku catatan amal ditutup sementara. Amal kita yang dihisab tidak hanya ketika nisfu Sya’ban, namun juga di bulan-bulan lainnya. Semoga Allah meringankan kita untuk terus istiqamah meniti jalan kebenaran. Amin..

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com).

https://konsultasisyariah.com/18442-malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup.html

SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN? (Edisi 2)


SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN?
(Edisi 2)

mengikuti manhaj salaf adalah sebuah kemulyaanApa yang telah dijelaskan oleh para ulama (dalam edisi 1) diatas telah dikuatkan pula oleh Allah dalam banyak firman-Nya, diantaranya:

1. Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’ : 7 dan An-Nahl : 43)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata tentang ayat ini: Keumuman ayat ini menjelaskan akan pujian terhadap para ahli ilmu dan yang tertinggi adalah ilmu tentang Al-Qur’an, karena Allah memerintahkan kepada yang tidak tahu untuk kembali kepada para ahli ilmu/ulama dalam setiap kejadian. Hal ini juga mengandung pengertian akan adanya rekomendasi bagi para ulama yang dijadikan sebagai rujukan dalam bertanya. Dan orang jahil tidak termasuk dalam hal ini. Beliau juga mengatakan: Di dalam pengkhususan bertanya hanya kepada para ahli ilmu terdapat larangan untuk bertanya kepada orang yang sudah terkenal akan kebodohannya…” (Tafsir Al-Kariimir Rahman hal.511 dan 605)

Jadi siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai ulama (bukan orang jahil yang ngelama’) maka merekalah tempat rujukan dalam agama baik dikala perpecahan maupun tidak. Yaitu mereka yang paham benar Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih. Dan tidak ada dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah pengkhususan tempat rujukan haruslah ulama yang pernah turun di medan perang. Seandainya yang mereka ucapkan itu benar, maka berapa banyak ulama yang tidak layak untuk dijadikan rujukan? Apakah semua Imam empat pernah turun di medan jihad mengangkat senjata? Apakah Imam Bukhari, Muslim dan yang lainnya layak dijadikan rujukan dalam agama dikala perselisihan (terutama masalah jihad) sedang mereka tidak pernah turun di medan perang mengangkat senjata? Di kalangan para sahabat yang paling terkenal dengan jihadnya di medan perang adalah Khalid bin Walid radhiyallahu anhu, tapi apakah para salaf dahulu lebih mendahulukan beliau dalam masalah agama daripada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma yang termasuk 7 sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits?

2. Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa’ : 83)

Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata: “mengetahuinya dari mereka” yaitu para ulama. [4]

3. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 59)

Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud (ulil amri) adalah para ahli ilmu agama, yang selalu taat kepada Allah dan mengajarkan manusia ilmu agama. Yang amar ma’ruf serta nahi mungkar. Allah pun mewajibkan para hamba untuk menaati mereka. (Lihat Tafsir Thabari 5/149)

Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: yang nampak –wallahu a’lam- bahwa makna ulil amri mencakup umara’/pemimpin maupun ulama. (Tafsir Al-Qur’anil Adzim 1/518).

Dan masih banyak lagi nash-nash atau ucapan salaf yang menjelaskan tingginya martabat dan kedudukan para ulama dan kewajiban untuk kembali kepada mereka dalam setiap keadaan dan tidak harus yang turun di medan perang. [5]

Sekali lagi, yang dimaksud oleh para ulama salaf dalam ucapan mereka “Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka” adalah para ulama ahlussunnah wal jama’ah yang darah dan daging mereka menyatu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman salafush shalih.

Kesalahan mereka (para aktivis harakah) ini timbul akibat penuhnya otak mereka dengan semangat yang membara untuk mengangkat senjata, namun tidak diiringi oleh ilmu dan pemahaman agama yang benar serta salahnya mereka dalam mencari rujukan (ulama) dalam agama ini.

Oleh karena itu, kami nasihatkan dari lubuk hati yang terdalam kepada mereka yang telah terjerumus ke dalam jaring-jaring terorisme, gerakan bawah tanah, aktivis harakah untuk takut kepada Allah dan agar belajar lebih dalam tentang Islam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman salaf (bukan Khawarij). Dan untuk mereka kembali kepada aqidah serta manhaj para ulama semisal Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Muqbil bin Hadi –rahimahumullahu-, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan selain mereka dari ulama ahlussunnah wal jama’ah. Ini semua agar mereka bisa membedakan mana jihad yang syar’i dan jihad yang bid’ah, jihad yang murni dan jihad yang palsu, siapa itu mujahid sejati dan siapa teroris?

Akhirnya, saya tutup dengan ucapan ulama salaf yang bernama Imam Al-Barbahari rahimahullahu: Perhatikanlah (Wahai saudaraku) –rahimakallahu- setiap orang yang engkau dengar ucapannya, khususnya dari orang-orang yang sezaman denganmu. Janganlah engkau tergesa-gesa menerimanya hingga engkau melihat, apakah ada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau seorang ulama yang berbicara seperti itu. [6]

SELESAI.

—————————

[4] Tafsir Al-Baghawi hal.321.
[5] Coba lihat “Qawaa’id fit ta’aamul ma’al ulama'” oleh Syaikh Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq –hafidzahullahu-.
[6] Syarhus Sunnah hal.69.

Sumber : FB Ustadz Abdurrahman Thayyib

 

SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN? (Edisi 1)


SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN?
(Edisi 1)

mengikuti manhaj salaf adalah sebuah kemulyaanBeberapa kali dilontarkan kepada kami sebuah syubhat (kerancuan) dari para aktivis harakah atau takfiriyyin (tukang mengkafirkan kaum muslimin tanpa haq) yang selalu mengembar-gemborkan jihad dengan senjata melawan Amerika dan sekutu-sekutunya serta untuk memberontak pemerintah kaum muslimin. Syubhat yang mereka kira sebuah dalil qath’i yang setara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka menyebarkan syubhat ini untuk menguatkan ambisi mereka mengajak umat berbondong-bondong keluar berjihad dengan senjata mengikuti pemimpin-peminpin gerakan bawah tanah mereka, tanpa mau menoleh lagi kepada para ulama yang darah dan dagingnya bersatu dengan ilmu agama ini. Bahkan mereka tidak segan-segan lagi menuding para ulama rabbaniyyin sebagai antek-antek yahudi dan menuduh para pembawa bendera syariat, pewaris para nabi sebagai penggembos jihad.

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi : 5). Lanjutkan membaca

Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian Atau Cobaan


Ketujuh puluh delapan:
AHLUS SUNNAH MENYURUH KAUM MUSLIMIN UNTUK SABAR KETIKA MENDAPAT UJIAN ATAU COBAAN, BERSYUKUR KETIKA MENDAPAT KESENANGAN SERTA RIDHA TERHADAP PAHITNYA QADHA DAN QADAR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” [Ali ‘Imran: 200] [1]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” [2]

Begitu juga tentang orang-orang yang sabar lagi bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya petunjuk di dunia dan di akhirat.

Menurut para ulama: “Bahwasanya iman itu ada dua bagian, sebagian adalah sabar dan sebagian lagi adalah syukur.” Para ulama salaf berkata: “Sabar adalah sebagian dari iman.” Allah mengumpulkan sabar dan syukur dalam Al-Qur-an, yaitu pada firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” [Asy-Syuraa’: 33] [3] Lanjutkan membaca