SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN? (Edisi 1)


SIAPA YANG DIJADIKAN RUJUKAN?
(Edisi 1)

mengikuti manhaj salaf adalah sebuah kemulyaanBeberapa kali dilontarkan kepada kami sebuah syubhat (kerancuan) dari para aktivis harakah atau takfiriyyin (tukang mengkafirkan kaum muslimin tanpa haq) yang selalu mengembar-gemborkan jihad dengan senjata melawan Amerika dan sekutu-sekutunya serta untuk memberontak pemerintah kaum muslimin. Syubhat yang mereka kira sebuah dalil qath’i yang setara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka menyebarkan syubhat ini untuk menguatkan ambisi mereka mengajak umat berbondong-bondong keluar berjihad dengan senjata mengikuti pemimpin-peminpin gerakan bawah tanah mereka, tanpa mau menoleh lagi kepada para ulama yang darah dan dagingnya bersatu dengan ilmu agama ini. Bahkan mereka tidak segan-segan lagi menuding para ulama rabbaniyyin sebagai antek-antek yahudi dan menuduh para pembawa bendera syariat, pewaris para nabi sebagai penggembos jihad.

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi : 5).

Syubhat yang selalu mereka bawa adalah ucapan ulama salaf yang mereka tidak memahaminya dengan benar, yang mereka anggap dapat menguatkan pemikiran sesat mereka. Memang begitulah adat dan kebiasaan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat, mereka mengambil dalil yang sekiranya (secara sepintas) bisa melegalkan kesesatan mereka, tapi meninggalkan dalil-dalil yang lebih jelas dari matahari di siang bolong. Simaklah kerancuan mereka dan jawaban kami berikut ini dengan mata dan hati yang terbuka, Semoga Allah menguatkan yang hak dan membasmi yang batil.

✔ Syubhat:

Kita harus kembali kepada para mujahid yang turun di medan perang dalam permasalahan agama bukan kepada para ulama yang hanya bisa berfatwa di masjid-masjid, karena ulama salaf seperti Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal dan Sufyan bin ‘Uyainah rahimahumullahu pernah berkata:

إِذَا رَأَيت النَاسَ قَد اختَلَفُوا فَعَلَيكَ بِالمُجَاهِدين وَ أَهلِ الثُغُورِ فَإِنَّ الحَقَّ مَعَهم لأنّ الله يقول :
“وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا”

“Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut : 69)
(Lihat “Majmu’ fatawa” oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu 28/442 dan tafsir Al-Qurthubi 13/325 tentang ayat diatas).

✔ Bantahan:

Secara sepintas orang yang membaca dan mendengar syubhat mereka ini akan takjub dan mengacungkan jempol. Tapi marilah kita cermati bersama apa maksud ucapan ulama salaf tersebut. Apakah yang dimaksud dengan mujahidin dan ahli tsughur? Dan bagaimana penafsiran para ulama tafsir tentang ayat diatas? Apakah sesuai dengan yang mereka inginkan? Inilah jawabannya:

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika membawakan ucapan Abdullah bin Mubarak dan Imam Ahmad serta Sufyan bin ‘Uyainah tersebut, dalam rangka pembahasan masalah tawakkal dan sabar yang amat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama bagi yang ingin berjihad (mengangkat senjata). Kedua hal tersebut termasuk dalam bagian jihadnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya. Inilah teks ucapan beliau:

Allah ta’ala berfirman:

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا(2)وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Ahzab : 2-3)

Allah memerintahkan untuk mengikuti apa yang telah diwahyukan-Nya dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah dan agar bertawakkal kepada-Nya. Yang pertama berkaitan dengan
[ إِيَّاكَ نَعْبُد] “hanya kepada Engkaulah kami beribadah” dan yang kedua berkaitan dengan [وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين] ”hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.
Hal ini serupa dengan ayat yang lainnya [فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ] “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya” (QS.Huud : 123) dan [عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ] Artinya : “Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud : 88).

Hal ini meskipun diperintahkan dalam segala keadaan, namun hal tersebut lebih ditekankan lagi pada waktu jihad untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik. Dan hal tersebut tidak bisa sempurna kecuali dengan pertolongan (kekuatan) dari Allah. Oleh karenanya, jihad merupakan tulang punggung ibadah yang terkumpul di dalamnya semua puncak amal perbuatan. Di dalamnya juga terdapat puncak kecintaaan (kepada Allah-pent), sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kau yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah : 54).

Di dalamnya juga terdapat puncak tawakkal dan kesabaran, karena seorang yang berjihad adalah orang yang paling membutuhkan kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu Allah berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS. An-Nahl : 41-42)

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-A’raaf : 128)

Oleh karena itulah, kesabaran dan keyakinan yang merupakan dasal tawakkal mengharuskan terciptanya kepemimpinan dalam agama, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. ” (QS. As-Sajdah : 24)

Dan oleh karenanya, jihad menghasilkan hidayah yang meliputi segala pintu ilmu, seperti yang telah Allah firmankan:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS.Al-Ankabut : 69).

Karenanyalah, berkata dua orang imam Abdullah bin Mubarak dan Ahmad bin Hambal dan selain keduanya: Apabila manusia berselisih dalam suatu perkara maka kembalilah engkau kepada ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut : 69)
(Lihat “Majmu’ fatawa” 28/441-442)

Dari ucapan Syaikhul Islam ini ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran berharga, diantaranya:
A. Wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam segala keadaan.
B. Wajibnya bertawakkal kepada Allah dan menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya.
C. Wajibnya melewati tahapan-tahapan jihad sebelum tahapan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata, seperti tawakkal dan sabar yang merupakan jihad terhadap hawa nafsu yang terbagi menjadi empat tingkatan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim.
Maka jelas bagi kita, bahwa yang dimaksudkan oleh para ulama salaf tersebut dengan ucapan mereka “Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur….” adalah orang-orang yang telah sukses melewati tahapan-tahapan jihad (jihad melawan hawa nafsu) yaitu para ulama Rabbaniyyin dan bukan orang-orang yang di medan perang seperti anggapan mereka, sebagaimana hal ini dikuatkan oleh ucapan-ucapan para ulama lainnya. Berikut ini ucapan-ucapan mereka rahimahumullahu:

1. Imam Qurthubi ketika mentafsirkan ayat 69 dalam surat Al-Ankabut diatas berkata: “Maksudnya memerangi orang-orang kafir [1] di jalan kami, yaitu dalam mencari keridhaan kami.
– As-Sudi dan selainnya berkata: Ayat ini turun sebelum turunnya kewajiban berperang (mengangkat senjata).
– Ibnu Athiyah berkata: Ayat ini turun sebelum adanya jihad (mengangkat senjata), dan sebenarnya ayat ini umum mencakup semua bidang agama Allah dan dalam mencari keridhaan-Nya.
– Hasan bin Abil Hasan berkata: Ayat ini untuk ahli ibadah.
– Ibnu Abbas dan Ibrahim bin Adham [2] berkata: Ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang beramal dengan ilmu.
– Abu Sulaiman Ad-Daaraani berkata: Jihad yang dimaksud oleh ayat tersebut bukanlah perang melawan orang-orang kafir saja, tapi maksudnya menolong agama, membantah orang-orang yang batil/sesat, membasmi orang-orang yang zalim dan puncaknya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Dan termasuk juga, melawan hawa nafsu dalam menaati Allah yang merupakan jihad terbesar. [3]

2. Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullahu tentang ayat tersebut: Mereka adalah orang-orang yang beramal dengan ilmu, maka Allah memberi hidayah kepada mereka terhadap hal yang tidak mereka ketahui. Abu Sulaiman Ad-Daaraani berkata: Tidak selayaknya bagi yang diberi ilham akan suatu kebaikan untuk dia mengamalkannya sampai dia mendengar atsar (riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para salaf-pent). Jika dia sudah mendengar atsar, maka bolehlah dia mengamalkannya dan memuji Allah, sehingga hal tersebut mencocoki apa yang ada dalam dirinya” (Tafsir Qur’anil ‘Adzim 3/555).

3. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata tentang tafsir ayat diatas: Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah dan memerangi musuh-musuh-Nya serta mengerahkan segala kekuatan untuk mencari keridhaan-Nya.
Dan beliau berkata: Ayat ini menunjukkan bahwa manusia yang lebih berhak dengan kebenaran adalah ahli jihad. Ayat ini juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah dengan baik, maka Allah akan menolong dan memudahkan jalannya mendapat hidayah. Dan ayat ini juga menerangkan bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama, maka dia akan mendapatkan hidayah serta pertolongan dalam menggapai harapannya yang diluar kekuatannya serta dipermudah mendapatkan ilmu. Karena sesungguhnya menuntut ilmu agama termasuk jihad fii sabilillah, bahkan dia termasuk salah satu bentuk jihad yang tidak dapat dilaksanakan kecuali oleh orang-orang khusus. Bentuk-bentuk jihad itu adalah jihad dengan ucapan lisan melawan orang-orang kafir dan munafik, serta jihad dalam mengajarkan ilmu agama serta membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran meskipun mereka adalah kaum muslimin.” (Tafsir Al-kariimir Rahman hal.747)

4. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad –hafidzahullahu- berkata: Jihad melawan hawa nafsu merupakan pondasi jihad yang dengannya seorang hamba bisa menggapai hidayah dan bisa menang terhadap para musuh. Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut : 69).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Allah ta’ala mengkaitkan hidayah dengan jihad, maka orang yang sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri sendiri, hawa nafsu, setan dan dunia. Barangsiapa yang berjihad diatas empat tahapan ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah untuk mencapai keridhaan-Nya hingga sampai ke surga-Nya. Barangsiapa yang meninggalkan jihad maka sirnalah hidayah sesuai dengan kadarnya.

Berkata Junaid: Dan orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Kami dengan bertaubat, maka sungguh Kami akan menunjukkan jalan-jalan keikhlasan. (Al-Fawaaid hal.109 dan Al-quthuuful jiyaad min hikami wa ahkaamil jihaad hal.8)

BERSAMBUNG..
—————————-

[1] Dan memerangi orang kafir itu bukan hanya dengan senjata tapi juga dengan ilmu dan hujjah sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengannya (Al Qur’an) dengan jihad yang besar. ” (QS.Al-Furqon : 52)

Ibnu Abbas berkata: “dengan Al-Qur’an” seperti yang dinukilkan oleh Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya. Dan dari ucapan Ibnu Athiyah diatas jelaslah kesalahan sebagian orang yang memahami setiap kata “Jihad” dalam nash-nash syariat dengan jihad mengangkat senjata.

[2] Ucapan mereka ini juga dinukil oleh Imam Asy-Syaukani dalam fathul Qadir 4/279.

[3] Ucapan ini menguatkan apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim tentang tahapan-tahapan jihad di awal kitab beliau Zaadul Ma’aad jilid 3.

Sumber : FB Ustadz Abdurrahman Thayyib

Iklan