JANGAN PERNAH BERGANTUNG PADA MANUSIA


JANGAN PERNAH BERGANTUNG PADA MANUSIA

Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc(Lulusan Universitas Islam Madinah, Pengajar di Sekolah Tinggi Ali bin Abi Tholib, Surabaya).

SirohManusia adalah makhluk yang lemah, tidak punya daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Allah berfirman:

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’ : 28)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir : 15)

Selayaknya manusia selalu mengantungkan harapan, cita-cita serta kebutuhannya kepada Allah. Terlebih kita mengetahui diantara nama Allah adalah Ash-Shamad. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata : Ash-Shamad adalah Dzat yang sempurna sifat-sifat-Nya yang semua makhluk selalu membutuhkanNya. [1]

Oleh karena itulah Allah perintahkan kita untuk bertawakkal kepada-Nya saja. Allah berfirman:
وَتَوَڪَّلۡ عَلَى ٱلۡحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.” (QS. Al-Furqon : 58)

– Definisi Tawakkal Lanjutkan membaca

Iklan

Mengenal Lebih Dekat dengan Sakaratul Maut dan Kematian


Mengenal Lebih Dekat dengan Sakaratul Maut dan Kematian

Ingatlah kematianHidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)
Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang: Lanjutkan membaca

Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian Atau Cobaan


Ketujuh puluh delapan:
AHLUS SUNNAH MENYURUH KAUM MUSLIMIN UNTUK SABAR KETIKA MENDAPAT UJIAN ATAU COBAAN, BERSYUKUR KETIKA MENDAPAT KESENANGAN SERTA RIDHA TERHADAP PAHITNYA QADHA DAN QADAR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” [Ali ‘Imran: 200] [1]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” [2]

Begitu juga tentang orang-orang yang sabar lagi bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya petunjuk di dunia dan di akhirat.

Menurut para ulama: “Bahwasanya iman itu ada dua bagian, sebagian adalah sabar dan sebagian lagi adalah syukur.” Para ulama salaf berkata: “Sabar adalah sebagian dari iman.” Allah mengumpulkan sabar dan syukur dalam Al-Qur-an, yaitu pada firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” [Asy-Syuraa’: 33] [3] Lanjutkan membaca

Tujuh Belas Pertahanan Diri dari Gangguan Setan


Tujuh Belas Pertahanan Diri dari Gangguan Setan

Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Perlindungan diri dari gangguan setan:

Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits–hadits shahih berupa doa dan zikir. Karena Al Quran dan Al-Hadits adalah penawar, rahmat, petunjuk serta perlindungan dari kejahatan di dunia dan akhirat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Diantara bentuk pertahanan tersebut adalah:

Pertahanan pertama: Isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah Yang Maha Besar (yaitu dengan membaca: A’uzubillah). Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk memohon perlindungan kepada-Nya dalam setiap kondisi, khususnya saat hendak membaca Al quran, saat marah, saat was- was dan saat bermimpi buruk.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (QS. An Nahl: 98–99) Lanjutkan membaca

Bait Sya’ir yang membuat Al-Imam Ahmad -rahimahullaah- menangis


Bait  Sya’ir yang membuat Al-Imam Ahmad -rahimahullaah- menangis

airDikisahkan, ada seseorang yang mendatangi Al-Imam Ahmad dan bertanya kepada beliau, “Wahai Imam, bagaimana menurut anda mengenai sya’ir ini?

Beliau menjawab, “Sya’ir apakah ini?” di mana orang tersebut membaca sya’ir berikut

إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”

وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا سوف يحميني؟

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

أسُلي النفس بالآمالِ من حينٍ الى حيني

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu Lanjutkan membaca

QONA’AH RESEP MENGGAPAI HIDUP BAHAGIA


QONA’AH RESEP MENGGAPAI HIDUP BAHAGIA

Oleh : Abu Abdillah Syahrul Fatwa as-Salim

Makna Dan Hakekat Qona’ah

QonaahImam Ibnu Faris Rohimahulloh mengatakan: “huruf Qoof, Nun, dan ‘Ain mempunyai dua makna yang shohih. Salah satu maknanya adalah menunjukkan penerimaan atas sesuatu. Sedangkan makna yang lain adalah menunjukkan sesuatu yang melingkar.” (Mu’jam maqoyis al-Lughoh hal. 835)

Ibnu Sunni Rohimahulloh berkata:  “Qona’ah adalah ridho terhadap pemberian.” (al-Qona’ah hal. 40)

Imam Roghib al-Ashfahani Rohimahulloh mengatakan: “Qona’ah adalah merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit dari sesuatu yang dibutuhkan.” (al-Mufrodaat Fi Ghoriib al-Qur’an hal. 414)

Imam Ali al-Jurjani Rohimahulloh berkata: “Qona’ah secara bahasa maknanya ridho terhadap pemberian. Ada yang mengatakan bahwa qona’ah  adalah mencukupkan diri, tidak meminta.” (at-Ta’riifaat hal. 179)

Imam Ibnu Hazm Rohimahulloh mengatakan: “Qona’ah adalah sifat yang utama, tersusun dari sifat dermawan dan adil.” (Mudawatun Nufus hal. 145)

Dapat kita simpulkan bahwa qona’ah adalah engkau ridho dan menerima pemberian Alloh Azza wa Jalla kepadamu dalam kehidupan dunia ini, baik sedikit atau banyak. Engkau menyerahkan urusanmu kepada Robb-mu. Engkau mengetahui dengan yakin bahwa Alloh Azza wa Jalla lebih tahu, lebih penyayang terhadapmu daripada dirimu sendiri. (al-Qona’ah  hal. 18, Abdulloh bin Ibrohim Dawud).

ANJURAN QONA’AH Lanjutkan membaca

Rangkuman isi ceramah al-ustadz Muhammad Nuzul Dzikri(Waspada Bahaya Lisan) Masjid Habiburahman-IPTN-Bandung(27 Oktober 2013 )


Rangkuman isi ceramah al-ustadz Muhammad Nuzul Dzikri(Waspada Bahaya Lisan) Masjid Habiburahman-IPTN-Bandung(27 Oktober 2013 )

lisan...

Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

Bahaya Lisan :

1. Berkata dengan kekafiran, al-ustadz Muhammad Nuzul mencontohkan : Saya murtad dari Agama Islam.

2. Berkata agama tanpa ilmu. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (Qs. Al-Isro : 36).

Fatwa tanpa ilmu

orang awam bertanya bukan berfatwa, yang berfatwa harus yang berilmu

Menyampaikan dalil tanpa penjelasanya, shohih atau dhoif.

Berbicara agama dengan akalnya.

3. Ghibah 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(Qs. Al-Hujarat : 12).

Lalu Al-Ustadz Muhammad Nuzul menyampaika hadist : Dari Abu Huroiroh radliyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”(Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain).

ustadz Muhammad Nuzul menjelaskan, para ikhwan berpenampilan sunnah sering pergi ta`lim, tapi sering melakukan ghibah maka imannya bermasalah.

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah).

Membuka aib orang, maka Allah akan membuka aib kita.

Merusak kehormatan seorang muslim.

 4. Dusta/ berbohong.

bohong indetik dengan kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Dusta yang diperbolehkan : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meringankan dalam segala sesuatu yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga keadaan, yaitu dalam peperangan, dalam mengadakan hubungan baik antara manusia yang sedang berselisih, dan ucapan seseorang suami terhadap isterinya atau seorang isteri terhadap suaminya”(H.R. Muslim).

Sekian rangkuman ceramah ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dengan tema : Waspada Bahaya Lisan, yang dilaksanakan di Masjid Habiburahman-IPTN Bandung pada hari Ahad, 27 Oktober 2013.

Lebih lengkap dan jelas silahkan download kajiannya di : (Album Sunnah (Koleksi Audio Ahlussunnah Wal Jama`ah)

Semoga Bermanfaat..

Dirangkum :

Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

27 Oktober 2013. (Ahad Malam).

Afwan bila ada kekurangannya…