KATAKAN TIDAK UNTUK PACARAN


KATAKAN TIDAK UNTUK PACARAN

anyak penyakit kronis yang menjangkiti pemuda-pemudi islam saat ini. Selain mereka tertipu dengan kemilau dunia, mereka pun tertipu dengan yang namanya cinta. Berapa banyak dari mereka yang terbuai dengan permainan syaithan ini,sehingga ketika sudah beranjak dewasa mereka mulai kenal dengan yang namanya cinta monyet.

Pacaran dikalangan anak muda bukan merupakan aib lagi, bahkan kata mereka merupakan suatu keharusan, na’udzubillah min dzalik. Mereka berdalih untuk mengungkapkan rasa kasih sayang di antara dua insan yang berlainan jenis. Yang lebih parah lagi, dengan semakin majunya perkembangan zaman, semakin rusak pergaulan antar remaja. Sayangnya, sedikit sekali dari kaum muslimin yang memberikan perhatian dalam masalah ini. Semoga tulisan sekilas ini menjadi nasihat dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Semoga Allah ta’ala membukakan hati kita untuk menerima nasihat.

 

 

ISLAM MEMERINTAHKAN UNTUK MENUNDUKKAN PANDANGAN

Penyakit pacaran tidak bisa lepas dari saling pandang memandang antara dua insan yang berlainan jenis, kemudian syaitan membisikkan hati di antara keduannya untuk berkenalan, beginilah cara pertama syaithan menjerat seseorang. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada muslim dan muslimah untuk menundukkan pandangan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangandan kemaluannya.” (QS. an-Nur 30-31)

Jadi cara pertama agar tak terperangkap jeratan syaithan adalah dengan menundukkan pandangan. Kemudian jika mata tanpa sengaja melihat sesuatu yang diharamkan, maka jangalah ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Hal ini pernah terjadi pada Fadhl bin Abbas radhiyallahu ‘anhumaketika melihat wanita, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kepalanya dan mengalihkan ke arah yang lain. Dan ada juga perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi thalib  radhiyallahu ‘anhu yaitu:

يَا عَلِيُّ، لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ اْلأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ.

“Wahai Ali, jangan engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan yang berikutnya, sesungguhnya bagimu yang pertama dan yang terakhir bukan untukmu.” (as-Sunan al-Kubra No. 13898)

Maka sebelum terjatuh dalam pacaran tundukkanlah pandangan agar bekas pandangan tidak mengotori hatimu.

 

ISLAM MELARANG SESEORANG BERDUAAN DENGAN YANG BUKAN MAHRAMNYA

Biasanya setelah kedua insan berpacaran maka syaithan menjerat dengan jeratan yang kedua, yaitu berdua-duan. Setelah berkenalan maka mereka bersepakat untuk jalan-jalan. Padahal Rasulullah melarang seorang laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرِأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ.

“Jangalah seseorang berduaan dengan wanita kecuali wanita tersebut bersama mahramnya.” (Muttafaq alaihi)

Pada redaksi yang lain disebutkan: “Maka pihak ketiganya adalah syaithan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam dalil ini terdapat larangan berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya dan ini menjadi kesepakatan para ulama.” (Fathul Bari 92/4).

 

 

ANCAMAN YANG KERAS BAGI ORANG YANG MENYENTUH BUKAN MAHRAMNYA

Diantara bumbu-bumbu orang yang sedang dimabuk asmara setelah mereka berjalan berdua, maka syaithan menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang berikutnya, yaitu bergandengn tangan, bermesra-mesraan. Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengawasi apa yang mereka perbuat. Allah ta’ala dan Rasul-Nya melarang hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َلأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ.

“Lebih baik seseorang ditusuk dengan besi panas di kepalanya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1910)

 

PACARAN SARANA MENUJU PERZINAAN

Iman seorang muslim tidaklah selalu tetap, akan tetapi kadang bertambah dengan amalan-amalan kebaikan dan terkadangpun turun dengan banyak berbuat maksiat. Apalagi jika orang tersebut selalu dalam permainan syaithan, maka tidaklah sulit bagi syaithan untuk menjerumuskannya ke dalam perbuatan zina. Sehingga tak heran jika di daerah metropolitan banyak wanita yang hamil di luar nikah hingga begitu banyak terjadi kasus aborsi.

Wahai saudarku, syaithan bukanlah makhluk yang bodoh dalam menggoda manusia.Lihatlah Nabi Adam ‘alaihissalam, mengapa beliau dikeluarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari surga, tak lain karena godaan syaithan. Dan syaithan itu tidak langsung menjatuhkan seorang hamba kedalam perbuatan zina, akan tetapi ia ajak hamba tersebut step by step. Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Karena pacaran merupakan salah satu jalan perbuatan zina, maka diharamkan oleh agama Islam. Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra`: 32)

Jika zina itu diharamkan, maka perbuatan yang menuju zinapun diharamkan pula oleh syariat Islam untuk menutup pintu madharat yang lebih besar. Disinilah letak kebijakan Islam, dimana agama Islam menutup segala pintu menuju perbuatan maksiat.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah, perbuatan zina benar-benar merupakan perbuatan yang sangat keji hingga hewanpun membencinya. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari(No. 2924) dari ‘Amr bin Maimunradiyallahu ‘anhu ia berkata:

رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدًا زَنَا بِقِرْدَةٍ فَاجْتَمَعَ عَلَيْهِمَا القِرْدَةُ فَرَجَمُوْهُمَ احَتَّى مَاتَا.

“Aku melihat di zaman jahiliyah seekor monyet jantan berzina dengan monyet betina maka berkumpulah sekumpulan monyet dan merajam berdua sampai mati.”

NASIHAT DARI HATI KEHATI

Untuk para orang tua, ingatlah firman Allah ta’ala yang memerintahkan kita untuk menjaga diri kita dan keluarga dari api neraka (QS. at-Tahrim: 6), dan ingatlah pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang menjelaskan bahwa kalian adalah pemimpin di dalam keluarga yang akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat kelak (HR. Bukhari & Muslim).

Sementara pacaran bukanlah ketaatan, bukan pula jalan menuju surga. Justru sebaliknya, merupakan kemaksiatan kepada Allah ar-Rahman dan salah satu jalan menuju neraka. Lantas, dengan apa engkau akan membela dirimu nanti di hadapan Allah Yang Maha Perkasa? Maka itu, jagalah mereka dengan sebaik-baiknya, ajarkanlah kepada mereka al-Qur`an dan as-Sunnah, semoga hal itu menjadi modal utama bagi kalian untuk menuju surga-Nya.

Wahai temanku yang masih terjerat dalam permainan syaithan, ketahuilah bahwasanya umur yang engkau habiskan di masa muda akan Allah ‘azza wa jalla tanyakan kemana dihabiskan: Apakah akan engkau habiskan dalam kubangan maksiat yang engkau tidak pernah keluar darinya?? Sementara itu apa yang menjamin panjangnya umur anda ?? Apa anda tidak takut dengan su’ul khatimah?? Maka bertaubatlah, wahai saudaraku, sebelum malaikat maut menjemputmu.

Bagi anda yang masih tenggelamdidalam kubangan maksiat yang buruk ini, segera tinggalkanlah, karena sesunggunnya Allah ‘azza wa jalla maha keras siksa-Nya. Jangan hiraukan perkataan mereka yang mencela bahwa orang yang tidak pacaran adalah kampungan atau ketinggalan zaman. Tinggalkanlah pula teman-teman yang buruk, karena teman yang buruk tidak akan mendatangkan kebaikan bagi agamamu sedikitpun.

 

PENUTUP

Kita memohon kepada Allah Rabb penguasa ‘Arsy Yang Maha Agung, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat naungan pada hari kiamat, dimana tiada naungan kecuali naungan-Nya, keselamatan di dunia dan di akhirat, dan semoga kita dijadikan hamba-hamba-Nya yang senantiasa mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga ajal menjemput kita.

[Oleh: Aulia Ramdanu]

 

 

 

Download: BULETIN_AL-IMAN_TAHUN_2011-2012/01_TAHUN_PERTAMA/Edisi_45_No.45_Th.01_Dzulhijjah_1432H_-_KATAKAN_TIDAK_UNTUK_PACARAN.pdf

Sumber : http://buletin.stai-ali.ac.id/?p=298

 

Iklan