Menangani Anak yang Bermain-main ketika Shalat dan Memindahkan Anak dari Shaf Depan


Menangani Anak yang Bermain-main ketika Shalat dan Memindahkan Anak dari Shaf Depan

sholat anak kecil.Syaikh yang mulia, terkait anak-anak yang belum mampu shalat dengan baik, berpaling sana-sini, atau rukuk dan tidak sujud bersama imam, apakah boleh mengeluarkan mereka dari shaf atau dibiarkan?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin – semoga Allah merahmatinya – menjawab:
Anak-anak kecil, jika mereka didapati mengganggu maka dikeluarkan, namun tidak dengan melarang dan meneriaki mereka.
Tidak lain, dengan menghubungi wali-wali mereka dan menyampaikan : “Wahai fulan, sesungguhnya anakmu atau saudaramu membuat keributan atas (shalat) kami” sehingga pencegahannya dari masjid datang dari sisi walinya.
Dan kamu memahami bahwa jika kamu berteriak kepada anak ini, ia akan terganggu, membenci masjid, dan benci untuk mendatanginya. Dan mungkin akan ada sesuatu dalam hati walinya kepadamu.
Namun, jika kamu mendatangi (penyelesaian) masalah dari pintunya, pasti akan menjadi lebih baik.
Adapun jika tidak terjadi gangguan dari anak-anak, tidak dengan perkataan dan perbuatannya, maka tidak boleh mengeluarkannya dari masjid dan tidak memindahkannya dari tempatnya – walaupun ia di shaf terdepan – ke tempat lain. Bahkan, ia tetap di tempatnya – walau di belakang imam – sebab seseorang yang telah mendahului kepada sesuatu maka ia yang paling berhak kepadanya. Lanjutkan membaca
Iklan

Adab Menasehati Dalam Islam


Adab Menasehati Dalam Islam

nasihat salafKewajiban Terhadap Orang Yang Menyelisihi Kita Dalam Suatu MasalahSyaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily mengatakan :

  1. Kita tidak boleh berbicara dalam masalah ini kecuali dengan ilmu, bukan dengan dzon (persangkaaan)
  2. Tatsabut dan meneliti, karena bisa jadi dia yang benar dan kita yang salah, maka kita harus meneliti ucapan yang kita anggap salah ini.
  3. Kembali kepada nash-nash (Al-Quran dan Sunnah) serta pemahaman generasi sahabat, dan jika ada problem pada kita, kembalilah kepada ulama.
  4. Jika kita telah yakin bahwa dialah yang menyelisihi, maka wajib untuk menasehatinya dengan mengatakan: Yaa Akhi. Sesungguhnya Anda tidak menginginkan kecuali kebaikan, tapi Anda salah dalam masalah ini, dan yang benar adalah apa yang dikuatkan oleh nash-nash yang mengatakan begini

Adapun langkah-langkah dalam menasehati bukan hanya satu cara saja, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya , jika tak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya..

Jadi Kewajiban Kita Adalah : Lanjutkan membaca

Hindarilah Sifat Hasad!


Hindarilah Sifat Hasad!

Ustadz Kholid SyamhudiLc

Ujian Allah

hasadAllah memberikan nikmatNya tidak sama pada semua hambaNya, ada yang diberi banyak dan ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hambaNya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Sehingga dengan ujian ini dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Oleh karena itu jangan sampai kita kalah dalam ujian tersebut.

Adam vs Iblis

Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat-sifat jelek hamba Allah terhadap yang lainnya. Lihat awal perseteruan Adam dan iblis, ketika Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam disebabkan perasaan hasadnya terhadap Adam. Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? –menurut Iblis-. Ia yang lebih baik dan pantas dari Adam mendapat kemuliaan tersebut, kok malahan diminta sujud padanya, sampai ia mengatakan:

:”Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. 7:12)

Perseteruan itu ada disebabkan hasad kepada Adam yang telah Allah muliakan. Akibatnya Allah kutuk Iblis dan menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.

Demikian juga permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:

Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109) Lanjutkan membaca

Hakikat Kekayaan


Hakikat Kekayaan

Oleh Al-Ustadz Abu Khaleed (lulusan Hadist Universitas Al-Azhar-Mesir)

Hanya dengan cara pandang agama, manusia akan percaya bahwa sesungguhnya kekayaan tidak selalu berwujud harta benda. Kekayaan yang sebenarnya tidak selalu diukur dengan besarnya angka-angka materi. Keluasan hati saat seorang hamba mampu menekan hawa nafsunya, bersikap menerima dan mensyukuri apa yang ada justru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan sebagai kekayaan yang sebenarnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (Hadis riwayat Bukhari Muslim)

Ibnu Baththal berkata, “Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang hakiki bukan pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya hingga ia tidak peduli lagi dari mana harta itu didapatkan, maka, sesungguhnya ia orang miskin, disebabkan karena ambisinya yang sangat besar.” Lanjutkan membaca

Hanya Karena Mencari Kursi Panas


Hanya Karena Mencari Kursi Panas

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

kursi kekuasaanMenjelang bergulirnya Pemilu tahun depan, sebagian pencari suara mulai mencari pendukung. Di antara mereka mencari kursi, sampai pun ridho pada hal yang sebenarnya tidak Allah sukai. Mereka tahu akan haramnya perbuatan bid’ah, namun karena demi kursi panas dan demi meraup pendukung, segala cara pun ditempuh. Padahal sudah dijelaskan dalam untaian nasehat Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa siapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka lihatlah saja nanti bagaimana Allah akan membolak-balikkan hati manusia sehingga akhirnya menjadi tidak ridho.

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Lanjutkan membaca

Menghidupkan Ruh Iman Dalam Keluarga


Menghidupkan Ruh Iman Dalam Keluarga

Oleh: Ustadz Abu Ammar Abdul Adhim al-Ghoyami

Layaknya seorang guru, orang tua memiliki tugas memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak mereka. Tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya ke dalam otak anak-anak, namun lebih dari itu mereka harus bisa mendidik dengan pendidikan yang paripurna didasari pola penjernihan akidah, ibadah serta tingkah laku dan karakter anak. Anak-anak harus dijauhkan dan dibersihkan dari apa saja yang mengeruhkan pola beragamanya dengan baik dan benar.

Gambarannya, para orang tua harus bisa menjadikan setiap ucapan yang terucap oleh anak-anak dan seluruh tingkah polahnya merupakan cerminan dari bersihnya hati mereka yang penuh dengan cahaya keimanan. Tugas yang tidak mudah dan tidak ringan ini menjadi kewajiban setiap pasangan suami istri secara bersama-sama. Adapun secara khusus, para suami yang juga para bapak dari anak-anak, memiliki tugas mendidik seluruh anggota keluarganya termasuk istri-istri mereka dengan tugas yang sama seperti di atas.

Dengan menyimak siroh (perjalanan hidup) Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam akan kita ketahui bahwa beliau, di samping sebagai seorang nabi dan rosul, juga sebagai seorang pendidik teladan yang bijaksana, sebagai seorang guru yang tak habis-habisnya mentransfer ilmu, seorang juru pengarah yang lurus nasihatnya, besar kasih sayangnya, yang mencintai dan dicintai, serta begitu tulus keikhlasannya. Semua itu beliau lakukan terhadap para istri beliau, anak-anak, keluarga serta seluruh sahabatnya ridhwanullohi alaihim ajma’in. Sehingga kita bisa dapati seluruh mereka yang terdidik di bawah didikan nubuwwah ini benar-benar menjadi generasi yang unggul dan brilian otaknya sebab telah terasah oleh kelembutan-kelembutan iman dan telah terterangi oleh kilauan-kilauan akhlak terpuji dari hati yang suci.

Adab Pendidik Robbani

Menilik sisi kehidupan rumah tangga Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam, sebagai seorang suami juga sebagai seorang bapak, bagaimana Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam telah berhasil mendidik para istri serta anak-anak beliau dan menanamkan keimanan di hati-hati mereka seluruhnya. Berbagai kelebihan yang kiranya masih begitu jauh untuk bisa kita katakan bahwa hal itu telah dimiliki pula oleh para suami, juga oleh para orang tua dewasa ini, namun hal itu akan kita dapati pada diri beliau dan metode pendidikan beliau. Selalu mengucap salam tatkala berjumpa merupakan satu kelebihan beliau. Sehingga beliau tampil sebagai sosok yang dicintai dan begitu mencintai. Beliau selalu tampil dengan raut muka berseri lagi murah senyum. Bahkan beliau menyebutkan:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan sesamamu adalah shodaqohmu”. (HR. Tirmidzi 2083, Shohihul Jami’ no. 2908)

Beliau selalu bertutur kata lembut dan sopan. Bahkan tatkala melihat suatu kesalahan pada umatnya sekalipun hanya kalimat yang mulia yang keluar dari lisan beliau yang mulia.Bahkan beliau menyebutkan:

 وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Dan tutur kata yang baik ialah shodaqoh”. (Hadits Muttafaqun alaih) Lanjutkan membaca

Ya Alloh, Tunjukkan Kami ‘Shirothol Mustaqim’


Ya Alloh, Tunjukkan Kami ‘Shirothol Mustaqim’

Oleh Al- Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

Begitulah. Setiap hari kita sebagai seorang muslim senantiasa meminta kepada Alloh agar ditunjukkan shirothol mustaqimminimal tujuh belas kali, yaitu tatkala membaca surat al-Fatihah di dalam sholat kita. Tapi tahukah kita apakah sesungguhnya yang selalu kita pinta itu? Sudahkah Alloh Ta’ala mengabulkannya?

 

Definisi ‘Shirothol Mustaqim’

Secara bahasa shirothol mustaqim –sebagimana dikatakan oleh Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thobari di dalam Tafsir ath-Thobari: 1/170– bermaknathoriq wadhih (jalan atau metode yang jelas) yang tidak ada kebengkokan padanya. Bahkan beliau menyatakan, yang disetujui pula oleh Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu katsir: 1/137), bahwa definisi shirothol mustaqim tersebut merupakan kesepakatan para imam ahli tafsir seluruhnya.

Kita tentu sudah maklum bahwa jalan atau metode itu bermacam-macam. Namun jalan atau metode yang lurus, yang tidak ada kebengkokan inilah yang perlu kita ketahui. Dan itulah sesungguhnya yang senantiasa kita pinta di setiap sholat kita. Para ulama ahli tafsir dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan selain mereka telah berbeda pendapat tentang hal ini. Namun perbedaan tersebut tetap bertemu dalam sebuah makna yang sama.

Abdulloh Ibnu Abbas dan Jabir rodhiyallohu’anhuma mengatakan bahwa maknanya ialah Islam. Pendapat ini juga diikuti oleh Muqotil rohimahulloh. Sedangkan Abdulloh bin Mas’udrodhiyallohu’anhu mengatakan bahwa maknanya ialah al-Qur’an. Seperti yang diriwayatkan secara marfu’ dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu’anhu bahwa shirothol mustaqim adalah Kitabulloh (al-Qur’an). Lanjutkan membaca