Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian Atau Cobaan


Ketujuh puluh delapan:
AHLUS SUNNAH MENYURUH KAUM MUSLIMIN UNTUK SABAR KETIKA MENDAPAT UJIAN ATAU COBAAN, BERSYUKUR KETIKA MENDAPAT KESENANGAN SERTA RIDHA TERHADAP PAHITNYA QADHA DAN QADAR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” [Ali ‘Imran: 200] [1]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” [2]

Begitu juga tentang orang-orang yang sabar lagi bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya petunjuk di dunia dan di akhirat.

Menurut para ulama: “Bahwasanya iman itu ada dua bagian, sebagian adalah sabar dan sebagian lagi adalah syukur.” Para ulama salaf berkata: “Sabar adalah sebagian dari iman.” Allah mengumpulkan sabar dan syukur dalam Al-Qur-an, yaitu pada firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” [Asy-Syuraa’: 33] [3]

Iman dibangun atas dua rukun, yaitu yakin dan sabar. Dua rukun ini Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [As-Sajdah: 24]

Dengan keyakinan, seseorang akan tahu hakikat perintah dan larangan, ganjaran dan siksaan. Dan dengan kesabaran ia bisa melaksanakan perintah-Nya dan menahan dirinya dari apa yang dilarang-Nya.[4]

Sabar dapat dibagi menjadi tiga macam:
1. Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan.
2. Sabar dalam menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiyat.
3. Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian yang pahit. [5]

Syukur adalah pangkal iman, dan dibangun di atas tiga rukun:
1. Pengakuan hati bahwa semua nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dan kepada orang lain, pada hakekatnya semua dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menampakkan nikmat tersebut dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat itu.
3. Menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Allah dan beribadah dengan benar hanya kepada-Nya. Wallaahu a’lam. [6]

Sabar dan syukur merupakan faktor penyebab bagi pelakunya untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Hal ini karena iman dibangun di atas sabar dan syukur. Sesungguh-nya pangkal syukur adalah tauhid dan pangkal sabar adalah meninggalkan hawa nafsu.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat sebagian ayat tentang sabar: QS. Al-Baqarah: 45, 153-157, Ali ‘Imraan: 142, an-Nahl: 126-127, Luqman: 17, az-Zumar: 10, al-Muzzammil: 10, dan lainnya.
[2]. HR. Muslim (no. 2999 (64)), Ahmad (VI/16), ad-Darimi (II/318) dan Ibnu Hibban (no. 2885, at-Ta’liiqatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban), dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan z. Lafazh ini milik Muslim.
[3]. Lihat juga al-Qur-an surat Ibrahim: 5, Luqman: 31 dan Saba’: 19.
[4]. Lihat ‘Idatus Shaabiriin wa Dzakhiiratus Syaakiriin (hal. 176) oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ta’liq dan takhrij Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. II/Daar Ibnul Jauzi, th. 1421 H.
[5]. Ibid (hal. 55) dan Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid (hal. 421).
[6]. Lihat al-Qaulus Sadiid fii Maqaashidit Tauhiid (hal. 140) oleh Syaikh ‘Abdurrah-man bin Nashir as-Sa’di.
[7]. Lihat Fawaa-idul Fawaa-id (hal. 149) oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ta’liq dan takhrij oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdul Hamid al-Halaby al-Atsari, cet. Daar Ibnul Jauzi, th. 1417 H.

Sumber: Al-Manhaj.com

Iklan