Hizbut Tahrir Berulah Lagi (Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam edisi 772)


Hizbut Tahrir Berulah Lagi (Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam edisi 772)

Oleh Abu Namira Dian

buletin khawarijHizbut Tahrir Berulah Lagi
Bantahan Terhadap Buletin Al-Islam
[Al-Islam edisi, 772, 4 Dzulhijjah 1436 H – 18 September 2015 M]
Tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M).*
Silahkan buka di :
http://hizbut-tahrir.or.id/2015/09/16/khilafah-mewujudkan-taat-menyatukan-umat-renungan-idul-adha-1436-h2015-m/

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Telah sampai kepada penulis buletin Al-Islam(Buletin resmi Hizbut Tahrir), edisi, 772, 4 Dzulhijjah 1436 H – 18 September 2015 M]
dengan tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M).

Setelah penulis baca dari awal hingga akhir, ada beberapa tulisan di dalam buletin Al-Islam edisi 772 itu yang perlu diluruskan dan di bantah, Di antaranya :

1. Tanpa Khilafah, ketaatan hanya akan menjadi ketaatan semu dan parsial. (Subjudul : Ketaatan Mutlak, baris ke- 42 dan 43).

2. Adapun di negeri-negeri Arab yang kaya-raya, penguasanya menutup mata. Jangankan untuk mengurus mereka yang “menyusahkan”, mengurus jamaah haji yang memberikan keuntungan materi kepada mereka saja, penguasa itu abai dan teledor. Akibatnya, darah pun tumpah di Masjidil Haram, Tanah Suci, di bulan suci, di penghulu hari. Tak kurang 180-an nyawa melayang menjadi korban keteledoran mereka.(Subjudul : Persatuan Umat, paragraf ke-6).

3.Keterpecah-belahan umat ini tidak akan terjadi jika umat memiliki payung dan pelindung. Umat Islam tidak akan menjadi umat kerdil dan kecil jika umat ini bersatu di bawah naungan Khilafah. Umat Islam akan menjadi umat yang kuat dan kembali menjadi umat terbaik (khayru ummah) jika bersatu di bawah naungan satu dawlah (negara), Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah(Subjudul : Persatuan Umat paragraf ke-8).

inilah ketiga hal yang harus diluruskan, tetapi penulis hanya akan meluruskan poin kedua saja, dengan pertimbangan :
1. agar tidak terlalu panjang.
2. poin kedua ini yang lagi hangat dibicarakan.

pada Al-Islam edisi, 772, 4 Dzulhijjah 1436 H – 18 September 2015 M], yang mengangkat tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M). pada Subjudul : Persatuan Umat, paragraf ke-6, tertulis : Adapun di negeri-negeri Arab yang kaya-raya, penguasanya menutup mata. Jangankan untuk mengurus mereka yang “menyusahkan”, mengurus jamaah haji yang memberikan keuntungan materi kepada mereka saja, penguasa itu abai dan teledor. Akibatnya, darah pun tumpah di Masjidil Haram, Tanah Suci, di bulan suci, di penghulu hari. Tak kurang 180-an nyawa melayang menjadi korban keteledoran mereka.

penulis nukil lagi yang menjadi pokok persoalannya, supaya lebih jelas : penguasa itu abai dan teledor. Akibatnya, darah pun tumpah di Masjidil Haram, Tanah Suci, di bulan suci, di penghulu hari. Tak kurang 180-an nyawa melayang menjadi korban keteledoran mereka.

Celaan dan hinaan Hizbut Tahrir terhadap negara-negara Arab, terutama Arab Saudi, itu sudah menjadi prinsip manhaj dakwah hizbut tahrir, di dalam buku terbitan mereka, berjudul : Hizb At-Tahrir dan Manhaj Hizbut Tahrir fi Taghyir(Mengenal hizbut Tahrir dan strategi dakwah hizbut tahrir) di Subjudul : Metode Manhaj Hizbut Tahrir. pada hal. 46, paragraf awal : pada tahapan ini, hizb mulai beralih mengajak kepada masyarakat dengan menyampaikan yang bersifat kolektif. pada saat itu hizb melakukan aktivitas-aktivitas berikut :
lalu menyebutkan 5 poin. pada hal. 47, poin ke-4 berbunyi : Kifah as-siyasi(perjuangan politik), berbentuk :
pada poin b: Menentang para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya. Membongkar kejahatan mereka,….

Inilah celaan dan hinaan hizbut tahrir kepada penguasa Arab Saudi yang sudah berbuat baik kepada kaum muslimin di dunia termasuk jamaah haji. Di antara kebaikan Arab Saudi kepada jamaah haji adalah : Dalam penyelenggaraan haji, jika hanya memperhatikan ini saja, mestinya kaum muslimin di seluruh dunia sudah harus berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Kerajaan Arab Saudi. Berapa juta jamaah haji setiap tahunnya dari seluruh pejuru dunia yang telah mereka layani. Kenyamanan dan keamanan yang luar biasa selama ibadah haji dirasakan jamaah haji. Upaya yang luar biasa demi kelancaran dan kenyamanan ibadah haji mereka lakukan tanpa pamrih tanpa berharap bayaran dari negara-negara asal jamaah. Mereka menyediakan fasilitas – fasilitas tanpa memungut biaya. Adapun keuntungan dari hasil sewa hotel / penginapan atau produk-produk makanan serta souvenir kembali kepada person-person para pengusaha tidak masuk kas negara karena pemerintah Saudi tidak mengenal perpajakan.

Berapa besarnya biaya dan pekerja yang telah mereka kerahkan untuk kaum muslimin selama penyelenggaran haji? Hampir tak terhitung. Bahkan menjadi syiar mereka merasa bangga melayani ibadah ibadah haji kaum muslimin seluruh dunia.

Pada setiap kesempatan ibadah haji, pemerintah Saudi selalu membagikan buku bimbingan haji secara gratis. Berapa biaya yang telah mereka belanjakan untuk mencetak jutaan eksemplar buku ini? Hanya saja sangat disayangkan buku ini banyak yang dibuang karena hasutan dan isu tentang wahabi. Sangat disayangkan ketika ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab selalu memberi peringatan kepada jamaah haji Indonesia agar tidak menerima buku-buku yang dibagikan gratis ini. Yang mereka lakukan ini bisa jadi terhitung sebagai upaya untuk menjauhkan orang untuk mendapat bimbingan ilmu yang berdasarkan Al Quran dan hadis. Sungguh ironi sebuah upaya yang dapat menjauhkan manusia dari dakwah Islam.
inilah kebaikan yang tidak terkira dari Arab Saudi kepada korban jatuhnya crane di Masjidil Haram :
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram, maka dewan kerajaan Saudi Arabia mengumumkan beberapa kebijakan diantaranya:
1. Pemberian santunan senilai 1 juta Reyal (3,8 M) untuk setiap keluarga Syuhada dan korban cacat permanen dalam insiden tersebut. Juga santunan senilai 500 ribu Reyal untuk setiap korban selamat lainnya.
2. Pemerintah memberikan kesempatan menunaikan ibadah haji bagi dua ahli waris setiap syuhada di musim haji yang akan datang. Korban lainnya yang tidak dapat menyempurnakan manasik haji tahun ini juga akan diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tahun yang sama. Semuanya akan menjadi tamu khusus raja pada musim haji 1437 H mendatang.
3. Pemerintah akan memberikan visa kunjungan bagi keluarga yang ingin menjenguk korban selama dalam perawatan di KSA. Bagi para korban dan keluarga korban yang ingin mengajukan tuntutan, maka pemerintah menyediakan pengadilan khusus untuk hal itu.
4. Pemerintah menghentikan kontrak kerja Bin Laden Grup dan melarang perusahaan tersebut untuk mengikuti proyek baru lainnya.
5. Pemerintah melarang seluruh stakeholder perusahaan raksasa tersebut untuk bepergian sebelum proses penyidikan selesai dan vonis dijatuhkan.

Catatan:

Memang nyawa tak dapat ditebus dengan uang, tapi nilai tanggung jawab sebagai pelayan dua tanah suci sangat patut mendapat apresiasi. Terima kasih Malik Salman telah menjadi contoh bagi yang lain. -hafidzakallah-
Sumber: http://www.alriyadh.com/1082991
Madinah 1 Dzulhijjah 1436 H
ACT El-Gharantaly

Tetapi hizbut Tahrir tidaklah memandang hal ini sebuah kebaikan yang perlu disyukuri, karena bagi hizbut tahrir kebaikan Arab Saudi kepada jamaah haji tidak diperhitungkan dan tidak ada sama sekali(kecuali sedikit sekali), yang ada hanya kejelekan-kejelekan yang banyak, yakni menyebut memberikan keuntungan materi kepada mereka saja(yakni kepada Arab Saudi).

Sikap Hizbut Tahrir kepada Arab Saudi, persis seperti sebuah pepatah :

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ

كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

Mata yang penuh ridha akan terpejam dari segala aib yang ia lihat

Sedangkan mata yang penuh kebencian yang ia lihat hanyalah keburukan.

نَظَرُوْا بِعَيْنِ عَدَاوَةٍ لَوْ أَنَّهَا

عَيْنُ الرِّضَا لاَسْتَحْسَنُوْا مَااسْتَقْبَحُوْا

Mereka melihat dengan mata permusuhan, Kalau saja mereka melihat dengan mata keridhoan, tentu mereka akan menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.

Sungguh kebencian hizbut Tahrir terhadap Negara Tauhid, Arab Saudi, sangatlah mengakar dan sudah mendarah daging yang sangat sulit dihilangkan.

Sikap kebencian hizbut Tahrir terhadap Negara Arab Saudi, dengan celaan dan hinaan yang disebarluaskan lewat lisan-lisan mereka maupun lewat tulisan-tulisan mereka sudah sangat sering dan banyak di depan umum, metode khawarij inilah yang diadopsi oleh hizbut Tahrir.

ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah,

Pertanyaan :

Ada seorang yang saya menasehatinya dari mencela wulatul umur (pemerintah), namun dia memboikotku dengan sebab itu dan ketika saya bertemu dengannya di suatu tempat maka saya mengucapkan salam kepadanya namun dia tidak membalas salamku.

Dan setelah itu sayapun memboikot dia, maka apakah saya berdosa karena yang demikian itu?

Syaikh pun menjawab :
Orang ini termasuk Khawarij yang mencela wulatul umur (pemerintah), orang ini termasuk Khawarij wal iyyadzu billah.

Maka tidak boleh yang seperti ini, wulatul umur (pemerintah) mereka itu memiliki hak, lalu apakah mereka (yang mencela) bisa hidup tanpa wulatul umur? Yaa Subhanallah, mungkinkah orang ini dapat tidur ditempatnya dan tinggal dirumahnya serta bisa berjalan ke pasar-pasar dengan tanpa adanya wulatul umur (pemerintah), tentu saja dia akan membutuhkan wulatul umur (pemerintah), tidak ada seorangpun yang tidak butuh kepada mereka, perlu kepada mereka, mereka itu semestinya dibantu dan ditaati dalam perkara yang tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bukan dihinakan dengan kata-kata serta direndahkan dihadapan manusia .

Ini Adalah termasuk perbuatan Khawarij yang mereka dahulu diperangi oleh para sahabat, para sahabat memerangi mereka karena mereka berbuat kerusakan di muka bumi.

☑ Maka Anda diatas kebenaran dalam hal menasehatinya dan diatas kebenaran pula dalam hal meboikotnya apabila dia tidak mau menerima nasehat dan tidak pula mau berhenti,

Bahkan semestinya Anda memperingatkan (manusia) darinya dan menjelaskan duduk perkaranya, tentang dia dan para pengikutnya sampai terbebas dari tangan-tangan mereka.

Sumber artikel:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14662

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata,

ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة , وذكر ذلك على المنابر; لأن ذلك يفضي إلى الفوضى وعدم السمع والطاعة في المعروف , ويفضي إلى الخوض الذي يضر ولا ينفع , ولكن الطريقة المتبعة عند السلف : النصيحة فيما بينهم وبين السلطان , والكتابة إليه , أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير

“Bukan termasuk manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar, sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210].

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :
Kita tahu dengan pasti bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang bisa memprovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memprovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96].
Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33)
Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata, “Nasihat kepada penguasa secara rahasia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang diselisihi oleh ahlul ahwa’ wal bida’, seperti Khawarij.”

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah menjelaskan bahwa menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij dalam membunuh penguasa muslim, sehingga jelas bahwa pemberontakan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan lisan.

Mencela penguasa di depan umum bahkan disebarluaskan kepada Masyarakat, ini merupakan salah satu ciri khas khawarij, seperti yang dikatakan Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah di atas.

tidak salah Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali menyebut hizbut tahrir sebagai kelompok teroris pemikiran, (kitab Irhabul Fikr / Terorisme dalam pandangan Islam terbitan Daar Sabilul Mukminin Dammam, 1417 H).

penulis ringkas perkataan Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali.

Dengan mengikuti perkembangan di masa kini, bahwa para peneror pemikiran itu terdiri dari berbagai kelompok dan individu. Mereka mengarahkan pemikirannya kepada para pemuda muslim yang berada pada tingkat keilmuan tertentu,baik dari bangsa Arab mauon selain Arab untuk menyakinkan mereka bersedia bergabung dalam gerakannya, baik secara fisik atau dukungan pemikiran, dengan propaganda, BAHWA MEREKA ADALAH PARA PEMBELA ISLAM DENGAN GERAKAN ORGANISASI MEREKA DAN PENA-PENA ZHALIM MEREKA. MEREKA ADALAH PARA DA`I YANG BERSUNGGUG-SUNGGUH DALAM MENEGAKKAN KHILAFAH YANG LURUS YANG AKAN DIDAPAT MELALUI TANGAN MEREKA. (Kitab Hizbuttahrir muta`zilah Gaya Baru, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal : 83-84, penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang. cet. pertama Rajab 1423 H / September 2002 M).

Seharusnya hizbut Tahrir mendoakan kebaikan kepada Arab Saudi, bukannya malah mencela dan melecehkannya.

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah melanjutkan lagi prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah,

“Dan tidak mendoakan kejelekan bagi mereka (pemimpin atau pemerintah).”

Maka jelaslah bahwa aqidah ahlus sunnah menyatakan, tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin atau pemerintah, tidak boleh menghujatnya, menjelek-jelekkannya di muka umum, dan sebagainya. Karena pada hakikatnya, hal ini sama halnya dengan durhaka dan memberontak secara fisik. Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,

“Tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin. Karena ini adalah pemberontakan secara abstrak, semisal dengan memberontak kepada mereka dengan menggunakan senjata (pemberontakan secara fisik, pen.). Yang mendorongnya untuk mendoakan jelek bagi penguasa adalah karena dia tidak mengakui (menerima) kekuasaannya. Maka kewajiban kita (rakyat) adalah mendoakan pemimpin dalam kebaikan dan agar mereka mendapatkan petunjuk, bukan mendoakan jelek mereka. Maka ini adalah salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Jika Engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek untuk pemimpin, maka ketahuilah bahwa aqidahnya telah rusak, dan dia tidak di atas manhaj salaf. Sebagian orang menganggap hal ini sebagai bagian dari rasa marah dan kecemburuan karena Allah Ta’ala, akan tetapi hal ini adalah rasa marah dan cemburu yang tidak pada tempatnya. Karena jika mereka lengser, maka akan timbul kerusakan (yang lebih besar, pen.).” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 171)

Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,

“Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum muslimin, maka dia tidaklah berada di atas madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. Demikian pula, orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 172).

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah juga berkata,

“Maka kesemburuan bukanlah dengan mendoakan kejelekan atas pemerintah, meskipun Engkau menghendaki kebaikan. Maka doakanlah bagi mereka agar mendapatkan kebaikan. Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. Maka Engkau, apakah Engkau berputus asa dari (turunnya) hidayah untuk mereka? Ini adalah berputus asa dari rahmat Allah.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 173).

Ada perkataan yang amat bagus dari Al Imam Abu Muhammad Al Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al Barbahari –rahimahullah-dalam kitab beliau Syarhus Sunnah (hal. 113-114)
Jika engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek pada penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu.
Jika engkau mendengar orang yang mendoakan kebaikan pada penguasanya, ketahuilah bahwa ia adalah ahlus sunnah.

Al-Hafizh Abu Ishaq as-Sabi’i r berkata: “Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali mereka diharamkan dari kebaikan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287.
Fudhail bin Iyadh r berkata: “Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa.”

Ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin Iyadh berkata: “Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya kan baiklah para hamba dan negeri.” (Diriwayatkan oleh Al-Barbahari di dalam Syarhus Sunnah hlm. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih).

Sekian,
inilah bantahan ringkas penulis yang membantah buletin Al-Islam(buletin yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, setiap Jumatanya).
Semoga Allah Azza Wa Jalla menjauhkan kita dari salah satu prinsip khawarij, yakni mencela dan melecehkan penguasa muslim. dan menganugrahkan kita ke jalan yang lurus, yakni jalannya Salafusholeh, dalam menyikapi penguasa muslim.

Abu Namira Dian.

Cimahi, Rabu, 2 Dzulhijjah 1436 H / 16 September 2015.

* Meski buletin Al-Islam edisi 772, dengan tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M) belum tersebar luas di Masjid-masjid, tetapi buletin ini sudah dimuat di situs resmi hizbut tahrir Indonesia.

Rujukan :

1. Situs resmi hizbut tahrir, tema : Khilafah: Mewujudkan Taat, Menyatukan Umat (Renungan Idul Adha 1436 H/2015 M).
2. Hizb At-Tahrir dan Manhaj Hizbut Tahrir fi Taghyir(Mengenal hizbut Tahrir dan strategi dakwah hizbut tahrir) di Subjudul : Metode Manhaj Hizbut Tahrir, cet. V, Rabiul Akhir 1434 H / Maret 2013.
3. Mendo’akan kebaikan untuk Pemimpin tulisan Ustadz Abu Humaid An-Nashr.
4. SEKELUMIT GAMBARAN SUMBANGSIH ARAB SAUDI UNTUK DUNIA tulisan Ustadz Qomar Z.A, Lc
5. Status Facabook Ustadz Aan Chandra Thalib.
6. Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita tulisan M. Saifudin Hakim(tercantum di situs muslim.or.id).

7. Kitab Hizbuttahrir muta`zilah Gaya Baru, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal : 83-84, penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang. cet. pertama Rajab 1423 H / September 2002 M)