Salah Kaprah Dalil Demonstrasi


Salah Kaprah Dalil Demonstrasi

demonstrasi haram mutlakPada bahasan ini para pembaca akan disuguhi bahasan ilmiah tentang hadits kisah demonstrasi yang dipimpin Hamzah dan Umar rahimahullâhu, agar mengerti benar akan hakekat kisah yang mashur ini, dimana mereka yang gemar demostrasi menjadikan hadits ini sebagai dalil disyariatkan demonstrasi.

Pertama : Matan (teks) kisah

رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : “شَرَحَ اللهُ صَدْرِي لِلإِِسْلاَمِ، فَقُلْتُ: اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، فَمَا فِي اْلأَرْضِ نَسَمَةٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَسَمَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قُلْتُ : أَيْنَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ؟ قَالَتْ أُخْتِي: هُوَ فِي دَارِ اْلأَرْقَم بْنِ أَبِي اْلأَرْقَم عِنْدَ الصَّفَا، فَأَتَيْتُ الدَّارَ وَحَمْزَةُ فِي أَصْحَابِهِ جُلُوْس فِي الدَّارِ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَيْتِ، فَضَرَبْتُ الْبَابَ فَاسْتَجْمَعَ الْقَوْمُ جُلُوْسًا فِي الدَّارِ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَيْتِ، فَضَرَبْتُ الْبَابَ فَاسْتَجْمَعَ الْقَوْمُ فَقَالَ لَهُمْ حَمْزَة : مَا لَكُمْ؟ قَالُوْا : عُمَرُ، قَالَ : فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَ بِمَجَامع ثِيَابِهِ ثُمَّ نَثَرَهُ نَثْرَةً فَمَا تَمَالَكَ أَنْ وَقَعَ عَلَى رُكْبَتِهِ، فَقَالَ : “ماَ أَنْتَ بِمِنَّتِهِ يَا عُمَرُ؟”. فَقُلْتُ : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، فَكَبَّرَ أَهْلُ الدَّارِ تَكْبِيْرَةً سَمِعَهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ، أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ إِنْ مِتْنَا وَإِنْ حَيَّيْنَا؟ قَالَ : “بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ عَلَى الْحَقِّ إِنْ مِتُّمْ وَإِنْ حَيَّيْتُمْ”. فَقُلْتُ : فَفِيْمَ اْلاِخْتِفَاءُ؟ وَالَّذِي بَعَثَكَ باِلْحَقِّ لَنَخْرُجَنَّ فَأَخْرَجْنَا فِي صَفَّيْنِ حَمْزَة فِي أَحَدِهِمَا وَأَنَا فِي الآخِرِ لَنَا كَدِيْدٌ كَكَدِيْدِ الطَّحِيْنِ حَتىَّ دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ، فَنَظَرَتْ إِليَّ قُرَيْشٌ وَإِلَى حَمْزَة فَأَصَابَتْهُمْ كَأْبَة لَمْ يُصِبْهُمْ مِثْلَهَا.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata : “Allah melapangkan hatiku untuk memeluk agama Islam, lalu aku mengatakan : ”Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia memiliki al-Asmâ` alHusnâ (nama-nama yang baik), tidak ada di bumi seseorang yang lebih aku cintai melebihi RasûlullâhShallallâhu ‘alaihi wa Sallam”. Aku bertanya : “Dimana Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam?” Saudara perempuanku menjawab : “Dia berada di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam di as-Shofa”. Lalu aku mendatangi rumah itu, pada waktu itu Hamzah bin Abdul Muthalib duduk bersama para sahabat Nabi lainnya di lingkungan rumah, sedangkan Nabi berada di dalam rumah, lalu aku ketuk pintu rumah. Tatkala para sahabat Nabi mengetahui kedatanganku mereka pun datang bergerombol, lalu Hamzah bertanya kepada para sahabat Nabi : “Apa yang terjadi dengan kalian?” mereka menjawab : “Ada Umar bin Khattab”. Kemudian Umar melanjutkan ceritanya : “Lalu Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallamdatang, dan memegang baju Umar dan mendorongnya, maka Umar pun terjatuh di atas kedua lututnya, lalu Nabi bersabda : “Wahai Umar apa yang kamu inginkan.?” Lalu aku menjawab : “Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya”. Mendengar hal ini para sahabat Nabi yang berkumpul bertakbir dengan takbir yang didengar orang-orang yang berada di Masjidil Haram. Aku pun berkata pada Nabi : “Bukankah kita berada di atas kebenaran baik kita mati atau hidup?” beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Benar, wahai Umar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian di atas kebenaran baik kalian mati atau hidup”. Aku menyahut : “Lalu mengapa kita bersembunyi, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran kita akan keluar (terang-terangan menampakkan ke-Islaman)”. Lalu kamipun keluar dalam dua barisan, Hamzah pada salah satu barisan dan saya pada barisan lainnya. Hingga kami memasuki Masjidil Haram (Ka’bah). Maka orang-orang dari suku Quraisy melihat kepadaku dan kepada Hamzah, lalu merekapun bersedih hati dengan hal ini dengan kesedihan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.”

Kedua : Takhrij hadits Lanjutkan membaca

Iklan

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (3)


Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (3)

Oleh :  Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

 

Sanggahan para Ulama rahimahullah

72036-khilafah-htDalam Artikel Bagian ke-2, telah penulis sebutkan diantara syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, yaitu berlebih-lebihan (ghuluw) dalam menyikapi penegakan Khilafah Islamiyyah 1.

Beberapa penyimpangan dan kesalahan yang sudah penulis sebutkan dalam masalah ini dalam artikel tersebut, diantaranya adalah salah memahami hal-hal berikut ini: tujuan agama Islam, ibadah, risalah para Nabi Allah ‘alaihimush shalatu was salam dan akar masalah kerusakan suatu negeri. Disamping itu, berlebih-lebihan dalam mensikapi politik dan yang lainnya.

Dikarenakan banyaknya pemahaman yang salah dalam mensikapi penegakan Khilafah Islamiyyah, maka sudah menjadi kewajiban para Ulama dan da’i rahimahullah untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut, dalam rangka menunaikan tugas yang agung dari Allah Ta’ala, seperti tercermin dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya” (Ali ‘Imraan:187).

Berikut ini beberapa bantahan para Ulama rahimahullah dalam rangka meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut :

1. Khilafah Islamiyyah memang wajib namun bukan yang paling wajib dan bukan yang paling penting

Lanjutkan membaca

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2)


Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2)

Oleh Ustadz  Sa’id Abu Ukasyah

72036-khilafah-htBukti-bukti adanya  beberapa jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam

Sejak dahulu, ulama kita telah memperingatkan adanya jama’ah dakwah yang memiliki manhaj (metode) dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam.

Pernyataan di atas bukanlah omong kosong, tanpa bukti-bukti nyata. Sepak terjang sebagian orang-orang yang aktif dalam dunia dakwah yang menyimpang, kisah sebagian pemuda yang keluar masuk beberapa jama’ah dakwah tersebut ataupun beberapa keterangan para pemerhati jama’ah-jama’ah dakwah itu serta majelis ta’lim, buku-buku dan ucapan-ucapan para pemimpin jama’ah-jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam tersebut cukuplah menjadi bukti benarnya sinyalemen para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di atas. (tentang fenomena pahit tersebut, silahkan baca : Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (1)

Dan diantara syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah berlebih-lebihan (ghuluw) dalam  menyikapi penegakan Khilafah Islamiyyah. Lalu apakah Khilafah Islamiyyah itu?

Definisi Khilafah

Lanjutkan membaca

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (1)


Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (1)

Oleh Ustadz  Sa’id Abu Ukasyah

72036-khilafah-htMenyoal Solusi Problematika Umat

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

Fenomena pahit

Ingatlah wahai saudaraku, dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam berdiri di atas pilar-pilar yang kokoh, jika salah satu pilar tersebut tidak ada , maka tidaklah sebuah dakwah dikatakan sebagai dakwah yang benar dan tidak akan membuahkan buah yang diharapkan dengan sempurna, walaupun dikerahkan berbagai daya upaya dan dihabiskan waktu yang lama untuk dakwah tersebut, sebagaimana hal ini terjadi dalam kenyataan, banyaknya gerakan dakwah masa kini, yang dakwah mereka tidak terbangun di atas pilar-pilar dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam tersebut.

Sejak dahulu, ulama telah memperingatkan adanya jama’ah dakwah yang memiliki manhaj (metode) dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata salah seorang ulama dan mufti senior, Syaikh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah : Lanjutkan membaca