Bidah, Ahlul Bidah, dan Siapa yang Berhak Divonis sebagai Ahlul Bidah


Bidah, Ahlul Bidah, dan Siapa yang Berhak Divonis sebagai Ahlul Bidah

sendiri di tengah keramaianPertanyaan:

Telah muncul di kalangan penuntut ilmu perselisihan tentang pengertian mubtadi’. Sebagian mereka mengatakan, “[Mubtadi’] itu siapa saja yang mengatakan atau mengerjakan kebidahan, meskipun belum ditegakkan kepadanya hujjah“. Sebagian yang lain mengatakan, “Harus ditegakkan kepadanya hujjah [terlebih dulu]”. Sebagian lagi membedakan antara ulama mujtahid dan ulama selainnya yang mereka ini meletakkan dasar-dasar penyelisihan mereka terhadap manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Dan muncul dari sebagian pendapat ini vonis bahwa Ibnu Hajar dan An Nawawi mubtadi’ dan larangan untuk mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Kami mohon kepada Anda yang mulia untuk menerangkan permasalahan ini yang telah memunculkan banyak perdebatan di dalamnya. Jazakumullahu khairan.

Syaikh Shalih bin Abdillah bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjawab:

Pertama, TIDAK SEHARUSNYA BAGI PENUNTUT ILMU PEMULA DAN SELAIN MEREKA DARI KALANGAN UMUM UNTUK MENYIBUKKAN DIRI DENGAN MEMVONIS [SESEORANG DENGAN] AHLUL BID’AH DAN FASIK. Sebab ini adalah perkara yang berbahaya, sedangkan mereka tidak memiliki ilmu dan pengetahuan terkait perkara tersebut.

Dan juga, yang seperti ini menimbulkan permusuhan dan kebencian di tengah-tengah mereka. Karenanya, wajib atas mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dan menahan lisan-lisan mereka dari apa-apa yang tidak ada manfaatnya. Bahkan, itu di dalamnya mendatangkan mudharat di bagi mereka dan selain mereka.

Kedua, bid’ah adalah apa yang diada-adakan dalam agama yang itu bukan bagian dari agama, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada contohnya, maka amalannya tertolak.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Dan jika ia mengerjakan sesuatu yang menyelisihi, karena ketidaktahuannya, maka ia diberi uzur karena ketidaktahuannya itu dan jangan menghukuminya sebagai mubtadi’, meskipun yang ia kerjakan terhitung sebagai bid’ah.

Ketiga, siapa saja yang memiliki kesalahan-kesalahan yang bersifat ijtihad—ia menakwil di dalamnya apa yang tidak semestinya seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi yang keduanya telah terjatuh ke dalam takwil sebagian sifat-sifat Allah—tidak dihukumi sebagaimubtadi’. Akan tetapi, dikatakan, yang terjadi pada mereka berdua itu adalah kekeliruan. Dan diharapkan untuk mereka berdua ampunan dari Allah karena khidmat besar yang telah mereka berikan kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Hajar dan An Nawawi adalah dua imam mulia yang terpercaya di kalangan para ulama.

RUJUKAN: http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-452140-p-7.html yang diakses pada tanggal 18 April 2015.

Sumber : dakwahislam.net