Bidah, Ahlul Bidah, dan Siapa yang Berhak Divonis sebagai Ahlul Bidah


Bidah, Ahlul Bidah, dan Siapa yang Berhak Divonis sebagai Ahlul Bidah

sendiri di tengah keramaianPertanyaan:

Telah muncul di kalangan penuntut ilmu perselisihan tentang pengertian mubtadi’. Sebagian mereka mengatakan, “[Mubtadi’] itu siapa saja yang mengatakan atau mengerjakan kebidahan, meskipun belum ditegakkan kepadanya hujjah“. Sebagian yang lain mengatakan, “Harus ditegakkan kepadanya hujjah [terlebih dulu]”. Sebagian lagi membedakan antara ulama mujtahid dan ulama selainnya yang mereka ini meletakkan dasar-dasar penyelisihan mereka terhadap manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Dan muncul dari sebagian pendapat ini vonis bahwa Ibnu Hajar dan An Nawawi mubtadi’ dan larangan untuk mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Kami mohon kepada Anda yang mulia untuk menerangkan permasalahan ini yang telah memunculkan banyak perdebatan di dalamnya. Jazakumullahu khairan.

Syaikh Shalih bin Abdillah bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjawab: Lanjutkan membaca

Iklan

Allah Tidak Membebani Kalian untuk Menghukumi Seseorang sebagai MUBTADI’ (Sebuah Tanggapan untuk Dalih QABUL KHABAR TSIQAH)


Allah Tidak Membebani Kalian untuk Menghukumi Seseorang sebagai MUBTADI’ (Sebuah Tanggapan untuk Dalih QABUL KHABAR TSIQAH)

Pertanyaan:

nabi isaTelah menjadi masalah bagi kami atau bagi kebanyakan pemuda di zaman ini masalahtabdi‘ [memvonis ahlul bid’ah] untuk sebagian orang, sehingga orang-orang dan para  pemuda terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang [pertama] mengambil tabdi‘ seorang ulama, jika benar, sehingga ia pun menuntut orang lain menerimanya juga. Sebab hal itu termasuk dari perkara qabul khabar tsiqah [menerima kabar orang yang dapat dipercaya]. Kubu yang [kedua] mengatakan, “Sesungguhnya masalah tabdi‘ termasuk permasalahanijtihad. Oleh karena itu, dilihat, siapa yang punya kemampuan dalam hal tersebut. Setelah itu, baru diambil pendapat siapa yang tepat dalam ijtihad-nya.” Sungguh, perkara ini menjadi masalah bagi kami. Hafizhakumullah. Lantas, apa nasehat Anda untuk kami?

Syaikh Shalih bin Abdillah bin Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjawab: Lanjutkan membaca

MENGGIRING MANUSIA UNTUK BERSAMA SEBAGIAN ULAMA SERAYA MENJATUHKAN SEBAGIAN ULAMA YANG LAIN (Sebuah Catatan untuk Mereka yang Mengaku sebagai Salafi Sejati)


MENGGIRING MANUSIA UNTUK BERSAMA SEBAGIAN ULAMA SERAYA MENJATUHKAN SEBAGIAN ULAMA YANG LAIN (Sebuah Catatan untuk Mereka yang Mengaku sebagai Salafi Sejati)

NASEHAT SYAIKH SHALIH AL FAUZAN HAFIZHAHULLAHU TA’ALA UNTUK PARA PENUNTUT ILMU

 

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menutup pelajaran beliau, Syarh Kitab Ash Shiyam min Dalil Ath Thalib, dengan wasiat yang bermanfaat untuk para penuntut ilmu di tengah umat Islam. Kita memohon agar dengannya Allah memberikan manfaat.

 

Pertanyaan:

cropped-telaga-warna-dieng-pemandangan1.jpgApakah Anda dapat menyampaikan kalimat yang bermanfaat untuk mengarahkan murid-murid dan saudara-saudara Anda, para penuntut ilmu,  di tengah umat Islam seluruhnya?

 

 

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala pun mengatakan:

Na’am. Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Terus menuntut ilmu, bersemangat di atas itu, mengamalkan ilmu yang telah Allah karuniakan kepada kalian, berdakwah kepada Allah ‘azza wa jalla, mengajarkan ilmu kepada manusia apa yang telah kalian pelajari, dan meninggalkan permusuhan yang sekarang ini terjadi di tengah para penuntut ilmu. [Meninggalkan] saling bermusuhan, saling mencela, dan membuat perpecahan di tengah mereka sampai mereka memecah-belah umat. Memecah-belah para penuntut ilmu.

“Hati-hati dari Fulan!“. “Jangan bermajelis dengan Fulan!“. “Jangan belajar kepada Fulan!“. Yang seperti ini tidak boleh. Jika Fulan memiliki kesalahan, maka nasehati ia. Antara dirimu dan dirinya saja. Adapun jika engkau sebarkan itu di tengah orang-orang, engkau peringatkan orang darinya—sedangkan ia adalah orang yang berilmu, penuntut ilmu atau seorang yang shalih tetapi ia keliru, maka tidak semestinya untuk disebarkan seperti itu. Lanjutkan membaca

“SIAPA YANG TIDAK BERSAMA KAMI BERARTI MUSUH KAMI!”


“SIAPA YANG TIDAK BERSAMA KAMI BERARTI MUSUH KAMI!”

fatwa ulama salafyPernah diajukan pertanyaan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albanirahimahullahu ta’ala:

Apa pendapat Anda tentang kaedah-kaedah berikut ini:

(1) Siapa yang tidak mengafirkan orang kafir, maka ia kafir

(2) Siapa yang tidak membidahkan mubtadi’, maka ia mubtadi’

(3) Siapa yang tidak bersama kami, maka ia musuh kami

Beliau pun menjawab:

Dari mana datang kaedah-kaedah seperti itu? Dan siapa yang membuatnya? Lanjutkan membaca