Menakar Cara Berdalil Sang Ahli Tafsir (Tanggapan kepada Prof. Quraish Shihab) [Bag. 4]


Menakar Cara Berdalil Sang Ahli Tafsir (Tanggapan kepada Prof. Quraish Shihab) [Bag. 4]

Kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah keutamaan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam lafaz hadits Aisyah radhiyallahu’anha:

وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah ampunan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Al-Bukhari]

Inilah hadits kedua yang dijadikan dalil oleh Prof. Quraish Shihab untuk mendukung pendapatnya bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam belum dijamin surga.

Tanggapan: Lanjutkan membaca

Iklan

Mengoreksi Cara Berdalil Prof. Quraish Shihab (Tanggapan kepada Prof. Quraish Shihab) [Bag. 3]


Mengoreksi Cara Berdalil Prof. Quraish Shihab (Tanggapan kepada Prof. Quraish Shihab) [Bag. 3]

Bapak Quraish Shihab berkata,

Siapa-yang-Pasti-Masuk-Surga-dan-Neraka-300x281“Kenapa saya katakan begitu, pernah ada seorang sahabat nabi dikenal orang baik, trus teman-temanya di sekitarnya berkata: Bahagialah engkau akan mendapatkan surga. Nabi dengar: Siapa yang bilang begitu tadi?

Nabi berkata: “Tidak seorang pun yang masuk surga karena amal” Kamu berkata dia baik amalannya, dia dijamin surga. Surga hak prerogatif Tuhan. Trus ditanya: Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad: Saya pun tidak, kecuali kalau Allah  menganugerahkan rahmat kepada saya. Jadi kita berkata, dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan.”

Tanggapan:

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Lanjutkan membaca