Meluruskan Jawaban Hizbut Tahrir


Meluruskan Jawaban Hizbut Tahrir

(koreksi atas : SEJUMLAH KESALAHPAHAMAN TENTANG HIZBUT TAHRIR)

Oleh : Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

menangikis syubhatTelah Sampai kepada penulis sebuah artikel lewat E-Mail dari salah seorang syabab Hizbut Tahrir atas nama Ridwan Taufik, isinya beberapa poin jawaban hizbut tahrir, ada 10 poin , di antaranya :

1. Hizb mengartikan Iman berbeda dengan pengertian para ‘ulama pada umumnya.
2. Hizbut Tahrir menolak penggunaan Hadits Ahad dalam masalah Akidah.
3. Hizb dianggap telah mengkafirkan umat islam serta para pemimpin mereka, lantaran Hizb menyebut negeri-negeri kaum muslim yang ada saat ini dengan sebutan Daaru-l-Kufr (negara kufur)
4. Hizb dianggap menafikan Qadar, sehingga tidak ada bedanya dengan mu’tazilah
5. Hizb menyalahkan pemahaman Ahlus Sunnah dalam bab Qadha dan Qadar dan menyamakannya dengan Jabriyyah
6. Hizb dianggap membolehkan laki-laki dan wanita yang bukan suami-isteri dan bukan mahramnya untuk saling berciuman.
7. Hizb dianggap membolehkan laki-laki dan wanita yang bukan suami-isteri dan bukan mahramnya untuk berjabat tangan
8. Hizb dianggap memberontak terhadap penguasa yang sah, padahal hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam
9. Hizb dianggap tidak mewajibkan jihad sebelum berdiri Khilafah
10. Hizb dianggap tidak akan bisa menegakkan khilafah tanpa menggunakan jihad.

Setelah ana baca dari awal sampai akhir(poin 1-10), jawaban HT, ada beberapa poin yang harus diluruskan. Ana tidak akan meluruskan keseluruhan poin-poin tersebut, hanya beberapa poin saja, di antaranya poin :

2. Hizbut Tahrir menolak penggunaan Hadits Ahad dalam masalah Akidah.

3. Hizb dianggap telah mengkafirkan umat islam serta para pemimpin mereka, lantaran Hizb menyebut negeri-negeri kaum muslim yang ada saat ini dengan sebutan Daaru-l-Kufr (negara kufur).

4. Hizb dianggap menafikan Qadar, sehingga tidak ada bedanya dengan mu’tazilah(yang poin ini akan digabungkan dengan poin 5. Yakni Hizb menyalahkan pemahaman Ahlus Sunnah dalam bab Qadha dan Qadar dan menyamakannya dengan Jabriyyah).
7. Hizb dianggap membolehkan laki-laki dan wanita yang bukan suami-isteri dan bukan mahramnya untuk berjabat tangan.

8. Hizb dianggap memberontak terhadap penguasa yang sah, padahal hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam.

Insya Allah, melurusan ana akan bertahap, semoga Allah Azza wa Jalla memudahkannya.

Untuk tulisan ini, ana akan meluruskan jawaban hizbut Tahrir poin kedua.

Dalam artikel hizbut Tahrir berjudul : SEJUMLAH KESALAHPAHAMAN TENTANG HIZBUT TAHRIR. Poin kedua :  Hizbut Tahrir menolak penggunaan Hadits Ahad dalam masalah Akidah. Hizbut Tahrir menjawab :

Hizbut Tahrir menolak penggunaan Hadits Ahad dalam masalah Akidah, maka karenanya Hizb dianggap mengingkari Siksa Kubur dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, Kemunculan Imam Mahdi dan Dajjal, Turunnya Nabi Isa as, Syafa’at Rasulullah saw, dll., karena semuanya itu landasannya adalah hadits-hadits Ahad. Karena itulah Hizbut Tahrir sama dengan Mu’tazilah.

Hizbut Tahrir tidak menggunakan Hadits Ahad sebagai landasan akidah, karena ia bersifat zhanniy (dugaan) tidak qath’iy (pasti). Sementara memunculkan kayakinan tidak bisa kecuali hanya dengan dalil yang bersifat qath’iy, yaitu Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir.Adapun terhadap Hadits Ahad yang shahih, jika terkait syari’at wajib diamalkan, dan jika terkait keyakinan cukup dibenarkan.Hal ini tidak sebagaimana Mu’tazilah yang menolak hadits Ahad secara mutlak.

“dan yang merupakan pendapat mayoritas kaum muslim dari kalangan sahabat, tabi’ien dan siapa-siapa setelah mereka dari kalangan ulama hadits, ulama fiqh, dan ulama ushul, bahwa khabar ahad yang terpercaya (sahih) merupakan hujjah di antara hujjah-hujjah syara’, wajib diamalkan, dan berfaedah Zhann (dugaan) tidak berfaedah ‘ilm (yakin).” [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 131].

Sebagian ‘ulama hadits berpendapat bahwa hadits ahad di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim berfaeah ‘ilm (yakin), tidak hadits ahad selainnya. Dan kami telah menjelaskan pendapat ini dan bantahannya di banyak fashal. Semua pendapat-pendapat ini selain pendapat jumhur adalah batil (salah) …

Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad meniscayakan ‘ilm maka dia telah berpaling dari kenyataan. Bagaimana bisa hadits ahad menghasilkan ‘ilm sementara kemungkinan adanya penyimpangan, kealpaan, pemalsuan dan yang lainnya ada padanya. Wallahu ‘alam.” [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 132].

Insya Allah, ana akan komentari sebagiannya saja, karena jawaban ana akan  mewakili jawaban lainnya di dalam poin dua ini, dan agar tidak terlalu panjang.

Hizbut Tahrir menjawab :

“dan yang merupakan pendapat mayoritas kaum muslim dari kalangan sahabat, tabi’ien dan siapa-siapa setelah mereka dari kalangan ulama hadits, ulama fiqh, dan ulama ushul, bahwa khabar ahad yang terpercaya (sahih) merupakan hujjah di antara hujjah-hujjah syara’, wajib diamalkan, dan berfaedah Zhann (dugaan) tidak berfaedah ‘ilm (yakin).” [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 131].

Selanjutnya :

Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad meniscayakan ‘ilm maka dia telah berpaling dari kenyataan. Bagaimana bisa hadits ahad menghasilkan ‘ilm sementara kemungkinan adanya penyimpangan, kealpaan, pemalsuan dan yang lainnya ada padanya. Wallahu ‘alam.” [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 132].

Ana jawab :

Sebagian kelompok yang menolak dijadikannya hadist ahad yang shahih sebagai hujjah dalam aqidah menyandarkan pendapatnya pada perkataan Imam Nawawi: ”Wajib mengamalkan hadist ahad”.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah :”Pendapat
yang dipegang oleh mayoritas kaum Muslim dari
kalangan shahabat dan tabi’iin, dan kalangan ahli
hadits, fukaha, dan ulama ushul yang datang setelah para shahabat dan tabi’un adalah : khabar ahad (hadits ahad) yang tsiqah adalah hujjah syar’iy yang wajib diamalkan , dan khabar ahad hanya menghasilkan dzann, tidak menghasilkan ilmu (keyakinan)”( Syarah Shahih Muslim,1/64).
”Hanya saja (hadist ahad di dalam Shahih
Bukhari dan Muslim -pen) memberikan faedah wajib mengamalkan apa yang di dalam keduanya tanpa tawaquf( berdiam diri tidak mengamalkan) untuk
melakukan penelitian terdahulu padanya. ”(Tadrib Al-
Rawi Li al-Suyuthi, 1/133)
”Para khalifah yang rasyid dan sahabat-sahabat
lainnya, orang-orang yang datang setelah mereka dari
kalangan salaf (dahulu) dan khalaf (belakangan);
(mereka) masih tetap mengamalkan hadist ahad” ( Syarah Shahih Muslim, 1/130) Silakan diperhatikan ucapan Imam Nawawi ketika mensyarah hadist Ubadah bin Shamit yang berbunyi : ”Telah bersabda Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam : ”Barangsiapa yang mengucapkan ;’Aku bersaksi bahwasannya tiada ilah (yang hak) selain Allah yang maha esa Dia dan tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan putra dari ibunya (Maryam binti Imran-pen) dan kalimat-Nya yan dihembuskan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, surga itu benar adnya, neraka itu benar adanya, Allah akan memasukkannya dari delapan pintu surga yang dikehendaki.” (Berkata Imam Nawawi) :”Dan hadist ini , posisinya sangat agung, termasuk hadist yang paling lengkap, atau termasuk salah satu hadist yang paling lengkap memuat masalah aqidah . Karena di dalamnya Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasalam mengumpulkan segala sesuatu, yang keluar dari seluruh agama kafir dari keragaman aqidah mereka.(Syarah Shahih Muslim, 1/103).
Begitu pula perkataan beliau terhadap hadist
qudsi yang shahih dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ’anhu yang berbunyi: ”Hai hamba-Ku, sesungguhnya aku mengharamkan kezaliman atas diri- Ku…”. Imam Nawawi berkata : ”Hadist ini merangkum beberapa faidah…(kemudian beliau menyebutkan beberapa diantaranya), kemudian berkata: ”Diantaranya adalah perkara yang menyangkut penjelasan kaidah yang sangat agung dalam masalah ushuluddin, …(Al-Adzkar, 1/413)
Maka pengertian dari ucapan Imam
Nawawi”Wajib mengamalkan hadist ahad” terdapat dua
kemungkinan:
1. Bisa jadi mengamalkan saja dengan anggota
badan tanpa meyakininya. Namun hal ini
tidaklah mungkin.
2. Atau bisa jadi mengamalkan kabar ahad
adalah wajib menyakini bila dalam bentuk berita dan melaksanakan bila dalam bentuk perintah. Karena definisi amal tidak selalu bermakna pelaksanaan amalan dengan anggota tubuh bahkan termasuk pembenaran, yakin, ikhlas, tunduk, iman dapat disebut sebagai amal. Sebagaimana hadist berikut : Rasulullah shalaullahuálaihiwassalam pernah
ditanya:”Apakah amalan yang paling
utama ?” maka beliau menjawab ;” Beriman kepada Allah dan rasul-Nya”(HR. Al-Bukhari no. 25)
Di dalam Iman terdapat pembenaran, yakin,
tunduk, ihklas, ridho dan cinta. Perkataan Imam Nawawi : ” Para khalifah yang rasyid, para sahabat, kalangan salaf (dahulu) dan khalaf (belakangan) masih tetap mengamalkan hadist ahad, mereka melaksanakan kabar ahad jika mengkabarkan kepada mereka tentang suatu sunnah, mereka memutuskan dengannya, mengembalikan urusan pengadilan dan fatwa kepadanya, mendahulukan memutuskan dengannya bila terdapat keputusan mereka yang menyelisihnya, mereka mencari kabar ahad sebagai hujjah dari orang yang pernah mendapatkannya dan mereka berhujjah dengannya atas orang yang menyelisihi mereka ,ini semua perkara yang telah diketahui tanpa ada keraguan. Dan akal tidak menghalalkan beramal dengan hadits ahad akan tetapi syariat mewajibkan mengamalkannya, maka wajib berjalan pada syariat tersebut ” ( Syarah Shahih Muslim, 1/64),
Andaikan beliau maksud para khalifah yang
rasyid, para sahabat, kalangan salaf dan khalaf mengamalkan kabar ahad hanya sebatas amal anggota tubuh bukan aqidah, maka sungguh hadits-hadits dan atsar-atsar membuktikan mereka ternyata juga menjadikan kabar ahad sebagai hujjah dalam aqidah. Kalau ragu, lihatlah dalil hadits-hadits yang telah kami tunjukkan pada pembahasan sebelumnya. Begitu pula perkataan Imam Nawawi :” mereka mencari kabar ahad sebagai hujjah dari orang yang pernah mendapatkannya dan mereka berhujjah dengannya atas orang yang menyelisihi mereka”, contohnya adalah sikap Ibnu Abbas mencari berita dari Ubay bin Kaab yang pernah mendengar hadits Nabi mengenai jati diri Khidir sebagai sahabat Nabi Musa yang diutus kepada Bani Israil dan menyatakan pengingkaran beliau terhadap orang yang menyelisihinya. Begitu pula perkataan beliau :”Dan akal tidak menghalalkan beramal dengan hadits ahad akan tetapi syariat mewajibkan mengamalkannya, maka wajib berjalan pada syariat tersebut.” Apakah yang dimaksud
syariat disini? Jelas maksudnya Al-Quran, sunnah,
ijma para sahabat. Al-Quran tidak menetapkan jumlah orang yang menyampaikan berita entah itu masalah dunia apalagi agama kecuali sebatas masalah persaksian di pengadilan dan saksi pernikahan serta yang semacamnya yang terdapat nash mengenai ketentuan jumlahnya. Namun diingat hal itu tidak bisa jadikan qiyas karena adanya dalil yang menyelisihinya dimana Rasul dan para sahabat menerima kabar ahad dari satu orang yang dapat dipercaya agamanya. Dan inilah ijmanya para sahabat dan kami tidak menemukan khilaf padanya. Apabila ada, tolong tunjukkan dalilnya !
Sikap Imam Nawawi persis dengan sikap Al-
Hafizh Ibnu Abdil Barr. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr
berkata : “Menurut pendapat kami , hadits ahad
membuahkan amal, bukan membuahkan ilmu. (misalnya), seperti kesaksian dua orang dan kesaksian empat orang adalah sama. Kebanyakan ahli ilmu dan ahli hadits, juga berpendapat seperti itu. Dan semuanya berpegang kepada riwayat satu orang yang adil dalam aqidah , membela dan mempertahankannya, menjadikannya syariat dan
agama. Seperti itu pula pendapat jama’ah ahli
Sunnah.”(Al-Tamhid, 1/8)
Maka pendapat Imam Nawawi bahwa hadist ahad
mutlak hanya membawa zhann berbeda dengan
pemahaman sekelompok orang (termasuk Syaikh
taqiyuddin Al-Nabhani) yang memahami pula hadist ahad hanya memberi faedah zhann. Allahu akbar
walillahilhamd.

Dalam jawaban Hizbut Tahrir, Sebagian ‘ulama hadits berpendapat bahwa hadits ahad di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim berfaeah ‘ilm (yakin), tidak hadits ahad selainnya. Dan kami telah menjelaskan pendapat ini dan bantahannya di banyak fashal. Semua pendapat-pendapat ini selain pendapat jumhur adalah batil (salah),

jawaban hizbut Tahrir dalam artikel ini, tidak dijelaskan mengapa hadits ahad di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak mencapai berfaeah ‘ilm (yakin), tapi ana menemukan dari blog salah seorang syabab hizbut Tahrir, dengan judul :Ibnu Burhan: Hadits Ahad Riwayat Bukhari dan Muslim Tidak Qath’i. yang berkeyakinan bahwa hadits ahad di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim berfaeah ‘ilm (yakin), beliau menukil dari  Ibnu Burhan dalam kitab beliau, al Wushul ilal Ushul.

Beliau menyatakan:

Khabar wahid tidak menghasilkan al ‘ilmu, berbeda dengan pendapat ashabul hadits, mereka mendakwakan bahwa apa yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dapat dipastikan keshahihannya (maqthu’ bishihatihi). Sandaran kami: seandainya al i’lm dapat dihasilkan dari khabar tersebut niscaya ia (al ’ilm) akan terwujud pada diri setiap orang seperti halnya al ‘ilm yang dihasilkan oleh khabar mutawatir. Di samping itu juga karena imam Bukhari tidaklah ma’shum dari kekeliruan, dengan begitu perkataan beliau tidak dapat dianggap pasti kebenarannya. Sebab, para ahli hadits dan ulama lain telah menemukan beberapa kesalahan imam Muslim dan al Bukhari, mereka juga telah menunjukkan beberapa keraguan (auham) dari beliau berdua. Hal yang demikian itu tidaklah mungkin jika perkataan beliau berdua dianggap pasti kebenarannya. Dan juga karena periwayatan itu serupa dengan kesaksian. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa persaksian al Bukhari dan Muslim tidaklah dapat dipastikan kesahihannya.Seandainya salah satu dari keduanya melakukan persaksian, maka kesaksian itu tidak dapat menetapkan hak dengan sendirinya. Ini menunjukkan bahwa perkataan beliau tidak dapat dipastikan. Jika mereka menampakkan  penolakan dalam hal ini, niscaya hal tersebut menyalahi ijma’ shahabat yang menjatuhkan keputusan hukum atas penetapan hak berdasarkan kesaksian dua orang saksi. Tidak ada sandaran yang dapat digunakan untuk membantah hal ini, hanya saja umat telah sepakat untuk menerima dua kitab ini dan sepakat untuk mengamalkan keduanya. Namun ini tidak menjadi bukti bahwa keduanya dapat dipastikan keshahihannya. Sebab umat mengamalkan keduanya semata-mata karena percaya terhadap sikap amanah dan kejujuran dalam periwayatan, dan tidak setiap hal yang mengharuskan amal dapat dipastikan keshahihannya.(sumber : Di Sini ).

Ana jawab :

hadits ahad (yang shahih), maka ia memberikan ilmu yang bersifat nadhary. Maksudnya, satu hadits ahad bisa memberikan satu ilmu setelah dilakukan pengkajian dan penelitian dengan seksama. Jika memang setelah diteliti membuktikan bahwa hadits tersebut shahih, dibawakan oleh para perawi terpercaya, dan selamat dan ‘illat (cacat tersembunyi yang menyebabkan kelemahan hadits) dan syudzudz (kejanggalan)[  Hadits syadz adalah hadits yang dibawakan oleh perawi yang terpercaya (tsiqah) yang menyelisihi perawi yang lebih terpercaya darinya, baik dari segi hafalannya, jumlahnya, atau yang lainnya sehingga periwayatannya dimenangkan.],

maka hadits tersebut adalah diterima lagi mengandung ilmu (keyakinan). Hadits ahad bisa menjadi semakin terangkat jika mempunyai penguat (qarinah) antara lain (ditulis secara ringkas) :

–       Hadits ahad tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalamShahih-nya.

–       Hadits masyhur yang memiliki banyak jalur sanad yang kesemua jalur tersebut berbeda-beda dan di dalamnya tidak ada perawi-perawi yang lemah serta selamat dariillat hadits.

–       Hadits yang diriwayatkan secara berkelanjutan (musalsal) oleh para ulama hadits yang terpercaya dan teliti, sehingga hadits tersebut tidak asing lagi.

Hadits-hadits ahad yang mempunyai qarinah sebagaimana di atas, maka kedudukannya adalah kuat lagi qath’i (pasti). Al-Hafidh Ibnu Shalah berkata :

أهل الحديث كثيرا صحيح متفق عليه يطلقون ذلك ويعنون به اتفاق البخاري ومسلم لا اتفاق الأمة عليه لكن اتفاق الأئمة عليه لازم من ذلك وحاصل معه لاتفاق الأمة على تلقي ما اتفقا عليه بالقبول وهذا القسم جميعه مقطوع بصحته والعلم اليقيني النظري واقع به خلافا لقول من نفى ذلك محتجا بأنه لا يفيد في أصله إلا الظن

“Para ahli hadits sering menyebut hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim dengan (shahih muttafaq ‘alaih). Maksudnya adalah yang disepakati oleh keduanya saja, bukan disepakati oleh umat secara keseluruhan. Akan tetapi, kesepakatan kaum muslimin sejalan dengan kesepakatan Al-Bukhari dan Muslim karena mereka sepakat menerima hadits-hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim. Semua hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim adalah qath’i keshahihannya dan mengandung ilmu yaqiny nadhary. Hal ini berbeda dengan orang yang menafikkkannya dimana mereka berhujjah bahwa hadits-hadits tersebut tidak menghasilkan sesuatu kecuali dhann ” [‘Ulumul-Hadits hal. 8-9, Maktabah Sahab].

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata :

والخَبَرُ المُحْتَفُّ بالقَرائِن أنواعٌ : مِنْها مَا أَخْرَجَهُ الشَّيْخانِ في صَحيحَيْهِما ممَّا لَمْ يَبْلُغْ حَدَّ المتواتِرِ، فإِنَّهُ احْتُفَّتْ بِهِ قرائِنُ ؛ منها : جَلالتُهُما في هذا الشَّأْنِ . وتَقَدُّمُهُما في تَمْييزِ الصَّحيحِ على غيرِهما . وتَلَقِّي العُلماءِ كِتابَيْهِما بالقَبُولِ ، وهذا التَّلقِّي وحدَهُ أَقوى في إِفادةِ العلمِ مِن مُجَرَّدِ كَثْرَةِ الطُّرُقِ القاصرةِ عَنِ التَّواتُرِ

“Hadits yang mengandung ilmu yaqin karena qarinah ada beberapa macam. Salah satunya apabila diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya yang tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits ini mengandung ilmu yaqin karena : a) Kemuliaan keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) dalam hadits; b) Keduanya adalah orang yang terdahulu yang memisahkan hadits shahih; dan c) restu para ulama untuk menerima kedua kitabnya. Restu ini saja lebih kuat untuk menjadikan haditsnya mengandung ilmu yaqin daripada banyaknya jalan yang tidak mencapai mutawatir” [Nuzhatun-Nadhar fii Taudliihi Nukhbatil-Fikar oleh Ibnu Hajar hal. 74].

Syaikh Ahmad Syakir (1309-1377 H),  Seorang muhaddits, mufassir, dan pakar ushul dari Mesir. Beliau adalah salah seorang ulama Al-Azhar yang disegani di masanya. Beberapa karya beliau di antaranya : Tahqiq Al-Ihkam li-Ibni Hazm, Tahqiq Alfiyatul-Hadits lis-Suyuthi, Syarh Musnad Imam Ahmad (belum selesai), Tahqiq Al-Kharaj li Yahya bin Adam, Tahqiq Ar-Raudlatin-Nadliyyah li-Shiddiq Hasan Khan, ‘Umdatut-Tafsir, Takhrij Tafsir Ath-Thabari, dan yang lainnya] berkata : “…..bahwa hadits yang shahih bisa menjadi ilmu qath’i, baik yang ada pada dua kitab shahih atau yang lainnya. Ilmu Yaqini ini adalah ilmu nadhary burhany. Ilmu ini tidak diketahui kecuali oleh para ulama yang menyelidiki atau meneliti dengan sangat mendalam tentang ilmu hadits, yang mempunyai pengetahuan yang banyak tentang kondisi para perawi dan kelemahan-kelemahannya…” [Al-Ba’itsul-Hatsits hal. 39].


Selesai sampai di sini.

Abu Namira Hasna Al-Jauziyah.

Cimahi, Ahad, 8 Jumadal Awwal 2014 /9 Maret 2014

NB : penulis banyak menukil dari artikel berjudul :

1. Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah tulisan Abu Haura Ahmad Junayd Ahmad Dzulkifli.

2. HADITS AHAD DAN HADITS MUTAWATIR karya Ustadz Doni Ary Wibowo di situs pribidi beliau : Abul-Jauzaa.blogspot.comm