Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah. Bag. 4


Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah. Bag. 4

Abu Haura Ahmad Junayd Ahmad Dzulkifli

3. Kadangkala berarti ”Kadzib” (dusta).
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :
“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di
muka bumi tentulah mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah, tidaklah
mereka itu kecuali hanya mengikuti zhann dan
mereka tidak lain hanyalkah berdusta.” [Al-
An’aam : 116]
Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsir terhadap
ayat ini : ”Allah Ta’ala mengkabarkan tentang
keadaan penduduk bumi yang berasal dari Bani
adam bahwasannya mereka sesat, sebagaimana
firman Allah Ta’ala: ”dan sungguh telah sesat
orang-orang sebelum mereka yaitu kebanyakan
orang-orang yang terdahulu” dan Firman Allah
Ta’ala : ”dan kebanyakan mereka (tidak
beriman) walaupun engkau sangat menginginkan
mereka menjadi orang-orang yang beriman.”
dan mereka didalam kesesatannya, mereka
bukanlah termasuk orang yang yakin terhadap
perkara mereka hanyasanya mereka di dalam
zhann yang dusta dan perkiraan yang batil.
(Tafsir Ibnu Katsir)
Dan hal ini sesuai dengan hadits yang berasal
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
:”Jauhilah oleh kalian Zhann maka
sesungguhnya zhann itu sedusta-dusta perkataan
(Mutafaqun ’alaihi)
4. Dapat juga bermakna Tuhammah
(Berprasangka).
” (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari
atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap
lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik
menyesak sampai ketenggorokan dan kamu
menyangka terhadap Allah dengan bermacam-
macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab:10)
5. Kadangkala juga zhann berarti ghalibatuzh-
zhann (Dugaan yang kuat).
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
”Maka jika sisuami telah mentalaknya(sesudah
talaknya yang kedua), maka perempuan itu
tidak halal lagi baginya hingga dia menikah
dengan suami yang lainnya. Maka jika ia(suami
yang berikutnya) telah mentalaknya maka tidak
ada dosa atas keduanya (bekas suami
sebelumnya dengan isteri) untuk rujuk(menikah)
kembali jika mereka berdua zhann (menduga
dengan kuat) dapat menegakkan hukum-hukum
Allah, itulah hukum-hukum Allah yang Dia
telah menjelaskannya bagi kaum yang (mau)
mengetahui ”QS. Al-Baqarah : 230)
Berkata Imam Thabari :”Adapun firman-Nya ”
jika mereka berdua zhannn(menduga dengan
kuat) dapat menegakkan hukum-hukum
Allah,…”, maka maknanya : jika mereka
berdua betul-betul dapat diharapkan
menegakkan hukum-hukum Allah ….. (hingga
ia berkata ): dan berpendapat sebagian ahli
ta’wil : jika mereka berdua zhann, maknanya
adalah yakin. Namun makna tersebut kurang
tepat, karena sesorang tidak akan tahu secara
pasti apa yang akan terjadi kecuali hanya Allah
Taála yang mengetahuinya.(Tafsir Thabari
4/598)
Maka ayat ini menunjukkan secara jelas zhann
yang dimaksud pada ayat ini bukan artinya
yakin ataupun pula ragu, akan tetapi artinya
ghalibatuzh-Zhann (dugaan terkuat).
Berkata Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari:
”Kata zhann, adalah kata yang memiliki makna
berlawanan. Menurut Abul Abbas (salah
seorang ulama bahasa arab): hanyasannya zhann
(dugaan) dan yakin dapat terjadi karena
keduannya tergolong kata hati. Maka jika telah
nyata dalil-dalil kebenarannya serta telas jelas
tanda-tandanya, maka disebut yakin. Dan jika
terdapat tanda-tanda keraguan dan terhapus
tanda-tanda kebenaran, maka disebut
kebohongan. Dan jika sama kuat antara tanda-
tanda kebenaran dengan tanda-tanda keraguan,
maka disebut syak, bukan yakin dan bukan pula
kebohongan. (Al-Adhdaad karya Muhammad
bin Al-Qasim Al-Anbari)
Kadangkala zhann bermakna ilmu(pengetahuan)
sebagaimana dalam hadits riwayat Usaid bin
Hudhair ”dan kami zhann bahwa ia tidak
mendapatkan atas keduanya” (kami zhann)
yaitu Alimnaa (kami mengetahuinya).(Lisanul
Arab 13/273).
Makna zhann tidak dapat ditentukan
kecuali dengan adanya qarinah .
Adapun zhann yang Allah cela didalam Al-Quran
berdasarkan qarinahnya adalah zhann yang berupa
waham(taksiran), takharush, takhmin, kebohongan dan
berkata-kata tentang Allah tanpa ilmu.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka
bumi tentulah mereka akan menyesatkanmu dari
jalan Allah, tidaklah mereka itu kecuali hanya
mengikuti zhann dan mereka tidak lain hanyalkah
berdusta.” [Al-An’aam : 116]
Dan juga firman-Nya Ta’ala:
”Kalian tidak mengikuti kecuali zhann, dan kalian
tidak lain hanya berdusta.”(QS. Al-An’am : 148)
Makna zhann disini adalah ( perkiran yang)
dusta karena qarinah nya pada kalimat ”dan mereka
tidak lain hanyalkah berdusta.” Huruf waw (dan) disini
berfungsi menggabungkan kata secara mutlak, dan
menunjukkan adanya musyarakah (persekutuan) dalam
hukum antara kalimat sebelumnya ”Kalian tidak
mengikuti kecuali zhann” dengan kalimat sesudahnya”
dan mereka tidak lain hanyalkah berdusta.” Maka itu
Allah berfirman :
”Dan mereka berkata :”Jikalau Al-Rahman (Allah)
menghendaki tentulah kami tidak menyembah
mereka(malaikat)”. Tidaklah mereka mempunyai
ilmu sedikitpun tentang hal itu kecuali mereka
hanya berdusta”(QS. Al-Zukhruf : 20)
Hal ini sesuai dengan hadits :”Jauhilah oleh kalian
zhann maka sesungguhnya zhannn itu sedusta-dusta
perkataan (Mutafaqun ’alaihi).
Berkata Imam Al-Qurthubi zhann disini adalah
tuhmah (perkiraan) yang tidak ada sebab(bukti)
padanya sebagaimana orang yang menyangka orang
lain melakukan kekejian tanpa ada sesuatu yang
tampak (bukti) atas apa yang ia tetapkan (sangkaannya
itu) (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathulbari,17/231)
Berkata Ibnu Hajar : ”Menunjukkan bahwa zhann
yang dilarang adalah zhann yang tidak ada
sandarannya yang bisa ia bersandar padanya (seperti
persangkaan belaka tanpa bukti yang kuat atau masih
pada tingkat keraguan apalagi di bawahnya-pen), akan
tetapi (bila) ia malah bersandar padanya dan
menjadikannya sebagai dasar dan memastikan
dengannya, maka memastikan padanya adalah suatu
kedustaan, dan hanyasanya menjadi dusta yang paling
dusta. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathulbari,17/231)
Zhann pada ayat-ayat dan hadits tersebut bukan
berarti ghalibatuzh-zhann (dugaan yang kuat) karena
kalau yang dimaksud adalah ghalibatuzh-Zhann maka
berdustalah para ahli ijtihad karena mereka ketika
mentarjih beberapa pendapat kadang-kadang masih
pada tataran ghalibatuzh-zhann.
Begitu pula firman Allah Ta’ala :
“Tidaklah mereka mengikuti kecuali hanya zhann
dan apa yang diingini ole hawa nafsu
mereka.”(QS. Al-Najm : 23)
Zhann dalam ayat ini berdasarkan qarinahnya
adalah persangkaan yang didasarkan hawa nafsu.
Al-Alusi mengatakan :”Zhann disini adalah
tawahum(keraguan).”(Tafsir Ruhul Ma’ani).
Karena tawahum itu adalah zhann marjuh (zhann
lemah) yang didasarkan pada keinginan hawa nafsu.
Juga firman Allah Ta’ala :
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali
persangkaan saja. Sesungguhnya zhann
(persangkaan) itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai kebenaran”(QS. Yunus :36)
Berkata Abu Ja’far:”Sesungguhnya syak itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”(Tafsir
Thabari)
Berkata Ibnu Katsir: ”Hanyasanya Zhann mereka,
yaitu tawahum(keraguan) dan takhayul, yang demikian
itu tidak berguna bagi mereka.”(Tafsir Ibnu Katsir)
Berkata Abul Laits Al-
Samarqandi :”Sesungguhnya Zhann, yakni apa yang
dilemparkan/dihembuskan syaithan pada wahm
(sangkaan keraguan) mereka.(Tafsir Samarqandi)
Allah berfirman Ta’ala:
”Dan jika dikatakan sesungguhnya janji Allah
adalah benar dan hari kiamat tiada keraguan
padanya, kalian malah berkata:”kami tidak
mengetahui apa itu hari kiamat, tidaklah kami
kecuali kami hanya zhann dan kami bukanlah
orang yang menyakininya (Al-Jatsiyah : 32)
Berkata Ibnu Katsir (tidaklah kami kecuali kami
hanya zhann), yakni tidaklah kami terhadap terjadinya
kecuali sebatas tawahum(keraguan).(Tafsir Ibnu
Katsir)
Allah berfirman Ta’ala :
”Dan sebagian mereka adalah orang-orang yang
buta huruf mereka tidak mengetahui Al-Kitab
kecuali hanya cerita-cerita dongeng belaka dan
tidaklah mereka kecuali hanya zhann (QS. Al-
Baqarah:78)

Berkata Mujahid :”Dan tidaklah mereka kecuali
hanya zhann”, yaitu mereka berdusta.(Tafsir Ibnu
Katsir)
Allah berfirman Ta’ala :
”Sesungguhnya orang-orang yang berselisih
paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar
dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang
siapa yang dibunuh itu kecuali hanya zhann ,
mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka
bunuh itu adalah `Isa. (QS. An Nisa : 157)
Berkata Ibrahim bin Umar Al-Baqai :”(kecuali
mengikuti zhannn) yaitu mereka memaksakan diri
untuk naik dari derajat syak(ragu) ke derajat zhann
(dugaan), dan ungkapan pengecualian (lakin-akan
tetapi) kedudukannya memutuskan sebagai petunjuk
bahwa keadaan mereka sebagaimana yang mereka
klaim telah membunuhnya (Isa bin Maryam) pada
hakikatnya hanya keraguan yang mereka paksakan
untuk naik kederajat zhann, kemudian mereka
pastikan, lalu jadilah hal itu mutawatir diantara mereka
(bahwa mereka telah membunuh Isa), maka tiada
kaum yang lebih bodoh dari mereka.”(Nazham Al-
Durar)
Maka zhann disini adalah syak bukan zhann
dengan sifat kuatnya salah satu dari dua kondisi,
karena hakikatnya mereka ragu, dan mereka hanya
memaksakan diri untuk zhann tanpa ada-ada bukti
yang menguatkan zhann mereka. Zhann yang hanya
sebatas paksaan diri mereka bukan karena terdapat
tanda-tanda yang bisa menaikan keraguan mereka
ketingkat zhann yang sebenarnya.
Berkata Imam Syaukani : “Tidaklah dikatakan
mereka mengikuti zhann yang meniadakan keraguan,
sebagaiamana yang dikabarkan Allah bahwa mereka
dalam kondisi tersebut, karena yang dimaksud (zhann)
disini adalah keraguan : yaitu keadaan ragu-ragu
sebagaimana yang telah kami sampaikan, dan zhann
adalah bagian darinya(keraguan), dan bukanlah
maksud disini (zhann) adalah penguatan dari salah
satu kondisi (antara ragu dan yakin).” (Tafsir fatul
qadir)
“Tidaklah mereka memiliki pengetahuan kecuali
zhann sebagai pengecualian, yakni : akan tetapi
mereka hanya mengikuti zhann yang merupakan
takhayul (sangkaan)mereka terhadapnya. (Tafsir
Jalalain )
Berkata Ibnu Katsir:“Orang yahudi yang
mengklaim bahwa mereka telah membunuhnya (Isa)
dan juga orang yang menyerahkannya (yang disangka
Isa), mereka semuanya dalam keraguan, bingung,
sesat, dan gila. Karena itulah (dan tidaklah mereka
yakin membunuhnya) yakni : “Mereka tidak yakin
telah membunuh Isa akan tetapi mereka syak (ragu)
lagi bimbang. “ (Tafsir ibnu katsir hal 103)
Ustadz Muhammad Taufik mengartikan zhann
kaum yahudi tersebut dengan zhannurrajih atau
ghalibatuzh-zhann(dugaan terkuat ) sebagimana
ucapan beliau :”Yang menimbulkan keraguan (syak)
pada mereka adalah mereka kehilangan satu orang
yang mereka kepung dan tangkap, sehingga ada
kemungkinan yang tidak tertangkap itu adalah Isa.
Kemudian mereka punya bukti/alasan kuat bahwa
orang yang mereka salib adalah Isa karena wajahnya
persis wajah Isa, dan karena wajah seseorang hampir
bisa dipastikan tidak akan berubah jauh, maka mereka
menduga kuat/hampir memastikan bahwa yang mereka
salib adalah Isa. (Al Qur’an menyebut ini dengan
(dzan). Namun mereka masih tidak bisa
memastikannya karena walaupun wajahnya wajah Isa
tetapi tubuhnya bukan tubuh Isa, ditambah lagi ada
satu orang yang tidak bisa mereka
tangkap.” (Kedudukan Khabar Ahad Dalam Masalah
Aqidah, Muhammad Taufik N.T.)
Pendapat beliau , “Kemudian mereka punya bukti/
alasan kuat…….. maka mereka menduga kuat/hampir
memastikan”, persis sama dengan pendapat
Zamkhsyari.
Berkata Zamakhsyari (jika engkau bertanya):
”Mengapa mereka disifati dalam keadaan syak(ragu )
dan syak artinya tidak dapat menguatkan antara dua
kondisi (benar ataukah salah)? Lalu mereka disifati
dengan zhann sedangkan zhann adalah kuatnya salah
satu dari dua kondisi, maka bagaimana mungkin
mereka dari orang yang ragu menjadi orang yang
zhann? Aku (Zamakhsyari) menjawab: aku maksudkan
mereka syak yang mana tiada ilmu sedikitpun, akan
tetapi ketika tampak tanda-tandanya bagi mereka,
maka mereka zhann . (Tafsir al-Kasyaf)
Namun pendapat tersebut tidak bisa dibenarkan
karena tidak ada dalil dari Al-Quran ataupun hadits
sebagai qarinah yang menentukan makna zhann seperti
ungkapan Ustadz Taufik maupun Zamakhsyari.
Sehingga kembali ke keadaan semula yaitu zhann
disini adalah syak bukan zhannurrajih berdasarkan
qarinah dari kalimat “mereka benar-benar dalam syak
( keragu-raguan) tentang yang dibunuh itu..” (QS. An
Nisa : 157)
Kesimpulannya zhann yang Allah cela adalah
zhann yang marjuh (lemah) dalam bentuk syak,
wahm, takhmin, tuhmah, takhayul, dan sebagainnya
berdasarkan qarinah-qarinahnya.

Apakah aqidah dapat dibangun diatas
zhannurrajih?
Para ulama yang menyatakan bolehnya aqidah
dibangun diatas zhannurrajih berhujjah dengan
pendapat bahwa zhann yang Allah cela dan haram di-
ikuti adalah zhann marjuh(zhan yang lemah).
Al-‘Alaamah ahli hadits negeri Yaman Syaikh
Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rahimahullah berkata :
“Al-Shan’ani ketika menta’liq Kitab “Al-
Muhalla” (karya Ibnu Hazm) pada ucapan Ibnu Hazm
sebelumnya (sesungguhnya (hadits ahad) berfaedah
ilmu-pen), ia berkata : “Sesungguhnya (hadits ahad-
pen) memberikan faidah zhann”, lalu ia berdalil
dengan hadits (Janganlah salah seorang di antara
kalian mati kecuali ia dalam keadaan berbaik sangka
(husnuzhzhann) kepada Allah ta’ala),” ia berkata
“Tidak semua zhann itu dibenci”, karena Ibnu Hazm
rahimahullah berdalil dengan firman Allah
ta’ala : :“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti
kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya zhann
(persangkaan) itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai kebenaran”(QS. Yunus :36). Berkatalah Al-
Shan’ani : “makna zhann disini(ayat ini) adalah
syak”(Al-Muqtarah, hal. 65)
Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah ketika ditanya apakah cukup di dalam
permasalahan ushuluddin berpegang dengan
ghalibatuzhzhann? Beliau rahimahullah menjawab:
“Yang benar adalah dengan perincian……..dan menjadi
ketetapan syariat bahwasannya kewajiban tergantung
dengan kemampuan hamba, sebagaimana firman-Nya :
” Maka bertakwalah kalian kepada Allah semampu
kalian”(QS. Al-Taghabun: 16)
Dan juga sabda Rasul ’Alaihissalam
“Jika aku perintahkan kalian pada suatu perkara
maka laksanakan semampu kalian”(Dikeluarkan di
dalam Shahihain).
Di kalangan umat banyak sekali terjadi
perselisihan pendapat pada permasalahan-
permasalahan yang mendalam, kadang bagi sebagian
manusia perkara tersebut samar, ia tidak mampu dalam
perkara tersebut berdalil dengan dalil yang
mendatangkan keyakinan, entahkah dalam perkara
syari maupun yang lainnya, maka tidak wajib baginya
(memaksakan diri mencari dalil yang yakin) dalam
perkara seperti ini selama ia tidak mampu, dan bukan
berarti ia harus meninggalkanya (perkara yang
dibangun di atas dalil zhann), orang yang beritiqad
berdasarkan pendapat ghalibatuzh-zhann (dugaan yang
kuat) karena ia lemah untuk mencapai derajat yakin,
bahkan sebenarnya ia mampu (sebatas ghalibatuzh-
zhann) apalagi bila hal itu sesuai dengan keyataan.
Itiqad yang sesuai dengan kenyataan mendatangkan
manfaat kepada pemiliknya, ia mendapat pahala, dan
gugur kewajiban baginya, walaupun ia tidak bisa lebih
dari itu (berdalil dengan dalil yang membawa ilmu atau
yakin). (Majmu al-fatawa, 3/ 312-314)
Pada kesempatan lain beliau Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata :”Maka jika
dikatakan :’Kabar-kabar ini diriwayatkan secara
perorangan (ahad) bukan masyhur dan tidak pula
merupakan hadits yang populer (syuhrah) maka
tentunya tidak dapat mendatangkan ilmu sedangkan
permasalahan yang dibahas adalah perkara ilmiyyah.
Kami jawab;” Yang pertama , orang yang mengatakan
bagaimana mungkin padahal dalam penetapan perkara
ini harus mutlak yakin yang tidak mungkin ada
pembatalnya? (Beliau menjawab) bahkan cukup dengan
zhannulghalib(dugaan terkuat) dan hal itu telah
menghasilkan (penetapan perkara). Lalu apakah yang
dimaksud dengan perkatannya : ilmiyyah ? Apakah
yang yang dimaksud adalah tidak adanya ilmu ? Maka
ini sesuatu yang tak perlu dibantah. Akan tetapi
setiap akal yang rajih (kuat) bersandar pada dalil
maka sesungguhnya itulah ilmu walaupun sebagian
orang tidak menyebutnya sebagai ilmu kecuali bila
dalam keadaan yakin dan tidak diterima
pembatalnya, dan Allah telah berfirman :”Maka jika
kalian mengetahui mereka (wanita-wanita yang hijrah
dari mekkah) telah beriman..”(QS. Al-Mumtahanah ;
10)
Dan telah terpenuhilah pendapat (penetapan
dengan dalil ghalibatuzh-zhann) mengenai hal itu pada
perkara selainnya(dalam pembicaraan ayat itu), maka
jika yang diinginkan ilmiyah hendaknya sesuatu yang
ditetapkan dalam keadaan yakin, maka ini perndapat
yang laghwu (keliru) tidak ada dalilnya. Andaikata
pendapat seperti itu benar tentulah (diharuskan) imsak
(menahan diri) dari membicarakan setiap perkara yang
tidak berdasarkan dalil yang mendatangkan ilmu
( hanyan zhann semata-pen) kecuali dengan keadaan
kepastian yakin,(akan tetapi) hal itu merupakan
pendapat yang keliru secara jelas ”(Mamjmu Al-
Fatawa, 1/375)
Ayat yang dimaksud beliau rahimahullah:
”Hai orang-orang yang beriman jika datang
kepada kalian wanita-wanita yang beriman yang
berhijrah, hendaklah kalian uji (keimanan)
mereka. Allahlah yang lebih mengetahui keimanan
mereka. Maka jika kalian mengetahui mereka
telah beriman janganlah kamu mengembalikan
mereka kepada (suami-suami mereka) orang-
orang kafir..”(QS. Al-Mumtahanah ; 10)
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan diuji
adalah mengucapkan dua kalimat syahadat.(Tafsir
Thabari)
Maka itu Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam
bersabda :
”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia
hingga mereka bersyahadat tiada sembahan yang
hak kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah, mereka mendirikan shalat, membayar
zakat, jika mereka melakukan itu semua terjagalah
darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak
islam sedangkan hisab (benar atau tidaknya
keislaman dan keimanan-pen) mereka
dikembalikan kepada Allah (yang lebih
mengetahuinya).(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka firman-Nya: ”Maka jika kalian mengetahui
mereka telah beriman” kata mengetahui maksudnya
dengan ghalibatuzhzhann(dugaan yang kuat) secara
zhahir atas ucapan dan tingkah laku akan keimanan
mereka dan tidak harus secara pasti mengetahui
kebenaran iman mereka. Maka itu firman-Nya ” Allah
lebih mengetahui keimanan mereka” yaitu mengetahui
hakikat benar ataukah dustanya keimanan mereka
sebagai bentuk kepastian. Sehingga sesuai dengan
sabda rasul ”sedangkan hisab(benar atau tidaknya
keislaman dan keimanan-pen) mereka dikembalikan
kepada Allah (yang lebih mengetahuinya)”. Jadi
perkara yang besandar pada dalil ghalibatuzh-zhann
bagian dari ilmu berdasarkan ayat tersebut. Allahu
A’alam walhamdulillah.
Menghapus kebimbangan dalam penerimaan hadits
ahad yang shahih di dalam aqidah
Alasan mereka yang menolak untuk
menetapkan perkara aqidah dengan hadits ahad karena
kebimbangan mereka terhadap syah atau tidaknya
hadits ahad dijadikan hujjah di dalam aqidah. Menurut
mereka hadits ahad tidak dapat diterima dalam perkara
aqidah karena sifatnya yang masih zhannni artinya
masih adanya kemungkinan terdapatnya kedustaan atau
kekeliruan dari si perawi hadits, padahal aqidah
menurut mereka harus dibangun diatas dalil yaqini.
Jawaban :
Yang pertama harus diketahui adalah apakah
Allah dan Rasul-Nya menolak hadits ahad untuk
diterima di dalam penetapan perkara aqidah ?
Bila dijawab ”ya menolak ” karena hadits ahad
bersifat zhannni sedangkan Allah berfirman :
”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang
kamu tidak mempunyai ilmu padanya.”(QS. Al-
Israa: 36)
Jawaban :
Bila seperti itu, bagaimanakah dengan sahabat
yang pada saat ayat ini diturunkan sedangkan
mereka tetap menerima hadits ahad dalam
perkara aqidah yang mereka dapatkan dari sahabat
lainnya sedangkan Rasulullah masih bersama
mereka? Artinya perbuatan sahabat menerima dan
saling menyampaikan hadits ahad dari Rasul
adalah bagian dari pada mengikuti ilmu karena
para sahabatlah yang mengetahui tafsir dari ayat
itu dan perbuatan mereka adalah perbuatan yang
diridhoi Allah dan Rasul-Nya. Dan menyampaikan
hadits ahad serta menerimanya baik dalam perkara
hukum maupun aqidah yang dilakukan oleh
generasi berikutnya adalah perbuatan mengikuti
ilmu. Dan para sahabat tidak pernah sama sekali
membahas apakah hadist ahad itu memberikan
faedah zhann ataukah ilmu?
Jika dikatakan ”Sesungguhnya hadits yang
disampaikan oleh sahabat kepada sahabat lain masih
segar, dan jarak masa kehidupan mereka masih dekat
dengan kehidupan Rasul sehingga bisa diterima hadits
ahad yang mereka sampaikan karena dapat dijamin ke-
ontetikannya (keasliannya).”
Jawab :
Apakah ini berarti para sahabat bisa dijamin
mereka 100 % tidak lupa ataukah mereka juga bisa
lupa seperti kita di mana kabar ahad yang mereka
sampaikan kepada sahabat lainnya (sebagaimana
pendapat kalian) dihukumi dengan membawa faedah
zhann tidak membawa faedah ilmu karena jumlah
penyampainya tidak setingkat mutawatir? Padahal kita
telah mengetahi lupa dan keliru menyampaikan hadits
juga dapat terjadi pada mereka contohnya Umar
enggan menerima hadits mengenai tidak adanya hak
nafkah dan tempat tinggal pada masa idah bagi wanita
yang ditalak bain kubra dari Fatimah binti Qais.
Karena menurut Umar, Fatimah lupa. Begitu pula
Aisyah ketika menyatakan bahwa apa yang
disampaikan Ibnu Umar adalah keliru mengenai azab
bagi mayit yang ditangisi keluarganya dan Aisyah
menyatakan kemungkinan Ibnu Umar lupa atau keliru.
Namun, apakah hal ini menghalangi para sahabat
untuk menerima hadits ahad dari sahabat yang lain
ketika mereka tidak menemukan cacat di dalam
agamanya, atau tidak terbukti kekeliruanya, tidak
terbukti kelupaanya atau kata lainnya mereka tidak
meragukan ketelitiannya dalam menyampaikan hadits?
Jelas tidak. Ini artinya apa yang berlaku menurut
syariat bagi sahabat maka berlaku pula bagi generasi
selanjutnya, padahal generasi sahabat adalah generasai
percontohan (teladan). Maka barangsiapa yang
menyatakan hal itu hanya berlaku bagi generasi
sahabat saja tolong datangkan dalil dari Kitabullah dan
Sunnah yang membatasi hal itu.
Ketahuilah, metoda penetapan suatu hadits shahih
atau bukan, diterima atau ditolak yang dilakukan oleh
ahli hadits di setiap zaman di dasarkan pada Al-Quran,
Al-Sunnah, perbuatan para sahabat dan Ijma. Syarat
hadits itu shahih sebagaimana yang disepakati ahli
hadits yaitu:
1. Perawi hadits (penyampai berita) adalah
orang yang adil (bukan orang fasik) agama
maupun kehormatannya. ”
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujurat : 6).

Mafhum mukhalafah(pemahaman kebalikan)-nya
”Jika datang kepada kalian seorang yang adil
maka terimalah berita yang ia bawa.” Dan hal ini
berlaku baik penyampaian berita masalah dunia
maupun agama termasuk penyampaian hadits
Rasul. Dan tidak ada pembatasannya jumlah yang
menyampaikannya kecuali dengan dalil. Silakan
dilihat pada pembahasan sebelumnya mengenai
firman Allah pada surah Al-Taubah ayat 122.
2. Perawi dhabith( daya hafal kuat).
Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh
Umar terhadap hadits yang disampaikan Fatimah
binti Qais yang meragukannya karena menurut
Umar, Fatimah lupa. Adapun perawi yang sering
lupa jelas hal ini menyebabkan apa yang
disampaikannya membawa keraguan maka patut
untuk tidak diterima kecuali ada syawahid
(penguat) dari jalur perawi yang lainnya dengan
kriteria yang telah ditentukan dalam ilmu hadits.
3. Bersambungnya sanad dari perawi tsiqah
(yang adil lagi dhabith), dari perawi yang
semisalnya sampai keakhir sanad yaitu
Rasulullah .
Sehingga hal ini dijamin seorang perawi tidak
menyampaikan perkataan yang tiada dasarnya atau
qiila wa qaala(katanya sih katanya) atau kabar
burung. Hal ini sebagaimana perbuatan Umar
dimana ia berkata : “Sesungguhnya aku tidak
menuduhmu(berdusta) akan tetapi aku takut
manusia akan seenaknya berkata-kata tentang
(hadits) Rasulullah shalaullahu ‘alaihi
wasallam.“( Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa
1/145).
Mujahid berkata:”Busyair Al-’Adawy mendatangi
Ibnu Abbas, ia menyampaikan hadits dan ia
berkata : ”Telah bersabda Rasulullah shalaullahu
’alihi wasallam, dan telah bersabda Rasulullah
shalaullahu ’alihi wasallam”, maka Ibnu Abbas
tidak mendengarkan dan memperhatikan terhadap
haditsnya yang ia sampaikan. Maka ia lalu berkata
kepada Ibnu Abbas: ”Wahai Ibnu Abbas apa yang
terjadi padamu, aku tidak melihatmu
mendengarkan haditsku, aku mengabarkan hadits
dari Rasulullah shalaullahu alaihi wasallam ?
Maka Ibnu Abbas menjawab :”Pada suatu kali,
bila kami mendengar seseorang berkata telah
bersabda Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasallam,
maka bersegeralah mata-mata kami dan telinga-
telinga kami memperhatikannya, namun tatkala
manusia mengikuti shu’ba(kesukaran/hawa nafsu)
dan kehinaan maka kami tidak akan menerima
hadits dari manusia kecuali orang yang kami
kenal.” (Diriwayatkan Imam Muslim dalam
muqadimah shahihnya) Ini menunjukkan
pertanyaan tentang isnad telah dilakukan pada
pertengan abad pertama hijiriyah ketika
merebaknya kebohongan di zaman Ibnu Abbas
(beliau wafat 64 H). Begitu pula yang dinyatakan
Ibnu Sirin (wafat 110 H) : ”Mereka tidak
menanyakan isnad, namun tatkala terjadi fitnah
(salah satunya kebohongan-pen), maka mereka
berkata :’Sebutkan nama rijal-rijal(perawi-
perawi)kalian, maka ditelitilah bila ia berasal dari
ahli sunnah maka diterimalah haditsnya dan bila ia
dari ahli bid’ah maka tidak diterima
haditsnya.” (Diriwayatkan Imam Muslim dalam
muqadimah shahihnya)
Berdasarkan atsar tersebut para sahabat tidak
berpatokan pada jumlah perawi namun berpatokan
pada kredibilitas perawi walaupun seorang diri
dalam meriwayatkan hadits.
4. Tidak ada syadz.
Yaitu tidak menyelisihi perawi yang lebih tsiqah
darinya, atau tidak menyelisihi sejumlah tsiqah
yang lainnya dalam beritanya. Ini menunjukkan
ke-otentikkannya(ke-aslinya) berita di mana dari
cara ini dapat diketahui bila terdapat kekeliruan
periwayatan. Ini juga telah ditunjukkan oleh
’Aisyah terhadap kabar Umar dan putranya Ibnu
Umar terhadap hadits disiksanya mayit karena
tangisan keluarganya. Karena menurut ’Aisyah
hadits yang ia dengar lebih kuat dan langsung dari
suaminya Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam.
5. Tidak ada Illat (cacat yang samar) yang
merusak keshahihannya walaupun nampak
secara zhahir hadits itu selamat dari kerusakan.
Dari kelima keriteria tersebut kami tidak
menemukan khilaf dikalangan ahli hadits kecuali hal
ini menurut kami ijma(kesepakatan) ahli hadits, bukan
kesepakatan ahli kalam/filsafat. Sedangkan ijmanya
ahli hadits adalah ijmanya ummat dalam menukil
riwayat dari Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasallam,
karena Allah berfirman :
”Maka bertanyalah kalian kepada ahli ilmu jika
kalian tidak mengetahui.” (QS.Al-Anbiya:7 )
Maka siapakah ahli ilmu dalam masalah hadits
diterima atau ditolak? Tentu mereka adalah ahli hadits.
Maka ummat wajib mengikuti mereka dalam menukil
hadits.
Kebimbangan didasarkan pada prasangka mereka
dalam bentuk ucapan ”Bisa jadi hadits itu tidak benar”
atau ”Masih ada kemungkinan hadits itu keliru” atau
bahkan dikalangan mereka dengan suara percaya diri
mengatakan siapa yang bisa menjamin hadits ahad itu
100% pasti kebenarannya. Maka kebimbangan seperti
itu tidak dapat dijadikan hujjah dalam agama.
Rasulullah bersabda :”Seandainya setiap
pengaduan manusia diterima, niscaya setiap orang
akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka,
karena itu (agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi
pendakwa agar mendatangkan bukti dan sumpah bagi
yang mengingkarinya“. (HR. Baihaqi)
Wajib bagi orang yang menolak hadits ahad dalam
perkara aqidah mendatangkan bukti bahwasanya hadits
ahad yang shahih itu tidak benar dari Rasulullah. Bila
tidak ada maka wajib bagi mereka diam dan menerima
keputusan Allah dan Rasul-Nya untuk menerima hadits
ahad dalam perkara aqidah. Bukan dengan perkataan
bisa jadi atau kemungkinan.Apalagi telah jelas nyata-
nyata tidak sedikitpun didapatkan larangan akan
haramnya menetapkan perkara aqidah dengan hadits
ahad bahkan yang ada malah ancaman bagi orang yang
menyembunyikan ilmu walaupun dalam bentuk hadits
ahad. Artinya tidaklah si penyembunyi ilmu diancam
kecuali ilmu itu merupakan hujjah bagi orang yang
mendengarnya baik dalam bentuk hadits mutawatir
maupun hadits ahad baik dalam perkara aqidah
maupun hukum.
Andaikata masih ragu akan hal itu camkanlah
perkataan Imam Nawawi : ”Dan akal tidak
menghalalkan beramal dengan hadits ahad akan tetapi
syariat mewajibkan mengamalkannya, maka wajib
berjalan pada syariat tersebut.” ( Syarah Shahih
Muslim, 1/64)
Ya, andaikata benar hadits ahad itu mutlak
membawa zhannn sebagaimana pendapat Imam
Nawawi, namun tetap wajib mengamalkannya dalam
bentuk perkara aqidah maupun hukum walaupun akal-
akal kita meragukannya. Karena nash dari Kitabullah
maupun Sunnah didahulukan dari pada akal-akal kita
yang lemah. Allah Ta’ala berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah
engkau mendahului Allah dan Rasul-Nya”(QS.Al-
Hujurat : 1)
Mendahulukan akal atas nash adalah sebab
kesesatan. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min
dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang
siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ [Al
Ahzab :36].
Dan berhati-hatilah dengan kata-kata
”kemungkinan” tanpa ada bukti terhadap para perawi
hadits ahad, Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasallam
bersabda :”Jauhilah oleh kalian zhann(persangkaan
buruk) maka sesungguhnya zhann itu sedusta-dusta
perkataan.” (Mutafaqun ’alaihi). Segala puji bagi
Allah.
Barangsiapa yang menolak hadits ahad dalam
perkara aqidah maka berhati-hatilah akan jatuh dalam
kesesatan. Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasallam
bersabda : “Wahai ummat sekalian, sesungguhnya
telah kutinggalkan kepada kalian suatu hal yang
apabila kalian berpegang teguh kepadanya, maka
niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu
kitabullah dan sunnahku” (HR. Al-Hakim dalam Al-
Mustadrak 1/93 dan dishahihkan serta disepakati oleh
Adz-Dzahabi)
Yang dimaksud Sunnahku oleh Rasulullah adalah
seluruh hadits yang shahih baik dalam bentuk
mutawatir maupun dalam bentuk ahad. Baik dalam
bentuk perkara hukum maupun dalam perkara aqidah.
Barangsiapa yang mengecualikan sunnah yang
dimaksud Rasulullah itu hanya sebatas hadits
mutawatir saja dalam perkara aqidah tidak masuk di
dalamnya hadits ahad tolong datangkan dalil dari
ucapan Rasulullah sebagai pengecualiannya.
Allah Ta’ala berfirman :
“….., maka hendaklah orang-orang yang
menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS. An-
Nuur (24): 63)
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah
jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang
bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya
itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”
(QS. An-Nisaa’ (4): 115)
Demikianlah pembahasan ini. Semoga Allah
menjadikannya bermanfaat bagi kaum muslimin.
Amiin.
Berkata Imam Nawawi :”Allah enggan untuk
menyempurnakan suatu kitab kecuali kitab-Nya saja.”
Kami akui tidak ada gading yang tak retak. Apabila
ada kekeliruan dalam tulisan ini kami sebagai hamba
yang faqir akan ampunan-Nya dan pertolongan-Nya
akan rujuk kepada Al-Haq. Allahlah tempat meminta
pertolongan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammad berserta keluarga dan sahabatnya. Segala
puji bagi Allah.
Poso, sabtu pagi 12 Muharam 1432H
bertepatan 19 Desember 2010

 Selesai