Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah Bag. 3


Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah Bag. 3

Abu Haura Ahmad Junayd Ahmad Dzulkifli

Sanggahan :
Qiyas terhadap sesuatu perkara yang terdapat dalil
dari nash Al-Quran atau Sunnah yang shahih lagi
jelas yang menyelisihi qiyas tersebut adalah qiyas
yang batil . Hal ini telah kami sebutkan sebelumnya
hadist-hadits yang menunjukkan Rasulullah dan
sahabat menerima hadist ahad dalam penetapan aqidah.
Bila yang dimaksud pengumpulan Al-Quran
adalah mengumpulkan ayat-ayat dan surah-surah dari
Al-Quran yang tercerai berai pada setiap hafalan para
sahabat kemudian dituliskan pada satu mushaf maka
hal ini keliru. Karena para sahabat telah banyak yang
menghapal Al-Quran secara keseluruhan sesuai dengan
tertib ayat dan surat yang berasal dari petunjuk
Rasulullah. Adapun peristiwa pengumpulan Al-Quran
menjadi satu mushaf di zaman Abu Bakar adalah
peristiwa pengumpulan tulisan-tulisan (rasm) Al-Quran
yang terdapat pada tulang, batu, kayu, pelepah kurma,
dan kulit binatang menjadi satu mushaf.
Abu Bakr mengatakan pada ‘Umar dan Zaid,
“Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi.
Jika ada orang yang membawa kepadamu sepotong
ayat dari Kitab Allah dengan dua orang saksi, maka
tulislah”(Ibnu Abi Dawud, Al-Mashafi, hlm. 6. Lihat
juga Ibnu Hajar, Fathul Bari, ix: 14).
Berkata Umar bin Al-Khathab : “Barangsiapa
yang pernah mengambil bacaan Al-Quran dari
Rasulullah hendaknya ia mendatangkannya, dan
mereka menulisnya di dalam lauh dan pelepah kurma,
dan tidak akan diterima dari seorangpun kecuali
dengan adanya persaksian dari dua
orang” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud).
Ibnu hajar Al-Asqalani berkata :”Sepertinya apa
yang dimaksud dengan dua saksi berkaitan erat dengan
hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis. Atau, dua
orang memberi kesaksian bahwa ayat Qur’an telah
ditulis di hadapan Nabi Muhammad. Atau, berarti agar
mereka memberi kesaksian bahwa ini merupakan salah
satu bentuk yang mana Qur’an diwahyukan. Tujuannya
adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di
hadapan Nabi Muhammad bukan semata-mata
berlandaskan pada hafalan seseorang saja. (Ibn Hajar,
Fathul Bari, ix: 14-15)
Ibnu Hajar memberi perhatian secara khusus
terhadap keterangan yang diberikan Zaid, “Saya dapati
dua ayat terakhir dalam Surah al-Bara’ah ada pada
Abu Khuzaima Al-Anshari,” membuktikan bahwa
tulisan yang ada pada Zaid serta hafalannya dianggap
tidak mencukupi. Segala sesuatunya memerlukan
pengesahan.
Lebih lanjut Ibnu Hajar mengatakan : “Abu Bakr
tidak memberi wewenang padanya menulis kecuali apa
yang telah tersedia dalam bentuk tulisan berupa kertas
kulit. Itu adalah sebab utama Zaid tidak mau
memasukkan ayat terakhir dari Surat Al-Bara’ah
sebelum ia sampai dengan membawa bukti suatu ayat
yang telah tertulis (dalam bentuk tulisan), kendati ia
mempunyai banyak sahabat yang dengan mudah
untuk dapat mengingat kembali secara tepat dari
hafalan mereka. ( Ibnu Hajar, Fathul Bari, iv: 13.)
Dari metoda pengumpulan mushaf Al-Quran
tampak ijtihad dari sahabat untuk menerima suatu rasm
ayat-ayat Al-Quran harus memnuhi beberapa syarat,
yaitu; adanya tulisan ayt-ayat Al-Quran yang pernah
ditulis dihadapan Rasul dan diperkuat dengan hafalan
dari penulis dan saksi sekurang-kurangnya dua orang.
Dan tulisan (rasm) bersifat tidak mutawatir karena
tidak semua sahabat yang menulis ayat-ayat Al-Quran
disisi Rasulullah, sedangkan yang dimaksud mutawatir
adalah hafalan Al-Quran yang berasal dari hafalan
para sahabat.
Adapun perbuatan Khalifah Utsman bin ’Affan
hanya menerima riwayat bacaan ayat Al-Qurán yang
mutawatir karena telah diketahui bahwa banyak
sahabat sebelum wafatnya Rasul telah menerima dan
menghafal bacaan al-Quran dengan tertib ayat dan
surat sesuai petunjuk beliau. Sehingga barangsiapa
yang membawa suatu bacaan atau tulisan dan
menyatakan bahwa itu adalah Al-Quran yang ternyata
menyelisihi bacaan yang telah disepakati para sahabat
maka dapat diketahui bahwa bacaan tersebut keliru
atau telah di hapuskan.
Hal ini berbeda dengan periwayatan hadits dimana
tidak semua sahabat meriwayatkan hadits dalam jumlah
yang banyak sekali, sebagaimana Abu Hurairah
berkata: “Sesungguhnya manusia berkata; “Abu
Hurairah banyak sekali meriwayatkan hadits.” Kalau
bukan karena dua ayat di dalam Kitab Allah tetulah
aku tidak akan menyampaikan satu hadits pun.
Kemudia ia membaca ayat : {Sesungguhnya orang-
orang yang menyembunyikan apa yang telah kami
turunkan dari berbagaimacam penjelasan dan
petunjuk …hingga firman Allah….yang Maha
Penyayang }. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari
kaum Muhajirin mereka sibuk dengan perdagangan di
pasar mereka dan saudara-saudara kami dari kaum
Anshar mereka sibuk dengan perkebunan mereka
sedangkan Abu Hurairah selalu bersama Rasulullah
shalaullahu’alaihi wasallam dengan perut lapar, dan ia
hadir ketika mereka (Muhajirin dan Anshar) tidak
hadir (di sisi Rasulullah), dan menghafal (hadits) apa
yang tidak mereka hafal . (HR.Bukhari no.115)
Tidak pernah kita temukan sahabat menolak
periwayatan hadits walaupun berbeda lafazh, kecuali
bila mereka ragu akan ketelitian si penyampai berita
atau terbukti keliru atau lupa. Seperti tawaquf
(diam)nya Abu Bakar terhadap berita dari Al-
Mughirah mengenai hak waris bagi seorang nenek
hingga diperkuat oleh kesaksian Muhammad bin
Maslamah, begitu pula sikap tawaquf Umar terhadap
khabar yang berasal dari Abu Musa Al-‘Asyari hingga
menyapaikan pula Abu Said dengan kabar yang sama.
Hal ini terjadi karena sikap kehati-hatian Abu
Bakar dan Umar yang murni ijtihad mereka. Umar
berkata kepada Abu Musa Al-‘Asyari setelah ia
akhirnya menerima kabar dari Abu Musa Al-Asyari
tersebut : “Sesungguhnya aku tidak menuduhmu
(berdusta) akan tetapi aku takut manusia akan
seenaknya berkata-kata tentang (hadits) Rasulullah
shalaullahu ‘alaihi wasallam“( Abu Hamid Al-Ghazali,
Al-Mustashfa 1/145)
Begitu pula penolakan Umar terhadap kabar dari
Fatimah binti Qais mengenai pemberian hak nafkah
bagi wanita yang ditalak ba’in dalam masa idahnya.
Fatimah binti Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah
shalaullahu’alaihi wasallam telah menetapkan
bahwasannya baginya tidak ada hak nafkah karena di
talak ba’in oleh mantan suaminya kecuali ia hamil
(HR. Abu Dawud no. 1947). Pada saat itu Umar
berkata mengenai apa yang disampaikan Fatimah binti
Qais :”Tidaklah kami meninggalkan Kitab Tuhan kami
dan sunnah Nabi kami karena perkataan dari seorang
wanita yang kami tidak tahu apakah ia benar ataukah
lupa.” (HR. Abu Dawud no. 19348).
Lafazh(kata) “dan Sunnah nabi kami” menurut
Daraquthni tidak kuat sebagai bagian dari perkataan
Umar. Begitu pula Imam Ahmad ketika ditanya oleh
Abu Dawud didalam kitab Masaail li Abi Dawud,
berkata Abu Dawud “Apakah perkataan ini shahih dari
Umar ? dia (Imam Ahmad) menjawab :
“Tidak !” (Aunul Ma’bud, 5/159). Hal tersebut
dikarenakan lafazh “dan Sunnah nabi kami” berasal
dari jalur Abu Ahmad yang menyelisihi jalur riwayat
dari Yahya bin Adam yang lebih kuat hafalannya
dimana ia tidak mencantumkan lafazh tersebut pada
riwayat haditsnya. Walaupun Imam Muslim
mencantumkan lafazh tersebut dalam shahihnya namun
para Imam ahlu hadits termasuk Imam Ahmad
mengeritik lafazh tersebut.
Ketika disebutkan perkataan Umar kepada Imam
Ahmad :“Tidaklah mungkin kami meninggalkan Kitab
Tuhan kami karena perkataan dari seorang wanita?”
Imam Ahmad tersenyum sambil berkata : “Apakah ada
sesuatu yang menyelisihi Al-Quran dari perkataan ini
( riwayat Fatimah binti Qais-pen) ?”(Aunul Ma’bud,
5/159). Menurut Imam Ahmad hadits Fatimah binti
Qais tersebut adalah takhshish(pengkhususan) dari
firman Allah : “Dan hendaklah kalian memberikan
tempat tinggal kepada mereka di manapun kamu
tinggal semampu kalian“ (QS. Al-Thalaq : 6). Dimana
ayat tersebut dikecualikan bagi wanita yang telah
ditalak ba’in kubra selama tidak hamil dalam masa
idahnya. Sehingga tidak terdapat pertentangan. Segala
puji bagi Allah.
Adapun Umar bin Al-Khathab tidak menerima
hadits dari Fatimah binti Qais karena keraguannya
akan ketelitian dan ingatan Fatimah binti Qais
sebagaimana ucapan Umar :“Ia (Fatimah) benar
ataukah lupa?”. Sehingga bukanlah karena Fatimah
semata-mata seorang wanita, atau hanya sendiri saja
dalam meriwayatkan hadits tersebut, atau riwayatnya
mengkhususkan/takhshish atas ayat Al-Quran tersebut.
Karena andaikata alasannya seperti itu tentu akan
tertolaklah semua riwayat hadits yang berasal dari
Ummul mukminin isteri-isteri Rasulullah dan wanita
sahabat lainnya radhiallahu’anhunna. Sedangkan
riwayat yang disampaikan Fatimah tersebut
berkesusaian dengan pendapat sebagian salaf yaitu Ali
bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Jabir, ‘Atha, Thawus, Al-
Hasan, Ikrimah, Maimun bin Mihran, Ishaq bin
Rahawaih dan Dawud bin Ali (Aunul Ma’bud, 5/159).
Jadi Fatimah binti Qais tidak lupa hanya Umar yang
mengira lupa dan belum sampai kepada Umar hadits
tersebut sebelumnya.
Begitu pula penolakan Aisyah terhadap kabar dari
Umar dan putranya Ibnu Umar mengenai disiksanya
mayat karena tangisan keluarganya (HR. Muslim no.
1541, 1543,1544,1546, 1547,1548). Alasan Aisyah
menolak kabar dari Umar dan putranya Ibnu Umar
bukan karena semata-mata hadits ahad namun Aisyah
menduga Umar dan Putranya lupa atau keliru dari
maksud hadits tersebut, dimana menurut Aisyah
siksaan yang diberikan kepada mayit karena tangisan
keluarganya hanya pada kaum yahudi. Maka itu
Aisyah berkata :”Semoga Allah merahmati Abu
Abdirrahman (Abdullah bin Umar Al-Khathab), ia
mendengar sesuatu (hadits) namun ia tidak
menghafalnya(dengan baik-pen), hanyasanya
Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wasallam, melewati
jenazah yahudi yang ditangisi mereka (keluarganya-
pen) maka beliau bersabda : “Kalian menangisinya
sedangkan ia diazab (HR. Muslim no.1546). Dalam
riwayat lain Aisyah berkata : “Semoga Allah
mengampuni Abu Abdirrahman (Abdullah bin Umar
Al-Khathab), adapaun ia tidak berdusta akan tetapi ia
bisa jadi terlupa atau keliru, hanyasanya Rasulullah
shalaullahu ‘alaihi wasallam melewati (jenazah) yahudi
yang ditangisi (keluarganya-pen) maka beliau
bersabda : “Sesungguhnya mereka menangisinya dan
sesungguhnya ia diazab di dalam kuburnya. (HR.
Muslim no.1548)

Mengenai hal ini sebagian ulama
mengkompromikannya (jama’), yang dimaksud Aisyah
benar bahwa mayat kaum kuffar akan merasakan siksa
dengan tangisan keluarganya sebagai bentuk siksa
yang lainnya atas kekufurannya bukan semata-mata
karena tangisan keluarganya, sedangkan kaum
muslimin akan merasa sakit mendengar suara tangisan
keluarganya, sebagaimana jumhur berhujjah dengan
hadits larangan Rasulullah kepada seorang wanita
ketika menangisi jenazah bapaknya, dimana Rasulullah
bersabda :”Sesunggunya salah seorang diantara kalian
jika ia menangis akan merasa sedihlah Suwaihibahu
(jenazah dari keluarganya tersebut-pen ) kepadanya,
wahai hamba Allah janganlah kalian siksa saudara
kalian”(Lihat Syarah Al-Nawawi ‘ala Muslim, 3/339).
Maka tidak ada pertentangan. Segala puji bagi Allah.
Perkataan sahabat penulis, Ustadz Muhammad
Taufik N.T. :”Tidak bisa dikatakan begitu karena
sebetulnya tema yang kita bahas bukanlah hadits,
melainkan AQIDAH, DARI SEGI APAKAH BOLEH
DIDASARKAN PADA DALIL YANG DZONNY
ATAU TIDAK?,” beliau ingin menggiring pembicaraan
secara halus bahwa zhann identik dengan hadits ahad,
lalu ia melanjutkan : “sedangkan keyakinan terhadap
ayat-ayat Al Qur’an adalah bagian dari aqidah, dan
ayat -ayat tersebut tidak diterima kecuali dengan jalan
mutawatir , jadi temanya adalah sama .” Perkataan
beliau “ayat -ayat tersebut tidak diterima kecuali
dengan jalan mutawatir”, pertanyaannya, siapakah
yang tidak bisa menerima kecuali dengan jalan
mutawatir ? Jelas mereka adalah para sahabat menurut
Ustadz Muhammad Taufik. Artinya beliau ingin
memberikan isyarat bahwa inilah perbuatan para
sahabat menetapkan Aqidah dengan hanya menerima
riwayat mutawatir, bukan dengan riwayat ahad
contohnya penetapan bacaan Al-Quran. Sehingga
beliau berkata:” jadi temanya adalah sama.”
Demi Allah, jauh api dari panggang ! -Semoga
Allah mengampuni kesalahan kami dan kesalahan
Ustadz Muhammad Taufik- Sudah jelas terdapat bukti-
bukti yang kuat para sahabat menerima kabar ahad
dalam penetapan aqidah sebagaimana yang termaktub
dalam kitab-kitab hadits. Dan hal ini jelas berbeda
ceritanya dalam hal pengumpulan Al-Quran dimana
Al-Quran telah banyak para sahabat yang menghafal
seluruhnya maupun sebagiannya sehingga barangsiapa
yang menyelisihi bacaan yang mereka sepakati tentulah
bacaannya itu 100% keliru karena lupa atau ayatnya
yang telah dihapus. Allahu Akbar Wa lillahil hamd.
Wajib Taslim (menyerahkan diri ) dan tunduk
terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya dalam
penerimaan Hadits Ahad dalam perkara hukum dan
aqidah
Inilah salah satu prinsip terpenting dari Manhaj
Ahli sunnah wal Jama’ah ’Tunduk kepada keputusan
Allah melalui Kitabullah maupun melalui lisan Rasul-
Nya (Al-Hadits), medahulukannya atas akal-akal
manusia dan pendapat-pendapat makhluk di muka
bumi ini ketika terlihat menyelisihinya.’ Dan inilah
sebagian dari Iman, Allah Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada
Allah, dan taatlah kepada rasul dan para pemimpin di
antara kalian, maka jika terdapat perbedaan pendapat
tentang sesuatu di antara kalian maka kembalikanlah
kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian
itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.(QS. Al-
Nisaa : 59)
Allah Ta’ala berfirman :
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya)
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim
dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya”. ( QS. An-Nisaa’: 65)
Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya
agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka,
ialah ucapan : “Kami mendengar dan kami patuh.”
Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.“ (QS.
An Nur : 51)
Bila begitu, marilah kita tunduk kepada aturan dan
keputusan Allah di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan
Rasul-Nya. Sami’na wa Atho’naa.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu
pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan(thaifah) di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS. Al-Taubah : 122)
Firman Allah ”beberapa orang(thaifah) untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”
yakni Allah memerintahkan para sahabat dan umat
Islam untuk tafaqquh fiddin (belajar agama). Dan
yang dimaksud dengan tafaqquh fiddin (belajar
agama) adalah mendengarkan Qalallahu ta’ala wa
Qala Rasulullah (Telah berfirman Allah dan telah
Bersabda Rasulullah). Dan begitu juga firman Allah
”dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya” adalah mengajarkan
agama dengan perkataan Qalallahu ta’ala wa Qala
Rasulullah (Telah berfirman Allah (Al-Quran) dan
telah Bersabda Rasulullah (Sunnah)). Karena yang
dimaksud dengan ilmu agama pada hakikatnya adalah
Qalallahu ta’ala wa Qala Rasulullah (Telah berfirman
Allah dan telah Bersabda Rasulullah). Allah Ta’ala
berfirman :
”Dialah (Allah) yang telah mengutus kepada kaum
umiyyun(buta huruf) seorang rasul yang berasal dari
kaum mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-
ayat-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan
mereka Kitab(Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah)
padahal mereka sebelumnya dalam kesesatan yang
nyata.”(QS. Al-Jumuah : 2)
Dan kata “golongan” (thaifah) tersebut dapat
digunakan untuk seorang atau beberapa orang. Imam
Bukhari berkata : “Satu orang manusia dapat dikatakan
golongan.” Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala :
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang
Mukmin berperang maka damaikanlah antara
keduanya.” (QS. Al Hujurat : 9)
Maka jika ada dua orang berperang, orang
tersebut masuk dalam arti ayat di atas (Fathul Bari
13/231).
Jika perkataan satu orang yang berkaitan dengan
masalah agama dapat diterima, maka ini sebagai dalil
bahwa Allah Ta’ala membolehkan berita yang
disampaikannya itu dapat dijadikan hujjah. Dan belajar
agama itu meliputi akidah dan hukum, bahkan belajar
akidah itu lebih penting daripada belajar hukum. Dan
di dalam belajar agama tidak hanya akan dikatakan
telah berfiman Allah akan tetapi juga akan dikatakan
telah bersabda Rasulullah. Dan barangsiapa yang
menyatakan ayat ini membolehkan pengajaran agama
mengenai aqidah hanya sebatas tabligh bukan termasuk
pula periwayatan hadits mengenai penetapan aqidah
maka kami berlepas diri dari hujjah mereka yang
ganjil itu.
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka
periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujurat : 6)
Dalam sebagian qira’ah, ((Fatasyabbatu : Berhati-
hatilah))(Tafsir Al-Syaukhani 5/60).
Mafhum mukhalafah(pemahaman kebalikan)-nya
”Jika datang kepada kalian orang yang adil maka
terimalah berita yang ia bawa.” Ini menunjukkan Allah
membolehkan menerima hadits dari seseorang yang
terpecaya. Dan itu tidak membutuhkan kehati-hatian
karena dia tidak terlibat kefasikan-kefasikan meskipun
yang diceritakan itu tidak memberikan pengetahuan
yang perlu untuk diteliti sehingga mencapai derajat
kepastian 100% terkecuali terbukti dengan jelas
kekeliruannya (Hal ini senada dengan pendapat Syaikh
Al-Albani pada karya beliau Kewajiban Mengambil
Hadits Ahad Tentang Aqidah halaman 7).
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya).” (QS. An Nisa’ :
59)
Ibnul Qayyim berkata :
“Umat Islam sepakat bahwa mengembalikan
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
adalah ketika beliau masih hidup, dan kembali kepada
sunnahnya setelah beliau wafat. Mereka pun telah
sepakat pula bahwa kewajiban mengembalikan hal ini
tidak akan pernah gugur dengan sebab meninggalnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Bila hadits
mutawatir dan ahad itu tidak memberikan ilmu dan
kepastian (yakin), maka mengembalikan kepadanya itu
tidak perlu.” (Mukhtashar Ash Shawwa’iq 2/352.)
Dan kami tambahkan, itu pun tidak perlu
menghitung jumlah yang menyampaikan berita (hadits)
mengenai keputusan Rasul-Nya terhadap suatu perkara
yang dipersilisihkan entahkah masalah hukum apalagi
aqidah.
Adapun dalil-dalil dari hadits itu banyak sekali,
antara lain :
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
mengutus delegasi dengan hanya satu orang
utusan kepada para raja satu-persatu. Begitu
juga para penguasa negara. Manusia kembali
kepada mereka dalam segala hal, baik hukum
maupun aqidah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam mengutus Abu Ubaidah Amir bin
Al-Jarrah radhiallahu’anhu ke negara Najran
(Shahih Bukhari 13/232.), Muadz bin Jabbal
radhiallahu ‘anhu ke negara Yaman (Shahih
Bukhari 3/261). Dihyah Al Kalbi radhiallahu
‘anhu dengan membawa surat kepada
pembesar Bashrah (Shahih Bukhari 13/241),
dan lain-lain.
2. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah
bin Umar radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
“Ketika manusia ada di Quba’ menjalankan
shalat Shubuh ada orang yang datang kepada
mereka, dia berkata sesungguhnya telah
diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam Al Qur’an pada waktu
malam, dan beliau diperintah untuk
mengahadap Ka’bah, maka mereka
menghadap Ka’bah dan wajah mereka
sebelumnya menghadap Syam, kemudian
beralih ke Ka’bah.”(Shahih Bukhari 13/232). Dan tidak dikatakan bahwa ini hukum amali
karena perbuatan hukum ini berdasarkan atas
keyakinan keshahihan hadits.
3. Dan dari Umar bin Khattab radhiallahu
‘anhu, ia berkata : “Ada seorang shahabat
Anshar, apabila dia tidak bertemu dengan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,
saya mendatanginya dengan menyampaikan
khabar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam, bila saya tidak hadir, maka orang
tersebut datang kepadaku membawa khabar
dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam.” (Shahih Bukhari 13/232)
Inilah Umar bin Al-Khathab radhiallahu anhu
beliau tetap mengambil riwayat hadits
(entahkah masalah hukum atau aqidah) dari
seorang sahabat Anshar dan beliau tidak
menentukan jumlah yang menyampaikannya
padahal wahyu pada saat itu masih turun. Hal
ini sekaligus membuktikan bahwasannya
beliaupun menerima kabar ahad dari satu
orang padahal beliau pernah enggan menerima
kabar Fatimah binti Qais bukan karena
sifatnya yang ahad tapi karena Umar mengira
Fatimah binti Qais telah lupa, begitu juga
kabar dari Abu Musa Al-Asyari bukan karena
sifat ahadnya tapi karena takut manusia
bermudah-mudahan menyatakan suatu kalimat
adalah perkataan Rasul padahal masih
berstatus Qila wa Qala (Katanya sih katanya).
Inilah sunnahnya Umar salah satu sunnah
dari kulafur rasyidin. Ia menerima hadits
ahad tidak hanya dalam perkara hukum
namun juga aqidah, Rasulullah
shalaullahu’alaihi wasallam bersabda :
“Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-
rasyidin al-mahdiyin, pegang teguh dan
gigitlah erat-erat…”(HR. Abu Dawud 5/13-15
No. 4067 dan Shahih Ibnu Majah 1/13-14 No.
40-41.)
4. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Allah memancarkan cahaya kepada orang
yang mendengar hadits dari kami, yang dia
hafalkan kemudian disampaikannya. Banyak
orang yang menyampaikan itu lebih
memahami daripada orang yang
mendengar.”(Musnad Ahmad, 6/96). Begitu
juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah
bersabda :
“Allah membaguskan seseorang yang
mendengar sesuatu dariku selanjutnya dia
menyampaikan (kepada orang lain) seperti
halnya dia mendengarnya pertama kali, sebab
banyak sekali orang yang menyampaikan
lebih hafal dan lebih mengantongi dari pada
mendengar”. (H.R Turmudzi)
Dalam hadits tersebut Rasulullah menyatakan
imraan (seseorang) dalam bentuk mufrad
(satu orang), Rasulullah berkata maqalati
(haditsku), ini mengisyaratkan beliau
mengakui dan menetapkan sesuatu yang
disampaikan satu orang ke orang lain dan
terus menerus seperti itu yang berasal dari
ucapan beliau tetap sebagai hadits dari beliau.
Apalagi disini Rasulullah menyampaikan
balasan keutamaan yang akan diterima orang
tersebut. Maka konsekuensinya orang
mendengar di zaman kita ini suatu hadits
ahad yang shahih wajib baginya sami’na wa
atha’na (kami dengar dan kami taat) baik
masalah hukum maupun aqidah karena hadits
itu tetap dinyatakan sebagai hadits Rasulullah.
Allah Ta’ala berfirman :
“….., maka hendaklah orang-orang yang
menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS.
An-Nuur (24): 63)
Apakah ancaman ini hanya bagi para sahabat
sedangkan kita tidak? Ataukah hanya dalam
bentuk hadits mutawatir saja bila berbentuk
Aqidah ataukah termasuk hadits ahad juga?
Dan di dalamnya tidak ditemukan
pembatasan seperti itu entahkah, di zaman
sahabat maupun di zaman kita, entahkah
dalam bentuk hadits mutawatir maupun
hadits ahad tanpa membeda-bedakannya
dalam permasalahan hukum dan aqidah .
Inilah jalan para sahabat menerima hadits
ahad dalam hukum dan aqidah, jalan mereka
adalah jalannya kaum yang beriman
(mukminin). Allah berfirman :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul
sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan
Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”
(QS. An-Nisaa’ (4): 115)
5. Abu Hurairah berkata:“Ya Rasulullah,
siapakah orang yang paling berbahagia
mendapatkan syafa’atmu pada hari kiamat?”
Kemudian beliau bersabda:
“Aku mengira bahwa tidak akan ada
seorangpun yang menanyakan tentang hadits
tersebut, selain engkau. Ini dikarenakan
semangatmu dalam (mencari dan menghafal)
hadits. Orang yang paling berbahagia dengan
sayafaatku di hari kiamat adalah orang yang
mengucapkan La illaha illa Allah (tiada ilah
(yang hak) kecuali Allah) secara ikhlas
didalam hatinya atau dirinya. ”(HR. Bukhari
1/184 No. 97)
Apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam kepada Abu Hurairah, Ini
artinya Rasulullah menyatakan tidak semua
sahabat yang mendapat berita hadits mengenai
aqidah secara terperinci. Dan bahkan hadits
ini sampai kepada kita tidak lain karena Abu
Hurairah telah menyampaikannya walaupun ia
seorang diri (kabar ahad), sebagaimana ia
pernah berkata :”Kalau bukan karena dua ayat
di dalam Kitab Allah tetulah aku tidak akan
menyampaikan satu hadits pun. Kemudian ia
membaca ayat: {Sesungguhnya orang-orang
yang menyembunyikan apa yang telah kami
turunkan dari berbagaimacam penjelasan dan
petunjuk …hingga firman Allah….yang Maha
Penyayang}(HR.Bukhari no.115). Abu
hurairah paham akan ayat itu bahwa walaupun
ia hanya seorang diri saja yang mendengar
hadits namun ia wajib menyampaikan hadits
tersebut kepada kaum muslimin sebagai
hujjah dalam hukum dan aqidah. Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
bersabda:“Barangsiapa yang ditanya tentang
suatu ilmu kemudian menyembunyikannya,
maka Allah akan membelenggunya dengan
belenggu dari api neraka pada hari kiamat
nanti”(HR. Abu Dawud 4/67-68 No. 3658 dan
Shahih Ibnu Majah 1/49 No. 210) apa yang
dimaksud ilmu? Jelas ilmu itu adalah
Qalallahu ta’ala wa Qala Rasulullah (Telah
berfirman Allah dan telah Bersabda
Rasulullah), barangsiapa yang
menyembuyikannya dan tak mau
menyampaikannya karena kabar ahad maka
halal baginya neraka. Bila begitu tidak
mungkin ada ancaman menyembuyikan ilmu
walaupun hanya ia yang tahu sendiri akan
ilmu lebih-lebih masalah aqidah lalu diancam
dengan neraka kecuali ilmu yang sifatnya
kabar ahad itu adalah hujjah dalam hukum
dan aqidah. Karena salah satu tujuan
disampaikannya ilmu adalah untuk
menegakkan hujjah.

Makna Zhann di dalam Al-Quran dan Hadits
Lafazh Zhann yang terdapat didalam Al-Quran
dan Hadits sifatnya ”Mustarakah”. Artinya dalam
satu lafazh atau kata mempunyai lebih dari satu
makna, sehingga lafazh zhann tidak dapat ditentukan
maknanya kecuali dengan adanya qarinah(indikasi).
Sebagaimana lafazh quru kadang berarti ”suci dari
haidh” dan kadang berarti ”sedang mengalami haidh”
tergantung dari qarinah yang menentukan
pembicaraanya.
Maka lafazh ”Zhann”tidak boleh hanya semata-
mata diartikan dugaan antara keraguan dan keyakinan,
dimana kemungkinan benarnya lebih kuat daripada
kekeliruannya.
1. Di dalam Kitab Allah, Zhann kadang berarti
”Yakin” atau ”Ilmu”.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
”Sekali-kali jangan. Apabila nafas (se-seorang)
telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan
dikatakan (kepadanya):”Siapakah yang dapat
yang menyembuhkan?”. Dan dia Zhannn (yakin)
bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan
(dengan dunia). Dan bertaut betis(kiri) dengan
betis (kanan).”(QS. Al-Qiyamah : 26-29)
Berkata Imam Al-Qurthubi:”( dan dia Zhannn )
yakni ia manusia yakin, (sesungguhnya itulah
waktu perpisahan),yakni akan waktu
perpisahannya dengan dunia, keluarga, harta
dan anaknya.”( Tafsir Al-Qurthubi)
Begitu juga firman Allah Ta’ala:
”Sesungguhnya aku zhann( yakin) , bahwa
sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap
diriku” (QS. Al-Haaqqah :20)
”Dan Daud zhann ( mengetahui) bahwa Kami
mengujinya” (QS. Shaad :24)
2. Kadangkala zhannn berarti ”Syak”(keraguan).
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
”Dan aku zhannn (ragu) hari kiamat itu akan
datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan
kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat
tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-
kebun itu .”(QS. Al-Kahfi : 36)
Berkata Imam Al-Qurthubi :’Pendapat dalam
tafsir firman-Nya ta’ala : Dan ia memasuki
kebunya sedangkan ia zalim terhadap dirinya, ia
berkata : ”Aku zhann (kira) kebun ini tidak
akan binasa selama-lamanya.” Allah Ta’ala
mengingatkan :”Inilah orang yang telah Kami
buatkan baginya dua kebun anggur dan ia
memasukinya sedangkan dialah yang
memilikinya lagi ia zalim terhadap dirinya
sendiri, dan (makna) zalim terhadap diri
sendiri : kekufurannya terhadap hari
kebangkitan dan keraguannya terhadap hari
kiamat, dan kelupaanya terhadap hari kembali
kepada Allah Ta’ala”(Tafsir Al-Qurthubi)

Insya Allah, bersambung..

Iklan