Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah Bag. 2


Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah Bag. 2

Abu Haura Ahmad Junayd Ahmad Dzulkifli

Maka apa yang telah dilontarkan oleh Syaikh
Taqiyuddin Al-Nabhani –rahimahullah ta’ala- tidak
boleh diterima atau ditolak kecuali setelah ditimbang
berdasarkan Al-Quran dan Al-Sunnah Al-Shahihah.
Perkataan beliau-rahimahullahu- :“Hanya saja
ayat-ayat ini membatasi (larangan mengikuti zhann)
khusus pada penetapan aqidah dan tidak untuk
penetapan hukum-hukum syari’at.” (Al-Syakhshiyyah
Al-Islamiyyah, Juz I hal. 190)
Perkataan beliau tersebut tidak dapat diterima.
Berdasarkan dua kaidah :
Pertama, yang menjadi patokan adalah makna
umum sebuah lafazh bukan sebab khususnya.
Artinya pencelaan mengikuti zhann di dalam
ayat-ayat yang di bicarakan tidak hanya pada
masalah aqidah saja namun juga masalah
hukum.
Kedua, Allah ta’ala menyebutkan dalam kitab-Nya,
bahwa zhann yang Dia ingkari atas kaum
musyrikin mencangkup pendapat mereka dalam
masalah penetapan hukum. Sebagaimana
firman-Nya ta’ala :
”Orang-orang yang mempersekutukan Allah,
akan mengatakan :”Jika Allah menghendaki,
niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak
mempersekutukan-Nya – ini dalam masalah
aqidah-pen- dan tidak (pula) kami
mengharamkan barang sesuatu apapun –ini
dalam masalah penetapan hukum syar’i-
pen-.”Demikian pulalah orang-orang yang
sebelum mereka telah mendustakan (para rasul)
sampai mereka merasakan siksa Kami”.Kalian
tidak mengikuti kecuali zhann, dan kalian tidak
lain hanya berdusta.”(QS. Al-An’am : 148)
Perkataan orang-orang musyrik : ”Jika Allah
menghendaki, ” menunjukkan mereka berhujjah
dengan takdir kauniyyah Allah Subhana wa
ta’ala. Mereka beralasan bahwa apa yang
mereka perbuat (baik kesyirikan maupun
pengharaman) bukan berasal dari diri mereka
akan tetapi berasal dari kehendak dan keridhoan
Allah. Sebagaimana ucapan mereka :” dan tidak
(pula) kami mengharamkan barang sesuatu
apapun”.(Merupakan tafsir terpilih dalam
Jami’ul Bayan fii Tafsiril Quran, VIII/57-58)
Pendapat ini mirip dengan pendapat kaum
jabariyyah yang mengelak atas perbuatan
jahatnya dan menyatakan dirinya tidak berhak
dihukum atas kejahatannya karena hal itu adalah
takdir Allah.

Suatu kekeliruan bila menafsirkan ayat di atas
dengan anggapan bahwa mereka orang-orang musyrik
mengangkat diri mereka sebagai musyari’(yang berhak
menetapkan halal dan haram) tandingan Allah ta’ala,
yang artinya hal tersebut berkaitan dengan aqidah
karena tasyri’(penetapan hukum halal dan haram)
hanya hak khusus bagi Allah ta’ala.
Maka pendapat Syaikh Taqiyuddin-
rahimahullah- (mengenai pembahasan ayat-ayat di
atas) yang membatasi zhann yang tercela hanya zhann
dalam masalah penetapan aqidah dan tidak untuk
penetapan masalah hukum merupakan pendapat yang
keliru. Lalu yang menjadi pertanyaan, zhann yang
bagaimanakah yang Allah cela dalam ayat-ayat
tersebut ? Pembahasan mengenai bentuk zhann yang
tercela –insya Allah- akan dibahas pada makalah ini.
Segala puji bagi Allah.
Anggapan Bahwa Rasulullah, Para Sahabat dan
Kaum Muslimin Menolak Khabar Ahad dalam
Perkara Aqidah
Kemudian Syaikh Taqiyuddin-rahimahullah-
berkata :“Ini satu segi (dalam persoalan aqidah-pen),
segi yang lainnya (dalam persoalan hukum-pen) bahwa
Rasulullah-shalaullahu álaihi wassalam- menetapkan
hukum dengan khabar ahad, dan kaum muslimin pun
mengambil dan menetapkan hukum syari’at dari
khabar ahad…….”(Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz
I hal. 190)
Perkataan Syaikh-rahimahullah- di atas
menunjukkan kekeliruan beliau-semoga Allah
mengampuni kami dan beliau- dan seolah-olah ingin
memberikan isyarat bahwa khabar ahad hanya diterima
oleh Rasulullah dan kaum muslimin (termasuk para
sahabat) dalam persoalan hukum bukan dalam
penetapan aqidah. Senada dengan Syaikh Taqiyuddin,
salah seorang sahabat penulis, Ustadz Muhammad
Taufik Nusa Tanjung-semoga Allah ta’ala menjaganya-
juga berpendapat sama, beliau berkata : ”Para sahabat
dengan tegas telah menolak khabar ahad sebagai
hujjah/dalil masalah aqidah, contoh paling nyata
adalah dalam hal pengumpulan Al Qur’an- dimana kita
maklumi bahwa iman pada Al Qur’an adalah bagian
dari aqidah- para sahabat hanya menganggap dan
menulis khabar mutawatir saja yang wajib kita yakini
sebagai ayat-ayat Al Qur’an dan disini tidak ada
pertentangan ‘ulama ” (Kedudukan Khabar Ahad Dalam
Masalah Aqidah, Muhammad Taufik N.T.)
Sanggahan :
Mungkin Syaikh Taqiyyuddin-rahimahullah-
lupa bila beliau pernah membuka kitab Shahih Muslim
(hadist no. 5235 Bab Kisah Al-Jassaasah) akan di
dapatkan riwayat berasal dari Fathimah binti Qais-
radhiallahu ’anha- mengenai cerita Al-Jassaash dan
Dajjal yang disampaikan oleh sahabat Tamim Al-
Dari- radhiallahu ’anhu – kepada Rasulullah –
shalaullahu’alaihi wasallam.
Mengenai hadist ini Imam Al-Nawawi-
rahimahullah ta’ala- berkata: ”Kisah ini merupakan
dalil diterimanya berita dari satu orang”.(Syarah
Shahih Muslim:333/9)
Syaikh Salim bin ’Id Al-Hilaali-hafizhahullah-
berkata dalam kitab beliau Al-Jama’at Al-Islamiyyah
Fi Dhauil Kitab Was Sunnahy Bi Fahmi Salafil
Ummah:”Yakni dalam masalah aqidah. Karena hadist
ini (Kisah Al-Jassaasah) tidak lain berisi tentang
aqidah. Oleh karena itu, kita dapat mengetahui
kelirunya ucapan mereka tentang Al-Nawawi, bahwa
beliau tidak memerima khabar ahad dalam masalah
aqidah.”(disadur dari Polemik Hadist Ahad (Bantahan
Terhadap surat Terbuka) oleh Al-Ustadz Abu Ihsan
Al-Maidani hal. 77, dimuat pada majalah As-Sunnah
Edisi khusus/Tahun VIII/1425H/2004M)
Sahabat Rasulullah sekaligus sepupunya yang
merupakan ahli tafsir Al-Quran yaitu Ibnu Abbas
radhiallahuanhuma- menerima hadist ahad dari sahabat
Ubai bin Kaáb radhianllahuanhu.
Sebagaimana dari Sa’id bin Jubair beliau
mengatakan bahwa, dia berkata kepada Ibnu Abbas
radhiallahunhu sesungguhnya Naufan Bakkali
beranggapan bahwasannya Musa teman Al-Khidhir
bukanlah Musa yang diutus kepada Bani Israil,
”Berkata Ibnu Abbas,’Sungguh telah dusta musuh
Allah, telah mengabarkan kepadaku Ubay bin Ka’ab,
dia berkata , ’Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam
telah berkhutbah dihadapan kami, kemudian beliau
menyebutkan kisah Musa bersama Khidhir secara
panjang lebar yang menunjukkan bahwa Nabi Musa
yang diutus kepada bani Israil adalah yang mengikuti
Al-Khidhir’.”(Mutafaqun’alaihi)
Berkata Imam Syafi’i –
rahimahullahta’ala- :”Ibnu Abbas dengan segala
pemahaman dan kewaraan beliau tetap saja menetapkan
kebenaran dari hadits Ubay bin Kaáb hingga dia
mengatakan kepada seorang muslim yang mengingkari
khabar itu sebagai pendusta, di mana Ubai bin Ka’ab
telah mengabarkan berita tersebut dari Rasulullah
shalaullahu álaihi wassalam dan di dalamnya terdapat
petunjuk yang menerangkan bahwasanya Musa yang
diutus kepada bani Israil adalah yang mengikuti Al-
Khidhir.”(Al-Risalah hal. 442-443)
Begitu pula Abdullah bin Umar bin Al-Khatahab
radhiallahu’anhuma menerima hadist ahad mengenai
datangnya Jibril kepada Rasululllah shalaullahu’alaihi
wasallam untuk mengajarkan rukun Islam, rukun Iman
dan Ihsan yang berasal dari ayahnya Amirul mukminin
Umar bin Al-Khathab radhiallah’ anhu.
Sebagaimana yang dikahabarkan Yahya bin
Ya’mar dia berkata : ”Orang yang pertama kali
mengucapkan permasalahan takdir di Basrah adalah
Ma’bad Al-Juhaini………………(hingga perkataannya-
pen) maka kami bertemu Abdullah bin Umar bin Al-
Khathab di dalam masjid…….(lalu Abdullah bin Umar
bin Al-Khathab berkata panjang lebar hingga beliau
berkata) telah menceritakan kepadaku Ayahku Umar
bin Al-Khathab, dia berkata :”Ketika kami duduk-
duduk disisi Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam
suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
mengenakan baju yang sangat putih dan berambut
sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas
perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara
kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk
dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya
kepada kepada lututnya (Rasulullah shalaullahu’alaihi
wasallam ) seraya berkata: “ Ya Muhammad,
beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah
Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam): “ Islam
adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan
yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi
Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan
shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi
haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar
“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula
yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “
Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda:
“ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir
dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun
yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang
ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau
beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia
melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “
Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan
kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak
lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “
Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau
bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya
dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan
dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)
berlomba-lomba meninggikan bangunannya “,
kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
Kemudian beliau (Rasulullah shalaullahu’alaihi
wasallam) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang
bertanya?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril
yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan
agama kalian“(HR. Muslim no. 9 )

Begitupula Ummu Darda meriwayatkan dari
Abu Darda , bahwa ia berkata aku pernah
mendengarkan Rasulullah shalaullahu’alaihiwasallam
bersabda : ”Allah telah menetapkan bagi setiap hamba
lima perkara : ajalnya, rizkinya, kematiannya, sengsara
dan kebahagiannya.”(Shahih diriwayatkan oleh Imam
Ahmad 5/197)
Begitupula riwayat dari Amar bin Maimun
bahwasannya ia pernah mendengar Abdullah bin
Mas’ud radhiallahu anhu bercerita; dari Saad bin
Muadz bahwasannya dia pernah berkata: bahwa ia
adalah sahabat Umayah bin Khalaf……………………
(hingga perkataan)……..maka demi Allah aku (Saad
bin Muadz) pernah mendengar Rasulullah shalaullahu
’alaihi wassalam bersabda :”Sesungguhnya mereka
(kaum muslimin) akan membunuhmu (Umayah bin
Khalaf)…………(hingga perkataan)……maka tatkala
Umayah keluar (ke perang Badar) tidaklah ia
meninggalkan di rumahnya kecuali seutas tali untanya
maka ia terus menerus seperti itu hingga Allah Azza
wa Jalla membunuhnya di perang Badar.”(HR.
Bukhari 5/282)
Begitupula riwayat dari Urwah bin Zubair
bahwasanya binti Abi Salamah telah menceritakan
kepadanya bahwasanya Ummu Habibah binti Abi
Sufyan telah menceritakan kepadanya dari Zainab binti
Jahsy bahwa Rasulullah shalaullahu álaihi wassallam
datang kepadanya dalam keadaan takut sambil
bersabda : ”Tiada ilah (yang hak) kecuali Allah celaka
bagi bangsa arab dari keburukan yang telah dekat
waktunya : hari ini telah tembok raksasa Yajuj dan
Majuj telah terbuka (terlubangi) seperti ini. Beliau
melinggkarkan jari-jemarinya yang satu dengan yang
lainnya. Maka berkata Zainab : ’Aku bertanya: Wahai
Rasulullah apakah kita akan dibinasakan padahal
disekitar kita masih terdapat orang-orang shalih?’
Beliau menjawab:” Ya, jika kejahatan telah
merajalela.”(HR. Bukhari 6/211)
Dan dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, ia
berkata : “Ada seorang sahabat Anshar, apabila dia
tidak bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam, saya mendatanginya dengan
menyampaikan khabar dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam, bila saya tidak hadir, maka orang
tersebut datang kepadaku membawa khabar dari
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” (HR.
Bukhari 13/232)
Berkata Ustadz Yusuf bin Abdullah bin Yusuf
Al Wabil, MA –hafizhahullah- :Maka inilah peristiwa
yang dilakukan sahabat, yang memperlihatkan bahwa
satu orang dari kalangan sahabat sudah cukup untuk
menerima hadits yang disampaikan oleh satu orang
dalam urusan agamanya, baik yang berkaitan dengan
keyakinan (aqidah-pen) maupun perbuatan (hukum-
pen) (Kehujahan Hadist Ahad Dalam Masalah
Aqidah,Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al Wabil, MA).
Masih banyak lagi hadist shahih berstatus ahad
dari Rasulullah yang bertema aqidah yang
diriwayatkan sahabat dari sahabat yang lain. Cukuplah
hal ini menunjukkan kekeliruan pendapat yang
menyatakan para sahabat Rasulullah hanya menerima
hadist ahad pada permasalahan hukum bukan aqidah.
Bahkan tradisi menerima riwayat hadist ahad yang
bertema aqidah terus-menerus dilakukan oleh sahabat,
tabi ’in, tabi ’ut- tabi ’in hingga kaum muslimin pada
zaman sekarang tanpa membeda-bedakannya kecuali
sekelompok kecil kaum yang keliru menolak hadist
ahad dalam penetapan aqidah.
Apa yang diperbuat sahabat menerima hadist
ahad pada perkara hukum dan Aqidah menunjukkan
mereka tidak bersusah-susahan untuk mencari
kemutawatiran dari suatu berita yang mereka dapat,
bahkan Rasulallah shalaullahu álaihi wassallam telah
mencontohkan diterimanya hadist ahad dalam perkara
aqidah sebagaimana beliau menerima berita Al-
Jassaasah dan Dajjal dari Tamim Al-Dari
radhiallahu’anhu padahal pada saat itu wahyu masih
turun, artinya Allah meridhoi sikap beliau dan para
sahabat menerima hadist ahad dalam masalah hukum
dan aqidah. Dan mereka semua tidak pernah sama
sekali membahas apakah hadist ahad itu memberikan
faedah zhann ataukah ilmu? Yang ada ketika mereka
mengetahui bahwasannya orang yang menyampaikan
hadist adalah orang yang jujur bukan orang yang fasik,
atau tidak terbukti kekeliruannya dalam menyampaikan
hadist maka mereka akan menerimanya, tanpa
menghitung-hitung jumlah yang menyampaikannya.
Bahkan orang-orang setelah mereka (kaum
salaf) tidak di dapatkan berita tentang ’ijmanya
penolakan mereka terhadap kehujjahan hadist ahad
dalam penetapan aqidah . Artinya barangsiapa yang
menyatakan adanya ijma terhadap penolakan hadist
ahad dalam perkara aqidah adalah keliru tanpa bukti
yang jelas apalagi samar-samar. Inilah amalan
Rasulallah shalaullahu’alaihi wasallam, para sahabat
dan orang-orang sesudah mereka menerima hadist
ahad dalam perkara aqidah. Rasul bersabda
”Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang
tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak.”(HR.
Muslim)
Maka sebab itulah pendapat yang menolak
menetapkan aqidah dengan hadits ahad adalah bid’ah
(baru diada-adakan) yang tidak dikenal di zaman
salaf. Rasul shalaullahu’alaihi wasallam bersabda
”Barangsiapa yang mengada-ada (bid’ah) dalam
perkara kami ini maka tertolak.” (Mutafaqun ’alaihi)
Adapun pengkiasan (penyamaan) penolakan
riwayat hadist ahad dalam pengumpulan Mushaf Al-
Quran yang dilakukan para sahabat dengan penolakan
hadist ahad dalam masalah aqidah -insya Allah- akan
dibahas dalam makalah ini. Segala puji bagi Allah.
Syaikh Taqiyuddin-rahimahullah-
berkata :”Rasulullah –shallaullahu álaihi wassalam-
mengutus para sahabat secara perorangan ke beberapa
negeri untuk mendakwahkan Islam, mengajarkan
hukum Islam, meriwayatkan hadist, sebagaimana
beliau –shalaullahu’alaihi wassalam- mengutus Muadz
ke Yaman. ”(Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz III
hal. 84)
Dari ucapan beliau, nampak beliau enggan
untuk menyatakan bahwa sahabat diutus oleh
Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam kebeberapa
negeri dengan misi salah satunya adalah
menyampaikan aqidah.
Tidakkah beliau memperhatikan perintah Rasul
shalaullahu ’alaihi wasallam kepada Muadz bin Jabal
radhiallahu ’anhu ketika diutus ke Yaman ? Rasul
shalaullahu’alaihi wasallam bersabda :”Sesungguhnya
engkau akan mendatangi kaum dari kalangan ahli
kitab. Maka jadikanlah seruan pertamamu kepada
mereka , yaitu agar mereka mengesakan Allah
semata……(Mutafaqun ’alaihi)
Apakah seruan Muadz kepada penduduk Yaman
hanya sebatas ucapan ”esakanlah Allah”, ataukah juga
termasuk perkara aqidah yang lain semisal surga dan
neraka, hari kiamat yang mana beliau radhiallahu
’anhu tidak hanya berkata ”Telah berfirman
AllahTa’ala!” akan tetapi pula akan berkata”Telah
bersabda Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam” ?
Padahal sudah menjadi tradisi sahabat apabila
berbicara mengenai agama maka mereka akan
mengatakan telah berfirman Allah Ta’ala dan telah
bersabda Rasulallah shalaullahu’alaihi wasallam. Maka
pengutusan sahabat pun tidak lepas dari penyampaian
aqidah dimana sahabat tentu akan mengatakan telah
bersabda Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam, atau
aku telah mendengar Rasulullah shalaullahu’alaihi
wasallam bersabda atau bahwa Rasululluh
shalaullahu’alaihi wasallam pernah melakukan ini dan
ini yang semuanya tidak terbatas hanya hukum saja
bahkan terutama aqidah. Ketahuilah pemisahan antara
aqidah dan hukum dari hadist Rasul shalaullahu álaihi
wassalam tidaklah dikenal di zaman Rasul dan
sahabat! Maka pembahasan mencari-cari dalil bahwa
sahabat menolak penetapan aqidah dengan kabar ahad
adalah perbuatan takaluf (membebani diri sendiri)
dimana Allah Ta’ala, Rasul-Nya shalaullahu’alaihi
wasallam serta sahabat radhiallahu’anhum tidak pernah
membicarakannya. Segala puji bagi Allah.
Imam Nawawi antara perkataannya: ”Wajib
mengamalkan khabar ahad” dan kenyataan sikap
beliau dalam menjadikan kabar ahad sebagai hujjah
aqidah.
Sebagian kelompok yang menolak dijadikannya
hadist ahad yang shahih sebagai hujjah dalam aqidah
menyandarkan pendapatnya pada perkataan Imam
Nawawi: ”Wajib mengamalkan hadist ahad”.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah :”Pendapat
yang dipegang oleh mayoritas kaum Muslim dari
kalangan shahabat dan tabi’iin, dan kalangan ahli
hadits, fukaha, dan ulama ushul yang datang setelah
para shahabat dan tabi’un adalah : khabar ahad (hadits
ahad) yang tsiqah adalah hujjah syar’iy yang wajib
diamalkan , dan khabar ahad hanya menghasilkan
dzann, tidak menghasilkan ilmu (keyakinan)”( Syarah
Shahih Muslim,1/64)
”Hanya saja (hadist ahad di dalam Shahih
Bukhari dan Muslim -pen) memberikan faedah wajib
mengamalkan apa yang di dalam keduanya tanpa
tawaquf( berdiam diri tidak mengamalkan) untuk
melakukan penelitian terdahulu padanya. ”(Tadrib Al-
Rawi Li al-Suyuthi, 1/133)
”Para khalifah yang rasyid dan sahabat-sahabat
lainnya, orang-orang yang datang setelah mereka dari
kalangan salaf (dahulu) dan khalaf (belakangan);
(mereka) masih tetap mengamalkan hadist
ahad” ( Syarah Shahih Muslim, 1/130)
Silakan diperhatikan ucapan Imam Nawawi
ketika mensyarah hadist Ubadah bin Shamit yang
berbunyi : ”Telah bersabda Rasulullah
shalaullahu’alaihi wasallam : ”Barangsiapa yang
mengucapkan ;’Aku bersaksi bahwasannya tiada ilah
(yang hak) selain Allah yang maha esa Dia dan tiada
sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah
dan putra dari ibunya (Maryam binti Imran-pen) dan
kalimat-Nya yan dihembuskan kepada Maryam dan
ruh dari-Nya, surga itu benar adnya, neraka itu benar
adanya, Allah akan memasukkannya dari delapan pintu
surga yang dikehendaki.”
(Berkata Imam Nawawi) :”Dan hadist ini ,
posisinya sangat agung, termasuk hadist yang paling
lengkap, atau termasuk salah satu hadist yang paling
lengkap memuat masalah aqidah . Karena di dalamnya
Rasulullah shalaullahu ’alaihi wasalam mengumpulkan
segala sesuatu, yang keluar dari seluruh agama kafir
dari keragaman aqidah mereka.(Syarah Shahih
Muslim, 1/103)
Begitu pula perkataan beliau terhadap hadist
qudsi yang shahih dari Abu Dzar Al-Ghifari
radhiyallahu ’anhu yang berbunyi: ”Hai hamba-Ku,
sesungguhnya aku mengharamkan kezaliman atas diri-
Ku…”. Imam Nawawi berkata : ”Hadist ini
merangkum beberapa faidah…(kemudian beliau
menyebutkan beberapa diantaranya), kemudian
berkata: ”Diantaranya adalah perkara yang
menyangkut penjelasan kaidah yang sangat agung
dalam masalah ushuluddin, …(Al-Adzkar, 1/413)
Maka pengertian dari ucapan Imam
Nawawi”Wajib mengamalkan hadist ahad” terdapat dua
kemungkinan:
1. Bisa jadi mengamalkan saja dengan anggota
badan tanpa meyakininya. Namun hal ini
tidaklah mungkin.
2. Atau bisa jadi mengamalkan kabar ahad
adalah wajib menyakini bila dalam bentuk
berita dan melaksanakan bila dalam bentuk
perintah. Karena definisi amal tidak selalu
bermakna pelaksanaan amalan dengan
anggota tubuh bahkan termasuk pembenaran,
yakin, ikhlas, tunduk, iman dapat disebut
sebagai amal. Sebagaimana hadist berikut :
Rasulullah shalaullahuálaihiwassalam pernah
ditanya:”Apakah amalan yang paling
utama ?” maka beliau menjawab ;” Beriman
kepada Allah dan rasul-Nya”(HR. Al-Bukhari
no. 25)
Di dalam Iman terdapat pembenaran, yakin,
tunduk, ihklas, ridho dan cinta.
Perkataan Imam Nawawi : ” Para khalifah yang
rasyid, para sahabat, kalangan salaf (dahulu) dan
khalaf (belakangan) masih tetap mengamalkan hadist
ahad, mereka melaksanakan kabar ahad jika
mengkabarkan kepada mereka tentang suatu sunnah,
mereka memutuskan dengannya, mengembalikan
urusan pengadilan dan fatwa kepadanya,
mendahulukan memutuskan dengannya bila terdapat
keputusan mereka yang menyelisihnya, mereka
mencari kabar ahad sebagai hujjah dari orang yang
pernah mendapatkannya dan mereka berhujjah
dengannya atas orang yang menyelisihi mereka ,ini
semua perkara yang telah diketahui tanpa ada
keraguan. Dan akal tidak menghalalkan beramal
dengan hadits ahad akan tetapi syariat mewajibkan
mengamalkannya, maka wajib berjalan pada syariat
tersebut ” ( Syarah Shahih Muslim, 1/64),
Andaikan beliau maksud para khalifah yang
rasyid, para sahabat, kalangan salaf dan khalaf
mengamalkan kabar ahad hanya sebatas amal anggota
tubuh bukan aqidah, maka sungguh hadits-hadits dan
atsar-atsar membuktikan mereka ternyata juga
menjadikan kabar ahad sebagai hujjah dalam aqidah.
Kalau ragu, lihatlah dalil hadits-hadits yang telah kami
tunjukkan pada pembahasan sebelumnya.
Begitu pula perkataan Imam Nawawi :” mereka
mencari kabar ahad sebagai hujjah dari orang yang
pernah mendapatkannya dan mereka berhujjah
dengannya atas orang yang menyelisihi mereka”,
contohnya adalah sikap Ibnu Abbas mencari berita dari
Ubay bin Kaab yang pernah mendengar hadits Nabi
mengenai jati diri Khidir sebagai sahabat Nabi Musa
yang diutus kepada Bani Israil dan menyatakan
pengingkaran beliau terhadap orang yang
menyelisihinya.
Begitu pula perkataan beliau :”Dan akal tidak
menghalalkan beramal dengan hadits ahad akan tetapi
syariat mewajibkan mengamalkannya, maka wajib
berjalan pada syariat tersebut.” Apakah yang dimaksud
syariat disini? Jelas maksudnya Al-Quran, sunnah,
ijma para sahabat. Al-Quran tidak menetapkan jumlah
orang yang menyampaikan berita entah itu masalah
dunia apalagi agama kecuali sebatas masalah
persaksian di pengadilan dan saksi pernikahan serta
yang semacamnya yang terdapat nash mengenai
ketentuan jumlahnya. Namun diingat hal itu tidak bisa
jadikan qiyas karena adanya dalil yang menyelisihinya
dimana Rasul dan para sahabat menerima kabar ahad
dari satu orang yang dapat dipercaya agamanya. Dan
inilah ijmanya para sahabat dan kami tidak menemukan
khilaf padanya. Apabila ada, tolong tunjukkan
dalilnya !
Sikap Imam Nawawi persis dengan sikap Al-
Hafizh Ibnu Abdil Barr. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr
berkata : “Menurut pendapat kami , hadits ahad
membuahkan amal, bukan membuahkan ilmu.
(misalnya), seperti kesaksian dua orang dan kesaksian
empat orang adalah sama. Kebanyakan ahli ilmu dan
ahli hadits, juga berpendapat seperti itu. Dan
semuanya berpegang kepada riwayat satu orang yang
adil dalam aqidah , membela dan
mempertahankannya, menjadikannya syariat dan
agama. Seperti itu pula pendapat jama’ah ahli
sunnah.”(Al-Tamhid, 1/8)
Maka pendapat Imam Nawawi bahwa hadist ahad
mutlak hanya membawa zhann berbeda dengan
pemahaman sekelompok orang (termasuk Syaikh
taqiyuddin Al-Nabhani) yang memahami pula hadist
ahad hanya memberi faedah zhann. Allahu akbar
walillahilhamd.
Begitu pula mengklaim bahwasannya perkatan Al-
Karmani adalah pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani,
sebagaiamana berkata Ibnu Hajar Al-Atsqalani :Telah
berkata Al Karmani: agar diketahui, sesungguhnya dia
(diterimanya khabar ahad sebagai hujjah) HANYALAH
DALAM HAL ‘AMALIYYAH BUKAN DALAM HAL
I’TIQADIYYAH (Fathul Baariy 20/292)
Sebenarnya itu hanya nukilan saja bukan
kesetujuan pendapat. Cobalah perhatikan pendapat
Ibnu Hajar :”Hadits yang didukung dengan qarinah
(penguat), bisa saja sampai tingkat memberikan ilmu
(keyakinan). Hadits yang seperti ini ada beberapa
macam. Diantaranya, yaitu hadits-hadits yang
dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam dua kitab
shahihnya. Walaupun hadits-hadits itu tidak sampai
derajat mutawatir, namun dia didukung dengan
beberapa hal yang menguatkannya. Diantaranya:
· Kepakaran Bukhari dan Muslim dalam
bidang periwayatan hadits.
· Kejelian mereka memilah hadits yang
shahih dari yang lainnya.
· Sikap para ulama yang menerima secara
utuh kitab shahih mereka.
Sikap ini, sebenarnya merupakan bukti yang lebih
kuat untuk menunjukkan bahwa hadits-hadits itu bisa
menyakinkan, dibandingkan dengan hanya sekedar
banyaknya sanad periwayatan yang terdapat pada
riwayat mutawatir….. Ijma itu telah terjadi atas dasar
diakuinya keshahihan riwayat-riwayat tersebut.(Tadrib
Al-Rawi 1/133-134). Dan sudah menjadi rahasia
umum, bahwa para sahabat dan tabiin mengamalkan
khabar ahad, serta tidak ada yang menentangnya.
Kesepakatan mereka ini menunjukkan diterimanya
khabar ahad.(Fathul Bari(13/234)
Lebih jelasnya lihatlah Fatawa Al-Hafizh Ibnu
Hajar Al-Asqalani fi Al-Aqidah yang dikomentari oleh
Muhammad Tamir, beliau Ibnu Hajar mengunakan
hadits ahad tidak hanya dikeluarkankan oleh Bukhari
dan Muslim tapi juga yang dikeluarkan oleh Imam
Ahmad, Tarmidzi dan lainnya dalam menjawab
beberapa pertanyaan salah satunya mengenai
pertanyaan munkar dan nakir di dalam kubur halaman
15-18. Ini menunjukkan bahwa beliau mengamalkan
kabar ahad tidak dalam bentuk praktek anggota badan
saja namun juga menerima dengan keyakinan sebagai
aqidah.
Klaim yang batil bahwa para imam empat madzhab
menolak hadist ahad dalam perkara aqidah.
Berkata Syaikh Mahmud Syaltut :”Berpendapat
pula seperti ini (hadist ahad hanya membawa faedah
zhann-pen) ahli ilmu di antaranya empat imam
madzhab yaitu, Imam malik, Imam Abu Hanifah,
Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad dalam salah satu dari
dua riwayat dimana terdapat riwayat yang lainnya yang
berbeda dari beliau (Al-Islam Aqidah Wa Syariah, hal.
59)
Maksud dari Syaikh Mahmud Syaltut bukan
sekedar membahas bahwasannya empat imam madzhab
berpendapat bahwa hadits ahad hanya membawa
faedah zhann akan tetapi lebih dari itu beliau mengira
empat imam madzhab menolak hadist ahad dalam
penetapan aqidah.
Sebagaimana ucapan beliau :”Bahwa sebagaimana
yang telah kami tetapkan bahwa hadist ahad tidak
dapat berfaedah bagi penetapan aqidah dan tidak sah
untuk berhujjah dengannya dalam perkara-perkara
ghaib. Hal ini adalah pendapat yang disepakati lagi
kuat berdasarkan akal secara sederhana, sehingga tidak
ada lagi perselisihan bagi orang-orang yang
berakal.” (Al-Islam Aqidah Wa Syariah, hal. 61)
Sanggahan :
Klaim bahwa empat imam madzhab sepakat
menolak hadist ahad dalam perkara aqidah adalah
klaim yang batil tanpa bukti.
Berkata Imam Abu Hanifah rahimahullah :”Hadist
tentang mi’raj adalah benar. Barangsiapa
mengingkarinya, maka ia sesat dan berbuat
bid’ah.”(Al-Fiqhul Akbar, hal. 92)
Hadist Mi’raj adalah hadist ahad yang berisi
permasalahan aqidah. Andaikan beliau melarang
menetapkan aqidah dengan kabar ahad tentulah beliau
tidak menganggap sesat orang yang mengingkarinya.
Adapun Imam Syafi’i telah kita ketahui tentang
sikap beliau mengambil hadist ahad sebagai hujjah
dalam permasalahan aqidah. Mengenai hal ini dapat
dilihat dari pembahasan sebelumnya terhadap sikap
beliau ketika mencontohkan salah seorang sahabat
yaitu Ibnu Abbas berhujjah dengan hadist ahad
menetapkan bahwa Musa yang bersama Khidir adalah
Musa yang diutus kepada Bani Israil berdasarkan
riwayat hadist dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah
shalaullahu ’alaihi wassalam.
Dalam Kitab Al-Radd ’Ala Al-Zinadiqah wa Al-
Jahmiyah pada tema ”Bantahan terhadap orang yang
mengkirari bahwasannya kaum mukminin akan melihat
Allah Jalla Sya nihi pada hari Kiamat.”Berkata Imam
Ahmad : ”Apakah kita harus mengikuti Nabi
shalaullahu’alaihi wasallam, ketika beliau shalaullahu
’alaihi wassalam bersabda:
” Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian”
ataukah (kita mengikuti) perkataan Al-Jahmi
ketika ia berkata kalian tidak akan melihat Tuhan
kalian, sedangkan hadist-hadist yang ada disisi ahli
ilmu yang berasal dari Nabi shalaullahu’alaihi
wasallam menyatakan bahwa penduduk surga akan
melihat Tuhan mereka, dan hal ini adalah sesuatu yang
tidak terdapat perselisihan dari ahli ilmu. (Al-Radd
’Ala Al-Zinadiqah wa Al-Jahmiyah, hal. 34 ).
Potongan hadist tentang melihatnya kaum
mukminin akan Rabbnya (hadits ru’yah) di surga yang
disebutkan oleh Imam Ahmad di atas adalah hadist
ahad secara lafazh namun mutawatir secara maknawi.
Disebut mutawatir maknawi karena banyaknya hadist-
hadist yang berbeda lafazh mengabarkan tentang kaum
muslimin yang akan dapat melihat Allah di hari
kiamat. Lafazh hadits tersebut yang dikeluarkan Imam
Ahmad dalam Musnadnya hanya berasal dari jalur
sahabar Jarir bin Abdullah radhiallahu’anhu dengan
nomor hadits 18394 dan 18409. Dapat dilihat pada
Shahih Bukhari no. 521 dan 539, Shahih Muslim no.
1002 dan Sunan Abi Dawud no. 4104. Dan terdapat
juga lafazh yang mirip dikeluarkan oleh Imam Tirmidz
no. 2477 dari jalur Abu Hurairah radhiallahu’anhu dan
dikeluarkan pula Al-Bayhaqi no. 106 dari jalur Abi
Bakrah bin Amarah bin Ruwaibah namun pada jalur
Abi Bakrah ini kami belum mengetahui keshahihan
hadits tersebut. Wallahu a’allam
Imam ahmad berkata mengenai hadits-hadits
ru’yah tersebut : ”Kami mengimaninya dan kami
mengetahuinya bahwa hadits-hadits itu hak, kami
menetapkan ilmu dengannya.”(Al- Musawaddah Lil
Aali Taimiyah, hal. 242, dinukil dari Aslul ’Itiqad,
Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar hal.16). Jelaslah
Imam Ahmad menjadikan hadist ahad sebagai hujjah
dalam aqidah. Walillahilhamd.

 

Adapun pendapat beliau mengenai hadist ahad
apakah membawa faedah zhann ataukah ilmu, hal ini
belum dapat dipastikan karena adanya riwayat yang
berbeda mengenai sikap beliau terhadap faedah yang
dihasilkan dari hadits ahad. Namun andaikata beliau
berpendapat bahwa hadits ahad hanya membawa
faedah zhann saja, maka sudah jelas beliau tetap
menjadikan hadist ahad sebagai hujjah dalam aqidah
sebagaimana Imam Nawawi.
Adapun pendapat Imam malik kami belum
menemukannya secara jelas, kecuali berdasarkan
kabar-kabar dari sebagian ulama.
Berkata : Abu Muhammad : telah berkata Abu
Sulaiman dan Al-Hasan, dari Abu Ali Al-Karabisi, dan
Al-Harits bin Asad Al-Mahasibi dan selain mereka,
bahwa khabar wahid (dari satu orang) yang adil dan
berturut seperti itu keadaannya hingga berakhir kepada
Rasulullah shalaullahu’alaihi wasallam, mewajibkan
ilmu dan amalan secara bersamaan, kami katakan
seperti pendapat ini pulalah: telah menyebutkan
pendapat seperti ini Ahmad bin Ishak yang lebih
dikenal dengan nama Ibnu Khuwaiz Mindad, yang
berasal dari (pendapat) Malik bin Anas .(Al-Ihkam fi
Ushulil Ahkam, Ibnu Hazm hal. 107)
Qiyas batil menolak hadist ahad dalam aqidah
dengan pengumpulan tulisan Al-Quran.
Salah seorang sahabat penulis, Ustadz Muhammad
Taufik Nusa Tanjung-semoga Allah ta’ala menjaganya-
berkata :”Para sahabat dengan tegas telah menolak
khabar ahad sebagai hujjah/dalil masalah aqidah,
contoh paling nyata adalah dalam hal pengumpulan
Al Qur’an – dimana kita maklumi bahwa iman pada Al
Qur’an adalah bagian dari aqidah- para sahabat
hanya menganggap dan menulis khabar mutawatir
saja yang wajib kita yakini sebagai ayat-ayat Al
Qur’an dan disini tidak ada pertentangan ‘ulama,
sebagaimana juga ditulis oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir,
dalam Tafsirnya 1/389, Maktabah Syamilah:
“Adapun jika diriwayatkan bahwasanya ia adalah
al Qur’an, maka sesungguhnya (jika) ia tidak
mutawatir maka tidak ditetapkan bahwasanya ia al
Qur’an dengan khabar wahid (ahad) seperti ini, oleh
karena itu amiirul mukminin ‘Utsman bin ‘Affan r.a
tidak menetapkannya dalam mushaf dan tidak membaca
(al qur’an) dengannya seorangpun dari para qari’ yang
tsabit hujjah atas qira’ahnya, tidak dari qira’ah sab’ah
dan tidak dari selain mereka”
Tidak bisa kita katakan bahwa hal ini tidak bisa
dijadikan sebagai alasan karena yang kita bahas adalah
hadits, bukan Al Qur’an. Tidak bisa dikatakan begitu
karena sebetulnya tema yang kita bahas bukanlah
hadits, melainkan AQIDAH, DARI SEGI APAKAH
BOLEH DIDASARKAN PADA DALIL YANG
DZONNY ATAU TIDAK?, sedangkan keyakinan
terhadap ayat-ayat Al Qur’an adalah bagian dari
aqidah, dan ayat -ayat tersebut tidak diterima kecuali
dengan jalan mutawatir , jadi temanya adalah sama .
(Kedudukan Khabar Ahad Dalam Masalah Aqidah,
Muhammad Taufik N.T.)

 Insya Allah, bersambung.