SYAIKH RABÎ’ : SAYA BENCI DIKATAKAN IMAM JARH WA TA’DÎL (SEBUAH NASEHAT DAN WASIAT)


SYAIKH RABÎ’ : SAYA BENCI DIKATAKAN IMAM JARH WA TA’DÎL (SEBUAH NASEHAT DAN WASIAT)

fatwa ulama salafySeorang penanya berkata : “Semoga Allôh menjaga Anda, bagaimana cara kita beribadah kepada Allôh Azza wa Jalla dengan ilmu jarh wa ta’dîl yang merupakan ilmu paling mulia?”

Jawab :

Apabila kalian sudah mencapai tingkatan ilmu, waro’ (kehati-hatian), zuhud dan ikhlas hanya mengharapkan wajah Allôh, niscaya kalian akan mengetahui bagaimana cara ber-taqorrub (beribadah mendekatkan diri) kepada Allôh dan melindungi agama ini dengan menggunakan ilmu tersebut (jarh wa ta’dîl). Sesungguhnya ilmu jarh wa ta’dîl itu adalah ilmu yang agung, yang tidak boleh dibahas kecuali hanya segelintir figur tertentu, bahkan mayoritas pembesar ulama hadits saja banyak yang tidak dianggap sebagai ulama jarh wa ta’dîl.

Saya sampaikan kepada kalian, bahwa SAYA BUKANLAH TERMASUK ULAMA JARH WA TA’DÎL, DAN SAYA NASEHATKAN SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN AGAR MENINGGALKAN SIKAP GHULÛ (BERLEBIH-LEBIHAN), semoga Allôh memberkahi kalian. Saya hanyalah seorang “Nâqid” (kritikus), yang mengkritisi kesalahan-kesalahan sejumlah individu tertentu, namun orang-orang terlalu meninggi-ninggikannya, semoga Allôh memberkahi kalian.

Saya berlepas diri kepada Allôh dari sikap ghulû! JANGANLAH KALIAN SEKALI-KALI MENGATAKAN SYAIKH RABÎ’ ITU IMAM JARH WA TA’DÎL!!! ALLÔH SEBAGAI SAKSI BAHWA SUNGGUH SAYA BENCI UCAPAN INI!!! TINGGALKAN SIKAP BERLEBIH-LEBIHAN INI WAHAI SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN. SAYA DARI SEMENJAK DULU, TIDAK MENYUKAI HAL INI!!!

Sesungguhnya, diriku ketika melihat sebutan terhadap Imam Ibnu Khuzaimah sebagai imamnya para imam (imâmul a`immah), demi Allôh beliau (Ibnu Khuzaimah) adalah seorang imam yang mulia, namun sampai disebut imamnya para imam, demi Alloh saya memandangnya ini suatu hal yang berat. Julukan-julukan semisal ini telah merasuki kaum muslimin. Perhatikan sebutan mereka terhadap sahabat, (mereka mengatakan), ‘Umar berkata, ‘Utsmân berkata, ‘Alî berkata… [suara kurang jelas].. semoga Allôh memberkahi kalian. Tinggalkanlah kerancuan ini!!! [Maksud Syaikh, para ulama disebut dengan sebutan yang berlebihan namun para sahabat seringkali hanya disebut namanya, pent.]

Orang yang berilmu dan faham akan manhaj salaf , cukup hanya mengkritik. Ulama jarh wa ta’dîl telah menjelaskan kepada kita keadaan para rijâl (periwayat hadits) bahwa mereka kadzdzâb (pendusta), matrûk (ditinggalkan), buruk hafalannya, lemah riwayatnya, dll. Juga perawi yang tsiqât (kredibel), adil, kuat hafalannya, dll. Sedangkan kita hanyalah pengkritik saja. Saya (tidak lebih hanyalah) seorang pengkritik yang lemah. Saya mengkritisi kesalahan-kesalahan yang didiamkan oleh ulama selain diriku… [kalimat tidak jelas]…

Tinggalkanlah perbuatan ini, semoga Allôh memberkahi kalian. Yaitu, apabila ada orang yang berilmu dan faham akan manhaj salaf, lalu dia melihat di hadapannya ada suatu bid’ah yang nyata, maka hendaknya ia menjelaskannya dan mengoreksinya dengan ikhlas mengharap wajah Allôh, dalam rangka menjaga agama ini dari perkara yang disusupkan oleh ahli bid’ah, yang membuat kerancuan dengan perbuatan bid’ah mereka, berkata tentang Allôh tanpa ilmu, menyebarkan kesesatannya dengan mengatasnamakan agama, baik itu kesalahan aqidah, ibadah, manhaj, siyâsah (politik), ekonomi, dll…

Saat ini, telah merebak di kalangan salafiyîn sikap ghulû dan berlebih-lebihan, sampai-sampai sebagian mereka, sikap ghulûnya mencapai tingkatan seperti sekte râfidhah, shûfiyah dan hulûl (inkarnasi). KAMI BERLEPAS DIRI DARI SIKAP GHULÛ SEPERTI INI! HENDAKNYA KALIAN MENAPAKI MANHAJ SALAF INI DI ATAS SIKAP WASATHIYAH (PERTENGAHAN) DAN I’TIDÂL! POSISIKAN MANUSIA SEBAGAIMANA KEDUDUKANNYA TANPA SEDIKITPUN DIIMBANGI SIKAP GHULÛ, SEMOGA ALLÔH MEMBERKAHI KALIAN!.

Kita sekarang berada di kalangan para penuntut ilmu. Para penuntut ilmu, kami kritik sebagian kesalahan mereka… [suara kurang jelas]… yang kami mengenalnya. Maka saya nasehatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku sekalian, agar kalian berjalan di atas thorîq (jalan) as-Salaf ash-Shâlih di dalam belajar, akhlak dan dakwah, tanpa bersikap tasyaddud (keras) atapun ghulû. DAKWAH YANG DIIRINGI DENGAN SIKAP SANTUN, LEMAH LEMBUT DAN AKHLAK YANG MULIA, MAKA DEMI ALLÔH, DAKWAH SALAFIYAH INI AKAN SEMAKIN TERSEBAR!!!

Dakwah salafiyah sekarang ini saling memakan (baca : saling memangsa, pent.) dan yang memakannya adalah “muntamûn”/afiliatornya (orang-orang yang berintimâ` kepada salafiyah, pent.). Saya tidak menyebutkan “as-Salafiyûn”, tapi “al-muntamûn”, yang sebagian mereka ini, mengafiliasikan diri mereka secara zhalim kepada manhaj ini dan saling memakan di hadapan manusia. Akhirnya mereka semakin memperburuk citra dakwah salafiyah. Saya nasehatkan mereka untuk bertakwa kepada Allôh Azza wa Jalla, belajar ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih, serta berdakwah mengajak manusia dengan ilmu dan hikmah.

Wahai saudara-saudaraku, saat ini situs-situs internet mulai bertebaran. Hampir setiap orang mengejek orang-orang yang mereka sebut sebagai salafîyîn. Mereka tertawa dan bertepuk tangan dengan gembira (karena banyaknya situs-situs salafî yang saling mencakar satu dengan lainnya, pent)., semoga Allôh memberkahi kalian. Internet bisa menjadi sarana belajar, hendaknya ilmu tafsîr didahulukan (untuk diajarkan) kepada umat, dengan makalah-makalah yang menjelaskan tafsir ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum, akhlaq dan aqidah, dan menyebarkan dakwah ini kepada manusia. Lalu mempermantap di dalam ilmu hadits dengan cara menyebarkan makalah-makalah yang menjelaskan makna dan kandungan hadits berupa hukum-hukumnya, halal haram, akhlak dan selainnya. Kalian penuhi dunia ini dengan ilmu, manakala manusia sangat butuh dengan ilmu ini. Semoga Allôh memberkahi kalian.

Adapun pertikaian (yang disebarkan di internet), maka ini akan memperburuk citra manhaj salafi dan menyebabkan orang lari menjauh. TINGGALKANLAH PERTIKAIAN, BAIK ITU DI INTERNET ATAUPUN MEDIA LAINNYA SEPERTI MAJALAH, DAN DI NEGARA MANA SAJA! DAHULUKAN ILMU YANG BERMANFAAT, dan diskusi (jidâl). Janganlah kalian memasuki perdebatan (jidâl) dengan orang lain ataupun dengan sesama kalian. Kalian telah membaca di dalam buku ini (yang dikaji syaikh Rabî’, pent.) bahwa dahulu para salaf menjauh dari perdebatan. Janganlah kalian berdebat kecuali dalam kondisi terdesak. Dan hendaknya yang berdebat itu hanyalah orang yang berilmu yang mampu mematahkan argumentasi ahli bid’ah.

JANGAN KALIAN MASUK KE DALAM PERMUSUHAN DI ANTARA SESAMA KALIAN. APABILA TERDAPAT SESUATU KESALAHAN, HENDAKNYA KEMBALIKAN KEPADA PARA ULAMA. JANGAN PULA KALIAN MENCEBURKAN DIRI KE DALAM DESAS-DESUS DAN BERITA-BERITA DUSTA, KARENA HAL INI TELAH MENYIA-NYIAKAN DAKWAH SALAFIYAH DAN BERIMPLIKASI SANGAT BURUK SEKALI, yang sejarah menjadi saksinya. Sarana-sarana kejelekan ini semakin disokong di internet dan problematika ini semakin didukung oleh setiap yang terbesit di kepalanya lalu meletakkan bencana (pemikiran)-nya di internet. Tinggalkan perbuatan ini! BERKATALAH DENGAN ILMU NISCAYA AKAN MEMULIAKAN KALIAN DAN DAKWAH KALIAN.  Adapun orang-orang yang tidak berilmu, hendaknya jangan menulis baik di internet ataupun selainnnya, semoga Allôh memberkahi kalian. JAUHILAH SIFAT DENGKI DAN DENDAM, KARENA APABILA TIDAK MAKA ALLÔH AKAN MEMATIKAN DAKWAH INI. SAYA BERHARAP AGAR TIDAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG IKUT SERTA DI DALAM BENCANA INI. Saya memohon kepada Allôh agar meneguhkan kita semua di atas sunnah.

Wahai saudara-saudara sekalian, hendaknya kalian mendengarkan dari orang yang berilmu (para ulama) dan hukum-hukumnya, dan menulis di internet yang bermanfaat bagi orang lain baik di dalam tafsîr… [kalimat tidak jelas]… yang menghimpun aqidah, akhlaq, hukum dan selainnnya, semoga Allôh memberkahi kalian. Dan ilmu tafsîr itu adalah samudera… Demi Allôh…

Seluruh hadits yang ada pada kalian, kalian syarah (terangkan maknanya) dan perkuat dengan syarah para ulama yang mumpuni, lalu sampaikan pada umat baik itu di dalam bidang aqidah, ibadah, atau akhlak, dengan cara yang bijak dan santun, yang berfaidah bagi orang lain. Demi Allôh, kalian mengobati bagaimana cara mengembangkan, menumbuhkan dan menerangi dunia… adapun sekarang, kalian menzhalimi salafiyah dengan cara-cara ini, semoga Allôh memberkahi kalian.

Saya menasehatkan kalian agar meninggalkan jidâl dan permusuhan di internet ataupun di media lainnya. Saya nasehatkan pula bagi yang memiliki ilmu agar berbicara dengan ilmu, menulis dengan ilmu, berdakwah dengan ilmu, hujjah dan burhân (penjelasan yang gambling). Jauhilah perselisihan dan sebab-sebab perpecahan agar tidak memperburuk keadaan kalian. Apabila ada salah seorang yang melakukan kesalahan, maka ajukan kepada para ulama.. [suara tidak jelas]… agar dapat dijelaskan bagaimana mengobatinya, semoga Allôh memberkahi kalian, meluruskan langkah-langkah kalian dan mempertautkan hati-hati kalian.

Bârokallôhu fîkum…”

[selesai ucapan Syaikh Rabî’ bin Hâdî al-Madkhalî, semoga Allôh memperpanjang usia beliau di dalam ketaatan, dan menjauhkan beliau dari orang-orang ghulû yang senantiasa memberikan informasi secara sepihak kepada beliau.]

Silakan download rekaman ceramah tersebut di sini :

Iklan