Ilmu VS Maksiat


Ilmu VS Maksiat

Oleh Ust. Abu Faiz Sholahudin

cropped-siip.jpgIlmu adalah anugerah Allah ta’ala, dan ia adalah amanat Allah azza wa jalla. Maka ilmu tidak diberikan kecuali kepada orang yang Allah kehendaki, dan amanat itu tidak akan diberikan kepada orang yang khianat, maka ilmu akan bersama dengan jiwa-jiwa yang bersih dan akan lari dari jiwa-jiwa pendosa.

  • Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu’anhu- mengatakan:

إنّي لأحسب أنّ الرّجل ينسى العلم قد علمه بالذّنب يعمله

“Sungguh aku yakin, bahwa seorang lupa dengan ilmu yang ia dapatkan, karena dosa yang ia kerjakan”.(Jami’ Bayan al-,ilm wa Fadlihi 1/196 karya Ibn Abdil Bar)

Beliau juga mengatakan:

إنّي لأحسب أنّ الرّجل ينسى العلم بالخطيئة يعملها

“Sungguh aku yakin, bahwa seorang dapat lupa dengan ilmunya, disebabkan karena kesalahan (dosa) yang ia perbuat”. (Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab al-Sami’ 2/257 karya al-Khatib al-Baghdadi)

  • Fudloil bin ‘Iyadl mengatakan:

أكذب النّاس العائد في ذنبه و أجهل النّاس المدلّ بحسناته و أعلم النّاس بالله أخوفهم منه لن يكمل عبد حتّى يؤثّر دينه على شهوته ولن يهلك عبد حتّى يؤثّر شهوته على دينه

“Manusia pendusta adalah yang kembali pada perbuatan dosanya. Manusia terbodoh adalah yang terperdaya dengan kebaikannya. Manusia yang paling mengetahui tentang Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Belum sempurna agama seseorang hamba hingga agamanya mengalahkan syahwatnya. Tidak binasa seseorang sampai syahwatnya mengalahkan agamanya.” (Syiar A’lam an Nubala jilid 8 hln. 427 karya adz-Dzahabi)

  • Malik bin Anas mengatakan:

يا أبا عبدالله: هل يصلح لهذا الحفظ (العلم) شيء؟ قال: إن كان يصلح له شيء فترك المعاصي

“Wahai abu abdillah, apakah ada sarana untuk dapat menghafal ilmu ini?” Beliau menjawab, “Bila ada sarana yang menjadikan kuatnya hafalan maka ia adalah meninggalkan maksiat.” (Al-Jami’ li Akhlak ar-Rowi wa Adab as-Sami’ 2/258 karya al-Khatib al-Baghdadi)

  • Ali bin Khasram mengatakan:

ما رأيت بيد وكيع كتابا قطّ إنّما هو حفظ فسألته عن أدوية الحفظ فقال إن علمتك الدّواء استعملته قلت إي والله قال ترك المعاصي ما جرّبت مثله للحفظ

“Aku tidak pernah melihat al-imam Waki’ membawa buku, namun semua beliau lakukan dengan hafalan, lalu aku bertanya apa resep menjadi kuat hafalannya. Beliau menjawab, ‘Bilakah aku tunjukkan resepnya Anda akan mengerjakannya?’ Aku menjawab, ‘Tentu, demi Allah’. Beliau mengatakan, ‘Tinggalkan kemaksiatan, aku tidak memiliki resep yg lebih hebat dari itu’”. (Syiar A’lamin Nubala jilid 9 hlm 151 karya adz-Dzahabi)

  • Waki’ mengatakan:

ترك المعاصي عون على الحفظ

“Meninggalkan maksiat adalah sarana memperkuat hafalan”. (Al-Jami li Akhlaq war Rowi a Adab as Sami 2/258 karya al Khatib al-Baghdadi)

Beliau juga mengatakan:

استعينوا على الحفظ بترك المعصية

“Mintalah pertolongan agar kuat dalam hafalan dengan meninggalkan maksiat.” (Raud al ‘Uqola hlm 39 karya Ibnu Hibban)

  • Al Imam Malik mengatakan kepada as-Syafi’i pada awal kali bertemu:

إنّي أرى الله قد ألقى على قلبك نورا، فلا تطفئه بظلمة المعصيّة

“Sungguh aku yakin bahwa Allah azza wa jalla telah meletakkan cahaya di hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan kemaksiatan”. (I’lamul Muwaqqi’in 4/258 karya ibn al-Qoyyim)

  • Ahmad ibn Ja’far ibn Abi Dawud ibn al-Munadi mengatakan:

إنّ للحفظ أسبابا….منها: احتشام المناقص جملة -أي اجتناب المعاصي- وذالك أنّ المرء إذا زجر نفسه، و أقبل إلى الله بالموافقة، و عت أذنه وصفامن الرّين ذهنه

“Sesungguhnya kuatnya hafalan memiliki beberapa sebab…..diantaranya ialah menjauhi perbuatan kotor (dosa) secara menyeluruh. Yang demikian karena bila seseorang mencegah dirinya (dari dosa), dan kembali kepada Allah maka akan menjadi peka pendengarannya, dan akan jernih hatinya dari kotoran”. (Mutasyabih al-Quran al-Karim hlm 25 karya Ibn al Munadi)

  • As-Syafi’i mengatakan:

من أحبّ أن يفتح الله له قلبه أو ينوّره، فعليه بترك الكلام فيما لا يعنيه، و ترك الذنوب، واجتناب المعاصي، ويكون له فيما بينه و بين الله خبية من عمل،فإنّه إذا فعل ذالك فتح الله عليه من العلم ما يسغله عن غيره، و إنّ في الموت لأكثر الشغل

“Barangsiapa berharap Allah membukakan pintu hatinya dan menyinarinya, hendaknya ia meninggalkan perkataan tidak bermanfaat, meninggalkan perbuatan dosa, menjauhi kemaksiatan, sehingga akan terjadi hubungan amal antara dirinya dan Allah. Bila ia beramal, Allah akan menerangi dengan cahaya ilmu sehingga ia telah tersibukkan dengan hal itu, sungguh menyibukkan diri dengan (persiapan) kematian adalah sebuah kesibukan yang paling sibuk”. (Manaqib as’Syafi’i 2/171 karya al-Baihaqi)

Sumber: Majalah al-Furqon no. 144 edisi 9 th ke 13 hlm 71-12