Membendung Fitnah dengan Tabayyun


 Membendung Fitnah dengan Tabayyun

salinan dari artikel berjudul:
TABAYYUN DALAM MENERIMA BERITA

tabayyunJangan heran jika dalam sebuah hubungan persaudaraan tiba-tiba terjadi perseteruan sengit. Setelah diusut, biangnya adalah salah dalam menerima dan menyampaikan sebuah berita. Jangan pula mengira, berita dari mulut ke mulut,
berita dari surat kabar dan sebagainya, itu pasti benar.
Boleh jadi itu adalah bisikan iblis yang masuk
ke jiwa pendengki yang ingin merenggut nyawa dan akidahmu.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ
أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6)

Makna Ayat Secara Umum

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Jika ada orang fasiq membawa berita maka hendaknya diteliti terlebih dahulu, tidak langsung diterima. Jika langsung diterima maka bisa menjatuhkan pelakunya kepada perbuatan dosa. Berita orang fasiq tentu tidak sama dengan berita orang yang benar. Jika dianggap sama (tidak dilakukan tabayyun) maka bisa berakibat saling bunuh, hilangnya harta dan nyawa tanpa bukti yang benar, dan pasti menyesal.

Oleh karena itu, apabila datang berita dari orang yang fasiq hendaklah diteliti, jika berita yang disampaikan nyata atau ada tanda kebenarannya, maka boleh diterima. Namun jika berita itu dusta maka dustakanlah dan tolaklah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa berita orang yang benar boleh diterima dan berita orang pendusta ditolak. Sedangkan berita orang fasiq ditangguhkan sampai ada bukti lain yang menunjukkan kebenaran atau kedustaannya. Sehubungan dengan hal itu, ulama salaf menerima berita orang khawarij yang dikenal kejujurannya, sekalipun mereka itu fasiq.” (Tafsir al-Karimir-Rahman: 1/799)

Sebab Turun Ayat

Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’idradhiyallahu ‘anhu pergi ke bani  al-Mustaliq guna mengambil zakat. Tatkala bani al-Mustaliq mendengar ini, mereka gembira lalu pergi menemui Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika al-Walid mendapat berita bahwa mereka pergi menemui Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam, pulanglah dia menjumpai Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Wahai Rosulullah! Sesungguhnya bani al-Mustaliq enggan membayar zakat.” Tatkala Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam mendengar berita tersebut (al-Walid radhiyallaahu ‘anhu), beliau marah sekali. Saat itu pula, beliau sallallaahu ‘alaihi wa sallam merencanakan menjumpai mereka. Tiba-tiba datanglah utusan ( bani al-Mustaliq) seraya berkata: “Wahai Rosulullah! Kami mendapat berita bahwa utusanmu pulang di tengah perjalanan, sedangkan kami khawatir dia pulang karena menerima surat dari Anda, lalu baginda marah kepada kami, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kemarahan-Nya dan kemarahan utusan-Nya.”

Karena Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam ingin menyerangnya, maka Alloh menurunkan udzur mereka di dalam ayat ini, yaitu QS. al-Hujurot[49]: 6.” (HR. al-Bukhari: 8/95, dishahihkan oleh al-Albani, baca Silsilah Shohihah: 8/95)

Makna Fasiq

Berita dari orang fasiq ditangguhkan sampai jelas perkaranya. Lalu siapa orang fasiq yang dimaksud di sini? Mereka adalah orang yang keluar dari ketentuan syar’i, orang yang berbuat maksiat,yang meninggalkan perintah Alloh ‘Azza wa Jalla dan keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu, Iblis dikatakan fasiq karena enggan melaksakan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’alaagar sujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salaam.[1]

Kefasiqan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Kefasiqan yang menjadikan pelakunya tetap muslim akan tetapi mereka bermaksiat, seperti ayat di atas. (QS. al-Hujurot [49]: 6) Dan kefasiqan yang menjadikan pelakunya kafir, keluar dari Islam, seperti firman-Nya:

أَفَمَن كَانَ مُؤۡمِنً۬ا كَمَن كَانَ فَاسِقً۬ا‌ۚ لَّا يَسۡتَوُ ۥنَ

Maka apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasiq(kafir)? Mereka tidak sama.” (QS. as-Sajdah[32]: 18)[2]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ”Orang yang terang-terangan mengerjakan kefasiqan tidak boleh menjadi imam sholat, inilah pendapat ulama Sunnah. Walaupun ada sebagian yang membolehkan, namun untuk menghukumi mereka fasiq bukan perkara yang mudah seperti umumnya orang berkata. Oleh Karena itu Alloh ‘Azza wa Jalla mencela orang yang mudah memfasiqkan orang yang beriman.

بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَـٰنِ‌ۚ

Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.” (QS. al-Hujurot [49]: 11) (Liqo’ Babil Maftuh : 6/119)

Namun jika yang menjadi imam adalah waliyul ‘amri yang curang, maka kita wajib bermakmum kepadanya, karena keluar dari mereka sungguh sangat berbahaya.  ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sholat adalah perbuatan manusia yang paling baik, jika mereka baik sholatnya maka ikutilah kebaikannya, jika jelek sholatnya maka jauhilah kejelekannya.”

Dan ada sebagian yang berpendapat mengulangi sholatnya di rumah dengan tidak menampakkannya kepada orang lain.” (Tafsir al-Qurthubi: 16/312)

Adapun orang fasiq jika ia menjadi saksi, maka hukumnya haram dan wajib ditolak.[3]

Makna Tabayyun

Pada ayat di atas kita jumpai kalimat فَتَبَيَّنُوٓاْ diterjemahkan dengan “periksalah dengan teliti”.Maksudnya telitilah berita itu dengan cermat, dengan pelan-pelan, dengan lembut, tidak tergesa-gesa menghukumi perkara dan tidak meremehkan urusan, sehingga benar-benar menghasilkan keputusan yang benar. Hendaknya meneliti berita yang datang kepadamu sebelum kamu beritakan, sebelum kamu kerjakan dan sebelum kamu menghukumi orang. (Baca Tafsiru Ayatil Ahkam: 1/226, Fathul Qodir: 7/10)

Haruskah Ditolak Berita Orang Fasiq?

Apabila kita mengamati ayat di atas, Alloh ‘Azza wa Jalla tidak memperintahkan kita agar menolak berita orang fasiq atau menerimanya, karena bisa jadi beritanya benar atau salah. Karenanya wajib diteliti terlebih dahulu agar kita tidak menyesal atas kurangnya kehati-hatian kita.

Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Dari ayat ini kita dapat mengambil faidah, bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla tidak memperintahkan menolak berita dari orang fasiq dan tidak pula menyuruh untuk mendustakannya, tetapi menolak dia sebagai saksi secara umum. Kita diperintahkan agar meneliti berita yang disampaikannya, jika ada qorinah (tanda) dan bukti bahwa berita yang dibawanya benar,  maka boleh mengambil beritanya, sekalipun kefasiqan yang telah dilakukannya berat. Inilah kaidah untuk mengambil riwayat dari orang yang fasiq dan persaksiannya, sebab banyak pula orang fasiq yang benar berita dan riwayatnya dan juga persaksiannya. Sedangkan kefasiqan mereka itu urusan lain. Jika seperti ini berita atau persaksiannya tidak boleh ditolak. Akan tetapi jika kefasiqannya karna dia sering berdusta dan mengulang-ulang kedustaannya, dan sekiranya bohongnya lebih banyak dari pada benarnya, maka kabarnya dan persaksiannya tidak diterima.” (Tafsir al-Qoyyim oleh Ibnul Qoyyim: 2/130)

Mungkin ada yang bertanya: Jika berita orang fasiq tidak langsung ditolak, lalu apa faidahnya ayat di atas?

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab: “Berita orang fasiq itu ada faidahnya, yaitu menggerakkan jiwa dan semangat agar manusia bertanya dan menelitinya. Karena tanpa berita dari mereka, kita tidak bergerak dan tidak pula berusaha. Akan tetapi ketika ada berita, kita berkata: Barangkali berita itu benar, maka menggerakkan kita untuk menanya dan mencari kebenarannya. Jika ada bukti atas kebenarannya atau tanda kebenarannya, maka kita boleh mengambilnya. Namun jika tidak, maka kita menolaknya.” (Tafsirul Qur’an lil Utsaimin:7/14)

Wajibkah Tabayyun Jika Berita Itu Dari Orang yang Jujur?

Tabayyun terhadap sebuah berita bukan hanya ditujukan kepada orang yang fasiq saja, sekalipun orang fasiq lebih diutamakan karena terkait dengan kefasiqannya, akan tetapi kepada mukmin yang tsiqoh pun sebaiknya juga perlu tabayyun, karena bagaimana pun juga manusia bisa lupa dan salah.

Syaikh Abdul Muhsin al-Badr hafidzahulloh pernah ditanya: “Alloh subhanahu wa ta’alaberfirman di dalam QS. al-Hujurot [49]:6, apakah berita dari orang yang bukan fasiq diterima, mengingat orang muslim pada asalnya bersifat adil?”

Beliau menjawab: “Menurut asalnya orang muslim itu tidak dikenal kejujurannya, sampai diketahui dia jujur atau tidak. Seandainya orang Islam itu asalnya benar atau jujur, tentu tidak perlu digelari tsiqoh (dapat dipercaya), atau dia demikian dan demikian. Inilah asalnya orang Islam. Akan tetapi manusia berbicara tentang ta’dil (pujian) dan jarh (celaan) tsiqoh dan dho’if,kuat atau lemahnya hafalannya. Ini bukan berarti jika orang Islam tidak dijumpai kelemahannya lalu dihukumi tsiqoh atau dapat dipercaya. Karena pernyataan dia dipercaya atau tidak atas dasar ilmu, setelah meneliti keadaannya. “(Syarah Sunan Abi Dawud: 92/28)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh ditanya: “Ketika datang orang menyampaikan berita kepadaku, kami berkata: ‘Kami teliti dahulu, karena Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam QS. al-Hujurot: 6’ Lalu orang itu menanya kepadaku: ‘Apakah saya ini orang fasiq? atau kamu menuduh saya fasiq?’ Maka bagaimana pendapat Anda wahai Syaikh?”

Jawab beliau: “Meneliti berita dibutuhkan dua perkara:
Pertama
, dari sisi amanat. Inilah yang dimaksud dalam QS. al-Hujurot: 6, karena orang fasiq tidak amanat.
Kedua
, dari sisi kekuatan. Yaitu kekuatan ingatannya ketika menerima berita atau menyampaikannya dengan cepat sekali. Maka ketika saya berkata kepadanya, saya akan teliti dulu, bukan berarti saya mengatakan kamu fasiq, kamu menurut saya adalah orang yang jujur, akan tetapi boleh jadi kamu memahami ayat keliru, atau terburu-buru, atau lupa.

Namun sebaiknya jika menjumpai orang yang dhohirnya jujur dalam menyampaikan berita, kita tidak membacakan QS. al-Hujurot: 6, agar dia tidak tersinggung. Akan tetapi katakan kepadanya: ’Saya menerima beritamu, akan tetapi kami pelajari dahulu.’ Tentunya bila hatinya ragu-ragu.” (Liqo’ Babil Maftuh: 11/207)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Ayat ini membantah pendapat orang yang berkata bahwa semua orang muslim dapat dipercaya beritanya sehingga diketahui cacatnya, karena Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar meneliti berita sebelum menerimanya, dan bukan maksudnya penelitian itu dilakukan setelah dilaksanakan hukum, karena keputusan hakim sebelum mengadakan penelitian boleh jadi menimpakan hukuman yang salah kepada yang dihukum.” (Tafsir al-Qurthubi: 16/311)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: “QS. al-Hujurot: 6 memberitahukan bahwa jika ada orang yang jujur menyampaikan berita maka beritanya kita terima, akan tetapi ketentuan ini harus dipelajari lagi sebagaimana keterangan ayat dan hadits yang shahih, misalnya saksi pelaku perbuatan zina, jika datang kepada kita satu orang yang istiqomah dan baik akhlaknya, lalu dia berkata bahwa fulan berbuat zina, maka kita tidak menerimanya walaupun dia orang yang jujur, bahkan dia dicambuk delapan puluh kali karena menuduh orang yang tidak berbuat zina. Maka dalam hal ini kita hukumi dia fasiq sekalipun dia orang yang jujur sehingga dia bertobat. “ (Baca QS. an-Nuur [24]: 4 dan Tafsir al-Qur’an lil Utsaimin: 7/14)

Kesimpulannya, tabayyun terhadap sebuah berita sangat diperlukan sekalipun dari orang muslim yang dipercaya, karena tabayyun berbeda dengan buruk sangka, akan tetapi penelitian yang dilakukan adalah untuk mencari tambahan keterangan.

Adab Ketika Datang Berita

Perlu dimaklumi bahwa berita yang kita dengar dan kita baca tidak mesti semuanya benar. Terlebih lagi kita hidup pada zaman yang banyak terjadi fitnah, hasud, ambisi kedudukan, bohong atas nama ulama, baik itu dilakukan melalui internet, koran, majalah maupun media masa lainnya. Berita ini bukan hanya merusak kehormatan manusia, akan tetapi merusak ajaran Islam dan pemeluknya.

Sikap yang benar yang harus dilakukan agar kita tidak terpancing oleh berita fitnah ialah sebagaimana ajaran Islam membimbing kita, di antaranya:

  • Tidak semua berita harus kita dengar dan kita baca, khususnya berita yang membahas aib dan membahayakan pikiran.
  • Tidak terburu-buru dalam menanggapi berita, akan tetapi diperlukan tabayyun dan pelan-pelan dalam menelusurinya.

Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“التاني من الله والعجلّة من الشيطان”

Pelan-pelan itu dari Alloh, sedangkan terburu-buru itu dari setan.” (Musnad Abu Ya’la: 7/247,dishohihkan oleh al-Albani: 4/404)

Al-Imam Hasan al-Bashri rahimahulloh berkata: “Orang mukmin itu pelan-pelan sehingga jelas perkaranya.”[4]

Syaikh Sholih Fauzan hafidzahullah berkata: ”Hendaknya kita pelan-pelan dalam menanggapi suatu perkataan, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa menghukumi orang, hendaknya tabayyun. Sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa Jalla dalam QS. al-Hujurot[49]: 6 dan QS. an-Nisa[4]: 94.” (al-Muntaqo min Fatawa al-Fauzan: 3/25)

  • Waspada terhadap pertanyaan yang memancing, karena tidak semua penanya bermaksud baik kepada yang ditanya, terutama ketika menghukumi seseorang. Oleh karena itu tidak semua pertanyaan harus dijawab. Bahkan menjawab ‘saya tidak tahu’ adalah separuh dari pada ilmu. (Hasyiyatul Utsuluts Tsalatsah: 1/118 oleh Abdurrohman bin Muhammad an-Najdi)
  • Hendaknya waspada menanggapi berita pelecehan kepada ulama Sunnah.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: “Sesungguhnya sebagian manusia kadang kala salah dalam memahami perkataan ulama, dan kadang kala seorang ulama memahami pertanyaan tidak seperti maksud penanya, lalu dia pun menjawab sesuai dengan yang dia pahami. Kemudian penanya ini menyebarkan perkataan yang tidak benar. Betapa banyak perkataan yang dinisbahkan kepada para ulama yang mulia, akan tetapi tidak ada dasarnya. Oleh karena itu wajib bagi kita meneliti perkataan orang yang memindah fatwa ulama atau bukan ulama terutama pada zaman sekarang, di mana hawa nafsu dan fanatik golongan menyebar, sehingga manusia berjalan bagaikan buta mata.” (Tafsirul Qur’an oleh Ibnu Utsaimin:7/17)

  • Hendaknya waspada mendengar berita yang disebarkan oleh pihak yang berprasangka buruk. Alloh ‘Azza wa Jalla menyuruh kita agar berbaik sangka dan menjauhi buruk sangka. (Baca QS. al-Hujurot [49]: 12).

Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ايّاكم والظنّ فانّ الظنّ اكذب الحديث

“Jauhilah dirimu  dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. al-Bukhori: 5144)

  • Jauhilah berita yang bersumber dari peng-ghibah dan pemfitnah.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Penyebab orang itu memfitnah adakalanya karena ingin berbuat jelek kepada orang yang difitnah, atau ingin menampakkan kesenangan kepada yang diberi kabar, atau untuk mendengarkan cerita atau obrolan perkara yang batil. Ini semua adalah haram, maka haram bagi kita membenarkan orang yang membawa berita untuk memfitnah dengan cara apa pun, karena pemfitnah adalah orang fasiq yang wajib ditolak kesaksiannya.”[5]

Ada orang yang datang kepada Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, dia menjelaskan kejelekan orang lain, lalu Umar rahimahullah berkata: “Jika kamu mau, kami akan periksa dahulu berita darimu ini, jika kamu pendusta maka kamu di dalam QS. al-Hujurot: 6, dan jika kamu benar maka kamu termasuk firman Allah ‘Azza wa Jalla

هَمَّازٍ۬ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٍ۬ 

Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah. ”(QS. al-Qolam [68]: 11)

Jika kamu mau, aku maafkan kesalahanmu.” Lalu orang itu berkata: “Saya memilih dimaafkan wahau Amirul Mukminin dan saya tidak akan mengulangi perkataan ini lagi.” (Nihayatul Arbi fi Fununil ‘Adab: 1/347)

Subhaanallaah! Betapa indahnya para penuntut ilmu pemula pada zaman ini bila mau mengambil faedah dari ulama yang mulia ini, sebuah nasihat emas yang bermanfaat untuk umat.

  • Waspadalah dari berita orang yang mengumbar lisannya tanpa ilmu dan tidak takut dosa. Orang Islam hendaknya tidak membicarakan sesuatu yang dia tidak tahu perkaranya, karena Allah ‘Azza wa Jalla mengancam orang yang berbuat dan berbicara tanpa ilmu. (Baca QS. al-Isro’[17]: 36 dan QS. al-A’rof [7]: 33)
  • Waspadalah berita yang disebarkan penyembah hawa nafsu dan fanatik golongan. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa manusia wajib meneliti berita terutama yang disampaikan oleh penyembah hawa nafsu dan fanatik golongan atau perorangan. Jika berita datang dari orang yang kurang dipercaya, maka wajib diteliti dan jangan terburu-buru dalam menghukuminya padahal berita itu dusta, maka kamu akan menyesal. Dari sinilah datang dalil ancaman keras bagi orang yang menggunjing, yaitu menukil sebagian perkataan orang yang bermaksud merusak orang lain. Rosulullahsallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يدخل الجنة فتّات

“Tidaklah masuk Surga orang yang pemfitnah.”(Tafsir Ibnu   Utsaimin: 7/16)

Adab Menyampaikan Berita

Tidak semua berita yang kita terima boleh kita sebarkan, karena sumber berita ada kalanya dari orang fasik, orang dengki, pemfitnah bahkan dari orang kafir.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata: ”Meneliti berita yang disampaikan oleh orang kafir lebih ditekankan. Oleh karenanya persaksian orang kafir tidak bisa diterima kecuali dalam keadaan darurat, seperti wasiat ketika orang muslim meninggal dalam bepergian dan tidak menjumpai orang muslim.” (Fatawa Nur ‘alad Darb Ibnu Utsaimin)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullaah berkata: ”Kita hendaknya meneliti berita yang disampaikan oleh orang kafir dan orang fasik tentang perbintangan dan lainnya, tidak boleh terburu-buru membenarkan atau menolaknya, sehingga benar-benar kita mengetahuinya. Inilah makna QS.Al-hujurot [49]: 6.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz: 1/255)

Fatwa ulama yang mulia ini bukan hanya sekedar keluar dari pikiran mereka, akan tetapi berdasarkan hadits Rosulullaah shollalloh ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

كفى بالمرء كذبا ان يحدّث بكل ما سمِع

Cukuplah orang itu dikatakan pendusta apabila menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR.Muslim:1/12, bersumber dari Hafsh bin ‘Ashim)

Demikian juga berita yang telah terbukti kebenarannya, tidak harus kita sebarkan apalagi jika hal itu membawa bahaya atau resahnya umat. Bukankah meng-ghibah hukumnya haram, walaupun perkataan tentang aib saudaranya itu benar adanya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menanya sahabatnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (8/21): ”Tahukah kalian apa yang dinamakan ghibah?” Mereka menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tau.” Lalu beliau bersabda:

ذِكرك اخَاك بما يكْره

“Kamu menyebut apa yang dibenci saudaramu”

Mereka bertanya: “Bagaimana bila yang aku sebut itu benar-benar terjadi?” Rosulullohshollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika benar apa yang kalian katakan, maka kalian meng-ghibah. Jika tidak benar, kalian membuat kebohongan.”

Jika mengghibah orang muslim awam saja terlarang, maka bagaimana dengan ulama pembela sunnah? Ini semua dilarang karena membahayakan umat. Umat akan menjauhi orang yang berilmu dan terjadilah petaka.

Demikian juga dilarang membeberkan kesalahan para pemimpin di mimbar atau media masa (surat kabar, intenet, dan media lainnya). Karena yang demikian itu pada hakekatnya bukanlah menasehati pemimpin, tetapi menyebarkan kedholiman yang meresahkan umat.

Lalu kapan kita diperbolehkan menyebarkan berita jelek atas diri seseorang? Yaitu jika kejahatan yang mereka lakukan itu jelas-jelas membahayakan umat, seperti: pencuri, perampok, perusak keamanan, penyeru bid’ah dan syirik. Karena jika hal itu didiamkan akan membawa kerusakan yang lebih besar.

Tetapi dalam hal ini tidak berlaku untuk sembarang orang, ada orang yang lebih berhak menangani hal tersebut.

Kita boleh menyebut kejahatan orang bila bermaksud meminta fatwa kepada orang yang berhak dimintai fatwa.

Hindun Ummu Muawiyyah radhiyallohu ‘anha pernah berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang bakhil, apakah saya berdosa jika mengambil hartanya?” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Ambillah untukmu dan anakmu secukupnya dengan cara yang baik.” (HR.Al-Bukhori:1/186)

Hendaknya kita menyebarkan berita yang benar dan bermanfaat bagi umat, seperti memberitahukan permulaan bulan Romadhon, hari raya, waktu sholat, kajian ilmiah dan berita bermanfaat lainnya. Dan hendaknya kita tidak menyebarkan berita apabila mengakibatkan manusia malas beribadah. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada sahabat Mu’adz rodhiyallohu ‘anhu:

ما من احدٍ يشهد ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله صدقا من قلبه الا حرّمه الله على النار قال يا رسل الله، افلا اخبر به الناسَ فيستبشروا قال اذًا يتكلوا. واخبر بها معاذً عند موتهِ تاثُّما

“Tidaklah seorang pun yang bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan Muhammad itu utusan Alloh benar-benar dari hatinya yang ikhlash melainkan Alloh mengharamkan dirinya masuk neraka.” Lalu Mu’adz berkata: “Wahai Rosululloh! Bolehkah aku beritahukan kepada manusia agar mereka gembira.” Beliau menjawab: “Kalau begitu, mereka akan bergantung pada kalimat ini saja saat mau meninggal dunia karena takut berdosa.” (HR.Bukhori:1/230)

Hendaknya kita tidak menyebarkan berita yang itu haknya ulama sunnah dan pemimpin. Allohsubhaanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٌ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦ‌ۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنۡہُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُ ۥ مِنۡہُمۡ‌ۗ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil ‘Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui  kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil ‘Amri).” (QS. an-Nisa’ [4]: 83)

Syaikh Abdurrozzak bin Abdul Muhsin hafidzahullah berkata: “Hendaknya kalian memperhatikan ayat ini (QS. an-Nisa’: 83 ), di dalamnya mengandung pelajaran. Jika terjadi perkara yang mengganggu keamanan negara, hendaknya tidak sembarang orang boleh bicara, tidak minta fatwa kepada sembarang manusia. Akan tetapi kembalikan urusan ini kepada ulama yang kuat mendalami ilmu agama dan ahli ijtihad. (Amnul Bilad Ahammiyatuhu wa Wasaailu Tahqiqihi wa Hifdzihi hlm: 25)

Hendaknya tidak menyebarkan berita yang melecehkan ulama sunnah. Banyak kita jumpai di internet, surat kabar dan media masa lainnya tentang pelecehan terhadap ulama sunnah yang dikemas sedemikian rupa oleh ahli bid’ah dan penyembah hawa nafsu, misalnya terhadap Syaikh al-Albani, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah dan yang lainnya.

Hendaknya kita tidak menyebarkan berita yang tidak berdasar ilmu, misalnya katanya fulan demikian dan demikian. Karena yang demikian itu adalah tuduhan tanpa ilmu. Rosulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ان الله كره لكم ثلاث قيل وقال، واضاعةَ المالِ وكثرةََ السؤال

“Sesungguhnya Allah membenci kamu tiga perkara: katanya dan katanya, menyia-nyiakan harta dan sering bertanya (yang tidak bermanfaaat).” (HR. al-Bukhari: 5/482)

Penyebar fitnah bukan hanya dari orang kafir saja, namun juga sesama muslim. Dan yang kedua inilah yang justru berbahaya, karena mereka memakai topeng ayat dan sunnah untuk merusak ayat dan sunnah serta orang awam yang ingin kembali kepada sunnah. Siapakah yang berkata “orang yang berjenggot itu kambing kibas”, “orang yang memakai celana di atas mata kaki itu kelompok teroris, korban banjir”, kelompok salafy dibiayai orang yahudi, agama itu sama saja!? Apakah dari orang Hindu dan semisalnya? Tidak.

Karena itulah Rosulullah mengingatkan kita agar berhati-hati kepada da’i yang berada di ambang pintu Jahannam, mereka adalah manusia yang mengaku beragama Islam.

Semestinya tokoh umat Islam ini senang bila ada orang yang berpegang dan mengamalkan Islam, bukan malah sebaliknya. Rosulullah bersabda:

فان دماءكم واموالكم عليكم حرام، كحرمةِ يومِكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا الى يوم تلقونَ ربَّكم

Maka sesungguhnya darahmu dan hartamu haram diganggu sebagaimana haramnya kamu mengganggu saudaramu pada hari ini (Arafah), pada bulan ini (Dzulhijjah) dan di negeri ini (Makkah), sampai hari engkau menjumpai Robbmu.” (HR. al-Bukhari: 6/412)

Wahai penyebar fitnah! Hendaklah kalian waspada. Bisa jadi kalian lolos dari hukuman dunia, akan tetapi ingatlah siksaan di akhirat lebih pedih dan lebih hina.

Agar kita tidak menjadi penggunjing dan pemfitnah, mari kita perhatikan bahayanya.

  • Penyebar fitnah akan mendapat siksaan.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَـٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar [berita] perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.(QS. an-Nur [24]:19)

  • Dia memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱڪۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَـٰنً۬ا وَإِثۡمً۬ا مُّبِينً۬ا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(QS. al-Ahzab [33]: 58)

  • Melenyapkan amal baiknya apabila perkaranya tidak diselesaikan di dunia.

Dari Abu Hurairah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang dirinya merasa mendholimi saudaranya, hendaklah dia membebaskannya, karena tidaklah di sana dia memiliki satu dinar dan satu dirham berupa kebaikan melainkan akan diambil oleh saudaranya. Maka jika dia tidak memiliki kebaikan, akan diambilkan dosa saudaranya lalu dilemparkan kepada dirinya. (HR. al-Bukhari: 2269)

  • Penyebar kebohongan tanda inkarul Qur’an (mengingkari al-Qur’an)

Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَفۡتَرِى ٱلۡكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡڪَـٰذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang2 yang tidak beriman kepada ayat2 Allah, dan mereka itulah orang2 pendusta.” (QS. an-Nahl [16]:105)

  • Lebih berat dosanya dari pada pemakan riba.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya paling beratnya dosa riba orang yang selalu melecehkan orang muslim tanpa dalil yang benar.” (HR. Abu Daud: 14/163, bersumber dari Sa’id bin Zaid. Dishahihkan olah al-Albani dalam kitab at-Targhib wat Tarhib: 2/238)

Jika pelaku riba memakan harta riba, maka orang yang memfitnah itu sama halnya dengan memakan daging saudaranya yang mati (baca QS.al-Hujurot[49]:12)

  • Pemfitnah berarti meneror saudaranya.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

tidaklah halal seorang muslim meneror seorang muslim lainnya.” (HR. Abu Dawud: 14/344. Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Ghayatul Maram: 1/257 )

  • Penyebar berita fitnah hendaknya takut akan adzab Allah ‘Azza wa Jalla

Karena sesungguhnya tidak satu kalimat yang keluar dari mulutnya melainkan malaikat mencatatnya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ۬

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof [50]:18)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari bala’  fitnah dan dari memfitnah.

Diketik ulang dari majalah al-Furqon no. 99 edisi 7 tahun kesembilan, Shafar 1431 H (jan/feb 10) hal. 8-11 di http://syababpetarukan.wordpress.com/2010/11/04/tabayyun-dalam-menerima-berita/


[1] Baca QS. al-Kahfi[18]: 50 serta baca pula Tafsir Ayatul Ahkam: 1/534

[2] Baca kitab Madarikush Salikin: 1/360 dan ash-Sholatu wa Hukmu Tarkiha: 1/72 oleh Ibnul Qoyyim al-Jauzi dan Majmu’ Fatawa warosail Ibnu Utsaimin: 8/562

[3] Baca QS. an-Nuur [4]: 4, untuk lebih jelasnya baca kitab Adhwaul Bayan fi Tafsiril Qur’an bil Qur’an

[4] Mausuatul Khitob wad Durus oleh Ali bin Naif al-Syahud: 7/203

[5] Baca firman Alloh ‘Azza wa Jalla dalam QS. al-Hujurot[49]: 6 [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz: 3/238]

 

Iklan