Surat Untuk Suamiku


Surat Untuk Suamiku

Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir al-Jakarti

surat 2Wahai suamiku…, kutulis surat ini dengan kehangatan cinta dan kasih sayang kepadamu. Semoga Allah senantiasa menjaga kita.

Wahai Suamiku, engkau adalah pemimpin rumah tangga kita, aturlah kami dengan aturan Allah, pimpinlah kami untuk taat kepada-Nya, bimbinglah kami terhadap apa yang maslahat (baik) untuk kami. Insya Allah engkau akan mendapatiku dan anak-anak menghormatimu, memuliakanmu dan taat kepadamu. Itulah kewajiban sebagai seorang yang dipimpin kepada yang memimpin.

Allah Ta’aalaa berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (Qs. an-Nisa’:34)

 

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Baqarah : 228)

Wahai suamiku, engkau adalah anugerah dan kenikmatan yang besar yang Allah karuniakan kepadaku. Ketika banyak para wanita yang belum menikah, Allah mengaruniakanku seorang suami shalih -Insya Allah- seperti dirimu. Ketika banyak dari para wanita yang mempunyai suami yang tidak memperhatikan agama istrinya, Allah memberikanku seorang suami yang selalu menyemangatiku untuk hadir ke majelis-majelis ilmu. Ketika banyak suami yang acuh-tak-acuh dengan perbuatan-perbuatan istrinya yang salah, Allah memberikan kepadaku seorang suami yang selalu menasehatiku. Ketika banyak suami yang tak peduli halal dan haram ketika ia mencari rezeki, Allah memberikan kepadaku seorang suami yang merasa cukup dengan yang halal. Banyak lagi kebaikan dan keutamaanmu, apakah pantas  bagiku untuk tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat dirimu, apakah pantas bagiku untuk tidak berterima kasih  kepadamu dengan segala kebaikanmu, kasih sayangmu, perhatianmu, jerih payahmu untuk diriku…

Allah Ta’aala berfirman : Lanjutkan membaca

Iklan

“Surat Untuk Istriku”


 Surat Untuk Istriku

Al-Ustadz Abdullah al-Jakarty

suratWahai istriku, ku teringat sebuah kewajiban yang harus ku tunaikan sebagai seorang suami, sebagai seorang nahkoda dalam kapal kita, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga kita, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah ayat dan hadist yang tak hanya sekali ku mendengarnya. Allah Ta’aala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (An Nisa :34)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِه وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِوَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِزَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ رَعِيَّتِهِا

 “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Wahai istriku, ku akan berusaha menjadi suami yang baik, yang menyayangimu yang berusaha untuk berta’awun (saling tolong menolong) dalam kebaikan. Semoga aku bisa merealisasikan sebuah ayat, dimana Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikkan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah:2)

atau ku bisa manjadi seperti seorang hamba yang Allah rahmati, karena membangungkan istriku untuk shalat malam. sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadist

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu sholat kemudian membangunkan istrinya untuk shalat, apabila enggan bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i di hasankan oleh Syaikh al-Albani) Lanjutkan membaca

Ilmu VS Maksiat


Ilmu VS Maksiat

Oleh Ust. Abu Faiz Sholahudin

cropped-siip.jpgIlmu adalah anugerah Allah ta’ala, dan ia adalah amanat Allah azza wa jalla. Maka ilmu tidak diberikan kecuali kepada orang yang Allah kehendaki, dan amanat itu tidak akan diberikan kepada orang yang khianat, maka ilmu akan bersama dengan jiwa-jiwa yang bersih dan akan lari dari jiwa-jiwa pendosa.

  • Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu’anhu- mengatakan:

إنّي لأحسب أنّ الرّجل ينسى العلم قد علمه بالذّنب يعمله

“Sungguh aku yakin, bahwa seorang lupa dengan ilmu yang ia dapatkan, karena dosa yang ia kerjakan”.(Jami’ Bayan al-,ilm wa Fadlihi 1/196 karya Ibn Abdil Bar)

Beliau juga mengatakan:

إنّي لأحسب أنّ الرّجل ينسى العلم بالخطيئة يعملها

“Sungguh aku yakin, bahwa seorang dapat lupa dengan ilmunya, disebabkan karena kesalahan (dosa) yang ia perbuat”. (Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab al-Sami’ 2/257 karya al-Khatib al-Baghdadi)

  • Fudloil bin ‘Iyadl mengatakan:

أكذب النّاس العائد في ذنبه و أجهل النّاس المدلّ بحسناته و أعلم النّاس بالله أخوفهم منه لن يكمل عبد حتّى يؤثّر دينه على شهوته ولن يهلك عبد حتّى يؤثّر شهوته على دينه

“Manusia pendusta adalah yang kembali pada perbuatan dosanya. Manusia terbodoh adalah yang terperdaya dengan kebaikannya. Manusia yang paling mengetahui tentang Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Belum sempurna agama seseorang hamba hingga agamanya mengalahkan syahwatnya. Tidak binasa seseorang sampai syahwatnya mengalahkan agamanya.” (Syiar A’lam an Nubala jilid 8 hln. 427 karya adz-Dzahabi)

  • Malik bin Anas mengatakan:

يا أبا عبدالله: هل يصلح لهذا الحفظ (العلم) شيء؟ قال: إن كان يصلح له شيء فترك المعاصي

“Wahai abu abdillah, apakah ada sarana untuk dapat menghafal ilmu ini?” Beliau menjawab, “Bila ada sarana yang menjadikan kuatnya hafalan maka ia adalah meninggalkan maksiat.” (Al-Jami’ li Akhlak ar-Rowi wa Adab as-Sami’ 2/258 karya al-Khatib al-Baghdadi) Lanjutkan membaca

Inshaf; Karakter Ahli Sunnah


Inshaf; Karakter Ahli Sunnah

Oleh Ustadz Abu Khaleed (Lulusan Hadits Universitas Al-Azhar-Mesir)

timbangan.Inshaf (adil dan pertengahan) terhadap orang yang menyelisihi kebenaran merupakan manhaj ahli sunnah wal jamaah. Al-Quran dan As-sunnah menjelaskan bahwa sikap inshaf adalah akhlak mulia yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Adab-adab yang terkait dengannya, sangat penting untuk diperhatikan agar seorang muslim tidak terjatuh kepada perbuatan aniaya dan zalim, yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini adalah diantara adab-adab yang mesti diperhatikan itu:

1. Objektif dan berusaha untuk tidak berlebihan ketika berbicara atas orang-orang yang menyelisihi

Sering kali maksud dalam berbicara atas orang lain yang dianggap melakukan pelanggaran menjadi samar dan bias. Terkadang ada maksud ingin dikenal, dendam, membela diri, atau membela kelompoknya.

Ibnu Taimiyyah memperingatkan orang-orang yang membantah ahli bid’ah dari biasnya maksud dan niat, “… dan begitu juga bagi orang yang membantah ahli bid’ah baik dari kalangan rafidhah atau yang lainnya, ketika mencela bid’ah atau kemaksiatan dengan sangat keras, tujuannya adalah menjelaskan keburukan itu, agar manusia berhati-hati darinya, sebagaimana yang terdapat dalam nashush (teks-teks) syar’i yang berupa ancaman. Terkadang seseorang dihajr (boikot) dalam rangka menghukumnya, dan maksud semua itu adalah untuk membuatnya dan orang-orang yang semisalnya jera, sebagai bentuk kasih sayang dan kebaikan, bukan balas dendam.

Ibnul Qayyim juga memperingatkan, “Setiap kelompok akan menilai kelompok dan perkataannya dengan lafadz-lafadz yang paling baik, sementara menilai perkataan orang-orang yang bersebrangan dengannya dengan lafadz-lafadz yang paling buruk. Namun bagi orang yang dikaruniai bashirah oleh Allah, maka ia akan mampu menyingkap apa yang ada dibalik lafadz-lafadz itu dari kebenaran atau kebatilan. Maka, jangan tertipu dengan sekedar lafadz sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

Ketika kau memujinya kau sebut ia (madu) hasil dari lebah

Jika engkau ingin kau juga bisa menyebutnya dengan muntah lebah

Pujian dan celaan engkau tidak melampaui sifatnya

Kebenaran saja terkadang ditimpa buruknya pengungkapan Lanjutkan membaca

Hentikan Celaan, Jaga Kehormatan Sesama Muslim


Hentikan Celaan, Jaga Kehormatan Sesama Muslim

Oleh Ustadz Abu Khaleed (Lulusan Hadits Universitas Al-Azhar-Mesir)

menangikis syubhatSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah menutup pembahasan akidah dalam risalahnya yang terkenal “Al Aqiidah al Waasithiyyah” dengan fasal yang membahas tentang akhlak yang mulia. Ini menunjukkan, bahwa seharusnya akhlak yang mulia menjadi karakter kuat yang ada pada diri para penganut akidah yang lurus. Maka sungguh ironis, jika ada orang yang mengaku bermanhaj dan berakidah lurus, namun ternyata akhlaknya buruk; gemar mencela, merendahkan, menghina dan suka memberi gelar-gelar buruk kepada sesama.

Belakangan ini, keindahan manhaj salaf yang mulia ini kembali tercoreng karena sepak terjang sosok-sosok para pencela. Ajaibnya mereka menjadikan celaan sebagai agama. Tidak peduli kehormatan saudaranya terhina, gelar-gelar buruk dan caci maki sangat ringan di lisan mereka. Padahal, mencela dan menjatuhkan kehormatan orang lain sangat bertentangan dengan syariat. Kehormatan adalah satu dari lima dasar kebutuhan primer (al kulliyaatu al khams) manusia yang dijaga keutuhannya oleh syariat. Diantaranya dengan diharamkannya perbuatan mencela dan menghina sesama.

Larangan Mencela

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian..”(HR Bukhari Muslim)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujarat [49]: 11) Lanjutkan membaca

Azab Kubur; Membela Prinsip Ahli Sunnah


Azab Kubur; Membela Prinsip Ahli Sunnah

Oleh Ustadz Abu Khaleed (Lulusan Hadits Universitas Al-Azhar-Mesir)

Pengantar

makam syar`iAjaran Islam sedikitnya terbagi kepada tiga bagian besar; akidah, ibadah dan akhlak. Pembagian ini berdasar pada perbedaan karakteristik bahasan, urgensitas dan konsekwensi-konsekwensi setiap bagiannya. Pembagian ajaran kepada tiga terma ini sedikit banyak telah mewakili cakupan ajaran Islam yang begitu luas. Dari ketiga bagian tersebut, terma akidah membahas tema-tema paling krusial dalam Islam. Inti dan pokok-pokok yang membangun ajaran Islam dikategorikan sebagai persoalan akidah yang memiliki konsekwensi-konsekwensi signifikan dalam kehidupan beragama seseorang.

Itulah sebabnya, persoalan akidah mendapat perhatian khusus dalam Islam. Kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia berupa hal-hal yang harus diimani dalam hati menjadi awal dari segala bentuk ketaatan dan ketundukan, sebelum kewajiban-kewajiban dalam bentuk amal-amal zahir anggota badan. Kerancuan dalam konsep akidah yang seharusnya diyakini tersebut, akan berakibat fatal dan bahkan bisa merontokkan seluruh prinsip Islam.

Penyelewengan dalam akidah memang tidak selalu berakibat lucutnya keislaman seseorang. Konsekwensi kesesatan yang ditimbulkan dari penyelewengan akidah tergantung kepada bentuk dan jenis permasalahannya. Sebagiannya bisa berakibat kekafiran dan sebagiannya lagi tidak.

Keimanan sebagai inti yang mendasari keberlangsungan beragama seseorang, seperti yang sering Allah ungkapkan dalam kitab-Nya, sangat mengandaikan ketundukan dan penerimaan yang total terhadap seluruh ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Inilah sikap yang kelak akan sejalan dengan konsep akidah yang benar, yang akan menyelamatkan manusia dari kehancuran. Setiap muslim dituntut menerima dengan segenap keyakinan apapun yang Allah tetapkan dan tanpa ragu menanggalkan segala bentuk penolakan, apapun alasannya, hingga jika hal tersebut bertentangan dengan akal dan keinginan hatinya.

Tulisan sederhana ini akan membahas salah satu substansi akidah yang cukup penting. Ketetapan seputar azab kubur dan persoalan yang melingkupinya akan menjadi fokus bahasan tulisan ini. Dalam tulisan singkat ini, penulis hanya berusaha menyusun kembali beberapa hujjah dalam penetapan azab kubur, baik dalam Al-Quran dan Sunnah, serta menukilkan perkataan dan komentar para ulama ahli sunnah dengan mengacu kepada sumber-sumber buku akidah mereka. Lanjutkan membaca

Membendung Fitnah dengan Tabayyun


 Membendung Fitnah dengan Tabayyun

salinan dari artikel berjudul:
TABAYYUN DALAM MENERIMA BERITA

tabayyunJangan heran jika dalam sebuah hubungan persaudaraan tiba-tiba terjadi perseteruan sengit. Setelah diusut, biangnya adalah salah dalam menerima dan menyampaikan sebuah berita. Jangan pula mengira, berita dari mulut ke mulut,
berita dari surat kabar dan sebagainya, itu pasti benar.
Boleh jadi itu adalah bisikan iblis yang masuk
ke jiwa pendengki yang ingin merenggut nyawa dan akidahmu.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ
أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6)

Makna Ayat Secara Umum

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Jika ada orang fasiq membawa berita maka hendaknya diteliti terlebih dahulu, tidak langsung diterima. Jika langsung diterima maka bisa menjatuhkan pelakunya kepada perbuatan dosa. Berita orang fasiq tentu tidak sama dengan berita orang yang benar. Jika dianggap sama (tidak dilakukan tabayyun) maka bisa berakibat saling bunuh, hilangnya harta dan nyawa tanpa bukti yang benar, dan pasti menyesal.

Oleh karena itu, apabila datang berita dari orang yang fasiq hendaklah diteliti, jika berita yang disampaikan nyata atau ada tanda kebenarannya, maka boleh diterima. Namun jika berita itu dusta maka dustakanlah dan tolaklah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa berita orang yang benar boleh diterima dan berita orang pendusta ditolak. Sedangkan berita orang fasiq ditangguhkan sampai ada bukti lain yang menunjukkan kebenaran atau kedustaannya. Sehubungan dengan hal itu, ulama salaf menerima berita orang khawarij yang dikenal kejujurannya, sekalipun mereka itu fasiq.” (Tafsir al-Karimir-Rahman: 1/799)

Sebab Turun Ayat

Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’idradhiyallahu ‘anhu pergi ke bani  al-Mustaliq guna mengambil zakat. Tatkala bani al-Mustaliq mendengar ini, mereka gembira lalu pergi menemui Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika al-Walid mendapat berita bahwa mereka pergi menemui Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam, pulanglah dia menjumpai Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Wahai Rosulullah! Sesungguhnya bani al-Mustaliq enggan membayar zakat.” Tatkala Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam mendengar berita tersebut (al-Walid radhiyallaahu ‘anhu), beliau marah sekali. Saat itu pula, beliau sallallaahu ‘alaihi wa sallam merencanakan menjumpai mereka. Tiba-tiba datanglah utusan ( bani al-Mustaliq) seraya berkata: “Wahai Rosulullah! Kami mendapat berita bahwa utusanmu pulang di tengah perjalanan, sedangkan kami khawatir dia pulang karena menerima surat dari Anda, lalu baginda marah kepada kami, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kemarahan-Nya dan kemarahan utusan-Nya.”

Karena Rosulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam ingin menyerangnya, maka Alloh menurunkan udzur mereka di dalam ayat ini, yaitu QS. al-Hujurot[49]: 6.” (HR. al-Bukhari: 8/95, dishahihkan oleh al-Albani, baca Silsilah Shohihah: 8/95)

Makna Fasiq Lanjutkan membaca