HADITS AHAD, HUJJAHKAH???


HADITS AHAD, HUJJAHKAH???

Membahas Tentang Polemik Hadits Ahad
Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim
Muqaddimah
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :
        hadits ahad, hujjahkah    Ikhwah yang dirahmati Allah, salah satu karakteristik ahlus sunnah wal jamaah dalam manhajul istidlal[1] adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql dalam sebuah risalahnya:
كل ما صحّ من سنة رسول الله وجب قبوله والعمل به، وإن كان آحاداً في العقائد وغيرها
Artinya: Seluruh yang shahih dari hadits Rasulullah wajib untuk diterima dan diamalkan baik yang berkaitan dengan aqidah ataupun selainnya, meski hadits tersebut ahad.[2]
Hal ini merupakan bukti nyata dari ketaatan yang sempurna kepada Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan sebagai aplikasi ungkapan cinta kita yang murni kepada beliauyang tentunya merupakan implementasi nyata bagi syahadat yang senantiasa terlafadz dalam lisan basah kita “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”.
Sebuah bait Syair dengan sangat fashih terlantunkan:
لو كان حبّك صادقا لأطعته          فإن المحبّ لمن يحبّ مطيع
Artinya: Seandainya cintamu sejati niscaya engkau akan mematuhinya, sesungguh sang pecinta akan patuh kepada yang dicintai.[3]
            Kendati pemaparan tentang manhajul istidlal yang benar menurut manhaj ahlus sunnah -terkhusus berkaitan dengan hadits-hadits Nabi- sarat menghiasi kitab para ulama kita dari masa ke masa, namun sangat disayangkan, ternyata sangat banyak dari kalangan kaum muslimin yang buta tentang hal ini, sehingga mereka mudah terperangkap ke dalam jaring-jaring iblis dalam masalah ini, maka ditolaklah sunnah-sunnah Nabi dan dikritiklah hadits-hadits yang tidak singkron dengan logika mereka [menurut sangkaan mereka]. Jika kita tilik secara umum, maka para pengingkar hadits bisa dibagi menjadi dua fraksi:
Yang pertama: Golongan yang mengingkari seluruh hadits Rasulullah, menolak untuk berhujjah dengan sunnah bahkan melecehkannya, merasa cukup dengan al-Qur-an sebagai satu-satunya referensi otentik, dan biasanya mereka masyhur dengan julukan Qur-aniyyun atau Inkarus Sunnah
Untuk kelompok ini, alangkah indahnya jika kita hadiahkan sebuah atsar dari tabi’in yang mulia Hasan al-Bashrii –rahimahullah-:
أن عمران بن حصين ، كان جالسا ومعه أصحابه,  فقال رجل من القوم : لا تحدثونا إلا بالقرآن ، قال : فقال له : ادنه، فدنا، فقال : « أرأيت لو وكلت أنت وأصحابك إلى القرآن أكنت تجد فيه صلاة الظهر أربعا وصلاة العصر أربعا والمغرب ثلاثا ، تقرأ في اثنتين ، أرأيت لو وكلت أنت وأصحابك إلى القرآن أكنت تجد الطواف بالبيت سبعا والطواف بالصفا والمروة ، ثم قال : أي قوم خذوا عنا فإنكم ، والله إلا تفعلوا لتضلنّ
Artinya: Bahwa Imran bin Hushain bekumpul dengan para sahabatnya, lalu seseorang mengatakan kepada beliau: jangan engkau ajarkan sesuatu kepada kami kecuali al-Qur-an saja!!, maka beliaupun memanggilnya kemudian berkata: tahukah engkau, seandainya engkau hanya belajar dari al-Qur-an saja, apakah engkau akan mengetahui bahwa shalat dhuhur empat rakaat, shalat ashar empat rakaat dan shalat maghrib tiga rakaat dengan membaca ayat alqur-an di dua rakaat pertama???, tahukah engkau, jika seandainya engkau hanya mengambil al-Qur-an saja sebagai dalil, apakah engkau akan mengetahui bahwa jumlah thawaf di Ka’bah tujuh kali, dan jumlah Sa’i juga tujuh kali???, kemudian beliau mengatakan: wahai kaum, Belajarlah dari kami!! Jika tidak, maka niscaya kalian akan tersesat.[4] Lanjutkan membaca
Iklan