Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan Hukum


Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan Hukum

Para sahabat Rodhiyallahu `Anhum

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali

Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan HukumKami tidak mengetahui khilaf(perselisihan) dalam masalah ini pada zaman sahabat. Kami hanya mendapati perkataan ahli ilmu setelah mereka yang menegaskan bahwa mazhab para sahabat adalah berhujjah dengan kabar ahad dalam hukum syariat dan aqidah.

Ibnu Qoyyim rohimahullah berkata dalam Mukhtashor Ash- Showaa`iq Al-ursalah(II/361-362), “ Di antaranya adalah pengabaran para sahabat, sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya. Mereka dahulu memastikan kabar yang disampaikan oleh salah seorang dari mereka dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. Tidak ada satupun dari mereka yang berkata kepada orang yang mengabarkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, `kabar engkau ahad tidak menghasilkan ilmu sampai mutawatir dahulu.` Adapun tawaqufnya sebagian sahabat sampai dikuatkan yang lainnya tidak menunjukkan bahwa mereka melakukan itu karena kabar tersebut adalah kabar ahad. Akan tetapi, terkadang mereka memeriksa terlebih dahulu (kebenarannya) dan inipun sangat jarang terjadi. Tidak ada seorangpun sahabat, tidak pula ahli ilmu setelahnya, merasa ragu pada apa  yang dikabarkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, tidak pula umar, Utsman, Ali, dan tidak pula Abdullah bin as`ud, Ubay bin Ka`ab, Abu Dzar, Mu`az bin Jabal, Ubadah bin Ash Shomith, Abdullah bin Umar dan para sahabat lainnya. Bahkan, merekapun tidak meragukan pengabaran Abu Hurairah padahal ia sering bersendirian pada kebanyakan hadits. Dan tidak pernah seorangpun dari mereka berkata suatu hari,` kabarmu adalah ahad, tidak menghasilkan ilmu. `dan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam lebih agung dalam dada-dada mereka dari melakukan perbuatan tersebut. Orang yang memberi kabar lebih agung gan jujur di mata mereka untuk mengatakan perkataan tadi kepadanya. Dan salah seorang dari mereka apabila meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam mengenai sifat, langsung mereka terima dan meyakini sifat tersebut secara pasti dan yakin, sebagaimana meyakini akan melihat Robb pada hari kiamat dan Allah Subhanahu wa Ta`ala akan mengajak bicara dan memangil hamba-hamba-Nya dengan suara yang dapat didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat. Juga meyakini turunnya Allah Subhanahu wa Ta`ala ke langit dunia pada setiap malam, meyakini sifat tertawa, gembira, memegang langit dengan salah satujari-jemari-Nya dan menetapkan kaki. Orang yang mendengar hadits-hadits ini dari orang yang mengakabarkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam atau dari sahabat lainnya yang semakna dengannya, (ia langsung menerimanya). Ketika mendengar hadits-hadits itu dari orang yang adil dan jujur, tanpa merasa ragu padanya, dan terkadang di antara mereka ada yang memeriksa dahulu pada sebagian hadits-hadits hukum sampai menguatkan dengan periwayatan sahabat lainnya. Sebaimana umar menguatkan riwayat Abu Musa dengan riwayat Abu Sa`ad Al-Kudri. Demikian pula Abu Bakar menguatkan riwayat Al-Mughiroh bin Syu`bah dengan riwayat Muhammad bin Maslamah dalam masalah warisan nenek. Akan tetapi, tidak ada seorangpun dari mereka yang memeriksa periwayatan hadits-hadits sifat. Bahkan, mereka sangat bersegera untuk menerima, membenarkan, dan memastikan kandungannya serta menetapkan sifat dengan pengabaran orang mengabarkannya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. Dan orang yang mempunyai sedikit perhatian terhadap sunnah saja akan mengetahui hal itu. Kalaulah bukan karena telah jelasnya perkara ini, tentu akan kami sebutkan lebih dari seratus riwayat.

Maka apa yang dijadikan sandaran oleh para penolak terhasilnya ilmu dari kabar Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam(yang ahad) telah merobek ijma` para sahabat yang telah diketahui secara dhoruri. Demikian pula ijma` tabiin dan para imam kaum muslimin. Mereka telah menyetujui kaum mu`tazilah, Jahmiyah, Rofidhoh, dan khawarij yang telah melanggar kehormatan ini dan diikuti oleh segelintir ahli ushul dan fuqoha yang sama sekali tidak mempunyai salaf(pendahulu) dari para imam muslimin. bahkan para iman tersebut dengan tegas bertentangan dengan mereka.

Dinukil dari kitab Al Adillah wasy Syawaahid `ala wujuubil akhdzi bi khobaril waahid fil Ahkam wal `Aqoo-id(Dalil-dalil dan syawaahid(penguat)tentang wajibnya mengambil hadits ahad dalam hukum dan aqidah) karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali

Edisi Indonesia Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan Hukum edisi cet. 1: Robiuts Tsani 1428 H. / Mei 2007. Hal. 81-83, penerbit Pustaka Ulil Albab.

NB : Selengkapnya silahkan baca buku Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan Hukum, penerbit Pustaka Ulil Albab.

Iklan