Cerita Gunung


Cerita Gunung

gunungJika kita mau memikirkan hikmah penciptaan gunung yang sangat menakjubkan, maka kita akan memuji dan membesarkan Pencipta gunung, yaitu Allah –Tabaraka wa ta’ala-. Perhatikanlah bentuknya yang sangat menakjubkan sungguh sangat sesuai dengan fungsinya. Sekiranya gunung dibuat bulat seperti bola atau bentuknya terjal seperti tembok, tentu susah untuk didaki dan sulit untuk mengambil manfaat darinya. Bahkan akan menghalangi sinar matahari dan udara untuk sampai kepada manusia. Jika gunung itu dibentangkan di atas seluruh permukaan bumi, tentu ia akan membuat sempit lahan pertanian dan tempat tinggal manusia, serta tanah datar akan tertutupi.

 

Disamping itu, gunung berfungsi seperti benteng dan tempat berlindung dari terpaan angin kencang dan serangan air banjir. Jika angin kencang menerjang, maka gunung akan menghalau  hembusannya dan menghambat kecepatannya sehingga tidak menghancurkan sesuatu yang ada di lembah. Ketika air banjir datang, maka gunung akan menghalaunya dan memalingkannya ke kanan dan kirinya. Sekiranya gunung tidak ada, tentu air banjir akan menghancurkan apa saja yang berada di jalur  yang dilaluinya.Jadi, bentuk yang paling ideal, paling layak dan paling sesuai dengan manfaatnya adalah bentuk yang telah diciptakan Allah-Azza Wa Jalla-.

Allah –Subhana Wa Ta’ala- telah mengajak kita agar memperhatikan dan merenungi kaifiyat penciptaan gunung. Allah – Subhana Wa Ta’ala – berfirman,

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) [الغاشية/17-19]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”(QS. Al-Ghosiyah: 17-19)

Allah pancangkan gunung-gunung demi kemaslahatan yang besar  bagi manusia. Jika gunung-gunung tidak ada, maka bumi akan berguncang terus-menerus sehingga tidak ada kehidupan lagi di atas muka bumi ini. Allah – berfirman,

وَجَعَلْنَا فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ  [الأنبياء/31]

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”.(QS. Al-Anbiyaa’ : 31) Lanjutkan membaca

Iklan

Akar Penyimpangan Golongan-golongan Sesat


Akar Penyimpangan Golongan-golongan Sesat

mengenal aliran sesatSebuah anugrah yang besar Allah berikan kepada umat manusia –ketika mereka berpecah belah dalamhizb (kelompok) dan firqoh (sekte), Allah -Azza wa Jalla- mengutus seorang rasul yang bernama Muhammad bin Abdillah –Shallallahu alaihi wa sallam– membawa agama Islam sebagai furqon (pembeda) antara yang haq dan batil.

Agama yang beliau bawa dan sampaikan kepada para sahabatnya adalah agama Islam yang masih murni dari segala penyimpangan. Tak ada noda syirik, kekafiran, maksiat dan bid’ah yang melekat padanya.

Ketika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– membawa Islam, maka para sahabat dari kalangan Aus dan Khozroj sebelumnya bermusuhan dan mengobarkan api peperangan akibat fanatik kesukuan. Namun kedatangan Islam menghapus perpecahan dan permusuhan itu, dan mengubah alur hidup mereka menjadi muslimin yang bersaudara.

Inilah yang Allah ingatkan dalam firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ  [آل عمران : 103]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imraan : 103)

Demikianlah para sahabat terus bersatu di atas Islam yang shofi (murni) melalui bimbingan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada mereka. Setiap ada riak dan ombak yang berusaha mengeruhkan persatuan itu, maka Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– langsung menepisnya.

Oleh karenanya, Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah marah saat melihat seorang sahabat Anshor berteriak meminta pertolongan kepada kaumnya, dan sahabat muhajirin juga meminta pertolongan kepada kaumnya. Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– ketika itu marah seraya bersabda,

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Mengapa ada seruan orang-orang jahiliah?!” [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim]

Sepeninggal Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan sebagian sahabatnya di atas Islam yang murni, Allah taqdirkan terjadinya perpecahan di kalangan kaum muslimin ke dalam beberapa sekte dan kelompok sebagaimana kondisi kaum jahiliah. Perpecahan itu muncul pertama kali ketika kaum Khawarij menjauh dari para ulama sahabat. Mereka mencela, bahkan mengkafirkan para sahabat akibat kedangkalan ilmu kaum Khawarij. Lanjutkan membaca

Kewajiban Menangkal Perkembangan Syi’ah


Kewajiban Menangkal Perkembangan Syi’ah

syiah bukan islamSudah menjadi kewajiban setiap Muslim untuk mewaspadai segala kejahatan. Apalagi jika berbicara tentang bahaya yang bersifat laten yang mengancam akidah dan keyakinannya. Perlu perhatian ekstra untuk membentengi hati dari lontaran syubhat yang bisa menyeret insan Muslim menanggalkan akidah Islamiyyahnya.

Selama ini, yang sering menjadi topik kekhawatiran adalah sepak terjang para misionaris yang menjajakan agama Nashrani –yang telah ditinggalkan para penganutnya di negeri asalnya– untuk memurtadkan saudara-saudara kita seagama. Apalagi jika terjadi di kantong-kantong kaum Muslimin. Atau isu ghazwul fikri, perang pemikiran yang dikobarkan para orientalis dan ‘orang dalam’ yang telah teracuni oleh syubhat kekufuran yang bernaung dalam komunitas Islam liberal.

Bahaya-bahaya lain yang mengancam keyakinan seorang Muslim sebenarnya tidak terpaku pada hal-hal yang telah di sebut di muka. Masih ada ancaman bahaya yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Yakni, golongan-golongan yang berbaju Islam, namun berhati hitam. Sekian banyak akidah dan aturan telah diadopsi dari luar Islam. Di antara golongan tersebut yang paling berbahaya adalah penganut agama Syi‘ah. Mereka adalah sekumpulan anak manusia yang menjadikan celaan kepada para Sahabat yang mulia sebagai ‘komoditas’ utama; taqiyah yang merupakan tindakan bermuka dua (nifâq) sebagai kewajiban agama yang mutlak, menuhankan Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, dan kedustaan menjadi menu wajib pada komunikasi verbal dan literatur mereka.

Mereka itulah golongan yang disebut sebagai Syi‘ah. Nama ini sebetulnya tidak sepantasnya disematkan pada mereka. Terlalu mulia jika mereka dikatakan sebagai ‘pendukung berat’ Khalîfah ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Julukan yang paling sesuai bagi mereka, seperti yang sering diungkap Ulama Ahli Sunnah adalah Râfidhah, golongan yang menolak Islam! Lanjutkan membaca