Lewat Pengajian Ibu-Ibu, Syi’ah Mendakwahkan Ajarannya


Lewat Pengajian Ibu-Ibu, Syi’ah Mendakwahkan Ajarannya

syiah 12 imamYa, salah satu jalan yang ditempuh untuk mendakwahkan ajaran Syi’ah oleh pengikutnya adalah melalui pengajian-pengajian. Khususnya, pengajian ibu-ibu (yang awam kepada agamanya).

Pertama, diperkenalkan kepada mereka untuk memuliakan Nabi dan keluarganya (ahlul bait), yang tentunya, sebagai ummat Islam serta merta menerimanya. Namun, lambat laun, maka mulailah didakwahkan akidah dan versi Islam mereka kepada para ibu-ibu ini.

Dan yang menakutkan adalah, salah satu ajaran mereka untuk nikah mut’ah, dimana nikah ini tidak perlu adanya wali, dan bisa berlangsung hanya beberapa jam saja (aduhai, alangkah miripnya dengan praktek zinah). Karenanya, postingan ini dibuat, dengan tujuan, mengingatkan kaum ibu, dan para suami, agar mereka menjaga istri-istri mereka dari ajaran Syi’ah yang sesat dan menyesatkan.

Lantas, apalagi metodologi yang dipakai oleh Syi’ah untuk menebar ajarannya?

Berikut ini, saya ambil faedah dari sebuah tulisan panjang ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, dengan judul Sepak-Terjang Syi’ah di Indonesia, yang dimuat dalam majalah Assunnah edisi Maret 2010. Saya tulis dengan poin-poin yang terdapat dalam tulisan tersebut –insya Allah tidak mengubah intinya-

Cara-Cara Syi’ah Mendakwahkan Ajarannya.

1. Mereka mengatasnamakan diri sebagai ahlul bait Nabi, padahal sesungguhnya mereka telah berbohong atas nama ahlul bait. Kaum muslimin di Indonesia begitu cintanya kepada Nabi dan ahlul baitnya, akan tetapi sebagiannya tidak berdasarkan ilmu, siapa ahlul bait tersebut? Apa manhaj mereka? Dan seterusnya, sehingga kemudian mereka terjatuh kepada kultus dan al-ghuluw. Inilah yang dipakai sebagai jalan Syi’ah dalam menebarkan ajarannya.

2. Mereka memberikan pengajaran, menggunakan ayat-ayat Al Qur’an, tafsir-tafsir Al Qur’an tidak melalui hadits atau sunnah. Karena mereka sangat jauhnya dari sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bahkan membencinya. Mereka tidak menggunakan tafsir yang biasa dipakai kaum muslimin (seperti kitab tafsir Ibnu Katsir, atau ath Thabari), melainkan menggunakan tafsir-tafsir ulama Syi’ah (misalnya al Qummi).

3. Mereka mengkritik sebagian sahabat. Memulainya dari shahabat Abu Hurairah (karena beliau, radiyallahu anhu banyak meriwayatkan hadits), kemudian yang lainnya, dan sampai kemudian hampir seluruh sahabat. Mereka menghinakan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, juga istri Rasulullah seperti Aisyah (saya jadi ingat postingan dari ‘ulama’ mereka, kang Jalal, dalam postingan saya yang sudah lalu).

4. Mereka mengkritik hadits-hadits. Awalnya mungkin satu dua saja dala shahih Bukhari, namun akhirnya mereka mengatakannya sebagai tidak sah, mustahil bahkan dusta. Dan itu semua, mereka lakukan hanya berdasarkan kepada akal danra’yu mereka yang jahil.

5. Mereka memberikan kesan, bahwa Syi’ah adalah madzab Islam yang ke-5(setelah Syafi’I, Maliki, Ahmad, Hanafi). Bahwa, perbedaan Islam mereka dengan Islam ahlussunnah, hanya pada masalah furu’iyah semata-mata (padahal jauh panggang dari api, yakni seperti minyak dengan air).

6. Mereka mendakwahkan ajaran yang memikat orang-orang yang punya penyakit dihatinya, yakni kawin mut’ah. Kawin mut’ah ini tidak perlu wali dan saksi, dan bisa berlangsung dalam waktu yang singkat, atau bahkan beberapa jam saja. Bahkan imam Syi’ah –al Khomeini- pernah berfatwa membolehkan mut’ah dengan pelacur.

7. Mereka menjauhkan kaum muslimin dan memberikan kesan yang buruk kepada ajaran yang mereka benci, yakni Wahabi. Padahal dakwah imam Muhammad bin Abdul Wahab ini mengacu kepada kemurnian Islam, seperti yang Nabi ajarkan kepada para sahabatnya.

Lantas, kepada siapa mereka dakwahkan ajaran mereka ini?

1. Orang-orang awam. Kepada kaum muslimin yang awam ini, mereka tentu tidak sembrono dengan mengkafirkan para Sahabat Nabi, akan tetapi mereka mendekati orang awam dengan semangat mencintai Nabi dan ahlul baitnya, mencintainya dengan cara ta’lid buta, sehingga terjerumuslah mereka kepada kultus dan al-ghuluw

2. Mendakwahi para pelajar dan mahasiswa. Cara yang paling menarik untuk mereka yang masih muda ini apalagi yang lebih menarik dari kawin mut’ah? Mereka biarkan para pelajar dan mahasiswa ini untuk menikmati kebebasan syaithoniyah, dan kemudian baru mereka menjadikan mereka sebagai kader Syi’ah yang tulen.

3. Memasuki media massa, baik cetak dan elektronik. Mereka melakukannya dengan sangat halus, sedikit demi sedikit. Mereka berusaha mewarnai media massa dengan khazanah Syi’ah, sehingga orang awam menyangka seperti yang mereka inginkan, bahwa Syi’ah bagian dari Islam, seperti madzab yang sudah ada.

4. Mereka memberikan pengajaran kepada kaum intelektual khususnya kepada pendukung mereka –alumni orientalis-.Yakni, dengan pendidikan yang mereka peroleh di Barat, maka mereka pun menjadi toleran dan netral akan kehadiran Syi’ah. Kemudian, Syi’ah akan menjebak mereka dan menjadikan mereka sebagai Rafidhah tulen.

5. Mereka mendekati pejabat negeri yang memegang tampuk pemerintahan untuk diberikan pelajaran-pelajaran tentang Syi’ah. Harapannya adalah setidaknya para pejabat ini akan mengenal mereka, syukur-syukur memperoleh dukungannya.

6. Mereka masuk melalui elemen partai politik, dengan menjadi tim sukses mereka.

7. Mereka membuat pengajian-pengajian untuk ibu-ibu karena peran wanita yang sangat penting dan besar ini. Karena itu, wajib bagi para bapak untuk waspada agar mereka berhati-hati dan memperhatikan pengajian yang diikuti istrinya, sehingga mereka tidak terjebak dalam pengajian Syi’ah.

Begitulah sekilas tentang modus operandi Syi’ah di Indonesia. Mereka membuat tipu daya (kepada manusia), akan tetapi Allah-lah yang akan menghancurkan tipu daya mereka itu.

Mudah-mudahan, kita bisa memelihara diri-diri kita dan keluarga kita, dari bisa Syi’ah yang mematikan itu. Wallahu ‘alam

Sumber  : http://thetrueideas.wordpress.com/2010/05/17/lewat-pengajian-ibu-ibu-syiah-mendakwahkan-ajarannya/

Iklan