Empat Macam Hati Manusia & Obat Penyakit Hati


Empat Macam Hati Manusia & Obat Penyakit Hati

Oleh : Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Para shahabat Radhiallahu’anhum telah membagi hati-hati manusia menjadi empat macam. Sebagaimana hal ini shahih dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiallahu’anhu secara mauquf.

“Hati-hati manusia ada empat macam: Pertama Qalbun ajrad (Hati yang murni), padanya ada lentera yang bersinar itulah hati seorang Mukmin. Kedua Qalbun aghlaf (hati yang tertutup) itulah hatinya orang kafir. Ketiga Qalbun mankus (hati yang terbalik) itulah hatinya orang munafik. Dia mengetahui kemudian setelah itu mengingkari, sebelumnya dia meihat kebenaran kemudian kembali buta. Keempat Qalbun tamaduhu ma datan (hati yang memiliki dua unsur) yaitu unsur keimanan dan kemunafikan, mana yang menang itulah yang mendominiasi atasnya.”

 

1. Qalbun ajrad (hati yang murni)

Adapun hati yang murni yaitu hati yang terlepas dan selamat dari selain Allah Azza wajalla dan rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam, maka hati itu telah terlepas serta selamat dari apa-apa selain kebenaran (selamat dari kesesatan dan penyimpangan). Padanya ada lentera yang menerangi, itulah lentera keimanan. Disebut kemurnian menuju keselamatan dari berbagai macam syubuhat (kerancuan-kerancuan) kebathilan dan syahwat yang jahat. Juga di dalam hati tersebut terdapat lentera yang bercahaya terang dengan cahaya ilmu dan keimanan.

2. Qalbun aghlaf (hati yang tertutup)

Disebut hati yang tertutup sebagai hati yang dimiliki orang kafir, karena hati orang kafir masuk ke dalam tutupan. Maka tidak akan sampai kepadanya cahaya ilmu dan keimanan. Sebagaimana Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang Yahudi,

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al Baqarah: 88)

Ghulf adalah jamak dari aghlaf, makna aghlaf adalah yang masuk ke dalam tutupannya, maka hati yang ghulf artinya hati yang masuk ke dalam tutupannya.

Dan tutupan ini disebut juga dengan al akinnah yang Allah Azza wajalla telah letakkan di atas hati-hati mereka sebagai hukuman akibat bagi mereka yang menolak kebenaran dan sombong dari menerima kebenaran. Maka menjadilah hukuman itu sebagai penutup atas hatinya dan sebagai penutup atas pendengarannya, dan sebagai penutup atas penglihatannya. Inilah tabir penutup yang tidak terlihat oleh mata-mata kita.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Al Israa’: 45-46)

Apabila disebutkan perkara memurnikan tauhid dan mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka orang-orang yang memiliki hati ini akan berpaling ke belakang.

3. Qalbun mankus (hati yang terbalik)

Disebut hati yang terbalik kepada hatinya orang-orang munafik sebagaimana firman Allah Ta’ala,

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? (An Nisaa’: 88)

Allah Subhanahu wata’ala telah membalikkan mereka dan mengembalikan mereka kepada kebathilan yang dahulu mereka pernah di dalamnya. Itu semua disebabkan upaya mereka dan amalan mereka yang bathil.
Ini adalah hati yang paling jelek dan paling keji, karena dia meyakini yang bathil itu sebagai kebenaran dan berloyalitas kepada pengikutnya, dan menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang bathil kemudian memusuhi orang-orang yang mengikuti kebenaran. Allahul musta’an.

4. Qalbun tamaduhu ma datan (hati yang memiliki dua unsur)

Disebut hati yang padanya memiliki dua unsur kepada hati yang keimanannya belum mantap dan lenteranya belum bersinar di mana dia belum bisa memurnikan diri untuk kebenaran yang Allah Ta’ala utus dengannya rasul-Nya bahkan dalam hati itu hanya ada sebagian unsur keimanan dan ada pula unsur yang menyelisihinya. Terkadang dia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan dan terkadang dia lebih dekat kepada keimanan daripada kekufuran dan hukum itu kembali kepada mana yang lebih mendominasi.

[Disalin dari kitab Ighatsatul Lahafan min Mashaidisy Syaithan, Karya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah]

Sumber : http://sunniy.wordpress.com/2012/05/21/empat-macam-hati-manusia/

*****

Pembagian Obat-Obat Penyakit Hati Terbagi Menjadi Dua: Pengobatan yang Biasa dan Pengobatan yang Syar’i

Oleh : Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Penyakit hati terbagi menjadi dua jenis:

Pertama, Jenis penyakit yang si penderita tidak merasakannya. Dan inilah jenis penyakit yang terdahulu seperti penyakit kebodohan, penyakit kerancuan-kerancuan dalam agama, dan keraguan-keraguan, dan syahwat-syahwat. Inilah jenis penyakit terbesar di antara dua jenis penyakit hati, akan tetapi karena rusaknya qalbu maka si penderita tidak merasa, disebabkan mabuk kebodohan dan hawa nafsu telah menghalanginya dari mengetahui penyakit. Jika tidak, tentu ia akan merasakan sakit yang ada pada dirinya. Dan dia tidak mempedulikannya karena sibuk dengan perkara lain. Ini adalah jenis penyakit yang paling berbahaya dan paling sulit. Yang bisa mengobatinya adalah kembali kepada para rasul ‘Alaihimussalam dan yang mengikuti mereka. Merekalah dokter-dokter dari jenis penyakit ini.

Kedua, Jenis penyakit yang si penderita bisa merasakannya pada saat itu. Seperti galau, resah, sedih, dan marah. Jenis penyakit ini bisa hilang dengan pengobatan yang biasa, seperti dengan menghilangkan sebabnya atau pengobatan dengan sesuatu yang berlawanan dengan sebab-sebab itu atau dengan faktor-faktor yang bisa menyehatkannya.

Sebagaimana hati terkadang akan merasa sakit dengan apa-apa yang badan akan merasa sakit karenanya. Dan akan merasa malang disebabkan badan yang mendapat kemalangan. Demikian pula badan akan banyak merasakan sakit dengan apa-apa yang hati akan merasa sakit karenanya, dan akan merasa malang dengan apa-apa yang membuat hati menjadi malang.

Maka amarah menjadikan hati menjadi sakit dan obatnya adalah dengan meredakan amarahnya tersebut. Jika ia mengobatinya dengan cara yang benar maka hatinya akan sembuh, namun jika mengobatinya dengan kezhaliman dan kebathilan maka akan bertambahlah penyakit hatinya sedang dia menyangka perbuatan itu menyembuhkan penyakt hatinya. Ia sebagaimana orang yang mengobati penyakit asmara dengan melakukan kemaksiatan dengan orang yang dia cintai, maka sesungguhnya hal itu akan menambah penyakitnya dan menyebabkan penyakit lain yang lebih sulit dari sekedar penyakit asmara.

Demikian pula galau, resah, dan sedih merupakan penyakit-penyakit hati, dan untuk mengobatinya adalah dengan sesuatu yang berlawanan dengannya yakni kesenangan dan kegembiraan. Maka apabila diobati dengan cara yang benar akan sembuh hatinya dan sehat dan terlepas dari penyakitnya, namun jika kesenangan dan kegembiraan dengan cara yang bathil niscaya penyakit itu akan tetap bersembunyi dan menyelinap di balik tabir qalbu dan tidak akan hilang bahkan menyebabkan penyakit-penyakit lain yang lebih sulit dan lebih berbahaya.

Demikian pula kebodohan merupakan penyakit yang menimpa hati. Di antara manusia ada yang mengobatinya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat [1], dan dia meyakini bahwa dia telah sehat dari penyakitnya (terlepas dari kebodohan) dengan ilmu-ilmu tadi. Pada hakikatnya hanya saja akan menambah penyakit lain di atas penyakitnya. Akan tetapi hati itu tersibukkan dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfat itu untuk bisa merasakan sakit yang terpendam, karena sebab bodohnya dia tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat yang merupakan syarat untuk sehat dan terlepasnya dia dari kebodohan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda mengenai orang yang berfatwa dengan kebodohan lalu orang yang meminta fatwa itu meninggal dengan sebab fatwa mereka,

“Mereka membunuh orang tersebut, semoga Allah membunuh mereka, mengapa tidak bertanya jika tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah dengan bertanya.” (HR. Abu Daud dan Daruquthni dari Jabir Radhiallahu’anhu)

Maka bodoh akan agamanya adalah sebuah penyakit dan obatnya adalah bertanya kepada ulama.

Demikian pula orang yang bingung terhadap sesuatu keraguan merupakan penyakit yang menimpa hati hingga ia mendapatkan ilmu dan keyakinan. Kebingungan itulah yang menyebabkan dahaga, sehingga orang yang mendapatkan keyakinan dikatakan dadanya menjadi sejuk, merasakan dingin karena keyakinan.

Dan dia yang merasa sempit karena kebodohan dan tersesat dari jalan petunjuk akan merasa lapang dengan hidayah dan ilmu. Allah Azza wajalla berfirman,

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al An’am: 125)

Maksud dari pembahasan ini adalah: Bahwasanya di antara penyakit hati ada yang bisa dihilangkan dengan pengobatan yang biasa, dan ada yang tidak bisa hilang kecuali dengan pengobatan yang syar’i dan keimanan. Dan hati itu memiliki kehidupan dan kematian, sakit dan sehat. Dan itulah yang paling agung dari apa-apa yang dimiliki badan.

[Disalin dari kitab Ighatsatul Lahafan min Mashaidisy Syaithan, Karya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah]

___________
Footnote:
[1] Seperti orang bodoh yang mempelajari ilmu mantiq, ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf.

Sumber : http://sunniy.wordpress.com/2012/06/04/pembagian-obat-obat-penyakit-hati-terbagi-menjadi-dua-pengobatan-yang-biasa-dan-pengobatan-yang-syari/

Iklan