Berpegang Dengan Syari’at, Merupakan Kunci Kemenangan


Berpegang Dengan Syari’at, Merupakan Kunci Kemenangan

 

Oleh  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

langit.jpgSegala puji hanya milik Allah. Dia-lah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji keimanan seseorang. Dia-lah ar Rahman dan ar Rahim, yang menguasai hari pembalasan. Dia-lah yang akan memberikan kemuliaan kepada kaum Mukminin, dan akan menghinakan orang-orang yang lalai. Dia-lah yang akan memberikan pertolongan bagi hamba-hambaNya yang selalu teguh dan istiqamah di atas agamanya.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Berkat dakwah dan bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla telah mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kebodohan menuju cahaya ilmu.

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita sebagai pengikut yang setia kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , selalu menegakkan sunnah-sunnahnya, sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran/3 : 31]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan memberikan kemuliaan dan pertolongan kepada kaum Mukminin. Lihatlah! Bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada kaum Mukminin dari kalangan para sahabat, sehingga mereka selalu berpindah dari kemenangan yang satu menuju kemenangan yang lainnya. Sungguh, pertolongan ini akan terus diberikan Allah kepada kaum Mukminin. Tentunya jika kaum Mukminin mau menolong agama Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Ruum/30 : 47].

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesunguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi. [al Mu’min/40 : 51]

Marilah kita melihat sejarah Islam, satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan yang penuh barakah. Yakni, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Allah Azza wa Jalla meninggikan kalimatNya, dan merendahkan kaum musyrikin. Satu kejadian yang sangat membahagiakan kaum Mukminin, dan menjadi kabar menyedihkan bagi kaum kafirin. Kejadian itu disebut sebagai al Furqan, karena Allah Azza wa Jalla telah memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah tersebut adalah Perang Badar Kubra.

Para ulama sirah menyebutkan, telah sampai kabar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kepulangan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Mereka datang dari Syam dan menuju Mekkah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil para sahabatnya, untuk bersiap-siap merampas harta yang dibawa kafilah dagang tersebut.

Setelah semua dipersiapkan, berangkatlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukan berjumlah 300 sekian belas orang. Terdiri 70 orang dari kalangan Muhajirin, dan sisanya dari kalangan Anshar, dengan dua ekor kuda dan 70 ekor unta. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak mempertemukan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, yang sebelumnya tanpa ada kesepakatan waktu dan juga tempatnya. Akan tetapi, kabar tentang keberangkatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah telah sampai kepada Abu Sufyan, sehingga dia langsung mengirim utusan kepada para pemimpin Quraisy, agar segera mengirim pasukan untuk menghadapi bahaya yang akan menghadang mereka.

Sampailah kabar tersebut kepada orang-orang Quraisy. Mereka pun segera berangkat, dengan pasukan berjumlah sekitar 1000 orang, dengan membawa 100 ekor kuda dan 700 ekor unta, maka keluarlah pemimpin-pemimpin mereka dengan penuh kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Dan janganlah kalian seperti orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong dan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah, dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. [al Anfal/8 : 47].

Setelah Abu Sufyan merasa aman dan selamat dari bahaya tersebut, ia memerintahkan pasukan Quraisy untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi mereka enggan, bahkan dengan penuh kesombongan Abu Jahal berkata : “Demi Allah. Kita tidak akan kembali ke Mekkah, sehingga kita sampai di Badar dan menginap disana. Selama tiga malam kita sembelih unta, kemudian makan-makan, dan menuangkan khamr, sehingga orang-orang Arab mendengar apa yang kita lakukan, sehingga mereka akan tetap merasa takut dan gentar kepada kita”.

Kemudian bagaimana dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ketika mengetahui keberangkatan pasukan Quraisy, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah, tentang apa yang akan mereka lakukan, terhadap kedatangan orang-orang Quraisy tersebut.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan untuku, antara dua kelompok kafilah dagang atau pasukan musuh.”

Mendengar seruan Nabi, maka berdirilah salah seorang dari kaum Muhajirin, seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Berjalanlah sesuai dengan yang telah Allah perintahkan kepadamu. Demi Allah, kami tidak ingin seperti orang-orang Bani Israil yang mengatakan kepada Musa :

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

(Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesunguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. –(al Maidah/5 ayat 24). Sesungguhnya kami akan selalu berperang di samping kanan dan kirimu, serta di depan dan belakangmu”.

Berdiri pula Sa’ad bin Mu’adz, seorang dari kaum Anshar seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Mungkin engkau menganggap kami, orang-orang Anshar akan mengunakan haknya untuk tidak membelamu, kecuali di negerinya sendiri. Maka saya katakan atas nama orang-orang Anshar, bawalah kami sekehendakmu, sambunglah tali orang yang engkau kehendaki, putuskanlah tali orang yang engkau kehendaki, ambillah dari harta kami sekehendakmu, dan berilah untuk kami apa yang engkau kehendaki. Sesungguhnya, apa yang engkau ambil dari kami, lebih kami cintai dari apa yang engkau tinggalkan. Maka perintahkanlah kami sekehendakmu, karena sesungguhnya kami akan mengikuti perintahmu. Wahai Rasulullah, seandainya engkau berjalan sampai ke al Birk yang ada di Ghamdan, tentu kami akan berjalan bersamamu. Seandainya engkau memerintahkan kami untuk mengarungi lautan ini, maka kami akan mengarunginya. Tidaklah kami merasa berat, apabila engkau memerintahkan kami untuk bertemu dengan musuh esok hari. Sesungguhnya kami akan bersabar ketika dalam peperangan, dan jujur ketika bertemu dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan sikap kami ini kepadamu dan menenangkan jiwamu”.

Maka berbahagialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar semangat para sahabatnya. Beliau pun berseru : “Berangkatlah dan bergembiralah. Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat kematian mereka”.

Setelah itu, berangkatlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pasukan kaum Muslimin menuju Badar. Sesampainya disana, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil posisi di lembah yang dekat, dan mengarah ke kota Madinah. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy berada di lembah yang jauh, dan dekat dengan arah menuju Mekkah.

Pada malam harinya, Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan yang deras kepada orang-orang kafir, hingga menyebabkan adanya lumpur yang licin. Sebaliknya, hujan ini merupakan gerimis yang mensucikan bagi kaum Muslimin dan melembutkan pasir, sehingga memantapkan langkah-langkah kaum Muslimin.

Kemudian kaum Muslimin membangun gubuk untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau segera memantapkan barisan kaum Muslimin dan berjalan menuju tempat peperangan, dan beliau berkata : “Ini adalah tempat kematian fulan, ini adalah tempat kematian fulan, Insya Allah”. Maka tempat kematian mereka tidak jauh dari yang telah ditunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu beliau melihat kepada pasukan kaum Muslimin dan pasukan Quraisy, seraya berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya Quraisy telah datang dengan kesombongan dan kuda-kudanya untuk menantangMu dan mendustakan RasulMu. Ya Allah, berikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, penuhilah janjiMu. Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini pada hari ini, maka Engkau tidak akan diibadahi lagi”.

Kaum muslimin juga meminta pertolongan kepada Allah, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ﴿١٢﴾ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴿١٣﴾ذَٰلِكُمْ فَذُوقُوهُ وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ

Ingatlah ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman”. Kelak akan Aku letakkan rasa ketakutan ke dalam hati-hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka, dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya; dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hokum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka. [al Anfal/8 : 12-14].

Akhirnya bertemulah dua pasukan, dan terjadilah pertempuran yang sangat hebat, dengan jumlah yang tidak seimbang. Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di gubuk, dijaga oleh Abu Bakr dan Sa’ad bin Mu’adz, dan beliau terus-menerus meminta pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla, sembari terus membakar semangat kaum Muslimin dengan sabdanya : Demi yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, dengan sabar dan mengharapkan pahala Allah, dan kemudian terbunuh, terus maju dan tidak mundur, kecuali Allah akan memasukkan dirinya ke dalam surga.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah dan menaburkannya. Tidaklah salah seorang dari pasukan Quraisy terkena taburan tanah itu, keculai matanya akan terpenuhi dengan tanah itu. Dan ini merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah, serta pertolongan yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada RasulNya.

Pada akhirnya pasukan kafir Quraisy bisa dikalahkan, dan mereka lari meninggalkan medan pertempuran. Kaum Muslimin berhasil membunuh 70 orang kafir Quraisy dan menawan 70 orang lainnya.

Lihatlah, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkan hambaNya yang beriman, walaupun jumlah mereka sedikit jika dibandingkan dengan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [al Baqarah/2 : 249].

Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak memberikan pertolongan kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya, karena mereka adalah orang-orang yang sangat semangat mengamalkan apa yang telah disyari’atkan Allah Azza wa Jalla.

Kemudian kita bertanya, mengapa kaum Muslimin pada saat sekarang ini justru banyak dihinakan, bahkan ditindas oleh orang-orang kafir? Apakah pertolongan Allah terlambat datang? Apakah Allah mengakhiri janjiNya?

Demi Allah, tidak. Allah pasti akan menunaikan janjiNya. Akan tetapi, perlu kita tanyakan kepada kaum Muslimin, apakah kaum Muslimin sudah melakukan syarat untuk mendapatkan pertolongan Allah? Atau justru mereka jauh dari syarat tersebut? Atau bahkan meninggalkannya?

Ketahuilah, wahai kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Rum/30 : 47].

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. [al Hajj/22 : 40].

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberrikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Tentunya, kaum Muslimin mau menegakkan syari’at Allah, yaitu kembali kepada al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman para sahabatnya.

Sebaliknya, jika kaum Muslimin berpaling dari syari’at Allah, sibuk dengan urusan dunia dan jauh dari ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, niscaya mereka akan mendapatkan kehinaan. Dan Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut, sehingga kaum Muslimin kembali kepada Islam yang benar, Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sampai hari Kiamat

Maka marilah tingkatkan semangat kita untuk melaksanakan perintah Allah. Kita jauhi yang dilarang Allah. Kita juga iltizam dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ini semua, niscaya kita akan mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-Shawab.

(Diangkat dari Majalisu Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 94-98)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

di salin dari : http://www.almanhaj.or.id