Solusi Untuk Mengentaskan Kehinaan Yang Menimpa Umat


Solusi Untuk Mengentaskan Kehinaan Yang Menimpa Umat

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

air tetesanAllah Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk dan agama yang haq. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memenangkan agama ini di atas seluruh agama, walaupun orang kafir tidak menyukai. Kemudian, seiring berjalannya waktu dan jauhnya masa dari zaman kenabian, umat Islam semakin jauh dari agamanya yang haq. Banyak perkara yang bukan agama dianggap sebagai agama. Demikian juga lemahnya ilmu dan semangat mengamalkan Islam telah menimpa banyak umat ini. Maka tidak aneh, Allah Ta’ala menimpakan kehinaan pada umat ini. Kehinaan itu tidak akan hilang sehingga mereka kembali kepada agama-Nya.

Namun pada zaman ini, kembali kepada agama Islam yang haq, tidaklah mungkin dilakukan kecuali dengan tashfiyah dan tarbiyah.

Tashfiyah (pemurnian) adalah, memurnikan Islam pada semua bidangnya dari semua perkara yang asing dan jauh darinya. Tarbiyah (pembinaan) adalah, membina generasi-generasi Islam di zaman ini yang sedang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan.[1]

KONDISI UMAT YANG MENYEDIHKAN
Jika melihat keadaan umat Islam ini dengan pandangan agama Islam, maka kita akan mendapati kondisi umat yang terpuruk. Keadaan seperti ini, sesungguhnya sudah diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Pertama. Umat Islam tertimpa penyakit wahn (lemah), cinta dunia dan takut menghadapi kematian.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kamu, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”, Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kamu banyak, tetapi kamu buih (sampah), seperti buih (sampah) banjir. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar (takut) dari dada (hati) musuhmu terhadap kamu. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kamu,” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian”.[2] 

Tentang hadits ini, Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali -hafizhahullah- menjelaskan kandungan hadits yang mulia ini: “Bahwa umat Islam telah menjadikan dunia sebagai keinginannya terbesar dan sebagai puncak ilmunya. Oleh karena itu, merekapun membenci kematian dan mencintai kehidupan, karena mereka membangun dunia, tetapi tidak berbekal untuk akhirat”.[3]

Kedua. Dakhan (keruh/gelap), bid’ah, musuh dari dalam, orang hina bicara tentang agama.

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dia berkata: “Dahulu orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, namun aku bertanya tentang keburukan karena khawatir ia akan menimpaku. Aku bertanya,’Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dahulu kita berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kita, maka setelah kebaikan ini apakah ada keburukan?’ Beliau menjawab,”Ya.” Aku bertanya,’Dan apakah setelah keburukan ini ada kebaikan?’ Beliau menjawab,’Ya, tetapi padanya terdapat dakhan (kegelapan, kekeruhan).’ Aku bertanya,’Apa dakhannya?’ Beliau menjawab,’Suatu kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengenal mereka, tetapi engkau mengingkari.’ Aku bertanya,’Maka setelah kebaikan ini apakah ada keburukan?’ Beliau menjawab,’Ya, yaitu para da’i yang berada di atas pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa menyambut mereka menuju Jahannam itu, mereka melemparkannya ke dalam Jahannam.’ Aku berkata,’Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , jelaskan sifat mereka kepada kami!’ Beliau menjawab,’Mereka dari kulit kita. Mereka berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepadaku, jika keadaan itu menimpaku?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,’Engkau menetapi jama’atul muslimin dan imam mereka.’ Aku berkata,’Jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam?’ Beliau bersabda,’Tinggalkan firqah-firqah semuanya, walaupun engkau menggigit pokok pohon, sampai maut menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan demikian’.”[4]

Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali -hafizhahullah- menjelaskan, bahwa dakhan (kekeruhan) yang pertama adalah bid’ah. Beliau berkata,”Sesungguhnya dakhan ini adalah penyimpangan mengenai manhaj Nabi yang haq, yang dahulu memimpin kebaikan haqiqi, kemudian dakhan itu menjadikan buruk jalan yang putih bersih, yang malamnya seperti siangnya. Bukankah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Suatu kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengenal mereka, tetapi engkau mengingkari’.”

Inilah asal penyakit dan akar musibah, yaitu menyimpang dari Sunnah dalam masalah manhaj, dan berpaling dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perilaku dan amalan. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa dakhan yang mengotori kebaikan, mengeruhkan sumbernya dan merubah kesegarannya, ialah bid’ah-bid’ah yang mengawasi dengan kepala-kepalanya dari sarang-sarang Mu’tazilah, Shufiyah, Jahmiyah, Khawarij, Asy’ariyyah, Murji’ah, dan Rawafidh, semenjak beberapa abad untuk mencari kesesatan, sehingga melakukan penyimpangan, pemalsuan, dan ta’wil”.[5]

Di dalam hadits lainnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang perselisihan umat, solusinya, serta peringatan dari bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu untuk berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Pegang dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.[6]

SEBAB KEMUNDURAN UMAT ISLAM
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan beberapa kejadian yang akan menimpa umat ini, termasuk kemunduran mereka dan yang menjadi penyebabnya. Kemudian hal itupun terjadi sebagaimana yang telah diberitakan. Ini semua merupakan salah satu bukti nyata tentang kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antara hadits yang kami maksudkan ialah sebagaimana di bawah ini.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَلَا أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ قَالَ ابْنُ عِيسَى ظَاهِرِينَ ثُمَّ اتَّفَقَا لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah -Rabbku- menghimpunkan bumi untukku, sehingga aku melihat bumi sebelah timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada bagian bumi yang dihimpunkan untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan yang berwarna merah dan yang berwarna putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku, agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berkata kepadaku: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan satu keputusan, maka itu tidak akan ditolak. Dan Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang merata. Dan Aku tidak akan menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka, walaupun musuh berkumpul dari berbagai penjuru bumi, sampai sebagian mereka (umatmu) membinasakan sebagian yang lain, dan sampai sebagian mereka (umatmu) menjadikan tawanan sebagian yang lain’. Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan. Dan jika pedang telah dijatuhkan (diletakkan) di kalangan umatku, pedang itu tidak akan diangkat dari umatku sampai hari Kiamat. Dan waktu kiamat tidak akan datang, sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai kabilah-kabilah dari umatku menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya di kalangan umatku akan muncul 30 pendusta, semua mengaku bahwa dia seorang Nabi. Sedangkan aku penutup para nabi. Tidak ada nabi setelah aku. Dan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku berada di atas kebenaran –Ibnu ‘Isa berkata: mereka menang- orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai perintah Allah datang”.[7]

KEMBALI KEPADA ISLAM YANG MURNI
Dengan keadaan yang buruk disebabkan jauhnya dari agama Allah, maka keadaan umat ini tidak akan menjadi baik, kecuali dengan kembali menuju agama ini. Solusi ini bukanlah ijtihad dari ulama yang berijtihad, bukan pula hasil pemikiran dari seorang ahli fikir, namun solusi ini merupakan ketetapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka semua pendapat yang bertentangan dengan nash Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertolak. Karena beliau telah menjelaskan solusi bagi kemuliaan umat ini, sebagaimana di dalam hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ (د 3462, الصحيحة 11)

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kamu berjual-beli ‘inah (semacam riba), kamu memegangi ekor-ekor sapi, kamu puas dengan tanaman, dan kamu meninggalkan jihad, (maka) Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kamu, Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu, sehingga kamu kembali menuju agama kamu”.[8]

Bagaimanakah pada zaman ini untuk kembali kepada Islam yang haq? Sesungguhnya upaya tersebut tidak mungkin dilakukan, kecuali dengan tashfiyah dan tarbiyah. Bagaimana menerapkan tashfiyah dan tarbiyah?

CARA MENERAPKAN TASHFIYAH DAN TARBIYAH
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi –hafizhahullah- menyebutkan contoh bidang-bidang yang perlu mendapatkan tashfiyah, yaitu: 1) ‘aqidah, 2) berhukum, 3) sunnah, 4) fiqih, 5) tafsir, 6) tazkiyah, 7) pemikiran, 8) tarikh, 9) dakwah, dan 10) Bahasa Arab.

Beliau memberikan penjelasan secara gamblang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut. Tentunya tashfiyah tersebut dilakukan oleh para ulama yang telah mapan ilmunya. Adapun masyarakat Islam, mereka ittiba’ dengan penjelasan ulama. Dan sesungguhnya, ulama rabbaniyin akan tetap ada sampai akhir zaman, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ

Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi; mereka akan menolak tahrif (perobahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas; ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh; dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan[9].

Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan “orang-orang yang terpercaya” dalam hadits ini, ialah para ulama ahli hadits pada setiap zaman. Dan setiap zaman tidak akan kosong dari mereka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Akan terus ada sekelompok orang dari umatku, yang menegakkan urusan (perintah) Allah (pada riwayat lain: mereka menang di atas kebenaran), orang-orang yang tidak menolong mereka dan yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka. Mereka tetap di atasnya (menegakkan urusan [perintah] Allah di atas kebenaran), sampai datang perintah Allah (yaitu: datangnya angin yang akan mematikan mereka sebelum datangnya hari kiamat).”[10]

Kemudian umat dibina dengan agama Islam, yang bidang-bidangnya telah dimurnikan. Termasuk dalam masalah ini, yaitu memilih kitab-kitab mu’tabar (terpercaya) sebagai rujukan dalam mengambil ilmu dan mengajar.

MENGIRINGI ILMU DAN AMAL
Kemudian ilmu yang telah ditashfiyah dan diajarkan tersebut harus diamalkan, sehingga akan menghasilkan buah yang baik dari usaha yang telah dikerahkan.

Syaikh Abdur-Rahman bin Yahya Al-Mu’allimi rahimahullah berkata,”Orang-orang yang mengenal Islam dan ikhlas terhadapnya telah banyak menyampaikan, bahwa kelemahan dan kemunduran yang menimpa umat Islam hanyalah disebabkan jauhnya kaum Muslimin dari hakikat Islam. Dan aku melihat, bahwa hal itu kembali kepada tiga perkara. Pertama, bercampurnya yang bukan dari agama Islam dengan yang dari agama. Kedua, lemahnya keyakinan terhadap perkara yang termasuk bagian dari agama. Ketiga, kaum Muslimin tidak mengamalkan hukum-hukum agama.

Berdasarkan (permasalahan yang menimpa) ini, maka mengetahui adab-adab yang benar sebagaimana diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ibadah dan mu’amalah, mukim dan bersafar, bergaul dengan orang lain dan sendirian, gerakan dan diam, bangun dan tidur, makan dan minum, berbicara dan diam, dan selain itu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, dengan berusaha mengamalkannya sesuai dengan kesanggupan, (maka) itu merupakan satu-satunya obat untuk penyakit-penyakit tersebut. Karena sesungguhnya, banyak dari adab-adab tersebut mudah bagi jiwa. Sehingga, jika seseorang mengamalkan yang mudah baginya dari adab-adab tersebut, dengan meninggalkan yang menyelisihinya, insya Allah tidak lama (lagi) dia ingin menambah, sehingga mudah-mudahan tidak melewati satu masa tertentu, kecuali dia telah menjadi teladan bagi orang lain dalam masalah tersebut.

Dengan mengikuti petunjuk Nabi yang lurus itu, dan berakhlak dengan akhlaq yang agung tersebut, walaupun sampai batas tertentu, hati akan bersinar, dada akan longgar, jiwa akan tenang, sehingga keyakinan menjadi mendalam, dan amalan menjadi baik. Jika banyak orang yang meniti jalan ini, tidak lama penyakit-penyakit itu akan hilang, insya Allah”.[11]

Alhamdulillahi Rabbil-‘Alamîn.

Maraji`:
1. Limadaza Ikhtartu Manhajas-Salaf, Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali.
2. Tasfiyah wat-Tarbiyah, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi.
3. Tasfiyah wat-Tarbiyah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
4. Dan lain-lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tashfiyah wat-Tarbiyah, hlm. 19.
[2]. HR Abu Dawud, no. 4297; Ahmad (5/278); Abu Nu’aim di dalam Hilyatul-Auliya’ (1/182). Hadits shahih lighairihi.
[3]. Limadza Ikhtartu Manhajas-Salafi, hlm. 11.
[4]. HR Bukhari, no. 7084; Muslim, no. 1847.
[5]. Limadza Ikhtartu Manhajas-Salafi, hlm. 15.
[6]. Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al-‘Irbadh bin Sariyah.
[7]. HR Abu Dawud, no. 4252; Ahmad (5/278, 284); Al-Baihaqi, no. 3952. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
[8]. HR Abu Dawud, no. 3462; Al-Baihaqi (5/316); ad-Daulabi di dalam Al-Kuna (2/65); Ahmad, no. 4825; dan lain-lain. Hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 11, dan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dalam Al-Arba’un Haditsan fid- Dakwah wa Du’at, no. 2.
[9]. HR Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimsyaq, Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush-Shahabat, Ibnu Abdil-Barr dalam at-Tamhid; Al-Khaththib dalam Syaraf Ash-habul Hadits, dan lain-lain. Hadits ini diriwayatkan lebih dari sepuluh sanad. Walaupun semuanya lemah, tetapi banyak jalannya, sehingga saling menguatkan. Dishahihkan oleh Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali dalam Hilyatul-‘Alim Al-Mu’allim, hlm. 77, juga oleh Syaikh Ali bin Hasan dalam Tashfiyah wat-Tarbiyyah.
[10]. HSR Bukhari, no. 3641, dan lainnya, hadits ini mutawatir.
[11]. Muqaddimah pada kitab Fadhlullahish-Shamad (1/17), dinukil dari Tasfiyah wat-Tarbiyah, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, hlm. 19-20.

Sumber : almanhaj.or.id