Dakwah Tauhid atau Khilâfah? (Sebuah Refleksi bagi Gerakan Dakwah di Indonesia)


Dakwah Tauhid atau Khilâfah? (Sebuah Refleksi bagi Gerakan Dakwah di Indonesia)

tauhidDakwah Salafiyyah Ahlussunnah wal Jamâ’ah senantiasa mengedepankan dakwah tauhid dengan tanpa mengabaikan sisi lainnya yang merupakan cabang ilmu agama. Karena tauhid merupakan inti perjuangan dakwah yang dijalankan oleh para Rasul ‘alaihimusshalâtu wassalâm dari berbagai lintas generasi, guna mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Kitab-kitab suci Allah turunkan demi menerangkan perihal tauhid, berbagai keutamaan tauhid, pembatal-pembatal tauhid, maupun perkara-perkara yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid.

Jihad fi sabilillah yang dijalankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam dan para Shahabat beliau dalam menghadapi orang-orang kafir dan kaum Musyrikin juga masih dalam misi dakwah tauhid, sama sekali bukan bertujuan untuk meraih kekuasaan, mendirikan negara ataupun penegakkan khilâfah. [Lihat Musnad Imâm Ahmad 5114, 5115, 5667, Al-Bukhâri dalam Shahihnya 1399 dan Muslim 124]

Apabila kita membaca Al-Qur’an dan memahaminya dengan benar, maka akan kita dapati mayoritas isinya menyinggung perkara tauhid, baik dari sisi Uluhiyyah-Nya, Rububiyyah-Nya maupun Al-Asma’ was Shifât. Al-Qur’an juga menerangkan tentang hak-hak tauhid berupa perintah dan larangan. Al-Qur’an juga bercerita tentang kisah orang-orang yang bertauhid serta kemuliaan bagi mereka di dunia dan akhirat. Dan Al-Qur’an juga mengisahkan orang-orang yang menentang dakwah tauhid serta azab dan kehinaan atas mereka di dunia maupun di akhirat. [Madârijus Sâlikin 1/13]

Kendati demikian masih saja ada sebagian kalangan yang merasa paling andal dalam urusan politik, namun amat longgar perhatiannya terhadap masalah tauhid. Lebih jauh lagi, mereka menganggap tauhid sebagai perkara cabang (furu’) yang tidak terlalu penting untuk dibahas saat ini. Sedangkan politik, kekuasaan atau kepemimpinan merupakan inti dan pokok (ushul) dari ajaran Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan Al-Maududi dalam “Al-Ususul Akhlaqiyyah lil Harakatil Islamiyyah.”

Apa yang diklaim Al-Maududi di atas adalah satu bentuk kerancuan (syubhat) dalam memahami Islam. Dan kerancuan berpikir seperti inilah yang dilemparkan kepada generasi muda kaum Muslimin, sehingga muncul dalam benak mereka pemahaman bid’ah yang mungkar dimana mereka mengatakan, “Bahwa penegakkan daulah atau khilafah adalah satu-satunya jalan keluar dari segala macam masalah yang menimpa umat Islam di seluruh dunia.” Disinilah letak ghuluw atau sikap mereka yang melampaui batas.

Sementara di front lain, ada segelintir orang yang mengklaim umat Islam saat ini masih dalam fase Makkiyyah atau masih dalam tahap dakwah tauhid semata sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam sewaktu di Makkah, dan belum masuk fase Madaniyyah yaitu satu fase dimana hukum syari’ah dijelaskan secara gamlang dan menyeluruh sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam ketika hijrah ke kota Madinah. Jadi menurut kelompok ini, shalat lima waktu yang merupakan bagian dari hukum syari’ah belum wajib ditunaikan, begitu pula puasa Ramadhan, zakat dan haji. Sedangkan merampok, korupsi, judi, khamr, zina dan pelacuran belum haram sampai tegaknya negara Islam menurut jalan pikiran mereka yang sesat dan menyesatkan.

Maka sesungguhnya fase Makkiyyah dan fase Madaniyyah yang dilalui Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam dan para Shahabatnya kala itu adalah fase sejarah dan bukan sebagai fase syari’ah. Sebab, syari’ah telah sempurna menjelang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam, dan berita kesempurnaan syari’at ini telah Allah abadikan dalam Al-Qur’an.

Adapun Salafiyyah Ahlussunnah wal Jamâ’ah senantiasa berjalan di tengah-tengah (wasath), antara sikap ifrath (melampaui batas) dan sikap tafrith (mengenteng-ngentengkan). Dakwah Salafiyyah senantiasa mengedepankan dakwah tauhid dengan tanpa mengabaikan sisi-sisi lain yang juga tidak kalah penting, dalam hal ini kepemimpinan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, para Ulama Salaf banyak menyusun karya-karya tulis ilmiah dan argumentatif di seputar fiqh As-Siyâsah As-Syar’iyyah (perpolitikan dalam pandangan syari’ah). Di antara mereka ialah Abul Hasan Al-Mawardi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan masih banyak lagi. Demikian pula para Ulama kontemporer semisal Syaikh bin Bâz, Syaikh Al-Albâni, Syaikh Utsaimin, Syaikh Muqbil, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbâd, Syaikh Shâlih Al-Fauzan, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Rabi’ bin Hâdi Al-Madhkhali dan murid beliau-beliau banyak menulis dan berfatwa terkait fiqh As-Siyâsah As-Syar’iyyah. Akan tetapi, para Ulama telah memastikan secara ilmiah bahwa kepemimpinan itu sebagai sarana bukan tujuan, dan kepemimpinan itu diwujudkan untuk mengatur manusia dan menjaga kemurnian agama. Sedangkan tujuan utama dari kepemimpinan Islam ialah menegakkan kalimatullah yakni kalimat tauhid “Lâ ilâha illallâh”, sehingga manusia menghambakan dirinya hanya kepada Allah semata dengan menaati perintah Rasul-Nya. Inilah sesungguhnya hakikat tujuan diciptakannya manusia.

Maka dakwah Salafiyyah memulai perubahan dengan apa yang dimulai oleh para Salafus Shâlih dalam merubahnya. Dimana perubahan itu dimulai dari diri-diri mereka sendiri, dengan mengupayakan “At-Tashfiyah” atau pemurnian aqidah dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan khurafat jahiliyyah, serta “At-Tarbiyah” atau pembekalan diri dengan ilmu tauhid, aqidah dan sunnah. Maka perubahan yang dibangun di atas manhaj Salafus Shâlih inilah yang sesungguhnya menjadi sebab kemenangan yang diberkahi oleh Allah ta’âla, meskipun membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup panjang. Allah ta’ala berfirman:

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang beramal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah memberi kekuasaan pada orang-orang sebelum mereka. Dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah keadaan mereka, setelah mereka dalam keadaan ketakutan menjadi aman tentram, mereka tetap mentauhidkan Aku dan tidak berbuat kesyirikan sedikitpun. Dan barangsiapa tetap kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” [An-Nûr: 55]

Demikian janji Allah atas orang-orang yang beriman dan beramal shalih, tatkala mereka berupaya mentauhidkan Allah dan berlepas diri dari kesyirikan maka Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana orang-orang yang telah di beri kekuasaan oleh Allah pada umat-umat terdahulu. Inilah yang dimaukan Imâm Mâlik rahimahullah dalam pernyataan beliau, “Tidak akan menjadi baik nasib umat ini, melainkan dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Maka yang semestinya dilakukan oleh berbagai gerakan jama’ah dakwah saat ini ialah berupaya memperbaiki pemahaman mereka dengan merujuk kepada ketentuan Al-Qur’an was Sunnah sesuai pemahaman As-Salafus Shâlih. Sehingga mereka mengerti bagaimana manhaj Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam dan manhaj para Shahabat beliau dalam berdakwah kepada agama Allah. Dan dalam ayat di atas Allah telah mengabarkan secara pasti kepada kita, bahwa masalah pengembalian hukum, kekuasaan atau kepemimpinan yang menjadi program utama bagi gerakan dakwah masa kini tidak akan menjadi kenyataan kecuali setelah mengupayakan dakwah tauhid dan perbaikan aqidah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وأيضا فمن المعلوم أن أشرف مسائل المسلمين وأهم المطالب في الدين ينبغي أن يكون ذكرها في كتاب الله أعظم من غيرها وبيان الرسول لها أولى من بيان غيرها والقرآن مملوء بذكر توحيد الله وذكر أسمائه وصفاته وآياته وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقصص والأمر والنهي والحدود والفرائض بخلاف الإمامة فكيف يكون القرآن مملوءا بغير الأهم الأشرف وأيضا فإن الله تعالى قد علق السعادة بما لا ذكر فيه للإمامة فقال ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا

“Dan juga termasuk hal yang wajib diketahui di sini, bahwa persoalan kaum muslimin yang paling utama dan menjadi perkara yang paling dituntut dalam agama ini ialah perkara-perkara yang disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dominan ketimbang yang lainnya, serta penjelasan dari Rasulullah lebih utama daripada yang lainnya. Maka ayat-ayat Al-Qur’an mayoritasnya tentang keterangan di seputar tauhid kepada Allah, tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya, rasul-rasulNya, dan hari kiamat. Al-Qur’an juga menceritakan kisah-kisah umat terdahulu, perintah dan larangan, hukum-hukum pidana maupun pembagian harta warisan, tidak sebagaimana masalah imamah (kepemimpinan). Maka bagaimana mungkin Al-Qur’an dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan yang tidak penting (tauhid), sementara masalah kepemimpinan di anggap penting dan lebih utama? Dalam Al-Qur’an, Allah juga telah mengaitkan penyebutan kebahagiaan tanpa menggandengkan dengan masalah kepemimpinan. “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan, dari kalangan para Nabi, para Shiddiqqin, para Syuhadâ dan orang-orang shâlih. Dan mereka adalah teman yang sebaik-baiknya.” [Minhâjus Sunnah An-Nabawiyyah 1/50]

Maka perkara tauhid inilah yang sesungguhnya menjadi inti dan pokok dari berbagai permasalahan. Namun persengkokolan zionis dan salibis terus dilancarkan demi melalaikan kaum Muslimin dari perbaikan aqidah dan mempelajari ilmu tauhid. Kaum Muslimin disibukkan oleh berbagai pemberitaan mass media, persatuan semu, atau perkara-perkara lain yang sesungguhnya tidak mampu memecahkan segala problematika yang menimpa mereka. Padahal bekal tauhid inilah yang sesungguhnya menjadi asas dan pondasi yang mapan. Ajaran tauhid inilah yang menjadi ajang perseteruan antara Nabi dan umat-umatnya yang membangkang. Akibat pelanggarannya terhadap tauhid, banyak manusia yang di azab, ditenggelamkan dan dibinasakan wa billâhit taufîq.

Fikri Abul Hasan

Sumber : http://madrasahjihad.wordpress.com/