Berhujjah dengan Hadits Ahad


Berhujjah dengan Hadits Ahad

Berhujjah Dengan Hadits Ahad ( Khabar Al-Wahid )

Mukaddimah

berhujjah denga hadits ahad dlm aqidahPembahasan seputar Khabar al-Wâhid atau Hadîts Ahâd sudah menjadi polemik sepanjang masa. Selama para pengikut masing-masing pihak yang berpolemik masih ada, maka selama itu pula perdebatan seputar hal itu tetap berlangsung, kecuali sampai batas yang dikehendaki oleh Allah.
Sekalipun demikian, yang menjadi tolok ukur suatu kebenaran adalah sejauh mana keberpegangan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah melalui argumentasi-argumentasi yang kuat, valid dan meyakinkan.

Ada golongan yang berkeyakinan dan keyakinannya itu salah bahwa Hadits Ahâd bukan hujjah bagi ‘aqidah. Karena menurut mereka, Hadits Ahâd itu bukan Qath’iy ats-Tsubût (keberadaan/sumbernya pasti), maka mereka menganggap hadits tersebut tidak dapat memberikan informasi pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin).
Benarkah statement-statement yang mereka lemparkan?, berikut ulasan mengenai masalah yang amat prinsipil dan urgen tersebut.
Semoga bermanfa’at bagi kita semua.

A. Berhujjah Dengan Hadits Ahad ( Khabar Al-Wahid )

Definisi

Hadits Ahad adalah hadits yang periwayatannya tidak mencapai jumlah banyak orang, hingga tidak mencapai mutawâtir (yaitu kebalikannya). Hadits Ahad yang diriwayatkan oleh satu orang pada setiap jenjangnya maka dinamaakan hadits gharîb. Bila diriwayatkan oleh dua orang pada setiap jenjangnya disebut dengan Hadits ‘Azîz. Sedangkan Hadits Ahâd yang diriwayatkan oleh jama’ah (banyak orang) namun tidak mencapai derajat mutawatir disebut Hadits Masyhûr. Jadi, Hadits Ahâd itu hadits yang tidak sampai pada syarat-syarat mutawatir.
Hadits Ahâd menurut Muhadditsin (para ahli hadits) dan Jumhur (mayoritas) ulama muslimin, wajib diamalkan apabila memenuhi syarat keshahihan dan diterimanya hadits itu. (dari Buletin an-Nur, tahun VI, No. 247/Jum’at I/Jumadal ula 1421 H)
Dalam hal ini, terdapat 3 pendapat seputar masalah: Apakah Khabar al-Wâhid atau Hadîts Ahâd dapat memberikan informasi yang pasti (bersifat keilmuan dan yaqin)?

I. Pendapat Pertama:

Khabar al-Wâhid atau Hadîts Ahâd DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI YANG PASTI (BERSIFAT KEILMUAN DAN YAQIN) SECARA MUTLAK/TOTAL.

Ini adalah pendapat yang dinisbahkan (dilekatkan) kepada Imam as-Sunnah, Imam Ahmad dan Madzhab Ahl azh-Zhâhir (Zhâiyyah), namun penisbahan ini TIDAK BENAR SAMA SEKALI.
IMAM AHMAD dikenal sebagai Ahli al-Jarh wa at-Ta’dîl (ulama kritikus Hadits) dan tidak dapat dihitung berapa banyak bantahan beliau terhadap hadits-hadits yang diriwayatkan para periwayat kategori LEMAH. Dan ini cukup sebagai bantahan terhadap apa yang dituduhkan kepada diri beliau tersebut.
Sedangkan Ibn Hazm, sebagai salah seorang Ahl azh-Zhâhir mengaitkan berfungsinya Khabar al-Wâhid atau Hadîts Ahâd sebagai pemberi informasi ilmu (hal yang yaqin dan pasti) dengan ‘adâlah (keadilan) sang perawi hadits.

BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT PERTAMA INI Lanjutkan membaca

Iklan

INILAH HAKIKAT HIZBIYAH oleh: Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab Al Wushabi -hafidzahullah-


INILAH HAKIKAT HIZBIYAH oleh: Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab Al Wushabi -hafidzahullah-

oleh : Al-Ustadz Jafar Salih

Apabila (ia) berselisih dengan seseorang dalam perkara ijtihadiyah seperti misalnya: Asy-Syaikh Abdurahman Al ‘Adani hizbi atau bukan?! Dia bilang orang ini hizbi! Dan syaikh-syaikh Ahlussunnah wal Jama’ah selain dia mengatakan: Bahkan beliau sunni dan bukan hizbi.

Lihatlah apa yang ia lakukan kepada syaikh-syaikh tersebut (yang menyelisihinya –pentj), ia membid’ah-bid’ahkan, mencap mereka sesat, fasik, memutus hubungan (qaathi’), memboikot (mereka) dan menyuruh murid-muridnya memboikot (mereka) dan membuat tulisan-tulisan dan kaset-kaset yang banyak (yang membelanya –pentj)

Kami katakan kepadanya: Wahai Anda, ini perkara ijtihadiyah bukan nashshiyyah (ada nash nya), tidak ada wahyu turun ke kita fulan hizbi! Anda berijtihad begini –diatas baik sangka- bahwa Anda mengatakan ini atas dasar ijtihad, kalau bukan karena hawa nafsu. Anggap, bahwa Anda berijtihad dan selain Anda berijtihad dan mengatakan: Dia bukan hizbi. Perkara-perkara ijtihadiyah tidak boleh menyesat-nyesatkan disini, (tidak boleh) membid’ah-bid’ahkan, menghizbikan, mencap fasik, penjahat, (yakni) bahwa mereka (syaikh-syaikh yang menyelisihimu –pentj) sebagai orang-orang fasik, membuat makar, pengkhianat…

Perkaranya ijtihadiyah, buka cakrawalamu. Orang ini telah membuat syari’at, ini adalah bid’ah yang buruk, yaitu memboikot, memutus hubungan, menjauh, tidak mengucapkan salam, tidak mau berbicara, meskipun bertahun-tahun, karena perkara ijtihadiyah.

Wajib baginya bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dari bid’ah ini, bid’ah yang merupakan bid’ah yang sesat dan termasuk dari dosa-dosa besar bahwa dia menyesat-nyesatkan meskipun yang melakukan ini ulama, meskipun yang melakukan salafus-shalih atau imam-imam yang empat. Tidak lagi tersisa kasih-sayang diantara muslimin. Yang satu berpandangan ini, yang lain berpandangan sebaliknya (langsung) diputus (hubungannya) dan diboikot. Tidak tersisa kasih-sayang antara dua orang. Oleh karena itu kami katakan, bahwa ini bid’ah

Dan juga termasuk bid’ah yang ia lakukan: memaksa (ilzam) orang lain untuk taqlid kepadanya! Orang yang tidak berpendapat seperti dia dalam perkara ini diboikot, diusir, dicap “orang sakit”!!Takutlah kepada Allah, tidak boleh mengilzam (mengharuskan) orang lain taqlid kepadamu! Anda bukan nabi, bukan malaikat yang ma’shum! Tidak ada wahyu turun padamu! Ada manusia (biasa). Perbuatanmu mengilzam orang lain mengikutimu (taqlid) (dengan mengatakan –pentj): Apa sikap (mauqif) kamu? Dan kamu wahai fulan, apa mauqif kamu? Yakni apabila orang ini tidak berpendapat seperti pendapatnya maka kamu terusir, diboikot, (dikatakan) kamu “orang sakit”. (Perbuatan seperti) ini termasuk mengharuskan (ilzam) orang lain untuk taqlid!

Dan kamu tahu sikap Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah bahwa dahulu beliau mentahdzir (memperingatkan) dari mentaqlid dirinya. Sedangkan Anda mengilzam orang lain mengikutimu (taqlid) sampai-sampaik kamu ingin mengilzam syaikh-syaikh apabila mereka tidak berpendapat seperti pendapatmu!

Ini adalah bid’ah di dalam beragama: yaitu mengilzam, mengilzam orang lain untuk taqlid.

Dan juga (termasuk bid’ah –pentj): memboikot (orang lain) diatas dasar perkara ijtihadiyah.

Maka ia dua macam bid’ah disisi bid’ah-bid’ah lainnya.

إذا اختلف مع شخص في مسألةٍ اجتهاديّةٍ في مثل مثلاً الشّيخ:عبد الرّحمن العدني هل هُو حزبيّ أم لا؟هُو يقول بأنّه حزبيّوبقيّة المشايخ من أهل السُّنّة والجماعة قالوا: بل هُو سُنِّي وليس بِحِزْبي، فانظُروا ماذا فعل مع المشايخ بدّع وضلّل وفسّق وقاطع وهَجَر وأمر طُلاّبه بالهجر وأنزلُوا الملازِمَ الكثيرة والأشرطة الكثيرة؛

نقول له: يا هذا هذه مسألة اجتهاديّة ما هي نصيّة ما في وحي ينزل لنا فُلان حزبِيأنتَ اجتهدتَّ هذا إذا أُحْسِن بك الظّنّ أنّك قُلت هذا عن اجتهادٍإن لم تُكن قُلتَه عن هوىلِنفرض أنّك اجتهدتَّ وغيرُك اجتهد قال: ما هُو حزبي، المسائل الاجتهاديّة ما يجوز التّضليل فيها والتّبديع والتّحزيب والتّفسيق والتّفجير أنّهُم فَجَرَة أنّهُم فَسَقَة وأنّهُم مَكَرة وأنّهُم خونة..مسألة اجتهاديّة وسِّع بالَك، فهُو شرّع هذه البدعة الخبيثة الهجر والمُقاطعة والمُدابرة وعدم السّلام والكلام ولو كان لِسنين طويلة من أجل مسألة اجتهاديّة!

عليهِ أن يتُوبَ إلى الله عزّ وجلّ من هذه البِدعة التي هِي بدعة ضلالة وتُعتَبر من الكبائر أنّه ضلّل؛ لو فَعَل هذا العُلماءلو فعل هذا السّلف الصّالحلو فعل هذا الأئمّة الأربعة ما بَقِيَ مودّة بين مُسْلِمَيْن؛ هذا يرى كذا وهذا يرى خلاف ذلك ومُقاطعة ومُهاجرة؛ لم تبقى مودّة بين اثنينلهذا قُلنا: بأنّها بدعة.

وأيضًا من البدع التي ارتكبها: إلزامه للآخرين بتقليدهالذي لا يقُول بقوله في هذه المسألة فهُو مهجور ومطرود وهُو مريض!! اتّق الله ما يجُوز أن تُلزِم النّاس بتقليدكأنتَ ماك نبِيّ!ولا أنتَ مَلَك معصومولا يُوحَى إليكأنتَ بَشر، إلزامُك للنّاس بتقليدك وإيش موقفك؟وأنتَ يا فُلان ما موقفك؟!يعني: إذا لم تقُل بقوله وإلاّ فأنتَ مطرود ومهجُور وأنتَ مريض!هذا فيه إلزام للنّاس بالتّقليد!

وأنتَ تعرف موقف الشّيخ مُقبل –رحمةُ اللهِ عليهِ أنّه كان يُحذِّر من التّقليد من تقليده، وأنتَ تُلزِم النّاس بتقليدك حتّى تُريد أن تُُلزِم المشايخ إذا لم يقولوا بِقَوْلِكفهذه بدعةٌ في الدِّين: الإلزام؛ إلزام النّاس بالتّقليد، وأيضًا: الهجر على مسائل اجتهاديّة. فهاتانِ بدعتان من بِدعٍ كثيرة!!

http://wahyain.com/forums/showthread.php?t=2999

Sumber : https://m.facebook.com/note.php?note_id=10151261816720889&_rdr