Menghidupkan Ruh Iman Dalam Keluarga


Menghidupkan Ruh Iman Dalam Keluarga

Oleh: Ustadz Abu Ammar Abdul Adhim al-Ghoyami

Layaknya seorang guru, orang tua memiliki tugas memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak mereka. Tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya ke dalam otak anak-anak, namun lebih dari itu mereka harus bisa mendidik dengan pendidikan yang paripurna didasari pola penjernihan akidah, ibadah serta tingkah laku dan karakter anak. Anak-anak harus dijauhkan dan dibersihkan dari apa saja yang mengeruhkan pola beragamanya dengan baik dan benar.

Gambarannya, para orang tua harus bisa menjadikan setiap ucapan yang terucap oleh anak-anak dan seluruh tingkah polahnya merupakan cerminan dari bersihnya hati mereka yang penuh dengan cahaya keimanan. Tugas yang tidak mudah dan tidak ringan ini menjadi kewajiban setiap pasangan suami istri secara bersama-sama. Adapun secara khusus, para suami yang juga para bapak dari anak-anak, memiliki tugas mendidik seluruh anggota keluarganya termasuk istri-istri mereka dengan tugas yang sama seperti di atas.

Dengan menyimak siroh (perjalanan hidup) Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam akan kita ketahui bahwa beliau, di samping sebagai seorang nabi dan rosul, juga sebagai seorang pendidik teladan yang bijaksana, sebagai seorang guru yang tak habis-habisnya mentransfer ilmu, seorang juru pengarah yang lurus nasihatnya, besar kasih sayangnya, yang mencintai dan dicintai, serta begitu tulus keikhlasannya. Semua itu beliau lakukan terhadap para istri beliau, anak-anak, keluarga serta seluruh sahabatnya ridhwanullohi alaihim ajma’in. Sehingga kita bisa dapati seluruh mereka yang terdidik di bawah didikan nubuwwah ini benar-benar menjadi generasi yang unggul dan brilian otaknya sebab telah terasah oleh kelembutan-kelembutan iman dan telah terterangi oleh kilauan-kilauan akhlak terpuji dari hati yang suci.

Adab Pendidik Robbani

Menilik sisi kehidupan rumah tangga Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam, sebagai seorang suami juga sebagai seorang bapak, bagaimana Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam telah berhasil mendidik para istri serta anak-anak beliau dan menanamkan keimanan di hati-hati mereka seluruhnya. Berbagai kelebihan yang kiranya masih begitu jauh untuk bisa kita katakan bahwa hal itu telah dimiliki pula oleh para suami, juga oleh para orang tua dewasa ini, namun hal itu akan kita dapati pada diri beliau dan metode pendidikan beliau. Selalu mengucap salam tatkala berjumpa merupakan satu kelebihan beliau. Sehingga beliau tampil sebagai sosok yang dicintai dan begitu mencintai. Beliau selalu tampil dengan raut muka berseri lagi murah senyum. Bahkan beliau menyebutkan:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan sesamamu adalah shodaqohmu”. (HR. Tirmidzi 2083, Shohihul Jami’ no. 2908)

Beliau selalu bertutur kata lembut dan sopan. Bahkan tatkala melihat suatu kesalahan pada umatnya sekalipun hanya kalimat yang mulia yang keluar dari lisan beliau yang mulia.Bahkan beliau menyebutkan:

 وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Dan tutur kata yang baik ialah shodaqoh”. (Hadits Muttafaqun alaih)

Beliau begitu jauh dari tutur kata yang jelek, jorok, kotor maupun yang menyakitkan. Belau juga jauh dari perkataan yang menghinakan. Beliau selalu memperhatikan adab-adab yang mulia di hadapan umat beliau, termasuk di hadapan para istri, anak-anak, serta keluarga dan umat beliau seluruhnya. Semua ini memberikan pelajaran tentang metode pendidikan iman yang begitu sempurna yang telah dilakukan oleh beliau Shallallahu alaihi wasallam. Sehingga, sebagai seorang bapak, hendaknya meneladani beliau dalam menciptakan dan menumbuhkan ruh iman di dalam rumah tangga serta keluarga.

Upaya Menghidupkan Ruh Iman

Upaya yang bisa dilakukan oleh seorang bapak guna menumbuhkan ruh iman di rumahnya ialah berdakwah. Ia harus menjadi seorang da’i yang baik. Sebab Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam pun memulai tugasnya dengan berdakwah.

Sebagai kepala rumah tangga, seorang bapak hendaknya memulai dakwahnya dari keluarganya yang paling dekat. Merekalah istri-istri serta anak-anaknya. Kemudian dakwah itu diperluas kepada karib kerabat lalu sahabat serta kawan dekat dan seterusnya sampai masyarakat sekitar. Dari lingkup serta sekup yang kecil seperti ini pulalah Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam mulai berdakwah. Kemudian beliau kembangkan lebih luas lagi dan lebih luas lagi sampai akhirnya meluaslah dakwah beliau bahkan sampai ke berbagai negeri.

Selain itu, ia juga harus memulai pembinaan terhadap para istri serta anak-anaknya dengan menguatkan dan memperkokoh akidah tauhid mereka terlebih dahulu. Ia harus memberikan perhatian yang lebih terhadap arti pentingnya akidah tauhid ini. Hal ini sebagaimana yang menjadi perhatian dan inti dakwah Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam, yang akhirnya beliau berhasil membangun sebuah Daulah Islamiyyah (pemerintahan Islam) yang kokoh. Dan siapa saja yang ingin membangun sebuah rumah tangga yang Islami, maka kewajiban seorang bapak ialah memulai dari pembenahan dan pemantapan akidah tauhid ini. Bila tidak, ia tidak akan berhasil dan bahkan yang ada hanyalah kegagalan semata. Jadi, membangun rumah tangga Islami harus dimulai dari membangun hati, yaitu dengan membangun akidah, selanjutnya menancapkan tonggak-tonggaknya yang telah kokoh itu di atas bumi. Dan hanya dengan menerapkan akidah yang mantap ini pada diri kita sendiri, lalu pada diri para istri kita, keluarga, serta anak-anak kita, pertolongan Alloh akan datang dan akan terbukalah pintu keberhasilan.

Ilmu Agama di Rumah

Tugas berdakwah di rumah bagi para suami sebagai kepala keluarga mengharuskan dirinya pandai-pandai dalam memilih aspek-aspek yang harus diperbaiki. Selain itu, ia harus tahu aspek yang mana yang harus didahulukan untuk segera diperbaiki. Aspek penting yang tidak boleh ia lalaikan itu ialah aspek agama. Ia wajib mengajarkan agama kepada istri, anak serta seluruh keluarga. Alloh Azza wajalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)   

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim [66]: 6)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut menyebutkan bahwa, tentang ayat ini adh-Dhohak dan Muqotil berkata: “Merupakan kewajiban setiap muslim mengajarkan keluarganya dari kerabat dan budak-budaknya akan apa yang diwajibkan oleh Alloh atas mereka dan apa yang dilarang-Nya”.

Di dalam sebuah hadits, Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلُ كُلِّ رَاعٍ عَمَّا اِسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَهُ . حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Alloh Azza wajalla akan menanya setiap pemimpin tentang apa yang telah ia lakukan terhadap kepemimpinannya, apakah ia memelihara (amanah tersebut) ataukah menyia-nyiakannya. Sampai menanyai juga seorang suami tentang (kepemimpinannya) terhadap keluarganya.[1]

Dari hadits di atas diketahui akan begitu besarnya tanggung jawab yang dibebankan Alloh di atas pundak para suami. Sehingga begitu pentingnya bagi para suami untuk segera menghidupkan aspek agama di rumahnya. Salah satunya ialah dengan memenuhi kebutuhan keluarga terhadap pengajaran agama.

Rajin Ngaji Sunnah

Apa yang bisa dilakukan oleh para suami untuk menunaikan kewajibannya ini?

Kata seorang bijak, “Orang yang tak punya sesuatu tak mungkin bisa memberi”. Maka,kewajiban para suami ialah rajin ngaji sunnah untuk belajar tentang Islam. Yaitu pengajian yang di dalamnya diajarkan ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam yang shohih menurut para ulama ahli hadits, yang pemahaman dua sumber tersebut mengacu kepada pemahaman para ulama salaf. Siapakah para ulama salaf itu? Mereka ialah para sahabat Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam, para tabi’in (pengikut para sahabat), dan para pengikut tabi’in,[2] dan para imam-imam ahlus sunnah wal jama’ah yang terpercaya.

Bina Majelis Ilmu

Selanjutnya seorang suami bisa membina majelis ilmu di rumah. Ia ajarkan ilmu yang telah didapat kepada keluarga di rumah. Programkan waktu meski hanya sekali majelis dalam sepekan untuk menyampaikan ilmu tentang sunnah kepada istri dan anak-anak.

Imam al-Bukhori Rahimahullahu dalam kitab shohihnya pada bab pengajaran seorang suami kepada budak perempuannya dan keluarganya menuliskan sebuah hadits berikut:

ثَلاَثَةٌ لَهُمْ أَجْرَانِ  وَرَجُلٌ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَةٌ { يَطَؤُهَا } فَأَدَّبَهَا ، فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ، وَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا ، ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا ، فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga golongan orang yang berhak mendapatkan dua pahala: … dan seorang laki-laki yang memiliki budak perempuan lalu ia mendidiknya dengan sebaik-baiknya, mengajarinya dengan sebaik-baiknya pula, kemudian ia memerdekakannya dan menikahinya, maka ia berhak mendapatkan dua pahala”.

Ibnu Hajar al-Asqolani Rahimahullahu mengomentari: “Kesesuaian hadits ini dengan judul bab, dalam (kaitannya dengan) budak perempuan, (ditetapkan) dengan nash. Sedangkan (kaitannya dengan) keluarga (hanya), ditetapkan dengan qiyas. (Hal ini) karena perhatian (seorang suami) terhadap keluarga yang (mereka adalah orang) merdeka dalam soal pengajaran kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Alloh dan sunnah-sunnah Rosul-Nya adalah sesuatu yang harus dan pasti daripada perhatiannya terhadap budak perempuannya.” (Fathul Bari 1/190)

Ajak Istri dan Keluarga Pergi Ngaji

Tidak semua suami cakap menyampaikan ilmu kepada istri dan keluarganya. Bila hal ini yang ada pada diri seorang suami, maka ia hendaknya membuat majelis al-Qur’an di keluarganya. Berupa majlis belajar membaca al-Qur’an, dan yang lebih dari itu ialah majlis mempelajari makna-makna setiap ayatnya dan termasuk juga majlis menghafal ayat-ayatnya. Tentunya ini lebih mudah baginya. Dan jangan lupa mengajak istri serta anak-anak menghadiri majelis-majelis ilmu, pengajian-pengajian sunnah yang disampaikan oleh para alim ulama sunnah yang terpercaya guna menanamkan wawasan ilmu ajaran Islam pada mereka. Hal ini sebagai ganti atas ketidaksanggupannya mengajarkan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan.

Hadirkan Cahaya Ilmu dan Harumnya Kesholihan di Rumah

Ilmu itu laksana cahaya penerang, sedangkan orang-orang sholih laksana minyak yang harum mewangi. Rumah kita dan penghuninya tentu membutuhkan penerang serta aroma yang sedap. Dengan keduanya hidup di rumah akan tenang dan damai. Bagaimana seorang suami bisa menghadirkan cahaya ilmu dan harumnya kesholihan di rumah? Seorang suami bisa mengundang seorang yang alim (berilmu) atau para penuntut ilmu syar’i dan orang-orang sholih ke rumah. Dengan kehadiran mereka tentu saja keluarga kita akan senang menyambutnya. Pembicaraan bersama mereka akan diberkahi, berdiskusi dengan mereka akan memberikan manfaat ilmu, bertanya kepada mereka akan didapati kepuasan dan ketenangan hati. Kebaikan seperti ini tentu bisa didapatkan oleh semua anggota keluarga, termasuk istri dan kerabat wanita yang bisa mendengarkan dari balik tabir rumah.

Atau, bila memungkinkan, seorang suami bisa melakukan suatu hal yang mungkin lebih banyak manfaat serta faedahnya bagi kaum wanita. Tidak hanya bagi istri serta kerabat wanitanya semata, namun bagi para mukminat di sekitarnya. Programkan ngaji sunnah khusus untuk kaum wanita, baik ibu-ibu maupun para pemudi muslimah di rumah. Sebagaimana apa yang dulu pernah dilakukan oleh beberapa sahabat wanita yang mulia.

Imam al-Bukhori Rahimahullahu membuat bab dalam kitab shohihnya, “Apakah dikhususkan suatu hari tertentu bagi kaum wanita untuk mempelajari ilmu?” Lalu beliau membawakan sebuah hadits dari sahabat Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa para sahabat wanita mengadu kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam seraya berkata: “Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki dalam berkhidmat kepada engkau, maka tetapkan ada suatu hari khusus buat kami dari kesempatan kapan pun terserah engkau.” Maka Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam pun menjanjikan buat mereka suatu hari untuk menemui mereka, untuk menasihati maupun memerintah mereka”.

Ibnu Hajar al-Asqolani Rahimahullahu berkata: “Dalam riwayat Sahl bin Abi Sholih dari ayahnya dari Abu Huroiroh Radhiyallahu anhu, mirip dengan kisah ini, beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perjanjian kalian ialah di rumah fulanah.” Maka Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam pun mendatangi mereka dan berceramah kepada mereka. (Fathul Bari 1/195)

Hadirkan Perpustakaan di Rumah

Termasuk hal yang banyak dilalaikan oleh para suami ialah menghadirkan buku-buku serta majalah Islam untuk keluarganya. Padahal dengan menghadirkan keduanya ia telah memberikan banyak manfaat buat keluarganya. Perpustakaan di rumah juga membantunya untuk menjalankan proses pengajaran bagi seluruh anggota keluarga. Para istri juga anak-anak tentunya membutuhkan banyak perbendaharaan ilmu, yang tidak cukup mereka menimbanya dari majelis-majelis ilmu langsung. Apalagi waktu mereka banyak habis di rumah. Hal ini hendaknya menjadi perhatian para suami. Hendaknya ia menyediakan wahana penambah ilmu di rumahnya dan menganjurkan para istri serta anggota keluarga untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya. Dan perpustakaan di rumah ialah salah satu yang bisa diusahakan. Dengan adanya perpustakaan di rumah akan menjadikan keluarga rajin membaca dan menambah ilmu sendiri yang sangat banyak faedahnya.

Ibnul Jauzi Rahimahullahu pernah mengatakan: “Jalan pencari kesempurnaan dalam menuntut ilmu ialah membaca buku-buku yang telah ditulis dan diwariskan (oleh para ulama). Maka perbanyaklah membacanya, karena Anda akan melihat kedalaman ilmu seseorang dan semangatnya yang tinggi, serta sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Anda, hal yang akan menggerakkan keinginan Anda untuk belajar. Ketahuilah bahwa tidak ada sebuah buku (yang ditulis oleh para ulama’) yang tidak memiliki manfaat”. (Shoidul Khothir I/448)

Koleksi Buku-buku dan Majalah Islam

Perpustakaan di rumah tidak harus besar, namun hendaknya memiliki koleksi buku-buku para ulama yang penting dan majalah-majalah Islam yang ditempatkan di tempat atau ruangan yang mudah dijangkau oleh seluruh anggota keluarga agar mudah dan menarik untuk dibaca.

Hal yang sangat disayangkan, bila di rumah-rumah kaum muslimin tidak tersedia mushaf al-Qur’an barang satu kitab pun. Apalagi al-Qur’an yang dilengkapi terjemahan maknanya, lebih sulit didapati adanya. Malah sebaliknya, justru mereka banyak mengoleksi majalah-majalah, tabloid, maupun surat-surat kabar semisal koran dan bacaan-bacaan lain yang tidak memberi didikan yang baik bagi keluarganya. Padahal al-Qur’an ialah pedoman awal dan utama setiap muslim, dan merupakan tali Alloh yang kokoh bagi kaum muslimin. Akankah ia digantikan dengan majalah-majalah dan bacaan-bacaan tersebut sebagai pedomannya?! Ini merupakan sebesar-besar musibah. Sehingga, selayaknya yang menjadi koleksi wajib di perpustakaan rumah ialah mushaf al-Qur’an dan al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya.Lebih baik lagi bila disediakan lebih dari satu biji, namun disesuaikan jumlah anggota keluarga. Kemudian setelah itu bisa dikoleksi buku-buku yang ditulis oleh para ulama ahlus sunnah wal jamaah, yang meliputi buku-buku penting dalam berbagai bidang ilmu agama. Buku-buku tafsir, hadits, akidah, tauhid, fikih, adab-adab Islamiyyah, akhlak, penyucian jiwa, dan lain-lain. Satu hal yang begitu menggembirakan, saat ini buku-buku para ulama dalam berbagai bidang tersebut telah banyak diterjemahkan dan dijual di banyak toko buku di seluruh daerah negeri ini. Bisa juga dikoleksi CD-CD ceramah yang menebarkan ilmu-ilmu para ulama ahlus sunnah wal jamaah yang juga banyak faedahnya.

Dengan melakukan apa yang telah diuraikan di atas, seorang suami insya Alloh akan bisa menumbuhkan ruh iman dalam keluarganya. Demikian, semoga bermanfaat, wabillahit taufiq.

http://alghoyami.wordpress.com/ 


[1] Hadits hasan riwayat an-Nasa’i  dalam Sunan al-Kubro no. 9174, Ibnu Hibban dalam Shohihnya no. 4569, 4570 dan lafazh ini miliknya, dan at-Tirmidzi dalam Sunannya no. 1807, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’ no. 1774.

[2] Mereka ialah yang disebut oleh Alloh Subhanahu wata’ala di dalam QS. at-Taubah [9]: 100

Sumber  http://alghoyami.wordpress.com/2011/11/16/menghidupkan-ruh-iman-dalam-keluarga/