Hizbut Tahrir Berdusta Atas Nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam


Hizbut Tahrir Berdusta Atas Nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

hizbut tahrir petirKelompok Hizbut Tahrir adalah kelompok partai politik yang didirikan oleh Taqiyuddin An-Nabhani pada tahun 1953 di Al Quds (Baitul Maqdis), Palestina. Taqiyuddin An-Nabhani sendiri merupakan lulusan Al Azhar Mesir. Banyak ulama ahlussunnah membantah kelompok hizbut tahrir, di antaranya : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam bukunya Hizbuttahrir Mu’tazilah Gaya Baru, Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhaly, Syaikh Salim Al-Hilali, dll.

Di antara penyimpangan hizbut tahrir yang paling besar adalah, mereka(hizbut Tahrir) telah berdusta atas nama   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  Di dalam situs resminya : hizbut-tahrir.or.id , mereka menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan partai politik di mekkah dengan nama Hizbur Rosul, mereka katakan ini dalam sebuah tulisan berjudul : Saat Khilafah Berdiri, Siapa Kholifahnya ? mereka berkata : Begitulah Nabi saw. mencontohkan dan begitulah sejarah membuktikan. Nabi saw. sendiri adalah ketua partai politik, yang dikenal dengan Hizbur Rasul, ketika masih di Makkah. Nabi saw. mendidik, mempersiapkan proses perubahan dan mewujudkan perubahan bersama para Sahabat yang menjadi anggota  Hizbur Rasul (http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/03/saat-khilafah-berdiri-siapa-kholifahnya/), lihat di paragraf ke-3, baris  ketiga dan seterusnya.

Bantahan :

Sungguh apa yang di klaim hizbut tahrir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah ketua partai politik dan beliau sendiri ketua partai politiknya kala di Mekah adalah  kedustaan yang sangat nyata, atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Padahal tidak ada riwayat yang shohih  yang disampaikan oleh para ahli hadist maupun kitab-kitab siroh yang ditulis oleh para ulama ahli sejarah seperti Ibnu Katsir dalam kitab Al Fushul fi Ikhtishari Siratur Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kitab sirah nabawiyah dalam bagian Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Hisyam dalam kitab beliau Siratun Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bnul Jauzi menulis pula tentang sirah nabawiyah dengan judul Al Wafa’ bi Ahwal Al Musthafa, Imam Al Asfahani menulis Dala’il An Nubuwah. Imam At Tirmidzi menulis Asy Syama’il, dan Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis dalam kitabnya, Zadul Ma’ad. Ulama ahli sejarah dari kalangan ulama ahlussunnah jaman sekarang pun mengarang kitab siroh Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallasm, di antaranya : Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri dengan kitabnya Ar Rahiq Al Makhtum, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan judul Mukhthasar Siratur Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ustadz Abul Hasan Ali An Nadwi dari India pun juga menulis As Sirah Nabawiyah. Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi menulis kitab Hadzal Habib, Ya Muhibb, Shahih Sirah Nabi Karya Dr. Akram Dhiya’ Al-Umuri.

Mereka semua dalam kitab siroh TIDAK PERNAH  menyebutkan DAN MERIWAYATKAN bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mendirikan partai politik di mekkah dengan nama Hizbur Rasul, yang ketua partainya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dan para anggotanya sahabat-sahabat beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Ana katakan kepada hizbut Tahrir  : Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah 2:111). Apakah mereka tidak takut ancaman dari Allah Azza wa jalla?

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبُ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ.

“Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah, ‘Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena se-sungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.’” [HSR. Ahmad (I/83), al-Bukhari (no. 106), Muslim (I/9) dan at-Tirmidzi (no. 2660)]

عَنْ الْمُغِيْرَةِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

“Dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Se-sungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” [ HSR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10), diri-wayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid.)]

Imam Ahmad meriwayatkan lagi (4/50) dengan lafadz.

Artinya : “Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil, atau (ia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat duduknya di neraka”. Sanad ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.
حدثنا أبو معمر قال حدثنا عبد الوارث عن عبد العزيز قال أنس إنه ليمنعني أن أحدثكم حديثا كثيرا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من تعمد علي كذبا فليتبوأ مقعده من النار
Artinya : Dari Anas bin Malik, ia berkata. Sesungguhnya yang mencegahku menceritakan hadist yang banyak kepada kamu, (ialah) karena Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallamtelah bersabda : “Barangsiapa yang sengaja berdusta atasku (yakni atas namaku), maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (1/35) dan Muslim (1/7) dll.
حدثنا أبو الوليد قال حدثنا شعبة عن جامع بن شداد عن عامر بن عبد الله بن الزبير عن أبيه قال قلت للزبير إني لا أسمعك تحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم كما يحدث فلان وفلان قال أما إني لم أفارقه ولكن سمعته يقول من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار

Artinya : Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya (Abdullah bin Zubair), ia berkata. Aku bertanya kepada Zubair bin ‘Awwam : “Mengapakah aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits) dari Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallamsebagaimana aku mendengar Ibnu Mas’ud dan si fulan dan si fulan..? Jawabnya : Adapun aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah sejak aku (masuk) Islam, akan tetapi aku telah mendengar dari beliau satu kalimat, beliau bersabda : “Barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. Hadits shahih, dikeluarkan Bukhari (1/35), Abu dawud (No. 3651) dan Ibnu Majah (No. 36 dan ini lafadznya) dll.

Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ialah: “Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: ‘Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.’

Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk api Neraka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum Muslimin untuk ber-hati-hati jangan sampai terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadist tentang berdusta kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam mencapai derajat mutawatir arena menurut penyelidikan hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 (enam puluh) orang Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim jami’an, di antaranya adalah:
1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
2. Anas radhiyallahu ‘anhu.
3. Zubair radhiyallahu ‘anhu.
4. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.
5. Jabir radhiyallahu ‘anhuma.
6. Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.
7. Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dan lainnya.

Dan hadits di atas pun telah dicatat oleh lebih dari 20 (dua puluh) Ahli Hadits, di antaranya: Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimy, dan lainnya.

Sebagai penutup, sebagai renungan bagi kita, ana nukil firman Allah Azza wa jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mem-punyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-an jawabnya.” [Al-Israa’: 36]

Rujukan :

http://almanhaj.or.id/content/1315/slash/0/bolehkah-hadits-dhaif-diamalkan-dan-dipakai-untuk-fadhaailul-amaal-keutamaan-amal/

http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/03/saat-khilafah-berdiri-siapa-kholifahnya/

http://www.penamuslim.web.id/2009/10/ancaman-berdusta-atas-nama-rasulullah.html

 Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

Cimahi , 6 Shaffar 1434 H/ 20 Desember 2012

Di pagi yang cerah.