HIZBIYAH -oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (Bagian I)


HIZBIYAH -oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (Bagian I)

Oleh  Al-Ustadz Jafar Salih

سم الله الرحمن الرحيم

 

majmu fatawa syaikhul Islam Ibnu TaimiyahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan di dalam Majmu’ Fatawa (18/13) tentang hizbiyah:

Wajib bagi para muallim (ustadz) bekerjasama diatas kebaikan dan ketakwaan seperti yang diperintahkan Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya ((Perumpamaan mukminin dalam kasih-sayang dan sikap lemah lembut diantara mereka adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuhnya merasakan sakit, semua tubuh ikut merasakan panas dan tidak bisa tidur)) HR Al Bukhari dan Muslim.

 

Dan tidak boleh salah seorang dari muallim mereka berbuat sewenang-wenang kepada muallim lainnya, tidak menyakitinya dengan ucapan, perbuatan tanpa alasan yang benar. Karena sesungguhnya Allah Ta’aala berfirman ((Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan tanpa dosa yang mereka lakukan maka berarti dia telah menanggung kedustaan dan dosa yang besar)) Al Ahzab: 58

Dan tidak boleh seseorang menghukum orang lain bukan karena kedzaliman yang dia lakukan atau sikap sewenang-wenang atau perbuatan menelantarkan hak, melainkan hanya semata-mata karena hawa nafsu. Sesunguhnya ini (menghukum orang lain hanya karena hawa nafsu) adalah termasuk kedzaliman yang diharamkan Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’aala berfirman dalam hadits qudsi ((Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya aku mengharamkan kedzaliman atas Diri-Ku dan aku jadikan kedzaliman itu diantara kalian hukumnya haram, maka jangan kalian saling mendzalimi)) HR Al Bukhari dan Muslim.

Dan apabila seseorang melakukan kesalahan, maka tidak boleh menghukumnya selain dengan hukuman syar’i. Dan tidak boleh salah seorang muallim atau ustadz menghukumnya dengan semaunya. Dan tidak boleh seorang pun menolongnya atau mengikutinya diatas perbuatannya itu, seperti menyuruh untuk menghajr (memboikot) seseorang, lalu orang itu diboikot tanpa dosa yang jelas. Atau ia mengatakan aku “berhentikan dia” atau ucapan seperti ini, karena sesungguhnya ini termasuk perbuatan yang dilakukan pastor-pastor dan rahib-rahib terhadap kaum Nasrani dan termasuk perbuatan hazzabun (para pemecahbelah ummat) dari kalangan Yahudi dan termasuk perbuatan yang dilakukan pemimpin-pemimpin sesat dihadapan para pengikut mereka.

Sumber : HIZBIYAH -oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (Bagian I)

Bersambung….