Hizbiyah Bagian-3 (Oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-)


Hizbiyah Bagian-3 (Oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-)

Oleh : Al-Ustadz Jafar Salih

majmu fatawa syaikhul Islam Ibnu TaimiyahDan wajib atas semua pihak untuk satu tangan bersama kebenaran dalam melawan kebatilan, sehingga yang mereka agungkan hanyalah orang-orang yang diagungkan Allah dan rasul-Nya dan yang mereka angkat hanyalah orang-orang yang diangkat Allah dan rasul-Nya dan yang mereka hinakan hanyalah orang-orang yang dihinakan Allah dan rasul-Nya sesuai keridha’an Allah dan rasul-Nya bukan diatas perhitungan hawa-hawa nafsu.

Karena siapa saja yang mentaati Allah dan rasul-Nya ia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya, ia tidak mencelakai melainkan dirinya sendiri. Inilah pokok ajaran yang sepatutnya menjadi sandaran. Sehingga tidak perlu lagi perpecahan dan cerai-berai mereka, karena sesunguhnya Allah Ta’aala berfirman ((Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, kamu (wahai Muhammad) bukan termasuk dari mereka sama sekali))  Al An’am: 159. Dan Allah Ta’aala juga berfirman ((Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan)) Ali Imran: 105

Dan apabila seseorang telah diajarkan oleh seorang ustadz yang diketahui kebaikannya kepada dia dan ia pun mensyukurinya, jangan dia membela dengan membabibuta, jangan kepada ustadznya atau selain ustadznya. Karena pembelaan yang membabibuta kepada pihak tertentu dan penyandaran diri kepadanya -seperti disebutkan dalam nash pertanyaan- adalah termasuk bid’ah-bid’ah jahiliyah dan termasuk sikap aliansi yang dahulu diperbuat orang-orang musyrikin dan termasuk perpecahan Qais dan ‘Ain.

Apabila maksud dari pembelaan dan penyandaran diri ini adalah kerjasama diatas kebajikan dan ketakwaan, perkara ini telah diperintahkan Allah dan rasul-Nya kepada dia dan selain dia tanpa harus ada aliansi seperti ini. Sedangkan apabila maksud dari pembelaan ini adalah keerjasama diatas dosa dan permusuhan, sungguh hal ini telah diharamkan Allah dan rasul-Nya.

Dan kebaikan apa pun yang dimaukan dengan sikap seperti ini, sungguh pada perintah Allah dan rasul-Nya terhadap semua kebaikan adalah cukup tanpa perintah muallim-muallim. Dan keburukan apa pun yang dimaukan dengan sikap seperti ini, Allah dan rasul-Nya telah (lebih dahulu) mengharamkannya. Maka tidak boleh seorang muallim (ustadz) menyelisihi murid-muridnya diatas prinsip ini dan tidak pula selain si muallim (dibolehkan) mengambil seseorang dari murid-muridnya untuk dinisbatkan kepada dirinya dalam bentuk yang bid’ah sama sekali. Dan tidak boleh bagi dia untuk mengingkari jasa (ustadz) yang pertama dan sebaliknya, tidak boleh bagi (ustadz) yang pertama melarang seorang pun dari belajar kepada ustadz lain. Dan tidak boleh bagi seorang guru mengatakan: bela saya dan bergabunglah dengan saya, tinggalkan gurumu yang pertama. Bahkan yang patut adalah belajar dari mereka semua, karena dengan demikian berarti dia telah menjaga hak mereka berdua. Dan jangan fanatik kepada salah seorang dari mereka. Tapi apabila pelajaran yang diberikan oleh salah seorang dari mereka lebih banyak porsinya maka penjagaan terhadap haknya harus lebih besar.

Dan apabila mereka bersatu diatas ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dan bekerjasama di atas kebaikan dan ketakwaan, tidak akan ada seseorang bersama-sama dengan kawannya benar atau salah. Melainkan setiap orang bersama-sama dengan siapa saja di dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dan tidak bersama siapa pun dalam kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya. Melainkan bekerjasama diatas kejujuran, keadilan dan kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar, membela orang yang didzalimi dan diatas setiap urusan yang dicintai Allah dan rasul-Nya. Dan tidak bekerjasama diatas kedzaliman, fanatisme jahiliyah, mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah, tidak bekerjasama diatas perpecahan dan perselisihan atau membela seseorang dengan membabibuta untuk diikuti pada semua urusannya dan tidak bekerjasama untuk beraliansi kepadanya diatas selain perintah Allah dan rasul-Nya.

Ketika itu tidak ada seorang pun berpindah dari seseorang kepada orang lain dan tidak ada beraliansi kepada fulan atau allan dan selain dari mereka dari nama-nama jahiliyah. Karena sesungguhnya perkara ini lahir akibat seorang ustadz ingin diamini semua keinginannya oleh murid-muridnya. Sehingga ia pun setia kepada para loyalisnya dan memusuhi orang-orang yang bersebrangan dengannya. Dan ini adalah haram, tidak boleh seseorang menyuruh siapapun kepada perbuatan seperti ini dan tidak boleh seorang pun menyambut ajakan seperti ini, melainkan seharusnya yang menyatukan mereka adalah sunnah dan yang memisahkan mereka adalah bid’ah. Menyatukan mereka ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dan memisahkan mereka kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya, sehingga manusia hanya dua golongan: golongan yang taat kepada Allah atau golongan yang bermaksiat kepada Allah. Sehingga ibadah itu hanya untuk Allah semata dan tidak ada ketaatan mutlak melainkan hanya kepada Dia dan rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. – selesai

Penterjemah: Al- Ustadz Jafar Salih

Sumber : Hizbiyah Bagian-3 (Oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-)