HIZBIYAH -Bagian 2 (oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)


HIZBIYAH -Bagian 2 (oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

Oleh : Al-Ustadz Jafar Salih

majmu fatawa syaikhul Islam Ibnu TaimiyahApabila seorang muallim atau ustadz mengajak memboikot seseorang atau menjatuhkannya dan menjauhinya atau yang semisal dengan ini, maka lihat dan perhatikan dulu. Apabila orang itu benar telah melakukan satu dosa maka orang itu patut dihukum sesuai kadar dosanya dan tidak lebih. Adapun apabila orang itu tidak melakukan satu dosa yang jelas, maka tidak boleh menghukumnya dengan hukuman apapun hanya semata-mata mengikuti keinginan muallim atau selainnya.

Dan tidak boleh seorang muallim (ustadz) mengkotak-kotakkan manusia dan melakukan sesuatu yang menjadikan mereka bermusuhan dan saling benci. Bahkan hendaknya mereka seperti ikhwah yang bekerjasama diatas kebaikan dan ketakwaan, seperti yang Allah Ta’aala firmankan ((Dan bekerjasamalah kalian diatas kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian bekerjasama diatas dosa dan permusuhan)) Al Maidah: 2.

Dan tidak boleh salah seorang dari mereka mengikat janji dari orang lain untuk membelanya diatas apa saja yang ia inginkan, berloyal kepada sesama loyalis dan memusuhi orang-orang yang memusuhinya. Bahkan orang yang melakukan perbuatan seperti ini, ia seperti Jenghis Khan dan orang-orang yang semisal dengan dia dari orang-orang yang menjadikan pihak-pihak yang membelanya sebagai teman dan orang dekat dan pihak-pihak yang menyelisihinya sebagai musuh yang sewenang-wenang.

Melainkan yang wajib atas mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka mengikat janji diatas agama Allah dan rasul-Nya, yaitu untuk mentaati Allah dan rasul-Nya dan mengerjakan apa yang Allah dan rasul-Nya perintahkan dan mengharamkan apa yang Allah dan rasul-Nya haramkan dan menjaga hak-hak para muallim (ustadz) seperti yang Allah dan rasul-Nya perintahkan. Apabila ustadz salah satu pihak terdzalimi, ia bela dan apabila justru dia yang dzalim, tidak ia bela diatas kedzalimannya. Bahkan ia berupaya mencegahnya dari kedzaliman itu, seperti yang diterangkan di dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda ((Bantulah saudaramu yang dzalim atau terdzalimi. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, aku membantunya kalau ia terdzalimi. Bagaimana aku membantunya ketika dia yang dzalim? Rasulullah menjawab: Cegah dia dari berbuat dzalim, itulah bentuk bantuanmu kepadanya)).

Dan apabila terjadi permusuhan dan pertengkaran antara muallim dengan muallim, atau murid dengan murid, atau muallim dengan murid, tidak boleh bagi siapa pun untuk membantu salah satu pihak sampai ia mengetahui siapa yang benar, sehingga ia tidak membantunya dengan kejahilan atau sebatas hawa nafsu. Melainkan dia melihat dulu kepada perkaranya, apabila telah jelas baginya kebenaran maka ia bantu pihak yang benar dan tidak membantu pihak yang salah. Apakah pihak yang benar itu dari kawan-kawannya atau bukan dan apakah pihak yang salah itu dari kawan-kawannya atau bukan. Sehingga yang menjadi tujuan hanyalah mewujudkan ibadah kepada Allah semata dan mentaati rasul-Nya dan mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan. Allah Ta’aala berfirman:((Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau berpaling, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan)) An-Nisa’ :135.

Lawa-yalwi (memutar balikkan (kata-kata): berkata dusta. Dan i’raadh  (berpaling): menyembunyikan kebenaran. Karena orang yang diam tidak menyatakan kebenaran adalah syaithan bisu.

Dan barangsiapa yang condong kepada teman-temannya –benar atau salah- ia telah berhukum dengan hukum jahiliyah dan keluar dari hukum Allah dan rasul-Nya.

Sumber : HIZBIYAH -Bagian 2 (oleh: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

Bersambung…..