Mengenal Tokoh-Tokoh dalam buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahhabi karya Syaikh Idahram


Mengenal Tokoh-Tokoh dalam buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahhabi karya Syaikh Idahram

Oleh : Abu Namira Hasna A-Jauziyah

bantahan buku ulama sejagat menggugat salafy wahhabi Pergulatan antara kebenaran  dan kebatilan akan senantiasa ada hingga akhir  zaman nanti, Allah Azza wa Jalla berfirman : Sebenarya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap…” (al-Anbiya : 18). Ketika kekuatan dan kekuasaan Islam hilang, muncul sekelompok orang yang ingin memperbaiki keadaan dan mendirikan agama ini. Masing-masing kelompok menempuh metode tersendiri, sehingga terjadi perpecahan dan perbedaan yang tajam di antara mereka. Padahal ahlul haq (orang-orang yang berada di atas kebenaran) masih ada. Dan sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan tentang orang-orang tersebut dalam haditsnya :

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Masih akan terus ada satu kelompok pada umatku, mereka akan tetap berada di atas kebenaran sampai hari kiamat datang. [HR Bukhari dan Muslim]. Di antara orang yang menganggap dirinya hendak membela Islam, dan ajaran ahlussunnah menurut klaim dia, adalah seorang bernama Syaikh Idahram, orang ini banyak menulis buku-buku yang meyududkan salafi/wahabi, di antaranya buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, buku ini isinya penuh dengan pemutarbalikan fakta, kedustaan dan menukil fatwa ulama ahlussunnah yang sepotong-potong, Alhamdulillah buku : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi ini sudah di bantah sangat bagus dan ilmiah oleh ustadz Sofyan Chalid Rulay dengan judul : Salafi, Antara Tuduhan dan Kenyataan” penerbit TooBagus. Salah satu buku yang lain kaya Syaikh Idahram yang cukup laku di kalangan Nahdhiyyin adalah buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi-Wahabi” yang diterbitkan : Pustaka Pesantren  dengan Tebal: 340 Halaman yang diterbitkan pada bulan Juli 2011.

Pada buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi-Wahabi, syaikh Idahram menukil perkataan yang diulamakan oleh syaikh Idahram untuk mencela dan melecehkan salafi/wahabi, dalam pembahasan ini, penulis hanya membantah beberapa pemahaman tokoh-tokoh yang ada di dalam buku hitam penuh syubhat dan kerancuan ini. Syaikh Idahram untuk mencela wahabi/salafi menukil perkataan-perkataan dari : Prof. Dr. Abdullah al-Ghimari, Guru Besar llmu Hadis di universitas-univesitas Maroko), Prof. Dr. Muhammad al-Ghazali, dai internasional terkemuka di Timur Tengah asal Mesir, A bdullah al-Harari al-Habasyi (guru besar hadis Australia asal Habasyah.

  1. : Prof. Dr. Abdullah al-Ghimari, Guru Besar llmu Hadis di universitas-univesitas Maroko), : Abdullah al-Ghumari ini terkenal akan kesufiyahannya. Dia seorang pembela madzhab sufi tulen dan ia mengklaim bahwa dia adalah Syafi’iyah. Syaikh Abdullah ini walaupun tidak bersepakat dengan al-Kautsari, bahkan beliau membantah dan menghabisi al-Kautsari dalam kitabnya Bida’ut Tafasir, namun mereka berdua berserikat di dalam menghantam ahlus sunnah dan dakwah Tauhid. Abdullah al-Ghumari ini tidak menyukai Albani karena sikap keras Albani di dalam memerangi sufi dan kebid’ahan, Dia memperbolehkan bertawasul kepada Nabi, ziarah ke kuburan Nabi dan bertabaruk dengannya, menganjurkan membangun kubah di atas kuburan dan semacamnya. Dia tulis dalam  Karyanya yang berjudul Irghamul Mubtadi’ al-Ghabi bi Jawazit Tawassul bin Nabiy fir Raddi ’ala al-Albani al-Wabi (Pukulan Terhadap Pelaku Bid’ah yang Dungu Tentang Bolehnya Bertawasul Dengan Nabi Sebagai Bantahan Terhadap Albani Yang Jahat) menjadi saksi atas kedengkiannya terhadap al-Albani dan saksi atas aqidahnya yang menyimpang. Walaupun  dikatakan dia adalah termasuk orang yang mengetahui seluk beluk hadits, namun ilmunya tidaklah menjadikan dirinya selamat dari fanatik terhadap sufiyah. Ia mengumpulkan zallatul ulama (kesalahan-kesalahan ulama) dan dijadikannya sebagai dalil untuk menolak serta menakwil hadits-hadits nabi.

Bahkan untuk memperkuat argumennya, ia menyatakan bahwa ada bid’ah hasanah di dalam agama ini sebagaimana tertuang di dalam kitabnya Itqaan as-Sun’ah fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah (Aktivitas Yang Mulia di dalam Penelitian Makna Bid’ah). Syaikh Ali Hasan al-Halabi membantah bukunya ini secara sekilas di dalam kitab beliau yang berjudul Ilmu Ushulil Bida’.

  1. Prof. Dr. Muhammad al-Ghazali : dia pernah menulia buku berjudul : As-Sunnah Nabawiyah Baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits, di dalam bukunya ini Ghazali menempuh metode Mu’tazilah, Sebagian dari tulisan yang ada dalam buku itu penuh dengan hal-hal yang menunjukkan kebingungannya, penyimpangannya dari Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alahi wa sallam dan menjadikan akalnya sebagai hakim dalam mengesahkan atau mendha’ifkan hadits. Ia tidak mau berpegang pada dasar-dasar ilmu Hadits atau para ahli atau mereka yang tahu seluk beluk Hadits. Bahkan hal yang sangat aneh dilakukannya ialah men-shahihkan hadits yang jelas-jelas dha’if. Al-Ghazali juga menulis kitab : Fiqhus Sirah, tentang kitab ini syaikh Al-Albani berkata : Akan tetapi, tidak aneh karena kita melihat dia men-dha’if-kan hadits-hadits yang jelas disepakati shahihnya oleh Bukhari dan Muslim sebagaimana dapat Anda baca hal ini dalam komentar saya pada dua muqadimah bukunya berjudul Fiqhus Sirah yang telah saya beri takhrijnya terhadap hadits-hadist yang termuat di dalamnya pada cetakan ke-4. Hal itu saya lakukan atas permintaan dia sendiri melalui salah seorang teman saya dari kalangan Al-Azhar. Oleh karena itu, segera saya berikan takhrij buku tersebut, dengan perkiraan bahwa hal itu menunjukkan adanya perhatian dia secara sungguh-sungguh terhadap hadits-hadits Nabi dan sirah Nabi Shallallaahu ‘alahi wa sallam serta ingin memeliharanya dari pemalsuan yang datang dari luar. Sekalipun ia menyatakan pujian terhadap komentar dan catatan saya serta dengan terus terang menyatakan gembiranya dalam komentarnya di bawah judul Haula Ahaadiits Hadzal Kitab, namun dia sendiri berbicara tentang metode yang digunakannya dalam menerima hadits-hadits dho’if dan menolak hadits-hadits shahih semata-mata ditinjau dari segi matannya. Dengan cara semacam ini dia ingin memberikan kesan kepada para pembaca bahwa metode penelitian dan koreksi yang ditentukan oleh ilmu hadits bagi dia sama sekali tidak ada artinya, selama hal itu bertentangan dengan kritik yang logis, padahal metode kritik yang logis berbeda antara seseorang dan yang lainnya. Dengan metode semacam ini agama menjadi permainan nafsu, tanpa memiliki kaidah dan prinsip-prinsip baku, dan hanya tergantung pada selera perorangan.

Hal ini jelas bertentangan dengan metode yang diikuti oleh para ulama kaum muslim bahwa sanad hadits merupakan bagian dari agama.

Seandainya hadits itu boleh tanpa sanad, tentu orang akan berbicara sesuka hatinya dan inilah yang dilakukan oleh Ghazali dalam sebagian besar hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Sirahnya. Kitabnya memuat sebagian besar hadits mursal dan mu’dlal.

  1. Abdullah al-Harari al-Habasyi (guru besar hadis Australia asal Habasyah. : di memiliki pemahaman sesat dalam aqidah, diantaranya : membolehkan minta pertolongan kepada mayit, dia pernah di tanya : entang hukum orang yang memohon pertolongan kepada mayat di dalam kuburdan menyeru mereka di dalam kubur seperti dia berkata Wahai Syed Badawi (orang dah mati) tolonglah aku

    Al-Harari menjawab:

    Ya Semua itu dibolehkan. Dibolehkan bagi seorang berkata: Tolonglah aku wahai Badawi, bantulah aku wahai Badawi.

    Ditanya kepada Abdullah al-Harari: Roh-roh berada di alam barzakh bagaimana  memohon pertolongan  mereka sedangkan mereka itu jauh?

    Al-Harari menjawab: Allah Ta’ala memuliakan mereka dengan memperdengarkan mereka suara dari jauh sedang mereka berada di dalam kubur, maka mereka berdoa kepada yang memohon dan menyelamatkannya. Kadang-kadang mereka keluar dari kubur-kubur mereka dan menunaikan segala hajat orang yang memohon pertolongan daripada mereka kembali kembali semula ke kubur-kubur mereka… entang hukum orang yang memohon pertolongan kepada mayat di dalam kuburdan menyeru mereka di dalam kubur seperti dia berkata Wahai Syed Badawi (orang dah mati) tolonglah aku… Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mengingatkan kita dengan perkataan beliau rahimahullah, bahwa Al-Ahbash merupakan kelompok sesat, dengan pemimpinnya yang bernama Abdullah Al-Habasyi, yang terkenal dengan penyempangan dan kesesatannya. Wajib bagi kita untuk memutuskan diri dan mengingkari aqidah mereka yang batil, serta memperingatkan orang-orang darinya, untuk tidak mendengar dan tidak menerima apa yang mereka katakan.

 

Sekian pemahaman tokoh-tokoh dalam buku  Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Oleh: Syaikh Idahram, setelah mengetahui pemahaman tokoh-tokoh yang ada di buku ini, maka kita sudah mengetahui kualitas buku ini, yang menyebut ulama dalam buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi Oleh: Syaikh Idahram,  BUKANLAH ULAMA-ULAMA AHLUSSUNNAH, TAPI ULAMA-ULAMA SU`(ULAMA-ULAMA KESESATAN).

 

Hingga dapat disimpulkan bahwa buku : Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi karya : Syaikh Idahram, adalah buku yang tidak layak di baca dan dijadikan rujukan,  hendaknya buku-buku semacam ini tidak sepantasnya berada di perpustaan-perpustakaan kaum muslimin.

 

Ditulis Kota cimahi -, 29-12-1432 H / 25 November  2011 M

di koreksi ulang : 12-12-2012/ 28 Muharram 1434 H.

 

Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

 

Iklan