Sebab-Sebab Seseorang Mendapatkan Hidayah


Sebab-Sebab Seseorang Mendapatkan Hidayah

hidayahMarilah kita berupaya untuk mengerjakan dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab untuk mendapatkan hidayah, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah.
Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, mungkin kita sering berfikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?

Mengenai hal ini, perlu kita ketahui, hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah. Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”. Lanjutkan membaca

Iklan

Akibat Menampar Wajah Utsman Radhiyallahu Anhu


Akibat  Menampar Wajah Utsman Radhiyallahu Anhu

Oleh Ustadz Abu Humaid Rosyid An-Nashr

Akibat  Menampar Wajah Utsman Radhiyallahu AnhuMuhammad bin Sirin  rahimahullaah berkata : Saya sedang thowaf di Ka`bah, maka tiba-tiba saya mendengar ada seorang laki-laki berdoa : Ya Allah, ampunilah aku, dan saya kira Engkau tidak mengampuniku. Maka saya pun berkata kepada orang tersebut : Wahai Hamba Allah, saya tidak pernah mendengar seorang pun mengatakan apa yang kamu katakan tadi. Maka orang itu mengatakan : “saya punya janji kepada Allah, jika saya mampu untuk menampar wajah Utsman, maka sungguh saya akan melakukannya. Maka ketika Utsman terbunuh, lalu(jenazahnya) diletakkan di tempat tidur beliau yang ada di dalam rumah, sedangkan manusia berdatangan untuk mensholati beliau, maka saya pun masuk dan pura-pura mensholati Utsman. Maka saya menemuinya dalam keadaan sepi, lalu saya mengangkat pakaian yang menutupi wajahnya dan jenggotnya lalu saya pun menamparnya. Maka tiba-tiba tangan kanan saya menjadi keras tak bergerak”.  Berkata Ibnu Sirin : sungguh saya melihat tangannya keras seperti kayu.(Kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 7/191).

Faedah Kisah di Atas :

  1. Kisah di atas merupakan peringatan bagi para pencela para sahabat, di antaranya dari kelompok Syiah dan simpatisannya.
  2. Kisah di atas menunjukkan keutamaan sahabat Utsman Dzu Nuraini(yang mempunyai dua cahaya). Allah tetap memuliakannya sekalipun telah meninggal dunia.
  3. Hendaknya kita merasa takut akan adzab Allah. Allah Mahatahu dan Maha adil.
  4. Balasan itu sesuai dengan amal perbuatannya.
  5. Barangsiapa yang memusuhi sahabat Nabi, maka dia termasuk orang yang putus asa dari Rahmat Allah dan ampunan-Nya.
  6. Tidak boleh menunaikan nadzar dalam bermaksiat kepada Allah.

Sumber : Majalah Al-Furqon edisi 6 th. Ke-12

                    Muharram 1434/Oktober-November 2012. Hal. 15     

Jangan Putus Harapan dari Meraih Ampunan Allah


Jangan Putus Harapan dari Meraih Ampunan Allah

pJangan utus Haraman dari Meraih Ampunan AllahAllah subhanahu wa ta’ala berfirman:

  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Tidaklah ada seorang manusia kecuali pasti pernah terjatuh dalam dosa dan kesalahan. Namun demikian, tidak sepatutnya bagi anak cucu Adam putus harapan dan enggan memohon ampun kepada Sang Khalik. Karena Dia pasti akan memberikan ampunan, walaupun dosa-dosa manusia itu sebanyak buih di lautan. Siang dan malam ampunan-Nya senantiasa terbentang, untuk hamba-Nya yang memohon ampun dengan ketulusan. Itulah kemurahan Ar-Rahman, kepada hamba-Nya yang beriman.

Ayat (dalam surat Az-Zumar: 53) yang menjadi topik pembahasan kita kali ini merupakan salah satu ayat yang menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Sebesar apapun dosa manusia, jika dia mau jujur untuk mengakui kesalahannya, kemudian bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, maka ampunan dan rahmat-Nya pasti akan diberikan kepada sang hamba.

Sebab Turunnya Ayat Lanjutkan membaca