MACAM-MACAM TERORIS


MACAM-MACAM TERORIS

Ust. Dzulqarnain Muhammad Sanusi

Kejadian-kejadian dan aksi-aksi terorisme yang tengah menimpa manusia sangatlah banyak dan beraneka ragam sesuai dengan kondisi dan keadaan yang diharapkan oleh para pelakunya guna meraih sasaran dan target mereka.

Namun menurut catatan sejarah dan berbagai kejadian yang melanda umat saat ini bahwa seluruh kejadian dan aksi tersebut tidaklah keluar dari dua perkara,

Pertama : Terorisme fisik. Yaitu peristiwa-peristiwa yang sekarang menjadi puncak sorotan manusia; peledakan, pemboman, penculikan, bom bunuh diri, pembajakan dan seterusnya.

Berbagai kejadian pahit dari terorisme fisik ini telah telah tercatat dalam sejarah.

Pebunuhan Khalifah yang mulia, ‘Umar bin Khaththâb Al-Fârûq radhiyallâhu ‘anhuoleh seorang Majûsi, Abu Lu`luah adalah salah satu bentuk terorisme yang rendah dan hina.

Pembunuhan Khalifah yang mulia, ‘Ustmân bin ‘Affân Dzun Nurain radhiyallâhu ‘anhuoleh gerombolan Khawarij dengan propokasi dari pendiri agama syi’ah, ‘Abdullah bin Saba’, -seorang Yahûdi yang berpura-pura masuk Islam-, juga termasuk bentuk terorisme yang terkutuk.

Dan tidaklah luput dari catatan sejarah terorisme fisik yang dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Muljim dalam membunuh Khalifah yang mulia, ‘Ali bin Abi Tholibradhiyallâhu ‘anhu adalah suatu perbuatan yang keji dan bejat.

Dan berbagai kejadian tercatat hingga zaman kita ini.

Kedua : Terorisme ideologi (pemikiran/pemahaman). Dan terorisme jenis ini jauh lebih berbahaya dari terorisme fisik. Sebab seluruh bentuk terorisme fisik yang terjadi bersumber dari dorongan ideologi para pelakunya, baik itu dari kalangan orang-orang kafir yang merupakan sumber terorisme di muka bumi ini, atau dari kalangan kaum muslimin yang telah menyimpang pemikirannya dari jalan Islam yang benar. Insya Allah kami akan membahas tuntas hal ini dalam pembahasan sebab-sebab munculnya terorisme yang akan datang dan juga dalam beberapa catatan yang berkaitan dengan sebagian pemikiran Imam Samudra.

Maka perang terhadap terorisme harus ditegakkan dalam dua perkara,

Perang secara fisik. Dan tentunya ini adalah tugas pihak yang berwenang. Dan wajib atas kaum muslimin yang mengetahui keberadaan para teroris tersebut untuk kerjasama dengan pihak yang berwenang dalam rangka tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan sebagai upaya untuk menjaga keamanan manusia. Berkata Syaikh DR. Shôlih bin Sa’ad As-Suhaimy hafizhohullâh, “Wajib atas kaum muslimin -setiap orang sesuai dengan kemampuannya- untuk menyingkap kejelekan mereka (yaitu para pelaku terorisme, -pent.) dan menjelaskan kesesatan mereka sehingga kerusakan mereka tidak tersebar dan perkara mereka tidak semakin rumit. Dan diharamkan untuk menutup-nutupi (keberadaan) salah seorangpun dari mereka, karena hal tersebut termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, sedangkan Allah Tabâraka wa Ta’âlâ telah berfirman,

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Ash-Shaffât : 171-173)

Maka siapa yang melindungi mereka, menutup-nutupi (keberadaan) mereka, membela mereka, atau membenarkan perbuatan-perbuatan mereka, sungguh ia telah berserikat dengan mereka dalam membunuh jiwa yang tidak berdosa lagi terjaga dari kalangan kaum muslimin, kafir musta`man, mu’âhad dan dzimmy. Telah tercakup padanya hadits yang telah tsâbit (syah, tetap) dari Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam,

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Allah melaknat siapa yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah).” [1]

Perang secara ideologi. Yaitu dengan menjelaskan segala pemikiran menyimpang dan menyempal dari tuntunan yang benar. Sebab ideologi-ideologi tersebut merupakan cikal bakal munculnya teror fisik dan apabila tidak diberantas akan senantiasa menjadi ancaman serius di masa mendatang.

==============

[1] Demikian ucapan beliau kami kutip dari ceramah beliau yang berjudul “Al-Irhâb, Asbâbuhu wa ‘Ilâjuhu wa Mauqiful Muslim Minal Fitan”. Dan hadits yang beliau sebutkan dengan konteks di atas adalah hadits ‘Ali bin Abi Thôlib radhiyallâhu ‘anhuriwayat Muslim no. 1978 dan An-Nasâ`i 7/232.

Sumber ; Qaulan-Sadida.blogspot.com