SERAMNYA ALAM KUBUR


SERAMNYA ALAM KUBUR

Oleh: Ustadz Zainal Abidin, Lc.
Dari Hani’ Maula Utsman berkata bahwa ketika Utsman bin Affan berdiri di depan kuburan, beliau Menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu dikatakan kepadanya, “Diceritakan kepadamu tentang Surga dan Neraka kamu tidak menangis, tetapi kamu menangis dari ini.” Maka beliau berkata bahwa Rsulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ
“Kuburan adalah awal rintangan dari beberapa rintangan alam akhirat. Jika sukses di alam itu maka setelahnya lebih mudah, dan jika tidak sukses maka setelahnya lebih susah.” Kemudian beliau berkata bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Tiada pemandangan yang pernah saya lihat melainkan kuburan yang paling menyeramkan.” (Hasan, HR. Tirmidzi dan Ibnu Majjah, lihat Shahihul Jami’ No.5623)
Ketika seseorang hamba diantar ke kuburan dia disertai tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Dan yang kembali pulang dua hal yaitu harta dan keluarganya, sedangkan yang mengikutinya ham amalnya, seperti yang telah ditegaskan Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam sabdanya:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, kembali pulang dua dan ikut bersamanya satu; dihantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka kembali pulang keluarganya dan hartanya dan yang tersisa (bersamanya) amalnya.”(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat Shahihul Jami’ No.8017) Lanjutkan membaca
Iklan

Betapa Sulitnya Ikhlash


Betapa Sulitnya Ikhlash

Semoga Allah senantiasa merahmati salafus sholeh dengan kejujuran dan kerendahan hati mereka. Mereka senantiasa khawatir jika apa yang mereka perbuat dalam menimba ilmu dan menyampaikannya,ternyata bukan untuk Allah semata. Betapa khawatirnya mereka ditimpa nifaq amali(kemunafikan dalam berbuat), yang zahirnya terlihat mulia dan indah, dipuji dan disanjung manusia, dijadikan panutan dan rujukan, tetapi hakikatnya busuk dan hina karena ternyata bukan untuk Allah.

Bentuk kekhawatiran mereka ini tertuang dalam ungkapan-ungkapan yang akan kita baca berikut ini> satu hal yang harus kita pahami bahwa ungkapan-ungkapan mereka bukanlah menunjukkan benarnya mereka berbuat kemunafikan—hasya wa kalla—tetapik dalam rangka kekhawatiran mereka agar selalu berjalan dalam bingkai khauf untuk menghilangkan sifat ujub yang selalu datang menggoda manusia. Wallahi tidak pernah kita dapati di muka bumi ini orang-orang seperti mereka dalam keikhlasan dalam segala perbuatan dan perkataan mereka.Begitulah selayaknya seorang mukmin sejati, yang senantiasa introspeksi diri. Lanjutkan membaca