Menuai Pahala Dengan Kesabaran


Menuai Pahala Dengan Kesabaran

Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali

Kadang terdengar keluhan dari para suami tentang istri-istri mereka terutama yang mempunyai anak yang masih kecil, tatkala mereka sedang mengalami sebuah ujian dari Alloh Ta’ala yang ditimpakan kepada anaknya, seperti ketika anaknya bandel, sedang sakitdan semisalnya, maka terdengarlah ucapan-ucapan yang apabila direnungkan, siapa saja yang mengatakannya akan menyesal, seperti ucapan ”Aku menyesal punya anak!” atau ”Kalau repot begini lebih baik tidak punya anak!” atau ”Kalau repot begini satu anak saja cukup!” dan ungkapan-ungkapan semisal.

Ungkapan-ungkapan di atas sebenarnya menyelisihi ajaran Agama Islam, sebab utamanya lantaran kurangnya kesabaran seorang ibu terhadap segala yang menimpa pada diri dan anaknya, padahal sabar adalah satu sifat yang terpuji dalam Islam dan suatu perangai selalu dianjurkan bagi setiap muslim, baik sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar menahan diri dari kemaksiatan dan sabar menerima cobaan.

Allah Ta’ala berfirman :

Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru kepada tuhannya di pagi dan senja hari hanya mengharap wajah-Nya. (al-Kahfi [18] : 28).

Sebagai kaum wanita membantah dengan berkata ”Sabar ada batasnya, sebagai manusia, wajar suatu saat terucap kata-kata seperti itu.” Maka kita katakan bahwa sabar tidak lain hanya berkisar pada masalah menahan diri, yaitu dari hati yang sedang murka[1], dari lisan yang berkata kotor[2], dan dari anggota badan (seperti tangan) dari berbuat aniaya[3] (baik terhadap diri sendiri atau orang lain)[4]. Lanjutkan membaca

Iklan

Pilihan Allah Itulah yang Terbaik


Pilihan Allah Itulah yang Terbaik

Ustadz Abdullah Taslim. MA

Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat Abu Dzar, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat”. Maka al-Hasan bin ‘Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah Ta’ala) berlakukan (bagi hamba-Nya)”.

Atsar (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama[3].

Dalam atsar ini shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin dan sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat), karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untk tidak melanggar perintah Allah Ta’ala dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”[4]. Lanjutkan membaca

Sepenggal Kisah Dari Keikhlasan Para Salaf


Sepenggal Kisah Dari Keikhlasan Para Salaf

Ustadz Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc

Ikhlas… sebuah kata yang mudah diucapkan dengan lidah namun tidak mudah melekat di hati, lihatlah keadaan para salaf kita, mereka orang yang paling terjaga hatinya, menyelami kehidupan mereka seperti kita bertamasya ke taman bunga, indah di mata, wangi terasa, dan keteduhan akan datang menyapa kita.

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, ”Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.” (Al-Madkhol, 1/164, Mawqi’ al-Islam).

Para salaf dahulu selalu menjaga hati mereka, mereka takut mata-mata manusia melihat ibadahnya, mereka menyembunyikan amal baktinya melebihi kondisi mereka dalam menyembunyikan emas-permata, mereka takut digugurkan pahala amal ibadah mereka.

”Sebagian kaum salaf mengatakan, ”Aku berharap ibadahku hanyalah antara diriku dengan Alloh, tidak ada mata yang melihatnya.””

Marilah kita simak mutiara kisah dari para salaf, yang dengannya akan tergambar luasnya samudra keikhlasan mereka : Lanjutkan membaca