Tanya Jawab Tentang Berbagai Manhaj Baru (bag 3)


Tanya Jawab Tentang Berbagai Manhaj Baru (bag 3)

Syaikh Dr Fauzan bin Shalih Al Fauzan

Pertanyaan 9

 Tanya : Apakah berbahaya bila mentahdzir (memperingatkan) terhadap kelompok-kelompok yang menyelisihi manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah ?

Jawab : Kami men-tahdzir secara umum,orang-orang yang menyelisihi al-haq. Kami berkata, Kami tetap di atas jalan Ahlu Sunnah wal Jamaah, dan kami meninggalkan siapa saja yang menyelisihi Ahlu Sunnah wal Jamaah, entah ia menyimpang dalam perkara yang besar maupun perkara-perkara yang kecil.

Jika kita meremehkan suatu penyimpangan (karena dianggap hanya masalah kecil), bisa jadi lambat laun berkembang menjadi besar. Besar atau kecil suatu penyimpangan selamanya tidak boleh. Wajib tetap di atas jalan Ahlu Sunnah wal Jamaah, baik dalam perkara besar maupun perkara kecil.

Ini adalah kebiasaan ulama salaf. Mereka tidak diam bahkan mengingkari terhadap orang-orang yang diam. Muhammad bin Bandar Al Jurjani berkat kepada Imam Ahmad,Sesungguhnya sangat berat bagi saya untuk mengatakan bahwa si fulan begini. Kata Imam Ahmad,Apabila engkau diam dan saya diam, kapan orang-orang yang bodoh itu tahu mana yang benar dan mana yang salah ?[1]

Ketika Imam Ahmad ditanya tentang Husen Al- Karabisi, maka dia menjawab kepad si penanya,Dia ahlul bid’ah. Dia mengatakan di tempat lain,Hati-hati.Hati-hatilah terhadap Husen Al-Karabisi. Janganlah engkau berbicara dengannya, dan janganlah engakau berbicara dengan orang yang mau berbicara dengannya.[2]

Bahkan ulama’ salaf memandang, bahwa membicarakan ahlul bid’ah lebih utama daripada shalat, puasa dan i’tikaf. Dikatakan kepada Imam Ahmad,Manakah yang lebih anda cintai, seseorang yang shalat, puasa dan i’tikaf ataukah orang yang membicarakan ahlu bid’ah?. Jawab Imam Ahmad,Apabila dia shalat, puasa dan i’tikaf, itu hanya untuk dirinya sendiri. Apabila membicarakan ahlu bid’ah, maka ini untuk kaum muslimin. Inilah yang lebih utama.[3]

Pertanyaan 10

Tanya : Apakah kita wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan orang atau kelompok yang kita tahdzir ?

Jawab : Apabila engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya, berarti engkau menyeru untuk mengikuti mereka. Jangan.Jangan kau sebutkan kebaikan-kebaikannya. Sebutkan saja penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Karena engkau diserahi untuk menjelaskan kedudukan mereka dan kesalahan-kesalahannya agar mereka mau bertaubat, dan agar orang lain berhati-hati terhadapnya.

Menyebut kebaikan-kebaikan ahlu bid’ah berarti penipuan terhadap manusia, walaupun engkau sebutkan kejelekan-kejelekannya. Manusia tidak akan memperhatikan kejelekan-kejelekannya selama engkau memuji mereka. Tidak terdapat dalam manhaj Salaf ash-Shalih, memuji kebaikan ahlu bid’ah tatkala mengkritik. Maka Imam Ahmad tidak memuji Husen Al-Karabisi ketika beliau menyebutkan atau menjelaskan keadaannya. Beliau hanya berkata,Dia mubtadi, bahkan memperingatkan dan melarang bermajlis dengannya.

Abu Zu’ah ditanya tentang Al Harits Al Mahasibi dan kitab-kitabnya, maka beliau menjawab: Hati-hati terhadap buku-buku ini. Ini buku-buku bid’ah dan sesat. Wajib kalian berpegang kepada atsar. Telah jelas, Al Karasibi dan Al mahasibi dikatakan sebagai lautan ilmu. Mereka berdua mempunyai bantahan-bantahan terhadap ahlu bid’ah. Tetapi Al Karasibi keliru dalam perkataan bahwa pelafalan Al Qur’an adalah makhluk. Sedangkan Al Mahasibi salah dalam pembicaraan, dimana dia membantah ahlu kalam dengan ilmu kalam dan tidak membantahnya dengan sunnah. Inilah sisi terpenting yang diingkari Imam Ahmad.[4]

Kitab-kitab Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah yang luar biasa penjelasannya, penuh dengan bantahan-bantahan dan kritikan. Sungguh beliau mengkritik ahlu mantiq dan ahlu kalam. Juga membantah Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kami tidak mendapatkan kebaikan mereka sedikitpun yang beliau sebutkan. Beliau juga mengkritik perorangan, seperti terhadap al-Ahna’i dan al-Bakri serta yang lain-lainnya. Sedikitpun beliau tidak memuji kebaikan mereka padahal tidak diragukan lagi bahwa mereka pun memiliki kebaikan. Oleh karena itu tidak perlu menyebutkan kebaikan-kebaikan dalam mengkritik. Perhatikanlah.

Rafi’ bin Asyrasy berkata,Hukuman untuk orang-orang fasik yang ahlu bid’ah adalah tidak disebutkan kebaikan-kebaikannya.[5]

Pertanyaan 11

Tanya : Jamaah Tabligh-sebagai contoh- mereka mengatakan,Kami ingin berjalan di atas manhaj Ahlu sunnah wal Jamaah. Tetapi sebagian mereka kadang-kadang salah dan mereka mengatakan,Mengapa kalian menghukumi kami dan memperingatkan (umat) untuk bersikap hati-hati dari kami ?

Jawab : Telah banyak ulama’ yang menulis tentang Jamaah Tabligh. Para ulama’ pergi bersama mereka dan mempelajari keadaan mereka. Kemudian menulis dan menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka. Kewajiban kalian membaca buku-buku tentang Jamah Tabligh yang ditulis para ulama’ supaya jelas hukumnya bagi kalian. Diantara ulama yang menulis tentang firqah Tabligh dan kesesatannya adalah Fadhilah asy-Syaikh Sa’ad bin Abdurrahman Al-Hushain-hafizhahullah– dalam kitabnya yang berjudul Haqiqatu ad-Da’wah Ilallahi Ta’ala wa Makhtashat bihi Jaziratul Arab wa Taqwim Mahaji ad-Da’wati Islamiyah al-Wafidah Ilaiha. Beliau menjelaskan di halaman 70 cetakan pertama, tentang maksud kalimat La ilaha illa Allah, menurut firqah Jamaah Tabligh,Mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati atas sesuatu dan memasukkan keyakinan yang benar atas dzat Allah. Sesungguhnya tidak ada pencipta kecuali Allah, tidak ada yang memberi rejeki kecuali Allah,tidak ada yang mengatur kecuali Allah. Di halaman yang sama beliau berkata,Akidahnya-Tabligh- condong kepada fiqhi, Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah Jistiyah Naqshabandiyah Qadariyah Sahrawardiyah dalam tarekat tasawuf.(hal 81 cetakan kedua). Juga Asy-Syaikh As-Salafi Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri menulis satu kitab yang berbobot. Beliau mengumpulkan hakekat jamaah ini dari kitab-kitab mereka. Kemudian membantah apa-apa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah. terdapat juga kesaksian orang yang keluar dari jamaah ini-dan selain mereka- berupa sikap-sikap khusus mereka terhadap pemimpin dan pengikut-pengikutnya.

Ulama lain yang telah meulis tentang Jamaah Tabligh adalah Nazar bin Ibrahim Al-jarbu dalam sebuah kitab kecil berjudul Waqafat Ma’a Jama’atu at-Tabligh. Beliau menyebutkan kepercayaan-kepercayaan dari kitab-kitab mereka yang menunjukkan penyimpangan atas manhaj mereka dan rusaknya akidah mereka. Ya Allah, Ya Rabb kami selamatkan kami.

Telah menulis tentang mereka juga Syaikh Dr. Muhammad Taqiyudin Al-hilali, buku yang berjudul As-Shiraju al-Munir fi Tanbihi Jama’atu at-Tabligh ‘ala Akhthaihim. Penjelasan yang diuraikan di dalamnya lebih luas tentang firqah jamaah Tabligh.

Alhamdulillah, Allah telah mencukupkan ajaranNya bagi kami, sehingga tidak mengikuti Fulan dan ‘Alan. Dalam hal ini kami berupaya berada di atas jalan Ahlu sunnah wal Jamaah dan wajib bagi kami berada di atasnya. Kami tak mengikuti Jamaah Tabligh atau selainnya. Kami tidak membutuhkannya,

Adapaun tarekat (apa dan siapa) mereka sebenarnya telah banyak kitab yang mengupasnya. Bacalah buku-buku itu niscaya kalian akan mengetahuinya (jamaah Tabligh). Para ulama yang menulis tentang jamaah Tabligh, mereka pernah mengikuti dan safar serta bergaul bersamanya. Kemudian para ulama ini menuliskannya berdasarkan pengalaman dengan sebenarnya.

Pertanyaan 12

Tanya : Apakah jamah-jamah ini masuk dalam 72 firqah yang sesat ?

Jawab : Semua yang menyelisihi Ahlu Sunnah wal Jamaah masuk ke dalam 72 firqah. Sedangkan celaan dan siksa sesuai dengan kadar penyimpangannya. Wallahu a’lam.

[1] Majmu’ Fatawa (28/231) dan Syarah ‘Ilal At-Tirmidzi (1/350).

[2] Tarikh Baghdad(8/65-66).

[3] Majmu’ Fatawa(28/231).

[4] At-Tahdzib(2/117), Tarikh Baghdad(8/215-216) dan Siyar karya Adz Dzahabi(12/79) dan (13/110).
[5] Syarah ‘Ilal At-Tirmidzi(1/153).

Disalin dari buku Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah tulisan Abu Abdullah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, terbitan Yayasan Al-Madinah.