Kaidah-kaidah Fikih


Kaidah-kaidah Fikih

Pada artikel Antara Penjahit dengan Toko Baju telah dipaparkan betapa pentingnya mengenal kaidah-kaidah fikih yang mana akan sangat membantu dalam memahami permasalahan-permasalahan yang belum dijumpai di masa-masa awal Islam. Syari’at Islam telah sempurna dari berbagai sisi, hanya saja tidak semua umat Islam mengetahui berbagai permasalahan secara rinci. Terlebih lagi dengan adanya perkembangan zaman dengan segala variasi permasalahannya, yang mana berbagai permasalah baru tersebut belum dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab fikih klasik. Oleh karena itu, kita bersyukur dengan adanya ulama yang telah bersungguh-sungguh mengkaji sumber-sumber hukum agama ini kemudian membuat suatu dhawabith (batasan-batasan) dan qowa’id (kaidah-kaidah) yang dapat membantu umat Islam untuk memahami berbagai permasalahan baru. Karena berbagai permasalahan yang terjadi dan yang akan terjadi membutuhkan timbangan syariat, sehingga hati menjadi tenang dengannya.  Definisi  Kata “qawa’id” sebagaimana dijelaskan oleh ahlul ilmi adalah jama dari kata “qaidah”, dan maknanya adalah: “apa-apa yang dibangun diatasnya sesuatu yang lain”. Adapun makna secara istilah, menurut ahlul ilmi, yaitu “perkara yang menyeluruh yang di kembalikan kepadanya cabang-cabang yang banyak“. Dan berkata sebagian ahlul ilmi yang lain: qaidah adalah perkara yang menyeluruh dikembalikan kepadanya cabang-cabang yang banyak”, maka dari uraian tersebut bahwasanya makna qaidah adalah: “sebuah ungkapan yang terdiri dari beberapa kata akan tetapi masuk didalamnya pembahasan yang luas, karena sesunggunya pembahasan inti dari qaidah adalah untuk mengumpulkan cabang-cabang yang berbeda-beda”. Kata “Fikih” secara bahasa artinya: “mengerti”, “memahami”, “pemahaman”, sebagaiman doa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam kepada ibnu abbas: الهــم فقِّهـــهٌ فــي الديــــن  ”ya Allah pahamkanlah dia kepada ilmu agama”. Sedangkan secara istilah, maknanya “mengetahui hukum-hukum syari’at serta cabangnya dengan dalil dari kitab, sunnah, dan ijma’ serta qiyas yang shohih” Manfaat Mengetahui Kaidah-kaidah Fikih Pertama: Bahwasanya memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut akan menjaga gambaran seorang muslim dari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat dan sekaligus memantapkan pikirannya tentang gambaran tersebut. Telah dimaklumi bahwa seorang muslim apabila menghadapi suatu masalah tanpa dhowabith (batasan-batasan) dan kaidah akan terombang-ambing didalam perbuatannya terhadap diri maupun keluarganya, masyarakat serta umatnya. Dari sinilah kita mengetahui pentingnya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah itu karena dia akan mengatur akal seorang muslim didalam gambaran-gambarannya yang merupakan sumber dari perbuatannya didalam diri, keluarga, ataupun masyarakatnya. KeduaKemudian didalam memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut ada manfaat yang lain yaitu dia akan menjaga seorang muslim dari kesalahan, karena kalau dia berjalan hanya berlandaskan diatas pendapatnya saja didalam menghadapi apa yang dia temui atau dalam menghadapi suatu masalah, jika telah tampak dan mencari jalan keluar dengan mengandalkan akal pikirannya saja tanpa peduli dengan Dhowabith serta kaidah-kaidah Ahli sunnah wal jama’ah maka dikhawatirkan akan terjerumus kedalam kesalahan dan jika itu terjadi maka akan berakibat fatal karena kesalahan ini akan bercabang dan berkembang dan mungkin juga bertambah. Ketiga: Termasuk dari faedah mengikuti Dhowabith serta kaidah-kaidah itu adalah bahwasannya dia akan menyelamatkan seorang muslim dari dosa, sebab jika dia berjalan hanya berlandaskan kepada akal pikirannya saja dan kamu juga seperti itu dan kamu sangka ini adalah benar tanpa peduli terhadap Dhowabith serta kaidah-kaidah tersebut maka sesungguhnya kamu tidak akan bisa selamat dari dosa, karena kamu tidaklah tahu apa yang akan terjadi akibat dari perkataan serta perbuatanmu jika kamu berjalan hanya berlandaskan akal pikiran saja atau perasaanmu yang kau kira itu benar. Adapun apabila kamu mengambil sesuai dengan apa-apa yang ditunjukkan oleh dalil dari Dhowabith dan ushul yang global maka kamu akan selamat dari dosa -insya Allah– dan Allah Azza wa Jalla akan mengampunimu karena kamu berjalan sesuai dengan dalil dan sungguh baik orang yang mengambil dalil sebagai pedomannya.  Oleh karena itulah –wahai saudaraku- telah jelas bagi kita keharusan untuk meng ambil Dhowabith serta kaidah-kaidah fikih yang telah dirumuskan oleh ahli ilmu.

sumber :

Kaidah kaidah Fikih