Kaidah-3: Apabila Berbenturan Beberapa Maslahat


Kaidah-3: Apabila Berbenturan Beberapa Maslahat

Kaidah yang ke-3 adalah:

فإذا تزاحم عدد المصالحِ  يُقدَّم الأعلى من المصالحِ

“Apabila beberapa maslahat berbenturan, dahulukan yang paling besar maslahatnya”

Kaidah ini disebut ” تزاحم المصالح ” (berbenturan beberapa maslahat).

Jika seorang tidak bisa memilih salah satu dari 2 maslahat kecuali dengan mengalahkan/mengorbankan salah satu dari maslahat itu, maka apa yang harus dilakukan?

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menyebutkan: harus mengutamakan maslahat yang lebih besar walaupun harus meningalkan maslahat yang lebih kecil.

Kaidah ini bersumber dari ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, diantaranya:

  1. Firman Allah Ta’ala dalam Az-Zumar: 55: وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (maksudnya Al-Qur’an)
  2. Firman Allah Ta’ala dalam Az-Zumar: 17-18:  فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ  ”sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaran mereka”

Maka “yang paling baik” itu dikembalikan kepada ucapan ini: “jika bertabrakan antara manfaat yang didalamnya untuk mendapatkan hukum dari hukum-hukun syariat maka kami mengikuti yang paling baik”.

Jika manusia mau memperhatikan hukum-hukum syariat maka akan mendapati maslahat yang banyak jenisnya: ada maslahat yang sudah ditentukan dan merupakan kewajiban seperti sholat wajib; kadang mendapati maslahat yang disukai dan disunnahkan, seperti sholat-sholat sunnah; kadang maslahat yang di syariatkan kepada masyarakat walaupun tidak semuanya harus mengerjakan, seperti sholat jenazah, memandikan mayit; dan kadang juga ada maslahat yang harus dikerjakan oleh semua anggota masyarakat.

Dan diantara maslahat-maslahat ini, ada maslahat yang mu’tabar (diakui & dikenal) dalam syariat dan telah di tentukan hukumnya. Ulama membagi maslahat ini menjadi 3 bagian:

Pertama: مصالح معتبرة  (maslahat yang sudah terkenal), yaitu yang kemaslahatannya telah diakui oleh syariat, baik dengan dalil Al-Qur’an, sunnah, ataupun ijma & qiyas (seperti contoh-contoh  diatas).

Kedua: مصالح ملغاة (maslahat yang gugur), yaitu yang bertabrakan dengan dalil. Seperti orang yang melangar sumpahnya sedang dia tidak bisa menebus kafarahya kecuali dengan puasa karena tidak mampu memberi makan fakir-miskin atau memberikan penghidupan & pakaian. Maka jika dikatakan kepada orang ini: “wajib bagi kamu puasa 3 hari  karena tidak bisa menjaga sumpahnya”. Akan tetapi maslahat ini digugurkan oleh syariat, karena dalam syariat kafarah bagi yang melangar sumpah adalah harus memberi makan fakir-miskin, atau memberikan pakaian, atau membebaskan budak, namun jika tidak didapati dan tidak mampu maka sebagai gantinya adalah puasa.

Ketiga: مصالح مرسلة, (maslahat yang tidak terdapat dalilnya), yaitu yang tidak didapati dalil pengugurannya atau penetapannya, dan telah berselisih sebagian ulama dalam menjadikan dalil maslahat ini. Ada sebagian yang menjadikannya dalil dan ada sebagian yang menolaknya. Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan ibnu Qayyim al-Jauziyah (semoga Allah merahmati mereka berdua) berpendapat: bahwasanya tidak mungkin ada maslahat mursalah, karena semua maslahat itu sudah pasti mu’tabar (dikenal dan ditetapkan syariat), jika ada sebagian yang menganggap itu maslahat mursalah maka tidak lepas dari dua hal:

  1. Mungkin hal itu mafsadah (mudharat/membahayakan) dan bukan maslahat (manfaat atau faedah)
  2. Sudah ada dalil penetapannya oleh syariat, namun tersembunyi (samar) bagi sebagian faqih (orang yang mengerti fiqh), dan pendapat ini sangat kuat karena menetapkan bahwasanya syariat islam sudah paripurna dan sempurna. Jika kita memperhatikan dalil-dalil syar’iyyah maka akan kita dapati bahwasanya syariat ini mencakup keumuman maslahat bagi manusia, dan seseorang itu tidak membutuhkan qiyas kecuali hanya pada hal-hal yang amat sedikit sekali yang mungkin kurang adanya dalil-dalil dalam hal-hal atau keadaan tersebut.

Contoh-contoh Penerapan Kaidah

Berikut ini beberapa contoh penerapan kaidah ke-3:

  1. Mencari ilmu syar’iyyah lebih utama dari pada sholat sunnah, karena mencari ilmu selain bermanfaat bagi dirinya juga bermanfaat bagi orang lain, berbeda dengan sholat sunnah manfaatnya untuk diri sendiri.
  2. Jika seseorang masuk masjid sedangkan sholat fardhu sudah ditegakkan, maka mendahulukan sholat fardhu tersebut dari pada sholat tahiyatul masjid, atau sunnah yang lainya meskipun sifatnya sunnah mu’akkadah (seperti 2 rakaat sebelum subuh dan dan semisalnya), karena mengerjakan hal yang wajib lebih diutamakan daripada yang sunnah.
  3. Seseorang memiliki hutang puasa Ramadhan 3 hari dan dia juga memiliki hutang puasa nadhar, sedangkan waktunya sudah mendekati bulan Ramadhan. Keduanya sama-sama wajib, manakah yang diutamakan? Melihat keutamaan yang yang agung dan besar maka lebih diutamakan untuk mengerjakan puasa Ramadhan.
  4. Bersedekah terang-terangan atau sembunyi-sembunyi? Berdasarkan surat Al-Baqarah 271-273 “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” keduanya mempunyai maslahat, yaitu jika menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain maka akan bermanfaat karena sedekahnya bisa bertambah banyak karena banyaknya yang berpartisipasi, namun dengan menyembunyikannya akan mencegah dari sifat Riya’ dan kemungkinan menyakiti orang yang menerimanya, sedangkan Al-Qur’an sendiri yang menjelaskan bahwa “menyembunyikan itu lebih baik bagimu“, maka sedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih baik dari menampakkannya.

Kaidah Tarjih

Maka ada kaidah tarjih (menguatkan satu diantara beberapa pendapat) antara beberapa maslahat (keutamaan ). Para ulama berkata: “sesungguhnya maslahat yang khusus didahulukan daripada maslahat yang umum dalam tempat-tempat yang tertentu, dan mengerjakan maslahat yang umum jika tidak pada tempat yang tertentu dan khusus”.

Dari perkataan ini dapat dirinci sebagai berikut:

  • Pada waktu dan tempat tertentu, mendahulukan maslahat yang sifatnya khusus
  • Jika tidak pada waktu dan tempat tertentu, mendahulukan maslahat yang sifatnya umum

Sebagi contoh: membaca Al-Qur’an. Tidak diragukan lagi membacanya termasuk maslahat dan keutamaan, mengingat Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama. Akan tetapi jika di tempat dan waktu tertentu lebih diuatamakan dzikir khusus, misalnya dzikir sholat (setelah sholat wajib), dzikir & doa pagi-petang (jika telah tiba waktunya), dan lain sebagainya. Inilah makna mendahulukan dzikir khusus di tempat yang khusus, sedangkan Al-Qur’an bisa dibaca di lain waktu yang tidak tertentu. Contoh lain misalnya: mengikuti dan menjawab Adzan, dan doa setelah Adzan lebih diutamakan daripada membaca Al-Qur’a karena waktunya yang khusus dan tertentu, yaitu setelah Adzan.

—————————————————-

Artikel Pustaka al-Atsar