Syarah Hadits Arba’in #34


Syarah Hadits Arba’in #34

Diterjemahkan dari kitab Fathul Qowwiy Al Matiin fi Syarh Al Arba’iin wa tatimmah Al Khomsiin (فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين)

Karya Asy Syaikh Abdul Mushin ibn Hammad Al ‘Abbad Al Badr hafizhohullah

الحديث الرابع والثلاثون

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “مَن رأى منكم منكراً فليُغيِّره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعفُ الإيمان”رواه مسلم.

Hadits ke 34

Dari Abu Sa’iid Al Khudriy radhiallahu anhu dia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda : “Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, maka jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan hal itu merupakan selemah-lemah iman.” HR Muslim

1 هذا الحديث مشتملٌ على درجات إنكار المنكر، وأنَّ مَن قدر على التغيير باليد تعيَّن عليه ذلك، وهذا يكون من السلطان ونوابه في الولايات العامة، ويكون أيضاً من صاحب البيت في أهل بيته في الولايات الخاصة، ورؤية المنكر يحتمل أن يكون المراد منها الرؤية البصرية، أو ما يشملها ويشمل الرؤية العلمية، فإذا لم يكن من أهل التغيير باليد، انتقل إلى التغيير باللسان، حيث يكون قادراً عليه، وإلاَّ فقد بقي عليه التغيير بالقلب، وهو أضعفُ الإيمان، وتغيير المنكر بالقلب يكون بكراهة المنكر وحصول الأثر على القلب بسبب ذلك، ولا تنافي بين ما جاء في هذا الحديث من الأمر بتغيير المنكر، وقول الله عزَّ وجلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، فإنَّ المعنى: إذا قمتم بما هو مطلوب منكم من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، فقد أدَّيتم ما عليكم، ولايضرُّكم بعد ذلك ضلال مَن ضلَّ إذا اهتديتم، ولشيخنا الشيخ محمد الأمين الشنقيطي رحمه الله عند الكلام على هذه الآية في كتابه أضواء البيان تحقيقات جيِّدة في مسائل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، من المناسب الرجوع إليها للاستفادة منها
1. Hadits ini mengandung tingkatan tentang cara mengingkari kemungkaran, dan bahwasanya barang siapa yang mampu untuk merubah dengan tangannya (kekuasaan) maka dia melakukannya dengan, dan hal ini biasa dilakukan oleh penguasa dan wakilnya dengan kekuasaannya secara umum, dan mengingkari dengan tangan juga dilakukan oleh pemilik rumah kepada keluarganya dengan kekuasaannya secara khusus, dan melihat kemungkaran membawa kemungkinan bahwa maksudnya adalah melihat dengan mata, atau apa-apa yang mencakup melihat secara pengetahuan, maka jika dia bukan termasuk orang yang mempunyai kemampuan merubah dengan tangan, dia merubahnya dengan menginkarinya dengan lisan yang mana dia mempunyai kemampuan atas hal tersebut, dan jika tidak maka tersisalah merubah hal itu dengan hati, dan hal itu merupakan selemah-lemah iman, dan merubah kemungkaran dengan hati dilakukan dengan cara membenci kemungkaran tersebut dan memberiakn pengaruh pada hati dengan sebab tersebut, dan tidaklah menafikan apa yang ada dalam hadits ini dengan perintah merubah kemungkaran. Allah ta’ala berfirman : {Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.} karena makna jika kalian menegakkan dengan apa yag dituntut terhadap kalian dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka kalian telah melaksanakan apa yang diwajibkan pada kalian, dan tidak akan memudhorotkan (membahayakan) kesesatan orang yang menyesatkan setelah hal itu jika kalian mendapat petunjuk. Dan Syaikh kami Muhammad Al Amiin Asy Syanqithiy rahimahullah mempunyai perkataan tentang ayat ini dalam kitabnya Adhwaaul Bayaan dengan komentar-komentar yang bagus tentang masalah amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan merupakan hal yang baik untuk merujuk kepadanya untuk mengambil faedah tentang ayat tersebut.

2 مِمَّا يُستفاد من الحديث:
1 وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وأنَّ به صلاح العباد والبلاد.
2 أن تغيير المنكر يكون على درجات، من قدر على شيء منها تعيَّن عليه ذلك.
3 التفاوت في الإيمان، وأنَّ منه القويّ والضعيف والأضعف
.
2. Faedah hadits :
1. Wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahwasannya dengan hal tersebut menjadi baiklah manusia dan negara.
2. Bahwa merubah kemungkaran mempunyai tingkatan-tingkatan, barang siapa yang mampu atas sesuatu dari hal tersebut maka dia melakukannya dengan hal itu.
3. Adanya perbedaan iman, dan bahwasannya ada yang kuat, lemah, dan paling lemah.

Sumber : Syarah Hadits Arba’in #34

Iklan