Benarkah Daerah Najd Memberontak Kepada Daulah ‘Utsmaniyyah?


Benarkah Daerah Najd Memberontak Kepada Daulah ‘Utsmaniyyah?

Salah satu upaya yang masih terus dihembuskan oleh pihak – pihak yang memusuhi dakwah tauhid ahlussunnah Wal Jama’ah salafiyun, selain dari tuduhan dan celaan sebagai kelompok wahhabi (yang sandaran terhadap tuduhan wahhabi ini tidak memiliki dasar sama sekali), adalah dengan menyebarkan syubhat dan fitnah kepada masyarakat awam dengan tuduhan bahwa syaikh muhammad bin abdul wahhab bersama penguasa najd melakukan pemberontakan dan berusaha memisahkan diri dari daulah ‘utsmaniyah, sehingga dengan demikian, tuduhan sebagai pemberontak yang mereka tujukan kepada syaikh muhammad bin abdul wahhab dan penguasa najd dapat langsung mereka manfaatkan untuk menjatuhkan dan mencoreng dakwah ahlussunnah karena sikap pemberontakan bertentangan dengan Hadits dari Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam mengenai larangan terhadap kaum muslimin untuk memberontak terhadap penguasa, dalam hal ini  adalah antara daerah najd dan daulah ‘utsmaniyah. Namun demikian, benarkah bahwa najd adalah bagian dari daulah ‘utsmaniyah sehingga layak disebut sebagai pemberontak yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan daulah ‘utsmaniyah? berikut ini simak catatan singkat mengenai sejarah dan kondisi najd pada zaman daulah ‘utsmaniyah sebagai sikap ilmiah dalam menghadapi tuduhan ini :

– “Belahan bumi Najd secara umum tidak menyaksikan adanya pengaruh apapun dari Daulah ‘Utsmaniyyah terhadapnya. Demikian juga kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah tidak sampai menyentuh bumi Najd”(Tarikh Al-Biladil ‘Arabiyyah As-Su’udiyyah, DR. Munir Al-“Ajlani)

– “Tidak seorangpun penguasa ‘Utsmaniyyah yang datang ke sana. Tidak pula perlindungan keamanan Turki menyentuh daerah-daerah Najd sejak jauh hari sebelum munculnya dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Rahimahullah. Diantara bukti yang menunjukkan hakekat sejarah tersebut adalah:Penelitian pembagian daerah-daerah kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah dari sebuah catatan resmi Turki yang berjudul:”Qawanin Ali ‘Utsman Durr Madhamin Daftar Diwan (Undang-Undang Dinasti ‘Utsmani yang Dikandung oleh Catatan Sipil Negeri tersebut) karya Yamin Ali Afnadi, seorang penanggung jawab resmi catatan sipil Al-Khaqani pada tahun 1018H, bertepatan dengan tahun 1690 M. Catatan tersebut disebarkan Sathi’ Al-Hashri melalui buku “Negara-Negara Arab dan Daulah ‘Utsmaniyyah”
Melalui catatan resmi tersebut, diketahui dengan jelas bahwa sejak awal abad ke-11 H, Daulah ‘Utsmaniyyah terbagi menjadi 32 propinsi, 14 diantaranya adalah Propinsi-propinsi Arab. Dan daerah Najd tidak termasuk dalam 14 bagian tersebut, kecuali hanya wilayah Al-Ahsa’, itupun jika kita menganggap Al-Ahsa’ merupakan bagian dari Najd” (lihat kitab Al-Biladul ‘Arabiyyah wa Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah, karya Sathi’ Al-Hashri hal.230-240; dan Intisyaru Da’wati Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Kharija Al-Jazirah Al-‘Arabiyyah, karya Muhammad kamal Jam’ah, hal.13 dalam  Asy-Syari’ah, no.22/II/1427H/2006, hal.14-15)

sebagai pelengkap tulisan ini, berikut adalah ringkasan gambaran mengenai kondisi daulah ‘utsmaniyah masa itu :

“Pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah beranggapan bahwa gerakan Tashawwuf merupakan inti agama Islam. Sehingga para penguasanya benar-benar menghormati dan merendahkan dirinya dihadapan tokoh-tokoh tashawwuf serta berlebihan dalam mengagungkan mereka. Di negeri tersebut dan daerah-daerah kekuasaannya dipenuhi dengan kuburan-kuburan yang diagungkan dan dikeramatkan dengan didirikannya kubah-kubah di atasnya. Hal itu dilindungi secara resmi oleh Daulah ‘Utsmaniyyah. Sehingga banyak umat yang berdatangan ke kubur-kubur dalam rangka mengagungkannya. Demikian juga menyembelih Qurban dan bernadzar untuk selain Allah telah tersebar luas dan merata di Daulah ‘Utsmaniyyah. Do’a dan istighatsah kepada kubur merupakan suatu keadaan yang menyelimuti negeri tersebut’(Al-Intisyar, hal. 11-14).
Gambaran dan kondisi Daulah Utsmaniyyah yang bobrok dan bejat aqidahnya seperti di atas telah ada jauh sebelum dilahirkannya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah (Asy-Syari’ah, no.22/II/1427H/2006, hal.17)
Lebih nyata lagi kebobrokan aqidah mereka adalah ketika pasukan Dinasti ‘Utsmaniyyah yang bersekongkol dengan negara-negara kafir Eropa:
“Tentara Muhammad ‘Ali Basya yang dipimpin oleh anaknya, Ibrahim Basya dalam sebuah pasukan besar dengan bantuan militer dari negara-negara kafir Eropa. Pada akhir tahun 1232H, mereka menyerang kota ‘Unaizah dan Al-Khubra’ serta berhasil menguasai kota Buraidah. Sebelumnya, pada bulan Muharram 1232H, tepatnya tanggal 23 Oktober 1818M, mereka berhasil menduduki daerah Syaqra’ dalam sebuah pertempuran sengit dengan strategi tempur penuh kelicikan yang diatur oleh seorang ahli perang Perancis bernama Vaissiere.
Bahkan dalam pasukan dinasti ‘Utsmani yang mnenyerang Najd pada waktu itu didapati 4 orang dokter ahli berkebangsaan Itali. Nama-nama mereka adalah Socio, Todeschini, Gentill, Scots. Nama terakhir ini adalah dokter pribadi Ibrahim Basya. Demikian juga didapati perwira-perwira tinggi Eropa yang bergabung dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani dalam penyerangan tersebut”(Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 139)
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti ‘Utsmani telah bersekongkol dengan negara-negara kafir Eropa dalam memerangi dakwah Tauhid yang dibawa oleh syaikh muhammad bin abdul wahhab bersama penguasa najd.

sejarawan berkebangsaan mesir yang terkenal, Abdurrahman Al-Jabrati, Ketika menyampaikan kisah tentang kondisi pasukan Dinasti ‘Utsmani dan membandingkannya dengan pasukan Tauhid di Najd, yang beliau nukil dari penjelasan salah seorang perwira tinggi militer Mesir yang menceritakan tentang kondisi pertempuran yang terjadi pada tahun 1227H yang dipimpin Ahmad Thusun, putera Muhammad ‘Ali Basya, beliau menyatakan:”…dan beberapa perwira tinggi mereka (tentara Mesir, pent.) yang menyeru kepada kebaikan dan sikap wara’ telah menyampaikan kepadaku bahwa mana mungkin kita akan memperoleh kemenangan, sementara mayoritas tentara kita tidak berpegang dengan agama ini. Bahkan diantara mereka ada yang sama sekali tidak beragama dengan agama apapun dan tidak bermadzhab dengan sebuah madzhabpun. Dan berkrat-krat minuman keras telah menemani kita. Di tengah-tengah kita tidak pernah terdengar suara adzan, tidak pula ditegakkan shalat wajib. Bahkan syi’ar-syi’ar agama islam tidak terbetik di benak mereka.
Sementara mereka (tentara najd, pent.) jika telah masuk waktu shalat, para muadzin mengumandangkan adzan dan pasukanpun segera menata barisan shaf di belakang imam yang satu dengan penuh kekhusyu’an dan kerendahan diri. Jika telah masuk waktu shalat, sementara peperangan sedang berkecamuk, para muadzinpun segera mengumandangkan adzan. Lalu seluruh pasukan melakukan shalat khauf, dengan cara sekelompok pasukan maju terus bertempur sementara sekelompok yang lainnya bergerak mundur untuk melakukan shalat. Sedangkan tentara kita terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Karena memang mereka sama sekali belum pernah mendengar hal yang seperti itu, apalagi melihatnya”(ibid, hal.152-152 dalam Asy-Syari’ah, no.22/II/1427H/2006, hal.152-153)

“Pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyyah beranggapan bahwa gerakan Tashawwuf merupakan inti agama Islam. Sehingga para penguasanya benar-benar menghormati dan merendahkan dirinya dihadapan tokoh-tokoh tashawwuf serta berlebihan dalam mengagungkan mereka. Di negeri tersebut dan daerah-daerah kekuasaannya dipenuhi dengan kuburan-kuburan yang diagungkan dan dikeramatkan dengan didirikannya kubah-kubah di atasnya. Hal itu dilindungi secara resmi oleh Daulah ‘Utsmaniyyah! Sehingga banyak umat yang berdatangan ke kubur-kubur dalam rangka mengagungkannya. Demikian juga menyembelih Qurban dan bernadzar untuk selain Allah telah tersebar luas dan merata di Daulah ‘Utsmaniyyah. Do’a dan istighatsah kepada kubur merupakan suatu keadaan yang menyelimuti negeri tersebut’(Al-Intisyar, hal. 11-14).

Gambaran dan kondisi Daulah Utsmaniyyah yang bobrok dan bejat aqidahnya seperti di atas telah ada jauh sebelum dilahirkannya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah (Asy-Syari’ah, no.22/II/1427H/2006, hal.17)
Lebih nyata lagi kebobrokan aqidah mereka adalah ketika pasukan Dinasti ‘Utsmaniyyah yang bersekongkol dengan negara-negara kafir Eropa:
“Tentara Muhammad ‘Ali Basya yang dipimpin oleh anaknya, Ibrahim Basya dalam sebuah pasukan besar dengan bantuan militer dari negara-negara kafir Eropa. Pada akhir tahun 1232H, mereka menyerang kota ‘Unaizah dan Al-Khubra’ serta berhasil menguasai kota Buraidah. Sebelumnya, pada bulan Muharram 1232H, tepatnya tanggal 23 Oktober 1818M, mereka berhasil menduduki daerah Syaqra’ dalam sebuah pertempuran sengit dengan strategi tempur penuh kelicikan yang diatur oleh seorang ahli perang Perancis bernama Vaissiere.
Bahkan dalam pasukan dinasti ‘Utsmani yang mnenyerang Najd pada waktu itu didapati 4 orang dokter hali berkebangsaan Itali. Nama-nama mereka adalah Socio, Todeschini, Gentill, Scots. Nama terakhir ini adalah dokter pribadi Ibrahim Basya. Demikian juga didapati perwira-perwira tinggi Eropa yang bergabung dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani dalam penyerangan tersebut”(Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 139)
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti ‘Utsmani telah bersekongkol dengan negara-negara kafir Eropa dalam memerangi dakwah Tauhid, yang tentunya hal ini mengundang amarah Allah dan menjadi sebab terbesar hancurnya Daulah ‘Utsmaniyyah….sejarawan berkebangsaan mesir yang terkenal, Abdurrahman Al-Jabrati. Ketika menyampaikan kisah tentang kondisi pasukan Dinasti ‘Utsmani dan membandingkannya dengan pasukan Tauhid di Najd, yang beliau nukil dari penjelasan salah seorang perwira tinggi militer Mesir yang menceritakan tentang kondisi pertempuran yang terjadi pada tahun 1227H yang dipimpin Ahmad Thusun, putera Muhammad ‘Ali Basya, beliau menyatakan:”…dan beberapa perwitra tinggi mereka (tentara Mesir, pent.) yang menyeru kepada kebaikan dan sikap wara’ telah menyampaikan kepadaku bahwa mana mungkin kita akan memperoleh kemenangan, semnetara mayoritas tentara kita tidak berpegang dengan agama ini. Bahkan diantara mereka ada yang sama sekali tidak beragama dengan agama apapun dan tidak bermadzhab dengan sebuah madzhabpun. Dan berkrat-krat minuman keras telah menemani kita. Di tengah-tengah kita tidak pernah terdengar suara adzan, tidak pula ditegakkan shalat wajib. Bahkan syi’ar-syi’ar agama islam tidak terbetik di benak mereka.

Sementara mereka (tentara najd, pent.) jika telah masuk waktu shalat, para muadzin mengumandangkan adzan dan pasukanpun segera menata barisan shaf di belakang imam yang satu dengan penuh kekhusyu’an dan kerendahan diri. Jika telah masuk waktu shalat, semnetara peperangan sedang berkecamuk, para muadzinpun segera mengumandangkan adzan. Lalu seluruh pasukan melakukan shalat khauf, dengan cara sekelompok pasukan maju terus bertempur sementara sekelompok yang lainnya bergerak mundur untuk melakukan shalat. Sedangkan tentara kita terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Karena memang mereka sama sekali belum pernah mendengar hal yang seperti itu, apalagi melihatnya”(ibid, hal.152-152 dalam Asy-Syari’ah, no.22/II/1427H/2006, hal.152-153).

sumber : http://jalansunnah.wordpress.com/2011/07/13/benarkah-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-dan-najd-memberontak-kepada-daulah-%E2%80%98utsmaniyyah/