Ketika ketaatan diabaikan(syubhat dan bantahannya) Bag. 1


Ketika ketaatan diabaikan(syubhat dan bantahannya) Bag. 1

Dari buku Wasiat Rasul : Dengar dan Taati Pemerintah Kalian(Sunnah yang Terlupakan) penyusun Utsman As-Salam hal. 161-170, penerbit Akmal Press.

Mukadimmah

Ketika  Daulah  Islamiyah jadi tujuan utama dalam berdakwah, benarkah….?apa yang diperintahkan oleh Allah  dan Rasul-Nya dari ketaatan kepadapenguasa dan menasihati mereka adalah perkara yang wajib atas setiap manusia, walaupun dia tidak pernah mengikat perjanjian (baiat)kepadanya. Seorang pemimpin jika memerintahkan kepada perkara yang mandub(disukai)dan mubah maka wajib (ditaati)Baiat untuk penguasa muslim, dan untuk pemimpin kelompoknya, adakah dalilnya…?

Syubhat pertama dan bantahannya.

  1. Ketika daulah Islamiyah jadi tujuan utama dalam berdakwah.

 Keadaan daulah Islamiyah memang sangatlah penting dan berarti bagi kehidupan beragama kaum muslimin. namun yang perlu di perhatikan dan menjadi catatan penting di sini apakah perkara tersebut menjadi tujuan utama, sebagaimana dinyatakan : tujuan agama yang hakiki adalah menegakkan undang-undang kepemimpinan yang lagi terbimbing?

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata :

“Orang yang berkata bahwa masalah imamah adalah tujuan yang paling penting dan utama dalam hukum-hukum agama dan masalah kaum muslimin yang paling mulia, maka dia itu berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin baik yang sunni ataupun yang syi’I (pengikut agama Syi’ah, red). Bahkan ini termasuk kekufuran, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya lebih penting dan utama daripada masalah imamah. Hal ini adalah perkara yang dimaklumi secara pasti dari agama Islam. Dan seorang kafir tidaklah menjadi mukmin sampai ia bersaksi: Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah (bukan karena imamah, dan tentunya hal ini menunjukkan pentingnya permasalahan iman, pen). Inilah alasan utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerangi orang-orang kafir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah, kemudian mereka menegakkan shalat dan membayar zakat. Maka bila mereka melakukan hal itu terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 22).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh juga berkata : “Perlu dimaklumi bagi kita semua, apabila didapatkan masalah kaum muslimin yang paling mulia dan tujuan yang paling penting dalam agama ini, tentunya akan disebutkan dalam Kitabullah lebih banyak daripada perkara selainnya. Dan demikian pula keterangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang perkara tersebut, tentunya akan lebih utama dan lebih banyak daripada keterangan beliau terhadap perkara lainnya. Sementara kita lihat Al Qur`an penuh dengan penyebutan tauhidullah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, kisah-kisah, perintah dan larangan, hukum had dan kewajiban-kewajiban. Tidak demikian halnya dengan masalah imamah. (Maka kalau dikatakan bahwa masalah imamah itu lebih utama/penting dan lebih mulia daripada yang lainnya, pen) lalu bagaimana bisa Al Qur`an itu dipenuhi dengan selain perkara yang lebih penting/utama dan lebih mulia?!” (Minhajul Anbiya`, 1/21).

 Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata meluruskan kesalahan orang yang mengatakan demikian: “Bahkan sesungguhnya tujuan agama yang hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia serta tujuan diutusnya para rasul serta diturunkannya kitab-kitab adalah untuk ibadah kepada Allah dan mengikhlaskan agama untuk Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”( QS. Adz-Dzariyat: 56)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada ilah yang patut disembah kecuali Aku maka beribadahlah kalian kepada-Ku.”( QS. Al-Anbiya: 25)

الر، كِتاَبٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ، أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ
“Alif laam raa. (Inilah) sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan baik serta dijelaskan secara terperinci dari sisi Dzat Yang Maha Memiliki Hikmah lagi Maha Mengetahui/Mengabarkan, agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira dari Allah kepada kalian.”( QS. Hud: 1) (Manhajul Anbiya fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql, hal. 152)

Demikianlah perkara keimanan ini begitu amat pentingnya agar menjadi perhatian kita semuanya. Dan jangan seseorang terlalu berambisi mendirikan daulah Islamiyyah dan menjadikannya sebagai inti dakwahnya kepada umat, sementara tauhid belum ditegakkan, kesyirikan masih merajalela dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam masih dibuang di belakang punggung-punggung manusia. Wallahul musta’an.

2. Syubhat kedua dan bantahannya.

 Ketika orang berkata : “tidak boleh mendengar dan taat kepada pemerintah suatu negara”.

Di antara kaum muslimin ada yang mengatakan bahwa tidak boleh mendengar dan taat kepada pemerintah dengan alasan bahwa hadist-hadist yang disebutkan tentang mendengar dan taat hanyalah kepada imam yang menyeluruh (khalifah)bukan yang khusus untuk masing-masing negara.

Perkataan ini adalah batil dan menyelisihi ijma` para ahli ilmu.

 Berkata Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul wahab rohimahulloh :

 Para imam dari setiap madzhab sepakat  bahwa barangsiapa yang menguasai sebuah negeri, maka dia hukumnya sama dengan hukum imam (penguasa)dalam setiap keadaan, kalau bukan karena hal ini maka urusan dunia tidak akan tegak, sebab manusia semenjak zaman yang berkepanjangan dari sebelum zaman Imam Ahmad hingga kita sekarang ini, mereka tidak sepakat  di atas satu imam, namun mereka tidak mengetahui seorangpun dari ulama yang mengatakan bahwa tidak sah hukum apa yang diterapkan kecuali bila ada imam(khalifah) yang menyeluruh.(lihat kitab Ad-Durar As-Saniyyah : 7/239, dan kitab Mu`amalatul Hukkam : 24).

 Berkata Imam Asy-Syaukani rohimahulloh  :

 Merupakan hal yang dimaklumi bahwa setiap wilayah mempunyai penguasa tersendiri, demikian pula di wilayah lainnya, dan tidaklah mengapa bila terdapat beberapa penguasa, dan wajib mentaati setiap dari mereka setelah dibaiat oleh penduduk negeri tersebut yangakan  menjalankan perintah dan larangannya, demikian pula penduduk di negeri yang lain. Barangsiapa yang mengingkari ini maka dia telah mendustakan nash dan tidak sepantasnya di ajak berdialog tentang hujjah sebab dia tidak memahaminya.( kitab As-Sail Al-Jarror : 4/512, secara singkat).

 3.  Syubhat ketiga dan bantahannya.

 Ketika orang berpendapat : “Tidak wajib mendengar dan taat karena tidak pernah berbaiat kepada penguasa”.

 Sebagian kaum muslimin ada yang mengatakan : saya tidak pernah membaiat penguasa tersebut maka saya tidak wajib mendengar dan taat! Tidak diragukan lagi ini ucapan jahil dan batil.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh :

Apa yang diperintah oleh Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dari ketaatan kepada penguasa dan menasihati mereka adalah perkara yang wajib atas setiap manusia, walaupun dia tidak pernah mengikat perjanjian (baiat) kepadanya, dan walaupun dia tidak bersumpah dengan berbagai sumpah yang menekankan.(kitab Al-Majmu` Fatawa : 35/9).

Dan berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh :

Jika kaum muslimin telah sepakat di atas satu pemimpin, maka wajib secara keseluruhan untuk taat kepadanya, walaupun dia tidak secara langsung membaiatnya. Para sahabat dan kaum muslimin mereka tidak membaiat Abu Bakar, namun yang membaitnya adalah penduduk madinah, maka baiat tersebut berkonsekuensi bagi seluruhnya.

 4. Syubhat keempat dan bantahannya.

Ketika orang berkata : bahwa aturan umum tidak wajib di dengar dan ditaati.

Di antara kaum muslimin ada yang mengatakan : seseorang punya hak untuk keluar dari aturan umum yang telah diatur oleh pemerintah, dan tidak wajib terikat dengannya, dan tidak wajib menaatinya. Seperti tanda lalu lintas, pengurusan KTP, surat-surat paspor, dan yang lainnya. Dengan alasan bahwa itu tidak dibangun di ataspondasi syariat, adapun dalam perkara yang mubah dan mandub(disukai) maka tidak wajib! Dan tidaklah diragukan lagi bahwa kesalahan ini muncul akibat dari minimnya ilmu yang dimilikinya.

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh :

Ini adalah suatu kebatilan dan kemungkaran, bahwan wajib hukumnya mendengar dan taat dalam perkara-perkara tersebut yang tidak ada kemungkaran padanya, dimana penguasa telah mengaturnya demi kemaslahatan kaum muslimin, wajib tunduk terhadapnya, mendengar dan taat dalam perkara tersebut, sebab ini termasuk perkara yang ma`ruf yang memberi manfaat kepada kaum muslimin.(kitab al-Ma`lum : 19).

Berkata Al-Allamah Al-Mubarakfuri :

Seorang peminpin jika memerintahkan kepada perkara yang mandub(disukai) dan mubah maka wajib ditaati.(kitab Tuhfatul Ahwadzi 5/356).

Bersambung Insya Allah.