Imam asy-Syafi’i Menggugat Neo-Muktazilah


Imam asy-Syafi’i Menggugat Neo-Muktazilah

Abu Numair Nawawi B. Subandi

Dalam kitab ar-Risalah, imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204H) membuat sebuah bab khusus tentang khabar wahid (hadis ahad). Ia merupakan tajuk khusus yang menegaskan as-sunnah yang sahih adalah hujjah dalam agama sama ada diriwayatkan secara mutawatir mahupun ahad.

Ini beliau lakukan antaranya dalam rangka bantahan ke atas golongan ahli kalam, mu’tazilah, dan anti hadis. Dengan sebab ini jugalah imam asy-Syafi’i sering menjadi sasaran orientalis, liberal, dan kumpulan anti hadis zaman ini. Kerana hujjah-hujjah yang dikemukakan oleh imam asy-Syafi’i adalah termasuk benteng kukuh ahli sunnah wal-jama’ah dalam berhadapan aliran sesat ahli kalam sejak dahulu lagi.
Hadis Ahad
Hadis ahad adalah hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir dalam periwayatan, di mana ia diriwayatkan oleh perawi yang sedikit jumlahnya. Hadis ahad dalam ilmu mustholah al-hadits terbahagi menjadi tiga bahagian iaitu sama ada masyhur, ‘aziz, ataupun gharib.
Masyhur atau juga dikenali sebagai al-mustafidh adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada setiap tingkatannya tetapi tidak mencapai jumlah mutawatir. ‘Aziz adalah hadis yang diriwayatkan dengan sekurang-kurangnya dua sanad yang berlainan. Manakala gharib pula adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi secara bersendirian. Lanjutkan membaca
Iklan

Beginilah Ahli Sunnah wal-Jama’ah Menasihati Pemerintah


Beginilah Ahli Sunnah wal-Jama’ah Menasihati Pemerintah

Abu Numair Nawawi B. Subandi
www.ilmusunnah.com

Dari siri tulisan sebelumnya, telah pun dibentangkan siapakah yang dimaksudkan sebagai pemimpin dan kewajiban mentaatinya. Sila lihat tulisan dengan tajuk “Memahami Negara dan Pemimpin Umat Islam” dan “Bagaimana Ahlus Sunnah wal-Jama’ah Mentaati Pemerintah”.

Maka pada tulisan berikut ini, ia akan difokuskan pula kepada persoalan menasihati dan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap pemerintah.

Memahami Konsep Agama Sebagai Nasihat

Dalam Islam, nasihat adalah di antara dasar agama yang amat penting dan penopang kebenaran yang paling fundamental sehingga dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat.” Mereka bertanya, “Untuk siapa (wahai Rasulullah)?”

Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan umat Islam secara umumnya.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 55) Lanjutkan membaca

Sejarah Demonstrasi Jalanan dan Hukumnya


Sejarah Demonstrasi Jalanan dan Hukumnya

Abu Numair Nawawi B. Subandi
www.ilmusunnah.com

Akhir-akhir ini adegan dan slogan demonstrasi jalanan ke atas pemerintah sering sekali dilaungkan. Diberi nama pula sebagai sarana amar makruf nahi mungkar dan jihad. Maka, suara-suara kebencian dan protes ke atas pemerintah pun meluap-luap.

Sangat menyedihkan adalah apabila pelbagai aksi dan adegan demonstrasi ini kian menjadi fenomena masyarakat dalam negara kita.

Menurut Kamus Dewan, maksud demonstrasi dalam konteks ini merujuk kepada “Tunjuk perasaan dengan cara berkumpul beramai-ramai, berarak, dll. (Termasuk di dalamnya membuat kacau). Berdemonstrasi maksudnya menunjuk perasaan (kerana memprotes) dll.” (Kamus Dewan, Edisi Keempat, m/s. 332 – Dewan Bahasa dan Pustaka)

Persoalannya, adakah demonstrasi merupakan salah satu sarana anjuran agama dalam menghadapi kesalahan dan keterlanjuran pemerintah? Apa hukum perlakuan demonstrasi di sisi agama? Dalam tulisan yang lalu, penulis telah bentangkan kaedah-kaedah yang syar’i dalam menegur dan memperbaiki keterlanjuran pemerintah, iaitu dengan cara nasihat, mendoakan mereka dengan kebaikan, bertemu dan berbincang dengannya, memperbanyakkan kesabaran, dan dengan tidak mengaibkan serta merendah-rendahkan kedudukannya. Lanjutkan membaca

ISBAL ?? NO !! Apa sih susahnya? wong tinggal ninggikan celana sedikit? Kan, masih tetap keren?


ISBAL ?? NO !! Apa sih susahnya? wong tinggal ninggikan celana sedikit? Kan, masih tetap keren?

Isbal (memanjangkan pakaian hingga di bawah kedua mata kaki bagi lelaki) termasuk perbuatan dosa yang diremehkan oleh sebagian umat. Sementara  hadits-hadits tentang larangan berisbal-ria telah mencapai derajat mutawatir maknawi, lebih dari dua puluh sahabat meriwayatkannya (lihat risalah Syaikh Bakr Abu Zaid yang berjudul Hadduts Tsaub hal 18)

Para ulama telah sepakat bahwasanya isbal itu haram jika dilakukan karena sombong. Akan tetapi mereka berselisih pendapat jika isbal dilakukan bukan karena sombong. Akan tetapi kita dapati pernyataan para ulama yang tidak menyatakan haram bagi isbal tanpa kesombongan, mereka menyatakan bahwa isbal tanpa kesombongan hukumnya makruh (dibenci oleh Allah). Karenanya bisa kita katakan bahwa para ulama sepakat jika isbal tanpa kesombongan adalah makruh.

Jika yang kita dapati orang-orang yang berisbal ria adalah orang-orang awam yang tidak mengetahui maka masih bisa kita maklumi, akan tetapi yang menyedihkan adalah sebagian para juru dakwah yang sengaja berisbal ria, bahkan mencibirkan orang yang tidak isbal. Padahal minimal hukum isbal tanpa kesombongan adalah makruh. Apalagi pendapat yang lebih kuat bahwasanya hukumnya adalah haram meskipun tanpa kesomobongan, dan semakin bertambah keharamannya jika disertai dengan kesombongan. Lanjutkan membaca