Salah Kaprah tentang Niat


Salah Kaprah tentang Niat

Melafazhkan niat sudah trend di Indonesia, baik di kalangan awam maupun kaum santri terpelajar. Seakan perkara ini menjadi suatu kewajiban bagi mereka dan aib jika mereka tidak melafazhkan niat ketika ingin melaksanakan sholat, wudhu, dan berbagai macam ibadah lainnya. Bahkan ada sebagian di antara mereka menganggap sholatnya batal jika tidak melafazhkan niat. Tragisnya lagi, jika mereka memutuskan tali persaudaraan lantaran saudaranya yang lain tidak melafazhkan niat. Padahal mereka diperintahkan oleh Allah untuk menyambung tali persaudaraan.Inilah salah kaprah yang menimbulkan perpecahan yang kita saksikan di Indonesia.

  • Apa itu Niat ?

Kalau kita membuka kitab-kitab kamus berbahasa arab, maka kita akan jumpai ulama bahasa akan memberikan definisi tertentu bagi niat. Muhammad bin Abu Bakr Ar-Rozy Rahimahullah berkata saat memaknai niat, Meniatkan adalah menginginkan sungguh-sungguh”. [Lihat Mukhtar Ash-Shihah (1/286)]

Ibnu Manzhur rahimahullah– berkata, ” Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”. [Lihat Lisan Al-Arab (15/347)] Lanjutkan membaca

Iklan

Melafazhkan Niat, Madzhab Syafiâiyyah?


Melafazhkan Niat, Madzhab Syafiâiyyah?

Ada sebuah fenomena yang jarang mendapatkan sorotan oleh kebanyakan orang, karena ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya, di antaranya adalah faktor taqlid, jahil terhadap agama, banyaknya orang yang melakukannya sehingga sudah menjadi sebuah adat yang mendarah-daging, sulit dihilangkan, kecuali jika Allah menghendakinya. Sehingga terkadang menjadi sebab perselisihan, perseteruan dan permusuhan di kalangan kaum muslimin sendiri. Di antara fenomena tersebut, tersebarnya kebiasaan “melafazhkan niat”ketika hendak melaksanakan ibadah, utamanya shalat.

  • Definisi Niat

Kalau kita membuka kitab-kitab kamus berbahasa arab, maka kita akan jumpai ulama bahasa akan memberikan definisi tertentu bagi niat.

Ibnu Manzhur -rahimahullah- berkata, “Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Sedang niat adalah arah yang dituju”. [Lihat dalam Lisan Al-Arab (15/347)]

Imam Ibnu Manzhur-rahimahullah- juga berkata, “Jadi niat itu merupakan amalan hati yang bisa berguna bagi orang yang berniat, sekalipun ia tidak mengerjakan amalan itu. Sedang penunaian amalan tidak berguna baginya tanpa adanya niat. Inilah makna ucapannya:Niat seseorang lebih baik daripada amalannya”. [Lihat Lisan Al-Arab (15/349)] Lanjutkan membaca